
“Berakting bagaimana, Rain?” Binar semakin tidak mengerti dengan ucapan sang suami.
“Nanti kalau aku sentuh pahamu, kamu harus pura-pura sakit perut, ya,” bisik Arsenio.
Binar hanya mengangguk, meskipun ada banyak pertanyaan dalam benaknya. Wanita muda itu memilih untuk menyimpannya, dan akan dia tanyakan nanti sebagai bahan obrolan menjelang tidur.
Salah satu aktivitas yang sudah menjadi kebiasaan antara dirinya dengan sang suami, yaitu saling bercerita tentang segala yang mereka alami di hari itu menjelang tidur. Tak jarang, mereka berdua saling mengungkapkan kegundahan dan perasaan masing-masing.
Di satu sisi, Binar sangat bersyukur bahwa dia meralat keputusannya untuk berpisah dengan Arsenio. Sudah jelas bahwa dirinya tak akan dapat hidup berjauhan dari pria tampan pujaan hatinya tersebut. Setelah berpikir demikian, Binar refleks mencium pipi suaminya yang tengah sibuk dengan telepon genggam.
“Eh, ada apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba menciumku?” tanya Arsenio keheranan. Dia langsung menghentikan apa yang dilakukannya untuk sesaat.
“Memangnya tidak boleh? Apa kamu mulai keberatan, Rain?” Binar malah balik bertanya.
“Tidak sama sekali. Aku malah sangat menyukainya,” balas Arsenio tersenyum lebar seraya mendekatkan wajahnya pada Binar. “Satu ciuman, ya,” pintanya pelan .
Bibir kedua anak manusia yang sedang dimabuk cinta itu hampir saja bertaut, ketika pintu rumah tiba-tiba terbuka. Bayu masuk sambil membawa satu kantong kresek penuh dengan camilan. “Saya belikan kacang atom, biskuit, dan keripik pisang, Pak. Semoga Anda suka,” ujar Bayu ramah. Dia meletakkan aneka camilan yang baru dibelinya tadi di atas meja ruang tamu, sebelum masuk ke bagian dalam rumah dan keluar lagi sambil membawa beberapa toples kosong. Bayu memindahkan makanan tadi ke dalam masing-masing toples, lalu menyuguhkannya pada Arsenio dan Binar. “Maaf, di warung tadi hanya ada ini,” ucapnya.
“Tidak apa-apa. Sudah, duduklah.” Arsenio mengulurkan satu tangan sebagai isyarat agar Bayu duduk di hadapannya. “Aku ingin membicarakan sesuatu tentang Haris,” lanjutnya.
“Siapa? Haris?" ulang Bayu. Raut wajahnya sempat terlihat lain. Namun, dengan segera dia menyembunyikannya dari Arsenio. "Ada apa dengan orang itu, Pak?” tanya Bayu setelah duduk dengan nyaman di kursi tamu miliknya.
“Om Bian mengatakan padaku bahwa Haris sudah tidak pernah datang ke kantor sejak tragedi berdarah itu,” jawab Arsenio dengan tatapan lurus ke arah Bayu.
“Oh. Benarkah itu, Pak?” Bayu menampakkan ekspresi terkejut.
“Iya. Aku jadi curiga bahwa dia ada hubungannya dengan semua ini. Apalagi Haris pernah mengancamku dulu. Dia akan menghabisi istriku jika aku tidak segera mengembalikan dokumen-dokumen rahasia miliknya,” papar Arsenio.
“Saya juga pernah mendengar cerita itu dari Bu Winona,” sahut Bayu. Bahasa tubuhnya terlihat semakin gelisah.
__ADS_1
“Oh, ya? Memangnya Wini mengatakan apa?” pancing Arsenio masih dengan sikapnya yang santai.
“Bu Winona menceritakan semuanya, tentang anak buah Anda yang meretas komputer server di kantor Pak Biantara dan mencuri data-data pribadi,” jelas Bayu.
“Wah, Aneh sekali. Aku tak pernah menceritakan semua hal ini pada orang lain, termasuk Wini. Aku hanya menceritakannya padamu, Bayu.” Sorot mata Arsenio berubah tajam. Dia menatap lekat sang ajudan Lievin yang terlihat semakin gelisah.
“Rasanya itu tidak mungkin. Bu Winona sendiri yang bercerita pada saya, Pak,” kilah Bayu sambil membetulkan sikap duduknya. Saat itulah, Arsenio meremas lembut paha Binar, sebagai pertanda bahwa Binar harus segera bersandiwara.
“Aduh,” ringis wanita muda itu tiba-tiba. Dia terlihat kesakitan sambil memegangi perut.
“Binar. Kamu kenapa, Sayang?” Arsenio pura-pura terkejut.
“Perutku tiba-tiba sakit, Rain,” jawab Binar lirih. Dia begitu menghayati aktingnya saat itu.
“Aduh, bagaimana ini? Padahal aku belum selesai berbincang dengan Bayu. Ini masalah penting Binar, tentang masa depan perusahaan papaku,” sahut Arsenio sambil diam-diam melirik pada Bayu.
“Tidak apa-apa. Aku bisa ke dokter kandungan sendiri. Bukankah dari dulu aku sudah terbiasa mandiri?” sahut Binar.
