Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Teman Merangkai Bunga


__ADS_3

Wajah Binar memucat. Bibir gadis itu terkatup rapat, seolah tak ingin lagi mengeluarkan kata-kata. Dia lebih banyak menunduk, terlebih kerena Arsenio yang terus-menerus memandangnya dengan tajam.


Sementara Chand mengempaskan napasnya pelan. Itulah kenapa dia tidak segera memberitahukan rencana yang sempat diusulkan Arsenio beberapa hari yang lalu. Binar pun seperti masih kurang nyaman untuk berhadapan langsung dengan putra sulung Anggraini tersebut. Apalagi jika harus bertemu dengan seluruh keluarganya.


“Mal? Kok diam?” tegur Chand seraya menyentuh lengan gadis itu.


“E-eh iya, Kak.” Binar tergagap. Dia menoleh sambil memaksakan senyumnya.


“Sepertinya kekasihmu itu masih lelah, Chand. Jangan dipaksakan. Beri dia waktu untuk berpikir,” saran Anggraini. “Lagi pula, Tante tidak terburu-buru kok,” sambungnya.


“Ya, sudah kalau begitu kita mulai saja acara makan-makannya,” ajak Lievin. Pria asal Belanda itu segera meraih peralatan makan dan mengambil beberapa lauk di dekatnya. “Ayo, Nirmala. Pilihlah hidangan yang kamu suka. Makanlah sebanyak-banyaknya. Jujur saja, saya kurang suka melihat wanita-wanita bertubuh kurus,” ujar Lievin dengan senyuman terkembang.


"Sayang ...." Lirikan tajam Anggraini mengarah langsung kepada sang suami yang hanya terkekeh geli.


“Jangan banyak-banyak dong, Om. Dia ‘kan model. Nanti kalau melar bagaimana?” canda Winona sembari melemparkan senyumannya yang begitu indah kepada Binar. Mau tak mau gadis itu membalas keramahan Winona dengan senyuman yang sama manisnya.


“Kalau pada dasarnya seseorang itu cantik, mau melar, mau kurus, pasti akan tetap terlihat cantik,” celetuk Arsenio santai sambil mengiris potongan daging panggang di atas piringnya. Dia kini tak lagi memandang intens pada Binar. Arsenio tampaknya ingin menunjukkan sikap yang biasa saja di hadapan keluarganya.


Binar yang baru meneguk air putih, harus tersedak karena mendengarkan ucapan Arsenio. Namun, dengan segera dia berusaha untuk menguasai diri.


“Iya. Namun, bagi seorang model, bentuk tubuh yang proporsional itu wajib hukumnya,” sanggah Winona tak mau kalah.


“Sudah, sudah. Kalian ini kok suka sekali berdebat. Ingat, kalian harus tetap kompak, karena sebentar lagi kalian akan segera menikah,” lerai Anggraini yang seketika membuat jantung Binar seakan berhenti berdetak. Begitu pula Arsenio yang langsung menghentikan kegiatan makan dan melotot pada sang ibu.


Chand yang sedari tadi memperhatikan Binar, segera mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga gadis cantik itu. “Kamu tidak apa-apa? Sabar, ya. Selesai makan kita akan langsung pulang,” ucapnya.


Binar menggeleng pelan, lalu mengangguk. Sebisa mungkin dia berusaha untuk tidak mempermalukan diri di depan keluarga Arsenio. Sekuat tenaga Binar menyembunyikan rasa sedih dan gundah dengan senyuman. Dia juga menanggapi setiap obrolan yang ditujukan kepadanya.


“Sebelum menjadi model, profesi Nak Nirmala apa?” tanya Anggraini lembut, khas seorang ibu.


“Saya bekerja di toko bunga, Tante,” jawab Nirmala sopan.

__ADS_1


“Oh, berarti kamu pintar merangkai bunga, ya?” Wanita itu mengarahkan pandangan sepenuhnya pada Binar. Tampak jelas jika Anggraini tertarik dengan gadis cantik dengan senyuman manis itu. “Kebetulan setiap hari Minggu, Tante selalu memetik bunga di taman belakang. Barangkali jika Nak Nirmala tidak sibuk, kamu bisa membantu Tante merangkai bunga,” ajak Anggraini.


Binar yang merasa serba salah, hanya mampu tertawa lirih pada awalnya. Dia ingin sekali menghindari keluarga kaya raya itu. Namun, di sisi lain tak sopan rasanya jika dia menolak undangan dari wanita paruh baya yang masih tampak memesona tersebut. “Tentu, Tante. Hari Minggu saya tidak ada jadwal apapun. Sedangkan pameran berakhir Sabtu besok,” tutur Binar.


“Perfect!” sahut Lievin penuh semangat. “Akhirnya istriku mempunyai teman merangkai bunga. Selama ini Wini selalu menolak, sebab dia tidak suka bunga,” celotehnya seraya tergelak.


“Bukan tidak suka, Om. Aku alergi dengan tanaman hias itu,” ralat Winona sembari mengangkat satu jari.


“Ya, ya, ya. Ayo, tambah makannya.” Lievin bangkit dari kursi, lalu memberikan potongan ayam panggang yang sangat besar dan meletakkannya di piring Winona.


Semua orang tertawa lepas saat itu, kecuali Arsenio. Ekor matanya kembali mengikuti gerak-gerik Binar. Hal itu dia lakukan sampai acara makan malam berakhir dan Chand berpamitan pulang.


“Sampai jumpa hari Minggu ya, Nirmala.” Anggraini melambaikan tangannya, sesaat setelah Binar duduk dengan nyaman di dalam mobil Chand. Gadis itu membuka kaca mobil dan balas melambaikan tangan pada Anggraini.


