Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Praduga


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan, Anggraini dan Lievin akan kembali ke Belanda hari ini. Fabien lah yang bertugas mengantarkan mereka ke bandara sore itu. Dengan ditemani Binar, Fabien mengendarai mobil Range Rover mewah milik keluarga Rainier.


"Nirmala, Tante titip rumah dan yayasan, ya. Paling lama sekitar sebulan Tante baru akan kembali. Tolong aturkan jadwal Tante untuk tiga puluh hari ke depan," pesan Anggraini yang tampil cantik dengan kaca mata hitam brandednya.


"Baik, Tante," sahut Binar yang duduk di jok paling belakang. Gadis itu mengangguk serta tersenyum lembut kepada ibunda Arsenio tadi.


"Tolong bantu juga Fabien berkemas, jika nanti dia akan kembali ke Jerman," imbuh Lievin.


Lagi-lagi Binar menyanggupi meskipun ada sedikit rasa tak nyaman di hati. Dia sama sekali tidak memiliki bayangan sedikit pun tentang hal itu. Entah apa yang harus dia lakukan untuk membantu adik Arsenio tersebut.


"Fabien jauh lebih manja dari Arsenio," ungkap Anggraini.


"Dia juga sangat berantakan. Fabien lebih tak acuh dan cenderung tidak beraturan. Sangat jauh berbeda dengan kakaknya," sambung Lievin lagi seraya menggeleng pelan.


"Pa, sudahlah! Cukup menjelek-jelekkanku di depan Nirmala. Aku bisa melakukan semuanya sendiri," protes Fabien. Dia melihat ke arah Binar dari spion dalam. Gadis cantik tersebut saat itu hanya tersenyum canggung, ketika menyadari apa yang Fabien lakukan tadi.


"Memang kamu bisa melakukan semuanya sendiri, tapi hasilnya selalu saja berantakan," ujar Lievin seraya tertawa mengejek. Pria asal Belanda itu memang dikenal ramah dan juga humoris. Dia bisa bersikap hangat kepada siapa pun.


"Apartemen mewah dia di Jerman seperti kontrakan kumuh. Kapan-kapan kamu harus ikut ke Jerman, Nirmala. Lihatlah seperti apa putraku yang sebenarnya," ujar Anggraini antusias.


"Ma, berhentilah mendekatkan Nirmala denganku. Jangan lupa bahwa dia sudah punya pacar." Fabien kembali melakukan protes terhadap sikap nakal kedua orang tuanya. Konsentrasi pria dua puluh lima tahun itu mulai terpecah, padahal dia sedang dalam posisi mengemudi.


"Baru juga pacar. Belum sampai menikah," celetuk Lievin enteng. "Mamamu juga dulu masih punya pacar saat berkenalan denganku," ucapnya lagi.


"Pacar apa? Aku sudah bertunangan saat itu. Akan tetapi, karena kau terlalu menggoda ... akhirnya aku pun harus membatalkan semuanya." Anggraini tertawa renyah saat mengenang masa muda, bersama pria yang menjadi pendamping hidupnya selama ini.


"Astaga, masa muda kita penuh dengan cerita yang luar biasa," sahut Lievin menimpali. Pria dengan postur tinggi besar itu berdecak pelan.


"Kalian memang sangat luar biasa. Itulah cinta, semua orang bisa menjadi buta karenanya," ujar Fabien dengan tatapan lurus ke depan. "Lagi pula, seharusnya kalian kasihan terhadap Chand, karena dia telah berbuat banyak untuk keluarga kita. Belum juga lukanya sembuh akibat pengkhianatan Ghea." Fabien berdecak kesal. Teringat olehnya penyebab perceraian sahabat dari Arsenio tersebut.


"Menurut mama, itu karena Chand terlalu kaku. Dia cenderung pendiam dan juga dingin. Sedangkan sebagian besar wanita menyukai pria romantis yang sangat pengertian dan ...."

