
“Minggirlah, Chand. Aku ingin bicara dengan Binar, ber-du-a!” ucap Arsenio penuh penekanan pada kata terakhir.
“Cepat ambil barang-barangmu, Mal. Kutunggu di sini,” tegas Chand sambil menghadap ke arah Arsenio dengan sorot mata tajam. Dia sengaja mengambil posisi berhadapan untuk menghalangi sahabatnya itu agar tak dapat mendekat kepada Binar.
“Kuminta sekali lagi, minggirlah Chand,” desis Arsenio pelan tapi tegas.
“Maaf, aku tidak bisa,” tolak Chand.
“Aku benar-benar tak ingin berkelahi denganmu, Chand. Cukuplah sekali kita saling baku hantam di tempat parkir seperti waktu itu,” tutur Arsenio kalem.
Chand sedikit tertegun mendengar kalimat sahabatnya itu. “Apa kau sudah bisa mengingat masa lalumu?” tanyanya hati-hati.
“Ya, tapi hanya kamu, Binar, dan juga Fabien yang tahu,” jawab Arsenio seraya menempelkan telunjuk di bibir. “Sekarang, minggirlah. Aku mau menjelaskan semuanya kepada Binar." Arsenio mencoba menyingkirkan tubuh Chand dari hadapannya. Namun, Chand tetap bergeming.
“Lebih baik kita berkelahi habis-habisan di sini, daripada kamu mendekati Binar lagi,” seringai Chand. Dia pun mengambil sikap siaga seraya mengepalkan kedua tangan.
“Dengarkan aku, Chand. Apa yang akan aku jelaskan padamu ini adalah yang sesungguhnya terjadi. Aku memang brengsek, seperti yang kamu ketahui selama ini. Akan tetapi, aku bukan pembohong. Kau pasti mengetahui dengan baik tentang hal itu,” balas Arsenio.
Chand berpikir untuk sejenak. Tak ada salahnya dia menerima permintaan Arsenio untuk menglur waktu. Dia pun menoleh ke arah Binar dan mengangguk. Melalui tatapan mata, dia seolah menyuruh Binar untuk buru-buru masuk ke dalam rumah.
Binar adalah gadis yang cerdas. Tentu saja dia paham akan maksud Chand, sehingga dirinya bergegas membalikkan badan dan berlari menuju ke kamar di lantai dua. Binar membuka lemari pakaian lebar-lebar dan mengeluarkan baju-bajunya yang tak seberapa banyak. Dia cepat-cepat memasukkan barang-barang penting lain ke dalam koper beroda yang dipinjamkan oleh Chand. Ketika itu, Chand mengatakan bahwa ransel hitam bututnya yang dia bawa sejak dari Bali, sudah tak layak pakai.
Setelah selesai, Binar bermaksud keluar dari kamar yang selama ini dia tempati. Akan tetapi, ketika membuka pintu kamar lebar-lebar, tubuh tegap Fabien sudah menghalangi jalannya. “Kamu mau ke mana?” tanyanya ketus.
“Aku mau pergi! Aku tak mau lagi berurusan dengan kalian! Kenapa? Kamu mencurigai aku mencuri barang-barang dari sini?” Binar tak kalah ketus. Dia lalu mendorong kopernya hingga menabrak kaki Fabien.
“Hanya barang-barang itu saja yang kubawa saat datang kemari. Kamu boleh memeriksanya untuk memastikan, atau sekalian saja geledah aku ” tantang Binar sambil merentangkan tangan. Matanya kembali berkaca-kaca saat teringat akan kalimat setajam pedang yang sudah dilontarkan oleh adik dari Arsenio tersebut. Kata-kata itu pula yang telah berhasil mengoyak dan mencabik-cabik hatinya.
__ADS_1
“Siapa kamu sebenarnya, Binar?” tanya Fabien dengan intonasi yang jauh lebih lembut. Tak terdengar lagi nada ketus seperti yang dia katakan beberapa saat lalu.
“Biar kak Chand saja yang menjelaskan semuanya padamu. Aku lelah,” tolak Binar. “Besok akan kukirimkan surat pengunduran diriku pada tante Anggraini,” ucap Binar lagi seraya menggeser tubuh Fabien ke samping dan buru-buru menuruni anak tangga.