“Aku suka Nirmala. Seandainya kita bisa mengenalkan dan menjodohkannya dengan Fabien,” celetuk Lievin ketika mobil Chand sudah tak tampak dari pandangan.


“Jangan macam-macam, Sayang. Dia pacar Chand,” protes Anggraini sembari mencubit pinggang suaminya dengan gemas.


Winona tertawa getir melihat kemesraan sepasang suami istri yang sudah tak lagi muda itu. Dalam hati, dia sungguh iri. Andaikan dirinya bisa semesra itu bersama Arsenio. “Kalau begitu, aku juga pamit pulang, Om, Tante,” ucapnya. Gadis itu tak canggung memeluk Lievin dan Anggraini secara bergantian. Dia juga tak lupa mengecup pipi Arsenio yang sedari tadi hanya berdiri terdiam di samping ayahnya.


Tak seperti biasanya, saat itu Arsenio tak menolak sama sekali. “Aku akan mengambil kunci sebentar,” ujarnya sambil berbalik meninggalkan Winona di teras dan kembali beberapa menit kemudian. “Ayo,” ajaknya dengan intonasi dingin. “Mobilmu biar diantarkan pak Mono,” terang Arsenio, menyebutkan sopir pribadi keluarga Rainier.


“Tumben kamu mau mengantar aku pulang?” Winona mengernyitkan kening, keheranan melihat sikap tunangannya. Dia membuka pintu mobil dan duduk di samping Arsenio yang telah bersiap di belakang kemudi.


“Aku sedang baik,” jawab Arsenio asal. Setelah itu dia tak mengucapkan sepatah kata pun sampai mobilnya tiba di depan rumah Winona yang tak kalah mewah.


“Kamu tidak ingin masuk dan menyapa mama papaku?” tanya Winona sebelum keluar dari kendaraan. Selalu ada harapan besar dalam diri gadis itu terhadap sosok pria yang kini telah menjadi tunangannya.


“Lain kali saja. Lagi pula, besok aku dan papamu akan mengadakan rapat bersama,” tolak Arsenio dengan nada bicara yang terdengar biasa saja. "Sudah malam. Sebaiknya kamu segera masuk dan beristirahat," sarannya yang sudah tak tahan untuk lebih lama berduaan dengan Winona.


"Kenapa, Sen? Jika kamu ingin agar aku berubah menjadi seperti Indah dan Ghea ketika di hadapanmu, maka ...."

__ADS_1


"Jangan bahas hal itu. Tidak ada yang istimewa dari kedua wanita yang kamu sebutkan tadi," sela Arsenio dengan segera.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Winona lagi penuh harap.


"Masuk dan tidurlah. Itu yang kamu butuhkan." Arsenio terdiam dan membiarkan Winona keluar sendiri. Setelah berpamitan, dia lalu memundurkan kendaraan dan memutar kemudinya. Tujuan Arsenio saat itu adalah mengunjungi apartemen Binar. Hatinya begitu panas saat teringat pada acara makan malam tadi. Tak disangka, Chand memperkenalkan Binar sebagai kekasih pada kedua orang tuanya.


Niat Arsenio pun sudah bulat untuk meminta penjelasan kepada Binar.


Kurang dari satu jam, mobil mewah milik pria tampan itu sudah berhenti di lantai parkir apartemen. Arsenio berjalan setengah berlari menuju lift. Dia lalu memencet tombol angka. Setelah itu, Arsenio keluar saat pintu lift telah mengantarkannya ke lantai yang dituju. Tak dia pedulikan arloji yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Arsenio awalnya mengetuk pintu ruangan apartemen Binar secara perlahan. Namun setelah beberapa kali ketukan, Arsenio mengetuknya lagi dengan lebih keras, hingga dia melihat pegangan pintu bergerak dan pintu terbuka dari dalam. Wajah Binar menyembul keluar. Tampak jelas jika gadis itu seperti baru menangis.


“Mau apalagi kamu, Rain?” lirih suara Binar menyembunyikan kegalauan di hatinya.


“Kamu menangis?” tanya Arsenio lembut.


“Menangis atau tidak, bukan urusanmu. Pulanglah,” usir Binar sambil berusaha menutup pintunya kembali. Akan tetapi, gerak Arsenio lebih gesit. Dia menahan pintu itu dan mendorongnya sampai terbuka lebih lebar.


“Rain! Tolonglah! Tidak sopan laki-laki bertamu ke tempat seorang perempuan malam-malam begini!” sekuat tenaga Binar menahan agar tubuh tegap itu tidak merangsek masuk. Namun, apa daya tenaganya tak sekuat Arsenio, sehingga pria tampan itu bisa masuk ke dalam apartemen dengan mudahnya.


“Aku hanya ingin bicara. Sebentar saja.” Arsenio menutup pintu begitu saja, lalu melangkah perlahan mendekati Binar. Sementara gadis itu memilih untuk mundur dan menjauh, sampai betisnya menabrak sofa dan jatuh terduduk.


Arsenio tetap pada posisinya yang berdiri tepat di hadapan Binar. Dia lalu membungkuk, mencondongkan tubuh dan menumpukan kedua tangannya pada sandaran sofa untuk mengungkung Binar dengan sengaja.


“Rain, tolonglah. Aku tidak mau menjadi perusak hubungan,” pinta Binar setengah putus asa. Air mata kembali meleleh di pipi mulusnya.


.


.


.

__ADS_1


Sekilas ingpoh, maszeeh.. ada karya keren banget, kisah mafia yg benar2 beda dan sangat nganu sekali. mampir lah sebentar di sini ya, dear readers



__ADS_2