Tanpa Binar ketahui, Arsenio sudah berkoordinasi dengan Ajisaka untuk membuntuti mereka, beberapa saat sebelum meninggalkan Kediaman Rainier. Pria rupawan itu sudah merencanakan sesuatu. Dari beberapa hari yang lalu, Arsenio telah mencari cara untuk menjebak Bayu. Menurutnya, inilah cara yang terbaik. Dia hanya berdoa semoga semua yang sudah dia pikirkan matang-matang tak akan berakhir dengan kegagalan.
“Nah. Itu dia taksinya datang,” ujar Arsenio setelah mendapat pemberitahuan dari aplikasi di ponselnya. Dengan telaten, dia menuntun Binar hingga ke teras depan. Dalam hati, Arsenio memuji kemampuan akting sang istri. Binar sepertinya berbakat menjadi seorang aktris.
Bayu sendiri ikut berdiri dan menemani sepasang suami istri itu. Dia bahkan sempat mencatat plat nomor kendaraan dari taksi online tersebut dan mengirimkannya pada seseorang melalui aplikasi pesan. “Anda tidak turut mengantarkan Bu Binar sampai ke dokter, Pak?” tanya Bayu setelah selesai mengoperasikan telepon genggamnya.
“Tidak, karena aku belum selesai bicara denganmu,” jawab Arsenio sambil memastikan bahwa sang istri sudah dalam keadaan nyaman.
“Apakah tidak berbahaya, Pak?” tanya Bayu lagi.
“Semuanya aman terkendali. Tenang saja. Apalagi Haris sekarang sudah menghilang dan tak pernah menerorku lagi,” sahut Arsenio dengan santainya. Dia lalu melambaikan tangan pada Binar, ketika taksi online itu sudah melaju meninggalkan depan rumah Bayu.
__ADS_1
“Ke mana Bu Binar akan memeriksakan diri, Pak?” Bayu kembali melontarkan kalimat penuh selidik.
“Ke dokter kandungan langganan kami. Seperti biasanya di klinik langganan dekat bundaran,” jawab Arsenio seraya mengulum senyum. Senyuman pria itu semakin lebar, ketika Bayu mengangguk lalu mengetikkan sesuatu di ponsel.
Sementara itu, mobil yang ditumpangi Binar sudah keluar dari area perumahan, ketika sebuah kendaraan sedan berwarna hitam tiba-tiba menghadang taksi online yang ditumpanginya. Seorang pria yang tak lain adalah Ajisaka, turun dari sana dan menghampiri samping jendela Binar.
Dengan senyuman menawan, Ajisaka mengetuk kaca jendela yang membuat si pemilik taksi protes. “Anda siapa? Kenapa mengganggu penumpang saya?” hardiknya seraya membuka pintu dan keluar dari kendaraan.
“Dia istri Bos saya, Pak. Saya diminta menjemputnya pulang,” jawab Ajisaka sembari menyodorkan dua lembar uang pecahan senilai lima puluh ribu rupiah pada sang sopir.
“Wah, banyak sekali ini,” pikir si sopir keheranan.
“Buat jajan seblak,” sahut Ajisaka asal sambil membukakan pintu untuk Binar. Dia lalu menuntun wanita muda nan cantik itu menuju ke kendaraanya. Ajisaka membantu Binar masuk dan duduk di jok belakang mobil.
“Mau ke mana kita, Ji?” Binar sedikit mencondongkan tubuhnya pada Ajisaka yang mulai memutar kemudi.
“Saya akan membawa Anda ke spa, seperti janji bos Arsen tadi. Saya harap Anda tidak keluar dari sana sampai Bos datang,” pesan Ajisaka sopan.
“Oh, baiklah, tapi … siapa yang akan menemaniku?” tanya Binar ragu.
“Tenang saja, Bu Bos. Ada Anika yang siap menemani dan melayani Anda sepenuh hati,” jawab Ajisaka terkekeh pelan. Dia mengamati istri sang majikan dari pantulan spion tengah.
“Anika? Anika yang itu?” Ingatan Binar langsung tertuju pada wanita kenalan Arsenio yang ditemuinya saat antre membeli mie ayam.
“Iya, dia pacar saya sekarang,” sahut Ajisaka ceria.
“Pacar?” Mata indah Binar terbelalak sempurna. Dia begitu terkejut mendengar ucapan orang kepercayaan Arsenio tersebut.
“Iya, Bu Bos.” Ajisaka mengangguk penuh semangat. "Saya dan Ani sudah resmi berpacaran," jelasnya.
__ADS_1
“Selamat ya, Ji. Kalian terlihat serasi. Kamu ganteng, Anika juga cantik.” Binar senyum-senyum sendiri. Dia patut mengakui bahwa wanita-wanita dari masa lalu sang suami, semuanya berparas cantik dengan bentuk tubuh yang aduhai.
“Terima kasih, Bu Bos.” Senyuman Ajisaka semakin lebar. Apalagi saat itu dirinya sudah tiba di depan spa mewah yang dimaksud oleh Arsenio. “Itu dia pacar saya, Bos.” Tak lupa Ajisaka membantu Binar turun sebelum menghampiri Anika yang juga terlihat begitu ceria.