Lagi-lagi langkah Binar harus terhenti ketika Arsenio sudah berdiri gagah di ujung tangga.
Melihat sosok atletis yang kini tengah meniti anak tangga itu membuat jantung Binar berdebar tak karuan. Keringat dingin mulai mengalir di kening dan telapak tangannya. Akan tetapi, tekad Binar sudah bulat. Dia harus keluar secepatnya dari rumah itu. Apalagi Chand sudah pasti menunggu di halaman depan.
Binar memantapkan diri untuk menuruni tangga dan melewati Arsenio begitu saja. Gadis itu menunduk dan menggenggam erat gagang koper, ketika aroma tubuh Arsenio menguar dan menusuk indra penciumannya. Seketika, angan gadis itu melayang pada kemarin malam, di mana Arsenio menggodanya dengan ciuman dan sentuhan memabukkan, hingga mereka hampir saja melakukan sesuatu yang lebih jauh dari sekadar bermesraan.
Binar menjadi hilang konsentrasi. Gadis itu mendadak gugup mengingat hal yang seharusnya dia lupakan, sehingga dia tidak menyadari bahwa kakinya tak lagi menapak dengan tepat pada undakan anak tangga. Binar pun tergelincir dan hampir saja terjatuh. Namun, beruntung karena Arsenio sigap menangkap tubuhnya dan membantu dia untuk kembali berdiri.
“Aku ingin bicara. Lima menit saja. Setelah itu, kuserahkan semua keputusan padamu,” ucap Arsenio pelan.
“Lain kali saja. Kak Chand sudah menungguku di luar,” tolak Binar. Dia melepaskan tangan Arsenio dari lengannya, kemudian melanjutkan langkah menuju ke dekat pintu keluar.
Gadis cantik itu menoleh. Matanya terbelalak saat menatap pria tampan yang sedang berjalan menuruni anak tangga. Namun, Binar tak mengatakan apapun. Dia segera membalikkan badan dan tetap melangkah keluar. Binar tak berhenti sampai dirinya tiba di halaman tempat Chand memarkirkan mobil beberapa saat yang lalu.
Akan tetapi, ternyata tidak ada apa-apa di sana. Tak ada mobil maupun sosok Chand. Binar memastikan apa yang dia lihat dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Arsenio berkata yang sebenarnya. Chand sudah pergi dari kediaman Rainier. Pria itu meninggalkannya. Binar pun hanya berdiri terpaku meratapi nasib dalam kebisuan. Tetes air matalah yang mewakili segala jeritan hatinya, sebagai seorang gadis dengan jalan hidup yang tak seindah namanya.
“Chand mengatakan bahwa dia menitipkanmu padaku,” ujar suara yang berasal dari belakang Binar. Gadis itu segera berbalik dan mendapati Arsenio berdiri sambil memperhatikan wajah cantiknya dengan lekat. “Lima menit saja, Binar. Aku berjanji padamu,” pinta Arsenio dengan raut sungguh-sungguh.
Binar menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. “Baiklah. Silakan bicara,” putus gadis itu pada akhirnya.
“Apa yang aku lakukan dengan Ghea, tidaklah seperti yang kamu bayangkan.” Arsenio memberanikan diri untuk semakin mendekat. Dia harus menjelaskan semuanya dengan segera, sebelum menjadi berlarut-larut. “Seperti yang sudah pernah kuceritakan padamu. Aku tengah menyelidiki tentang siapa saja pelaku percobaan pembunuhan terhadap diriku. Penyelidikan yang kulakukan sudah membuahkan hasil. Semua bukti-bukti mengarah pada Indah, asisten Winona." Arsenio mengawali penjelasannya kepada Binar.
"Aku lalu menyuruh anak buahku untuk menangkap Indah, tapi ternyata gadis itu telah lebih dulu menghilang dan melarikan diri,” jelasnya lagi.
