Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Masa Lalu Kelam


__ADS_3

Arsen bergerak mundur ketika Indah terus berjalan maju dan mendekat. Entah kenapa, saat harus berhadapan dengan sahabat Winona itu sungguh membuat perasaannya tidak nyaman. “Jangan bermain-main denganku, Indah. Mama sudah menunggu di mobil,” tegurnya.


“Sebentar saja kok, Sen. Aku cuma mau bertanya sesuatu,” balas Indah dengan tatapan mata dan senyuman menggoda. Jemari lentiknya sempat menutup pintu, walaupun tak sampai rapat dengan sempurna.


“Kamu bisa bertanya sambil jalan,” tolak Arsen. Dirinya saat itu tidak bisa mundur lagi, karena belakang betisnya sudah menyentuh tepian ranjang.


Indah tertawa geli, lalu menjalarkan telapak tangannya ke dada bidang Arsen. “Kamu seperti pria polos saja. Rasanya aneh sekali,” cibir gadis itu. “Sesungguhnya aku benar-benar tidak percaya bahwa kamu menderita amnesia. Pasti kamu hanya pura-pura. Iya, kan?” tuding Indah lagi. “Kamu tidak mau direpotkan dengan hubungan kita dulu,” imbuhnya.


“Memangnya seperti apa hubungan kita dulu?” Arsenio balik bertanya dengan raut datar. Dia sama sekali tak terpancing dengan gerakan sensual yang dilakukan Indah terhadapnya.


“Dulu, hubungan kita ... panas sekali,” jawab Indah disertai dengan de*sahan yang disengaja. Bibirnya yang penuh mendekat dan hendak mencium Arsenio.


Akan tetapi, pria rupawan itu cekatan mendorong tubuh wanita seksi tersebut agar menjauh darinya. Dia juga mencengkeram lengan Indah supaya tidak bisa mendekat padanya. “Jawab saja! Aku tidak punya banyak waktu,” tegas Arsenio dengan intonasi yang terdengar begitu dingin.


“Ya, ampun. Wini benar. Ternyata kamu memang jauh berubah,” ujar Indah seraya kembali tertawa sambil menyibakkan rambutnya. Dia lalu meraih satu kursi dan duduk dengan santai sambil menyilangkan kaki. “Padahal dulu kita sering bercinta setiap kali pulang clubbing. Kamu tahu, ‘kan? Wini selalu saja sibuk. Dia tidak pernah mau diajak bersenang-senang. Jadi, kamu selalu memintaku untuk menggantikannya,” tutur Indah yang kemudian berdiri, lalu kembali mendekat kepada Arsenio.


Bersamaan dengan itu, Winona datang dan hendak memasuki kamar. Wanita cantik tersebut awalnya ingin menyusul Arsenio yang tidak kunjung keluar dari rumah. Akan tetapi, dia harus mengurungkan niatnya ketika mendengar Indah tengah berbincang dengan sang kekasih. Penasaran, Winona lalu mengintip melalui pintu yang sedikit terbuka.


“Tenang saja, Sen. Aku tidak akan menuntut macam-macam. Aku paham bahwa hubungan kita ini hanya sebatas bersenang-senang. Tak melibatkan perasaan sama sekali. Tidak seperti antara kamu dan mbak Ghea,” tutur Indah yang dapat didengar jelas oleh Winona dari balik pintu. Wanita bertubuh sintal itu berusaha untuk menguatkan dirinya saat mendengar percakapan sang kekasih dengan sahabatnya sendiri.


“Memangnya ada hubungan apa antara aku dengan Ghea?” tanya Arsenio sambil meringis. Dia mulai merasakan nyeri di bagian belakang kepala.


“Aku tidak berhak untuk bercerita. Lebih baik kamu tanya langsung padanya. Kamu masih menyimpan nomor mbak Ghea, ‘kan?” Indah malah balik bertanya.


“Tolong jawab saja, Indah. Selain memori, sepertinya aku juga kehilangan ponsel. Sudah tidak ada yang tersisa dari masa laluku,” sahut Arsenio setengah putus asa.


Belum sempat Indah menanggapi ucapan Arsenio, terdengar suara Anggraini dari balik pintu. “Lho, Win. Sedang apa kamu di depan pintu begitu? Di mana Arsen? Bukannya kamu tadi mau menyusul dia? Kita sudah terlambat sekali ini,” ujar ibunda Arsenio keheranan.

__ADS_1


Sontak Indah terkejut. Dia sempat terpaku untuk beberapa saat, apalagi ketika dirinya mendengar Winona menjawab pertanyaan Anggraini. “Arsen masih ganti baju, Tante. Lima menit lagi katanya. Sebaiknya kita tunggu di mobil saja,” ajak wanita itu. Kekasih Arsenio tersebut segera menggandeng Anggraini dan membawanya kembali ke luar, menjauh dari kamar.


“Wini mendengar semuanya,” gumam Arsenio datar.


“Aduh, bagaimana ini?” Sikap menggoda yang sejak tadi diperlihatkan oleh Indah, kini berganti menjadi raut was-was dan rasa gelisah.