__ADS_1


"Jangan salahkan, Chand. Di sini yang paling patut disalahkan adalah Arsen!" Fabien memotong kalimat ibunya begitu saja, membuat suami istri Rainier begitu terkejut.


"Apa maksudmu, Fabien?" tanya Lievin yang duduk di jok depan, bersebelahan dengan putra bungsunya itu.


Menyadari kesalahannya, Fabien segera meraup muka dan memasang wajah panik. Tak seharusnya dia keceplosan seperti itu. "Ti-tidak ada," jawabnya cepat.


"Kenapa Arsen yang harus bertanggung jawab atas kegagalan pernikahan Chand?" tanya Anggraini yang mulai curiga.


"Kalau ada waktu, tanyakanlah pada anak kesayangan kalian itu," sahut Fabien.


"Mama bertanya padamu," desak Anggraini tak mau menyerah. Sementara Fabien sendiri tak mau membuka aib Arsenio, karena dia tak ingin bermasalah dengan kakaknya.


"Arsenio terlalu banyak mengajak Chand ke dalam banyak kegiatan, sehingga istrinya merasa ditinggalkan," kilah Fabien yang segera mencari alasan lain.


"Benarkah itu?" tanya Lievin setengah tak percaya. "Selama ini Chand tak pernah mengatakan apapun. Dia selalu tertutup perihal masalah rumah tangganya," pikir pria paruh baya tersebut.


"Dia hanya bercerita padaku, sambil menangis," terang Fabien. Teringat olehnya beberapa bulan yang lalu, ketika Chand menghubungi dirinya. Pria blasteran India itu terdengar begitu emosional saat menceritakan bahwa istrinya telah berselingkuh dengan Arsenio.


Anggraini dan Lievin seketika terdiam. Tak pernah terbayangkan jika pria segagah dan sekuat Chand akan menangis. Mereka pun sepertinya enggan menanggapi lagi. Keduanya tak mengatakan apapun hingga mobil yang mereka tumpangi telah tiba di bandara.


"Aku tak akan menjodohkan Nirmala denganmu lagi. Kapan-kapan, aku akan meminta maaf kepada Chand," ujar Lievin seraya merengkuh dan memeluk tubuh Fabien, kemudian melepaskannya setelah beberapa saat.


Sementara Binar sibuk menurunkan barang bawaan Anggraini dan Lievin dari bagasi tanpa disuruh. Beruntung barang-barang yang dibawa oleh pasangan suami istri itu tak terlalu banyak. Bagi mereka, pulang-pergi Indonesia-Belanda selayaknya melakukan perjalanan antar kota dalam negeri. Tak terlihat ada persiapan yang berlebihan sama sskali. Keduanya tampak biasa saja.


"Astaga, Nirmala. Jangan repot-repot. Akan ada pegawaiku yang menyusul kemari beberapa saat lagi," cegah Anggraini saat melihat apa yang Binar lakukan. Gadis itu hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.


Apa yang Anggraini katakan memang benar adanya. Baru saja mereka berjalan beberapa langkah dari teras bandara, tampak dua orang pria muda setengah berlari ke arah Anggraini dan juga Lievin. Mereka menoleh pada Binar ketika Anggraini menggunakan isyarat tangan untuk mengambil barang-barangnya. Pria-pria itu cekatan memindahkan koper-koper milik orang tua Arsenio ke dalam troli, lalu berjalan di depan Anggraini dan Lievin yang kembali melambaikan tangan pada Fabien dan juga Binar.


"Ayo, ikut aku," ajak Fabien setelah kedua orang tuanya tak tampak dari pandangan.


"Ke mana?" tanya Binar ragu.

__ADS_1


"Sudah. Ikut saja." Fabien menarik tangan Binar dan membantunya duduk di kursi depan. Tanpa banyak bicara, dia melajukan kendaraan dan segera meninggalkan area bandara menuju kawasan pusat perbelanjaan. Di sana, Fabien mengajak Binar ke sebuah cafe yang berada di lantai teratas sebuah mall. "Duduk di sini." Pria dengan tampilan kasual itu menuntun Binar pada satu meja terluar.


