Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Father And Son


__ADS_3

“Astaga, aku tidak punya pacar, Pa! Ayolah,” bantah Fabien. “Itu hanya ulah beberapa temanku yang menginap kemarin,” kilahnya.


"Oh, baiklah,” sahut Lievin yang percaya begitu saja. Dia tahu bahwa Fabien memang memiliki karakter yang sedikit berbeda dengan Arsenio. Pemuda itu cenderung tak acuh dengan urusan percintaan.


Beberapa saat kemudian, Lievin tampak terdiam sambil terpekur menatap karpet bulu yang terhampar di bawah sofa. Sorot matanya kosong dan menerawang. Entah apa yang tengah pria paruh baya itu pikirkan.


“Papa sepertinya akan kehilangan Rainier Airlines,” ujar Lievin lirih.


“Kehilangan? Apa maksudnya?” Fabien terhenyak, lalu mendekatkan tubuh pada sang ayah. Tak lupa dia menyentuh kemudian mengusap-usap punggung Lievin yang tengah duduk dengan posisi setengah membungkuk.


“Biantara serta Winona … mereka bekerja sama untuk mengambil alih maskapai,” ungkap Lievin pada akhirnya. Dia berkata dengan pelan dan seakan tak bertenaga sama sekali.


“Bagaimana bisa begitu? Bukankah maskapai Rainier Airlines adalah sepenuhnya milik papa?” tanya Fabien dengan raut was-was dan tak mengerti sama sekali.


“Sepertinya mereka masih dendam pada kakakmu. Akan tetapi, dendam mereka begitu membabi buta. Mereka menyerang siapa pun yang berkaitan dengan Arsen. Padahal aku juga bahkan menentang hubungannya dengan perempuan itu. Namun, karena Arsenio adalah putraku, maka tetap harus ikut juga terkena imbasnya. Biantara yang dulu kukira baik dan tulus, ternyata tega menusukku dari belakang,” tutur Lievin panjang lebar.


“Memangnya apa yang om Biantara lakukan?” tanya Fabien dengan wajah tampannya yang terlihat semakin menegang.


“Dia ….” Lievin menggaruk kening, lalu terdiam sejenak. “Dia ingin mengambil alih perusahaan. Biantara diam-diam menghubungi para pemegang saham terbesar dan mengadakan rapat terbatas. Aku difitnah di depan mereka. Biantara mengatakan bahwa aku telah menggelapkan dana. Padahal itu perusahaan atas namaku sendiri, Fabien. Aku yang merintisnya sejak di Belanda. Kukira dengan melebarkan rute hingga ke Asia dapat membuat maskapai ini berkembang. Namun, nyatanya, Biantara yang menghancurkan semuanya,” tutur Lievin penuh sesal sambil sesekali menggelengkan kepala.


“Apakah itu artinya, Rainier Airlines yang berada di Belanda juga akan terkena imbasnya?” Fabien menggaruk-garuk kepala. Dia sama sekali tak paham masalah bisnis dan perekonomian. Satu hal yang dirinya tahu hanyalah memetik gitar dan menciptakan sebuah lagu.


“Dari awal, Rainier Airlines hanyalah maskapai kecil dengan rute penerbangan terbatas. Akan tetapi, sejak aku memindahkan kantornya ke Indonesia dan menambah rute dengan bantuan dari Biantara, maskapai ini menjadi sebesar sekarang,” jelas Lievin.


“Memangnya bisa seperti itu, Pa?” tanya Fabien ragu-ragu.

__ADS_1


“Seperti itu bagaimana?” Lievin malah balik bertanya.


“Memangnya bisa orang lain mengambil alih perusahaan milik Papa sendiri? Apakah itu namanya bukan perampokan?” pikir Fabien bingung.


“Semuanya bisa terjadi, Nak. Beginilah sisi gelapnya dunia bisnis. Mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkan yang diinginkan, termasuk merampok milik orang lain.” Lievin menunduk dalam-dalam. Pria itu tampak memijit pangkal hidungnya.


“Ya, ampun, Pa.” Fabien mengikuti gerak sang ayah dengan memijit pangkal hidungnya juga. “Jujur saja, aku sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Aku benar-benar awam dalam dunia bisnis. Sama sekali tak terpikirkan dalam kepalaku. Seharusnya Papa meminta pendapat kepada Arsen. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan,” sarannya. “Mungkin dia bengal dan semaunya sendiri, tapi Arsen benar-benar dapat diandalkan,” Fabien.


Lievin terkekeh pelan menanggapinya. “Ya, kakakmu memang luar biasa,” timpalnya lirih. “Dia seakan tak pernah takut akan apapun.”