__ADS_1
“Aku juga sudah menginterogasi pacar Indah. Dia sendiri tak mengetahui di mana wanita itu berada. Bidikanku beralih pada Ghea, karena aku tahu dengan pasti bahwa wanita itu adalah salah seorang teman dekat Indah. Namun, aku tak boleh membuat Ghea curiga, agar dia tidak menghindar dan menghilang seperti Indah. Akhirnya, aku membuat pendekatan dengan cara seperti tadi, yaitu mendekati dan menggodanya untuk memasang penyadap di ponsel saat Ghea lengah,” papar Arsenio panjang lebar.
Binar memejamkan mata rapat-rapat. Kembali hadir dalam benaknya bayangan Arsenio yang tengah berdekatan dengan janda dari Chand tersebut. Setitik air menetes dari sudut mata. Gadis itu berjingkat saat merasakan sentuhan tangan lembut mengusap pipinya yang basah.
Binar membuka mata dan mendapati Arsenio sudah berada begitu dekat dengannya. “Aku minta maaf, Binar,” ucap pria itu pelan dan lembut.
“Haruskah dengan cara seperti itu? Kamu begitu mudah dan seakan tak memiliki beban apapun saat bersentuhan dengan setiap wanita. Kalau begitu, biarkan aku pergi,” sahut Binar lirih.
“Kamu mau pergi ke mana? Biar kuantar,” ujar Arsenio masih dengan nada bicaranya yang lembut.
“Aku naik taksi online saja.” Binar merogoh ponselnya dari dalam tas selempang.
“Aku yang akan mengantar atau kamu tidak boleh pergi ke mana-mana,” tegas Arsenio merebut ponsel Binar, lalu menyembunyikannya di balik tubuh.
“Tolong, Rain. Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku benar-benar lelah. Tolong jauhi aku. Apakah tidak cukup kalian membuatku sengsara? Aku bukan penipu seperti yang Fabien katakan. Aku hanya gadis biasa yang ingin hidup dengan tenang.” Kali ini tangis Binar tak hanya berupa isakan. Gadis itu meraung cukup kencang. Emosi yang dia tahan sejak tadi, meledak sudah. Binar menangis sesenggukan. Tubuhnya lemah mencari pegangan, hingga akhirnya dia memilih untuk duduk bersimpuh di halaman berumput.
Tentu saja Arsenio tak akan membiarkan gadis yang dia cintai menjadi kotor, sehingga dia menarik tubuh gadis itu agar berdiri. Arsenio memapahnya dengan hati-hati menuju kursi teras dan mendudukkan Binar di sana. Dia terus menunggu sampai Binar menjadi jauh lebih tenang.
Arsenio juga menyuruh salah seorang asisten rumah tangga membawakan minum untuk Binar. Dengan telaten, dia membujuk dan meminumkan beberapa teguk air padanya. Dirasa gadis itu sudah kembali normal, Arsenio menyerahkan ponsel Binar kembali. “Kuantar, ya,” ucapnya lembut.
“Jangan bersikap baik kalau kamu hanya ingin mempermainkanku, Rain,” tolak Binar lemah. Gadis itu seolah kehilangan seluruh tenaganya.
“Aku tidak dan tak akan pernah mempermainkanmu, Binar. Tidak akan pernah sama sekali!” tegas Arsenio. “Aku menyesali perbuatanku. Seharusnya aku tak menyentuh wanita lain selain dirimu. Walaupun aku melakukannya bukan atas dasar cinta. Aku mungkin hidup dalam sandiwara. Aku memakai topeng berbeda kepada setiap orang. Aku berpura-pura tertawa, menggoda, merayu. Aku bisa berpura-pura terhadap semuanya, tapi tidak dengan satu nama,” lanjutnya.
“Aku tidak bisa berpura-pura denganmu, Binar. Anggap saja aku gila, tapi kehadiranmu benar-benar membuat hidupku berbeda. Hari-hari yang terasa berat dan seperti di neraka, menjadi terasa jauh lebih ringan sejak kamu ada di dekatku. Itulah kenapa aku sangat membutuhkanmu,” ungkap Arsenio.
“Namun, aku tak akan lagi memaksa. Chand benar. Jika aku memang mencintaimu, maka aku harus melepaskanmu.” Arsenio menarik napas panjang. Berat baginya berkata demikian. Namun, dia tak ingin semakin menyiksa gadis yang telah membuatnya tergila-gila itu.
__ADS_1