
Beberapa saat telah berlalu. Arsenio ternyata tak hanya sekadar mencuci muka, tapi dia juga membasuh tubuhnya sekalian. Di bawah guyuran air shower yang menyegarkan, pria itu terdiam hingga beberapa saat.
Arsenio memejamkan kedua mata, memikirkan segala hal yang terjadi atas dirinya kini. Dulu dia senang mencari masalah, dan menganggap hal itu sebagai sebuah petualangan yang membuat hidupnya menjadi lebih terasa. Namun, entah kenapa saat ini kepalanya terasa begitu pusing, dengan segala sesuatu yang tengah dihadapinya.
Sementara Binar pun telah kembali dari membeli sarapan saat Arsenio selesai mandi. Pria tampan berambut cokelat itu bahkan telah berpakaian lagi dengan rapi. Dia lalu keluar dari kamar utama, kemudian berjalan menuju area dapur.
"Aku sudah membeli sarapan untuk kita. Nasi kuning. Menu sarapan sejuta umat di Indonesia," ucap Binar yang melihat Arsenio tengah melangkah gagah.
Arsenio tertegun dan menoleh, lalu tersenyum lembut. "Aku ingin ke dapur dulu," sahut pria tampan dengan kemeja biru langit tersebut. Setelah itu, dia pun berlalu dari hadapan Binar. Arsenio sendiri tampak mencari sesuatu di dalam tempat penyimpanan bahan makanan.
"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Binar yang ternyata mengikuti pria tampan tadi ke dapur.
Arsenio terkejut. Dia segera menghentikan apa yang sedang dilakukannya, kemudian menoleh. "Biasanya Prajna sering menyimpan stok Kopi Arabika di sini." Arsenio kembali mencari apa yang dia butuhkan, bahkan tak hanya di satu tempat. Setelah menemukannya, dia menunjukkan barang yang dirinya maksud kepada Binar. Arsenio juga mengambil serta menyeduhnya sendiri. Pria itu seperti tak merasa canggung lagi dengan apartemen milik adik Chand tersebut, seakan sudah seringkali ke sana.
"Apa kamu sering kemari?" tanya Binar dengan nada dan raut yang menunjukkan sebuah kecurigaan.
Arsenio yang baru selesai menyeduh kopi, meletakkan cangkir keramik putihnya di atas meja. Dia seakan paham dengan maksud dari pertanyaan Binar, sehingga dirinya tak segera menjawab.
"Ya ampun," gumam Binar yang seakan tak perlu lagi jawaban dari pria tampan itu. Dia terlihat kecewa. Binar pun bermaksud untuk keluar dari dapur. Namun, dengan segera Arsenio mencegahnya.
Pria tampan berdarah Belanda tadi dengan cepat menghalangi langkah Binar. Dia menatap gadis belia tersebut dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan. "Binar, aku ...." Ucapan Arsenio terjeda.
__ADS_1
"Kamu mengencani adik sahabatmu sendiri? Itu sangat luar biasa," ucap Binar yang terlihat kecewa.
"Prajna juga tak menolakku. Kami ...."
"Berapa lama? Apa kak Chand mengetahuinya?" potong Binar.
"Tentu saja tidak. Kami hanya sekadar berkencan, tidak lebih dari itu," jelas Arsenio ragu.
"Ya. Sudah kuduga," balas Binar mencoba menghindar.
"Binar. Kumohon," pinta Arsenio sembari memegangi tangan gadis itu. Namun, sesaat kemudian sulung dari dua bersaudara tersebut kembali melepaskannya. "Kenapa aku harus merasa bersalah? Kenapa juga kamu harus marah? Bukankah kita akan saling melepaskan setelah ini?" Suara Arsenio terdengar begitu berat dan dalam. Sedangkan tatap matanya tak teralihkan dari paras cantik Binar yang telah membuat dia begitu terpikat.
"Kalau begitu lupakan. Anggap aku tak pernah bertanya," ujar Binar dengan ekspresi yang masih terlihat kecewa. Sikap gadis itu telah membuat Arsenio menjadi serba salah. Namun, pria itu pun akhirnya membiarkan Binar keluar dari dapur.
"Kenapa tidak dihabiskan?" tanya Binar yang melihat sisa nasi kuning Arsenio masih cukup banyak. "Saat masih menjadi Rain, kamu tak masalah saat kuajak sarapan nasi kuning," ucapnya kemudian.
"Sebenarnya aku jarang sekali sarapan. Apalagi jika mamaku sedang tak berada di Indonesia. Tidak ada peraturan untuk itu," sahut Arsenio menghabiskan sisa kopinya. Dia kembali menatap Binar dengan lekat. "Apa jadwal kamu hari ini?" tanyanya berbasa-basi.
"Aku harus mengambil berkas-berkas pekerjaan yang tertinggal di rumahmu. Tante Anggraini sudah memberiku tugas. Padahal aku sudah meminta izin untuk mengundurkan diri, tapi beliau mengatakan agar aku menunggunya kembali ke Indonesia," jelas Binar. Dia enggan untuk menatap wajah pria tampan di hadapannya.
