Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Penawaran Menarik


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa Arsenio dan Binar keluar dari apartemen mewah milik Fabien sambil bergandengan tangan. Binar sendiri seakan sudah lupa dengan kekesalan semalam. Terlebih karena Arsenio merayunya sedemikian rupa. Pria itu juga memberikan pelayanan paling istimewa padanya di atas ranjang. Sesuai dengan pepatah lama yang Arsenio kemukakan.


Wajah cantik wanita muda itu bersemu merah, saat mengingat adegan demi adegan yang dia lakukan bersama sang suami. Sampai-sampai Binar tak sadar bahwa Arsenio sudah mengantarkannya hingga ke depan gedung restoran mewah tempat di mana dirinya menjalani magang.


“Apa kamu mau izin hari ini?” Arsenio mengangkat satu alis sambil tersenyum nakal.


Binar pun menjadi tergagap. Segala angan nakalnya buyar seketika, saat paras rupawan Arsenio mendekat padanya. “Sampai jumpa nanti sore, Rain,” ucap wanita muda itu buru-buru mencium pipi sang suami, sebelum pria itu melu•mat bibirnya di depan umum seperti kemarin. Binar masih belum terbiasa dan merasa risih dengan kebiasaan seperti itu.


“Nanti aku akan menraktirmu makan malam di luar!" seru Arsenio dari kejauhan, ketika Binar sudah hendak membuka pintu masuk. Gadis itu menanggapinya dengan anggukan kepala dan senyuman ceria. Tak lupa, dia juga melambaikan tangannya dengan ceria.


Sesampainya di dalam, beberapa teman yang baru dikenalnya datang menghampiri. Mereka menyapa Binar dalam bahasa Inggris, lalu bercakap-cakap selama beberapa saat sampai waktunya pelatihan dimulai.


“Hei, Binar. Apakah kau mau belajar bahasa Jerman bersamaku?” tawar salah seorang teman Binar, ketika penyampaian materi tengah berlangsung di sebuah kelas khusus.


“Lain kali saja, Shelby. Aku masih harus menabung dulu untuk mengikuti kursus,” tolak Binar halus.


“Oh, tenang saja. Jangan pikirkan masalah uang, karena kursus ini gratis,” balas teman barunya yang bernama Shelby.


“Bagaimana bisa gratis?” tanya Binar dengan suara berbisik, supaya mentor yang tengah mengajar dan teman-teman yang lain tak terganggu dengan percakapan di antara mereka berdua.


“Ibu pengelola gedung apartemenku membuka kelas gratis untuk kaum imigran dan pendatang. Seperti yang kau ketahui, kebanyakan penghuni apartemen tempat tinggalku adalah orang-orang imigran atau pekerja dari luar. Mereka rata-rata berasal dari Turki atau negara lain,” jelas Shelby.


“Oh, jadi kau bukan berasal dari Jerman?” tanya Binar lagi.


“Well, aku lahir di Jerman. Akan tetapi, ayahku berasal dari Turki, sedangkan ibuku wanita pendatang dari Inggris. Kami sudah tinggal di apartemen itu berpuluh tahun lamanya,” jelas Shelby.


“Oh, jadi begitu,” Binar mengangguk-angguk tanda mengerti.


“Jadi, bagaimana? Latihannya akan dimulai besok. Jika kau mau, aku akan mendaftarkanmu dengan segera.” Shelby mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja sambil menunggu jawaban Binar yang tampak tengah berpikir keras.

__ADS_1


“Sepertinya aku harus bertanya lebih dulu pada suamiku. Besok pagi akan kuberikan keputusannya,” sahut Binar, bersamaan dengan mentor yang memanggil namanya.


“Nona Binar, sepertinya kau sudah menguasai materi yang kusampaikan, sehingga kau lebih memilih untuk mengobrol daripada mendengarkanku,” sindir sang mentor yang ternyata memperhatikan dirinya sejak tadi.


“Um, a-aku ….” Binar terbata. Wanita muda itu tak hendak membantah, sebab dia menyadari bahwa dirinya memang berada dalam posisi salah.


“Kalau begitu, kuharap kau bersedia pulang paling akhir untuk mendalami materi hari ini,” tegas sang mentor.


“Oh, ya ampun. Maafkan aku, Binar,” sesal Shelby masih dengan suara berbisik.


“Tidak apa-apa,” sahut Binar memaksakan senyum. Satu-satunya hal yang dia khawatirkan adalah, jika sang suami akan terlalu lama dan merasa bosan saat menunggunya pulang. Binar tahu jika Arsenio bukan tipe orang yang penyabar.


Namun, pada kenyataannya Arsenio juga teramat sibuk hari itu. Dia dan timnya tengah mempersiapkan rancangan yang akan disampaikan pada klien mereka dalam beberapa hari ke depan. Itu berarti, Arsenio terpaksa harus bertemu lagi dengan Agatha.


Di sinilah sikap profesional dalam pekerjaan berbicara. Dia harus mengesampingkan rasa tak nyaman tiap kali bertemu dengan sang mantan kekasih, yang kerap memandang penuh arti kepada dirinya. Lagi-lagi, ini semua demi profesionalisme.