“Apa Papa tidak ingin menelepon dan meminta pendapat padanya?” tanya Fabien hati-hati.


“Tidak!” sahut Lievin tegas. “Dia sudah menentukan pilihannya. Begitu juga aku. Kami sudah memilih jalan masing-masing dan itulah yang akan tetap terjadi,” tandas pria paruh baya tersebut sebelum berdiri meninggalkan Fabien menuju salah satu kamar. “Apa pintunya terkunci? Papa mau istirahat.” Lievin memutar pegangan pintu sambil mencoba membukanya, tetapi tak berhasil.


Awalnya Fabien tak begitu menghiraukan hal tersebut. Namun dia tiba-tiba teringat bahwa kamar itu adalah kamar yang sempat ditempati oleh Arsenio dan juga Binar. “Eh tunggu, Pa!” Fabien segera melompat dari duduknya dan menarik Lievin kuat-kuat ke pintu yang terletak di sebelah.


“Nah, Papa akan jauh lebih nyaman di sini. Selamat beristirahat Papa. Aku akan memesankan makan siang untuk kita,” ujar Fabien sembari menutup pintunya. Dia lalu bergegas masuk ke kamar sebelah dan membersihkannya cepat-cepat. Fabien bahkan menyemprotkan pengharum ruangan sebanyak mungkin sampai dirinya bersin-bersin, agar aroma Arsenio benar-benar hilang.


Setelah itu, Fabien kemudian bernapas lega ketika kamar tersebut sudah terlihat seperti belum pernah ditempati. Diam-diam dirinya merogoh ponsel yang tersimpan di dalam saku celana dan mulai mengirim pesan pada Arsenio.


Fabien menulis panjang lebar tentang masalah yang dialami oleh Lievin.


Saat itu, Arsenio tengah berada di kantor. Dia sedang sibuk melakukan pertemuan bersama rekan-rekannya, sehingga baru bisa membuka pesan tersebut saat tiba di rumah.


Seusai membersihkan diri dan makan malam bersama istri tercinta, barulah Arsenio membacanya pelan-pelan sambil membaringkan diri dengan nyaman di atas ranjang. Pria rupawan bermata coklat terang itu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Mendengar bahwa sang ayah tengah memiliki masalah besar, ingin rasanya Arsenio menelepon dan menawarkan bantuan.

__ADS_1


Akan tetapi, Fabien yang mengatakan bahwa sang ayah sudah tak ingin menghubungi dirinya lagi, membuat Arsenio mengurungkan niat. Dia tahu persis sekeras apa karakter sang ayah. Merasa gelisah, Arsenio memutuskan untuk bangkit dan duduk dengan menyandarkan punggung pada kepala ranjang.


“Rain? Apakah ada masalah?” Suara merdu Binar membuyarkan segala lamunan Arsenio.


“Binar.” Pria tampan itu tersenyum manis seraya merentangkan tangan, sebagai isyarat agar sang istri mendekat dan berlabuh di pelukannya.


Binar mengerti dengan isyarat itu. Dia merangkak ke atas ranjang, lalu melingkarkan tangan ke tubuh sang suami. Dengan nyaman, Binar membenamkan kepala di dada bidang Arsenio. Wanita muda itu menghirup aroma wangi yang menguar dari permukaan kulit bersih suaminya. “Apakah ada masalah di kantor?” Binar mengulangi pertanyaannya.


“Tidak ada masalah, Sayang. Hanya saja ….” Arsenio seakan tak ingin melanjutkan kalimatnya.


“Hanya saja?” Binar mendongak dan menatap lembut pada Arsenio.


“Um ….” Kakak kandung Fabien itu sempat berpikir dan menimbang untuk beberapa saat.


“Papa sedang menghadapi masalah pelik.” Pada akhirnya dia memilih untuk bercerita.


“Masalah apa?” tanya Binar lembut.


“Masalah perusahaan. Sepertinya papa membutuhkan pertolongan. Namun, entah apakah dia mau menerima bantuanku atau tidak,” jawab Arsenio pelan.


“Coba saja, Rain. Bagaimana pun dia adalah orang tuamu. Sapalah beliau,” saran Binar.


“Lalu, jika dia menolak?” Arsenio tampak tengah menelan ludahnya.


“Setidaknya kamu tetap berusaha untuk terus bersikap baik padanya, Rain. Jangan menyerah, sama seperti kamu yang tidak pernah menyerah untuk memperjuangkanku,” tutur Binar. Jemarinya yang lentik membelai pipi dan dagu sang suami.

__ADS_1


“Baiklah, Sayang. Besok aku akan mencoba untuk menghubunginya,” putus Arsenio.


__ADS_2