"Baiklah. Kita bisa berangkat sama-sama ke sana." Arsenio menanggapi dengan tenang. Setelah menikmati secangkir kopi, pikirannya merasa jauh lebih segar. "Mau berangkat sekarang?" tawar pria itu kemudian.
__ADS_1
Binar tak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan. Sesaat kemudian, gadis itu pun beranjak dari duduknya menuju kamar. Tak berselang lama, si pemilik rambut hitam tadi telah kembali dengan tas selempang yang kini menjadi sahabat setianya.
Melihat Binar telah siap untuk pergi, Arsenio pun meraih kunci mobil dan mengiringi gadis cantik itu keluar dari apartemen. Hingga Range Rover putih milik Arsenio bergerak meninggalkan area apartemen tadi, Binar masih membisu. Sikapnya tentu saja telah membuat sang pemilik kendaraan mewah tersebut kembali menjadi serba salah.
Dengan tiba-tiba, Arsenio memutar kemudi ke arah lain. Apa yang dia lakukan telah membuat Binar yang sejak tadi tampak seperti patung, seketika bereaksi. "Kenapa? Mau ke mana kita?" tanyanya setengah protes.
"Aku baru ingat harus mengambil sesuatu dari apartemenku. Tidak akan lama," jawab Arsenio menoleh sesaat kepada Binar sambil tersenyum kalem serta mengedipkan sebelah mata. Jika sudah melihat sikap Arsenio yang seperti itu, Binar pun seakan terhipnotis. Dia tak ingin mendebat si pemilik fisik penuh pesona tadi. Arsenio ternyata memiliki bisa yang teramat beracun dan mampu melumpuhkan setiap wanita, hanya melalui sebuah tatapan singkat sekalipun.
Tak berselang lama, mobil putih yang mereka tumpangi telah tiba di apartemen yang jauh lebih mewah dari milik Prajna. Binar sampai terheran-heran, karena mereka memasuki lift pribadi yang langsung menuju ruang milik Arsenio. Saat menginjakkan kaki di atas lantai berlapis marmer hitam mengkilap itu, ada semacam perasaan lain dalam hati gadis cantik tersebut.
Binar mengedarkan pandangan pada setiap sudut ruangan luas dengan segala ornamen penunjang yang terlihat sangat berkelas. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya menyaksikan sentuhan kemewahan yang artistik secara langsung. Namun, satu hal yang teramat mengusik hati nuraninya, yaitu foto kebersamaan antara Arsenio dengan sang tunangan Winona.
"Tunggu sebentar," pesan Arsenio yang berlalu ke bagian dalam ruangan mewah tadi. Sedangkan Binar hanya mengangguk. Dia tak beranjak dari tempatnya berdiri. Gadis itu belum sepenuhnya merasa luwes dalam menghadapi segala kemewahan yang kini mulai kerap dia saksikan dari keluarga Rainier.
"Kenapa hanya berdiri?" tanya Arsenio lagi yang sudah kembali dengan membawa sebuah map berwana hijau.
"Tidak apa-apa," sahut Binar pelan. Gadis itu menjadi salah tingkah, ketika Arsenio terus memperhatikannya dengan lekat. Detak jantung yang Binar rasakan pun kian memacu, saat si tampan pemilik postur tegap tadi berjalan mendekat ke hadapannya.
"Sepertinya aku tidak bisa, Binar," ucap Arsenio pelan, bahkan hampir setengah berbisik, lalu menjatuhkan map hijaunya begitu saja ke atas lantai.
"Apa maksudmu?" tanya Binar. Dia berusaha untuk tak bersitatap dengan pria di hadapannya. Akan tetapi, aroma tubuh itu menguar dengan begitu jelas. Wanginya teramat khas dan dapat Binar kenali dengan mudah. Selain itu, dia juga selalu terlena hingga begitu terbuai saat menghirupnya. Binar pun kian terhipnotis dan tak mampu menolak, tatkala telunjuk Arsenio menyentuh dagu kemudian mengangkatnya perlahan. Sebuah sentuhan lembut pun kembali dia rasakan, begitu menghanyutkan dirinya dalam sebuah aliran menenangkan dengan desiran menggelitik yang sungguh luar biasa kuat.
__ADS_1
Binar memejamkan mata dan kian meresapi, ketika dia merasakan ciuman tadi menjadi semakin dalam. Tangan mungil gadis itu meraih kedua lengan kekar Arsenio, yang tengah merangkul mesra pinggang rampingnya. Arsenio pun kian merekatkan tubuh mereka, saat pertautan tersebut menjadi semakin memanas dan membakar keduanya. Tak lama, Binar merasakan penanda hasrat pria yang tengah melu•mat mesra bibirnya itu telah terbangkitkan. Entah mereka akan dapat menghindari godaan kali ini atau tidak. Satu yang pasti, Arsenio telah membawa gadis itu ke dalam kamar mewahnya.