“Gawat, nona Kirsch ingin bertemu dengan kita lagi nanti sore,” ujar Armie yang tiba-tiba berdiri di belakang kursi Arsenio.


“Entahlah. Dia beralasan ingin melihat secara langsung perkembangan ide yang sedang kita buat,” Armie melangkah maju dan menarik satu kursi di samping Arsenio, lalu duduk di depan meja pertemuan berbentuk oval.


"Apa dia memang sudah biasa berlebihan seperti itu?" tanya Arsenio yang sepertinya sudah bisa menebak maksud dan tujuan Agatha.


“Tidak biasanya dia begini, hanya setelah kau bergabung dengan kami,” keluh Wolfgang seraya menggeleng pelan.


"Astaga, maafkan aku," sesal Arsenio sambil menahan tawa.


"Ya, setidaknya kita akan mendapat makan malam gratis mungkin," celetuk Armie.


“Mungkin juga dia melakukan itu untuk menutupi alasan sebenarnya, yaitu ingin bertemu dengan Arsenio,” timpal Janson yang membuat mata semua orang beralih pada pria rupawan tersebut.

__ADS_1


“Benar juga. Bukankah dia mengatakan bahwa sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Arsenio? Jadi, sekaranglah kesempatannya untuk melepas rindu,” sambung Richard yang diiringi gelak tawa dari rekan-rekannya.


“Ya ampun. Kalian ini.” Arsenio berdecak pelan. "Jika sampai Binar mengetahuinya, maka aku pasti tak akan diberi makan lagi," gumamnya pelan dalam bahasa Indonesia, sehingga rekan-rekannya yang sedang sibuk bercanda tak mengerti dengan apa yang dia ucapkan.


Tak ubahnya dengan apa yang Binar khawatirkan tadi. Satu hal yang Arsenio pikirkan saat ini hanyalah, jika sang istri yang akan kebingungan menunggu dirinya yang tak juga datang menjemput. Binar masih belum hapal jalan, meskipun pria itu sudah menuntun dan memaksanya untuk mengingat-ingat. Akan tetapi, untuk menolak pertemuan juga sepertinya tidak mungkin. Arsenio baru dua hari bekerja di sana. Dia bertekad untuk tidak membuat Normand kecewa atas kinerjanya.


"Baiklah, Arsen. Semua akan baik-baik saja. Kau sudah menikah dan ... ya! Setia itu jauh lebih indah," ucap Arsenio pada dirinya, ketika dia sedang berada di toilet. Pria itu membasuh wajahnya agar merasa jauh lebih segar setelah bekerja seharian. Dia juga merapikan kemeja yang dikenakannya. Sebelum memutuskan keluar dari toilet, pria tampan tersebut sempat mencium cincin pernikahannya, lalu tersenyum pada diri sendiri yang dia lihat dari pantulan cermin.


Selang beberapa saat kemudian, acara pertemuan dadakan dengan Agatha pun kembali dilaksanakan. Seperti biasa, wanita muda itu terlihat cantik dan juga tetap menunjukkan sikap prifesionalnya dalam pekerjaan. Dia menyimak baik-baik semua hal yang dijelaskan oleh Janson sebagai ketua tim, meski tak jarang ekor mata Agatha mengarah kepada Arsenio yang tak memperhatikannya sedikit pun.


"Seperti biasa, aku selalu kagum dengan kinerja kalian semua. Karena itulah aku tak ingin memakai jasa perusahaan lain. Kalian lebih dari sekadar memuaskan bagiku," sanjung Agatha dengan gaya bicaranya yang penuh percaya diri. Sikap dan bahasa tubuh wanita muda itu, telah mengingatkan Arsenio pada sosok Winona.


"Jadi, apa penjelasanku tadi sudah cukup, Nona Kirsch?" tanya Janson.


"Aku rasa sudah cukup. Pertemuan ini kita sudahi saja. Lagi pula, sekarang sudah malam. Kalian pasti ingin segera beristirahat," sahut Agatha dengan senyuman khasnya yang tidak terlalu berlebihan.


"Ya. Kami ingin segera mandi dan berbaring," sahut salah seorang dari rekan Arsenio. Mereka ikut berdiri, ketika Agatha beranjak dari duduknya.


Setelah saling berpamitan, para pria yang tergabung dalam satu tim itu pun beranjak meninggalkan meja di mana Agatha masih berdiri. "Arsen! Tunggu!" cegahnya. Arsenio yang sejak awal pertemuan tak banyak bicara, dengan terpaksa harus menoleh. Dia melihat Agatha berjalan ke arahnya. "Bagaimana jika kutraktir minum terlebih dulu sebelum kau pulang?" tawar Agatha dengan tatap mata penuh harap.


"Maaf, tapi aku harus segera menjemput istriku," tolak Arsenio.


"Aku punya penawaran menarik untukmu," ujar Agatha lagi.


.


.


.

__ADS_1


Hai, hai, sekilat info lagi. Bolehlah mampir di karya keren yang satu ini 😍



__ADS_2