
Seusai berbincang dengan Winona, Dwiki pun kembali ke dalam rumah. Dia mengikuti lagi perbincangan di ruang tamu. Setelah duduk di sebelah Ajisaka, Dwiki ikut menyimak obrolan ringan antara Lievin, Arsenio, dan Ajisaka. Padahal, saat itu pikirannya justru tertuju kepada wanita cantik yang tadi berbincang dengannya lewat telepon. Alhasil, Dwiki pun hanya terdiam mendengarkan tanpa ikut menimpali.
“Apa ada masalah, Ki?” tanya Arsenio. Dia merasa heran saat melihat Dwiki yang tak ikut berbicara.
“Tidak juga, Bos. Winona menghubungiku. Dia mengabarkan bahwa bu Yohana tadi pagi mengeluh sakit dada. Jadi, beliau langsung dibawa ke rumah sakit untuk periksa. Katanya, akhir bulan ini pak Biantara juga akan membawa bu Yohana kembali ke Singapura untuk cek berkala,” tutur Dwiki.
Arsenio mengempaskan napas pelan setelah mendengar apa yang Dwiki katakan barusan. Dalam ingatannya, kembali hadir sosok Yohana yang memang terlihat sangat ringkih di atas kursi roda. “Aku juga tidak tega saat melihat tante Yohana dalam kondisi seperti itu,” ujar pria tampan tersebut penuh sesal.
“Memangnya ada apa dengan Yohana?” tanya Anggraini yang tiba-tiba muncul di ruang tamu bersama Binar. Dia lalu duduk di sebelah Lievin. Raut wajah ibu dua anak tadi menyiratkan rasa penasaran yang sangat besar.
“Tante Yohana sakit, Ma. Saat ini, dia sedang menjalani berobat jalan ke Singapura. Jika dilihat dari kondisi tubuhnya, tante Yohana memang tampak sangat mengkhawatirkan. Dia tidak sebugar dulu,” terang Arsenio.
Mendengar penuturan dari sang anak, seketika wajah Anggraini berubah menjadi sangat tegang. Dia menatap Arsenio dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan. Bagaimanapun juga, Yohana merupakan sahabat baiknya. Dulu, mereka kerap mengikuti berbagai acara sosial. Ada banyak kegiatan bermanfaat yang sering keduanya lakukan bersama ibu-ibu sosialita yang lain. “Memangnya Yohana sakit apa?” tanya Anggraini penasaran.
“Entahlah, Ma. Waktu kemarin aku ke rumah om Bian, kulihat tante Yohana berada di atas kursi roda ….” Arsenio terdiam sejenak tanpa mengalihkan pandangan dari sang ibu. “Apakah Mama berniat untuk menjenguknya?” tanya Arsenio yang lebih pantas disebut sebagai sebuah tawaran.
Sementara Anggraini tak segera menajwab. Dia terlebih dulu melirik kepada sang suami, seakan meminta persetujuan dari pria itu.
“Memangnya mereka masih berminat untuk menemui kita?” Nada bicara Lievin terdengar penuh keraguan.
“Aku rasa dengan mengembalikan kondisi perusahaan seperti semula saja, itu sudah menunjukkan itikad baik dari keluarga Sasmita. Lagi pula, aku sudah meminta maaf secara langsung untuk segala kesalahan yang telah kuperbuat terhadap Winona.” Arsenio menoleh kepada Dwiki, lalu tersenyum penuh arti. Dwiki pun membalasnya dengan hal yang sama.
Suasana di dalam ruang tamu luas itu, hening untuk beberapa saat. Tak berselang lama, Lievin kembali bersuara. “Aku juga sebenarnya ingin kembali berbincang dengan Biantara. Ada banyak hal yang hendak kusampaikan padanya,” ucap pria berpostur tinggi besar tersebut seraya melirik kepada sang istri. Sesaat kemudian, Lievin mengalihkan perhatian kepada Arsenio. “Mamamu mengatakan bahwa kemarin-kemarin kamu sempat bertanya tentang Bayu.”