Binar sendiri tak banyak bicara. Dia hanya menuruti Fabien apa yang Fabien katakan padanya. Dia bahkan tak menolak saat pria itu memesan dua cangkir capuccino dan beberapa macam makanan ringan sebagai teman berbincang mereka.


Anehnya, Fabien tak banyak bicara sampai pesanannya datang. "Katakan padaku, apa tujuanmu mendekati kakakku dan Chand?" tanyanya tiba-tiba seraya mendekatkan secangkir capuccino ke depan Binar.


"Apa maksudmu?" Binar menggeleng tak mengerti.


Bukannya menjawab, Fabien malah tertawa mengejek. "Aku percaya kalau kamu adalah gadis yang menyelamatkan Arsenio, tapi aku tak percaya kalau kamu mendekati Chand maupun kakakku tanpa alasan. Sampai-sampai kamu bersedia bekerja dan tinggal di rumah mamaku," ujarnya dengan kalimat yang terdengar aneh di telinga Binar.


Binar menautkan alisnya. Dia berusaha mencerna perkataan dari Fabien. "Aku sama sekali tak mengerti," ucap Binar kemudian.


Tatap mata Fabien menajam setelah mendengar jawaban gadis cantik di hadapannya itu. "Dengar, ya. Entah kamu benar-benar polos atau hanya berpura-pura. Namun, kamu tidak akan bisa membodohi apalagi menipuku. Cukuplah Arsenio saja yang tertipu oleh tingkah lugumu." Ucapan Fabien terdengar ketus saat itu.


"Kamu menuduhku menipu?" Binar mengernyitkan kening.


"Apalagi yang terasa masuk akal selain kamu menipu Arsenio? Pertama, kamu membuatnya tergila-gila lebih dulu. Lalu, Chand juga sepertinya mulai terpikat padamu. Kalau mereka sudah bertekuk lutut, maka apapun yang kamu minta pasti akan segera mereka penuhi. Iya, 'kan?" tuding Fabien.


"Satu-satunya keinginanku hanyalah bekerja. Aku harus mencari uang untuk biaya sekolah adik-adikku," tegas Binar dengan suara bergetar. "Menipu adalah satu kosakata yang tak pernah terlintas dalam benakku. Aku ingin bekerja dengan cara yang halal. Bukan mencuri, merampok, apalagi dengan menipu." Napas gadis itu memburu saat berkata demikian.


"Waktu itu aku berkunjung ke kediaman Rainier bersama kak Chand. Tiba-tiba saja kakakmu menawarkan pada tante Anggraini agar menjadikanku asistennya. Satu-satunya kesalahanku adalah aku tak pernah bisa menolak. Seandainya bisa memilih, aku pun tak ingin bertemu dengan Arsenio lagi dan terlibat dengan permasalahan pelik ini. Apalagi setelah melihat dia menyematkan cincin pertunangan di jari manis wanita lain." Lolos sudah air mata Binar. Harga dirinya terusik ketika Fabien menuduh dia sebagai seorang penipu. "Kalau mau menyalahkan, salahkan saja Arsenio yang telah memaksaku untuk masuk ke dalam kehidupannya," tambah Binar.


Merasa tak tahan dengan hinaan pria tampan di hadapannya itu, Binar berdiri dan berniat meninggalkan cafe. Akan tetapi, Fabien lebih dulu mencekal pergelangan tangan, kemudian mencengkeram dengan erat-erat. "Mau ke mana? Aku belum selesai bicara," desisnya.


"Aku tidak peduli. Aku sudah lelah dengan semua ini. Lepaskan tanganmu. Aku ingin pulang dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh tante Anggraini. Aku akan menyusun jadwal selama dua bulan penuh untuk beliau, sebelum mengundurkan diri," ucap Binar menahan emosi.


.


.


.

__ADS_1


Hai, hai, sambil ngeliatin orang berantem, mampir dulu yuk di karya keren yg satu ini



__ADS_2