“Oh ya. Aku hampir lupa untuk menanyakan hal itu kepada Papa.” Arsenio menggeleng pelan atas keteledorannya. “Jadi, dari mana Papa mengenal Bayu?” tanya Arsenio kemudian.
“Ada apa memangnya, Arsen? Jangan katakan jika kamu mencurigai orang kepercayaan ayahmu sendiri.” Lievin menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Sementara Arsenio hanya tertawa renyah. Sebelum menjawab pertanyaan sang ayah, dia lebih dulu menoleh kepada Ajisaka dan juga Dwiki. “Kita patut untuk mencurigai siapa pun orang asing yang masuk ke dalam lingkungan kita, Pa. Melakukan antisipasi akan jauh lebih baik daripada harus kecolongan. Bukan begitu?” Sebuah senyuman kalem terlukis dengan sempurna di paras tampan Arsenio.
“Ya, kamu benar. Namun, Bayu sudah lama bekerja dengan Papa. Dia juga sangat rajin dan ulet. Selain itu, Papa menyukai karakternya yang tenang,” terang Lievin memuji orang kepercayaannya tadi.
Arsenio sendiri hanya manggut-manggut saat mendengar hal itu. Dia kembali menoleh kepada Ajisaka dan juga Dwiki. Kedua orang kepercayaannya tersebut menganggukkan kepala, sebagai suatu isyarat yang mengandung banyak makna tersirat. Arsenio pun membalas anggukan tadi. Dia lalu mengempaskan napas pelan sebelum memulai apa yang akan dirinya sampaikan kepada sang ayah.
Jelas dan runut, Arsenio menceritakan temuan-temuannya pada Lievin. Dia juga mengungkapkan kedekatan antara Bayu dan Haris. “Bayu telah mengirimkan file-file data rahasia perusahaan kepada Haris, sedangkan oleh Haris … entah dia gunakan untuk apa informasi-informasi penting itu. Yang jelas, aku yakin bukan untuk hal-hal baik,” tuturnya.
“Begitukah?” Lievin yang awalnya menyandarkan badan pada sandaran sofa, kini mencondongkan tubuh ke depan. Dia serius menatap putra sulungnya. “Jadi, bagaimana menurutmu, Sen?” tanyanya.
“Menurutku, untuk sementara kita berpura-pura tidak tahu apa-apa dan berharap Haris tidak mengatakan apapun padanya, karena Haris sudah mengetahui apa yang telah kudapatkan. Kita bersikap biasa saja di hadapan Bayu, sambil terus mengumpulkan bukti-bukti. Suatu saat nanti, di saat dia lengah maka baru kita ‘habisi’,” jawab Arsenio sambil tersenyum lebar.
Mendengar kata-kata sang suami yang bagi Binar sedikit kejam, wanita muda itu segera menggeleng kuat-kuat. “Aku tidak setuju kalau suamiku menjadi seorang pembunuh,” protesnya memasang wajah yang terlihat sangat polos. Jelas sudah jika Binar tak memahami istilah-istilah yang digunakan oleh Arsenio.
Sontak hal itu membuat para pria terbahak. Namun, tidak demikian dengan Anggraini dan Binar. Dua wanita berbeda generasi itu malah mengernyit kebingungan.
“Ah, syukurlah. Aku sendiri juga sempat takut,” ucap Anggraini mengempaskan napas lega, lalu tertawa sambil menepuk lembut lengan Binar.
“Baiklah. Kalau begitu, aku menyerahkan semuanya pada kalian. Walaupun sebenarnya aku merasa begitu terkejut. Sejak pertama kali aku dikenalkan pada Bayu oleh tuan Baiduri Haziq, aku sudah merasa cocok dengannya. Namun, aku sama sekali tak menyangka bahwa dia ….” Lievin menggeleng pelan seraya menopang kening dengan tangan kanan yang bertumpu pada pinggiran sofa.
“Tuan siapa tadi, Pa?” tanya Arsenio seraya mengernyitkan kening.
“Baiduri Haziq. Dia merupakan seorang milyuner dari Malaysia. Kudengar, tuan Baiduri yang menguasai sektor pertambangan di negaranya,” jelas Lievin.
“Dari mana Papa mengenalnya?” tanya Arsenio lagi.
“Biantara yang mengenalkannya padaku. Saat itu tuan Baiduri juga hendak membangun bisnis penerbangan di Indonesia,” terang Lievin.
__ADS_1
“Oh jadi begitu.” Arsenio mengangguk, lalu saling pandang dengan Dwiki dan Ajisaka. Walaupun tanpa kata-kata, dua orang kepercayaan itu seolah paham dengan apa yang majikannya inginkan.
“Kami akan menyelidiki latar belakang tuan Baiduri Haziq,” ucap Dwiki pada ayah kandung Arsenio tersebut.
“Oh tentu saja. Lakukan apa yang menurut kalian penting. Lagi pula, aku tak begitu mengenal pria itu. Kami murni hanya bertemu sebanyak tiga kali dalam acara bisnis. Selebihnya, kami tak pernah berkomunikasi,” papar Lievin lagi.
Selesai berbicara demikian, Lievin menoleh ke arah Binar yang sedari tadi asyik memperhatikan percakapan seru para pria. “Bagaimana kandunganmu, Binar? Apa kamu masih sering mual-mual?” tanyanya lembut dan penuh perhatian.
“Sudah berkurang banyak, Pa. Obat-obatan dari dokter kandungan sangat membantu rasa tidak nyaman di perut saya,” jawab Binar sopan.
“Syukurlah. Aku sungguh menanti kehadiran cucu pertamaku. Rasanya tak sabar menunggu tujuh bulan lamanya.” Lievin tak henti-henti menatap ke arah sang menantu sambil tersenyum lebar. Sorot matanya tampak begitu bersemangat.
“Dulu, kami sangat menginginkan kehadiran anak perempuan,” sahut Anggraini. “Sayang sekali, Tuhan tidak mengabulkan. Kami dikaruniai dua anak laki-laki yang tampan. Setelah itu, aku dan Lievin terus berusaha agar Arsen dan Fabien bisa mendapatkan adik perempuan. Akan tetapi, rupanya rezeki kami hanya cukup pada mereka.” Wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda itu, mengarahkan pandangan pada Arsenio dan Binar secara bergantian.
“Sekarang Mama sudah mendapatkan anak perempuan tanpa harus melahirkan,” kelakar Arsenio.
“Betul juga.” Anggraini ikut tergelak. "Tapi, seandainya bisa, kami ingin cucu perempuan … dan laki-laki, lalu perempuan lagi … terus laki-laki lagi,” sambungnya yang segera disambut tawa lebar dari Lievin dan Ajisaka. Sedangkan Arsenio hanya menarik napas panjang sembari melirik pada Dwiki.
“Jangan melihat ke saya, Bos. Saya tidak dapat membantu apa-apa,” ucapnya sambil meringis.
“Seandainya papa dan mama tahu betapa susahnya menuruti istri yang sedang ngidam. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan rasanya jika Binar harus ngidam berkali-kali,” ujar Arsenio berdecak pelan.
“Pasti seru!” sahut Lievin, lalu tertawa lebar.
“Bisakah Mama meminta satu hal?” tanya Anggraini ketika Lievin masih terus tertawa.
“Tentu saja, Ma. Apapun itu, sebisa mungkin akan kupenuhi,” jawab Arsenio yakin.
__ADS_1
“Jika cucu mama nanti lahir perempuan, mama ingin memberinya nama Wilhelmina, sesuai nama tengah Arsen,” ujar Anggraini dengan sorot mata yang begitu teduh dia layangkan kepada Binar. Wanita paruh baya yang selalu terlihat anggun itu juga mengusap-usap perut Binar dengan lembut dan penuh perasaan. Sungguh merupakan sebuah anugerah yang sangat indah bagi dirinya dan juga Lievin. Lengkap sudah kebahagiaan mereka, meskipun bayi itu masih membutuhkan waktu beberapa bulan lagi untuk dapat melihat dunia.