“Sejujurnya aku sungguh tidak peduli,” jawab Arsenio santai sambil berjalan melewati Indah yang segera mengikutinya. “Kehidupan macam apa yang kujalani selama ini," gerutu pria tampan itu sambil berjalan menuju bagian depan rumah, di mana terdapat dua mobil yang sudah bersiap mengantar dia dan keluarganya menuju bandara. Arsenio tak memedulikan pandangan menusuk Winona yang ditujukan kepadanya dan Indah saat hendak memasuki mobil.


“Ya, Tuhan. Apa yang sudah kulakukan?” gumamnya sembari menyugar rambut.


“Kenapa, Nak?” tanya Anggraini yang juga belum masuk ke dalam mobil. Dia begitu khawatir melihat kegelisahan putranya. “Apa yang kamu pikirkan?” Wanita itu menghampiri Arsenio yang terpaku sejenak di luar kendaraan. Sementara Indah dan Winona sudah masuk dan menunggu di dalam


“Seperti apa kehidupan yang kujalani dulu, Ma?” tanya Arsenio tiba-tiba.


Anggraini sedikit tertegun mendengar pertanyaan putra sulungnya. Namun, wanita itu segera dapat menguasai diri dan tersenyum. “Tidak ada sesuatu yang aneh, Sayang. Kamu seseorang yang sangat cerdas dalam berbisnis. Namun, jujur saja bahwa sebelum kejadian kecelakaan itu, kamu selalu menjaga jarak dari Mama dan juga papa. Kamu tidak akan menghubungi kami jika bukan kami yang menguhubungimu terlebih dulu. Namun, Mama selalu mencoba mengerti akan hal itu. Kamu adalah orang yang sangat sibuk,” tutur Anggraini dengan nada bicaranya yang lembut.


“Apakah Mama tahu bagaimana keseharianku?” tanya Arsenio lagi.


"Sebentar, Sayang," sahut Anggraini seraya tersenyum kepada sang suami. Setelah itu, dia kembali mengalihkan perhatian kepada sang putra. Anggraini menggeleng pelan. “Mama banyak menghabiskan waktu di Amsterdam. Kami jarang sekali pulang ke Indonesia, jika tidak ada kepentingan yang sangat mendesak,” jawabnya pelan.


“Jadi, Mama tidak tahu betapa bejatnya aku,” gumam Arsenio begitu lirih, sampai-sampai Anggraini harus mendekatkan telinganya.


“Kamu bilang apa barusan, Nak?” tanya Anggraini seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Arsenio sambil mengernyitkan kening.


“Ah, tidak. Tidak apa-apa,” Arsenio tersenyum samar, lalu terdiam beberapa saat. "Sebaiknya kita segera berangkat," ucap pria berambut cokelat itu lagi. Dia mengantar sang mama ke dekat mobil di depan, kemudian membukakan pintu untuknya. "Aku kembalikan Mama," canda Arsenio terhadap sang papa.


"Kenapa tidak dari tadi?" balas Lievin seraya tergelak. Namun, pria asal Belanda itu segera terdiam saat Anggraini mencubit perutnya.

__ADS_1


Arsenio hanya tersenyum melihat kemesraan kedua orang tuanya. Dia pun bergegas masuk ke mobil kedua, lalu duduk di jok tengah bersama Winona. Sedangkan Indah duduk di jok paling belakang. Kedua sahabat itu rupanya tak saling bicara hingga Arsenio masuk. Mereka asyik dengan ponsel masing-masing.


Tak jauh berbeda dengan Arsenio. Pria tampan bermata cokelat terang itu hanya terdiam saat mobil yang ditumpanginya sudah melaju dan membelah jalanan ibu kota yang ramai lancar. Arsenio terhanyut dalam pikirannya sendiri, sampai terdengar ponsel yang baru dibelinya berbunyi. Dengan segera, dia merogoh saku dan mengeluarkan ponsel mewah seri terbaru itu.


Nama Praya yang tertera di layar, membuat Arsenio tersenyum kecil. Segera dijawabnya panggilan itu. “Apa kabar, Ya,” sapa Arsenio yang membuat Winona serta Indah tampak mengernyitkan kening. Mereka tak tahu siapa yang menghubungi Arsenio saat itu.


“Aku dan bli Wisnu, baik-baik, Mister. Kalau mister bagaimana?” tanya Praya dari seberang sana.


“Aku juga baik-baik, Ya,” jawab Arsenio begitu hangat dan ramah. “Bagaimana? Apakah kalian sudah mendapat kabar dari Binar?” Kini dirinya yang balik bertanya, membuat Winona seketika membetulkan posisi duduk saat mendengar nama Binar disebut. Makin bertambah kalutlah suasana hati wanita cantik tersebut. Namun, lagi-lagi Winona hanya memilih diam, tak menanggapi sama sekali.


“Belum, mister. Justru itu, kami ingin meminta tolong pada Mister,” jawab Praya ragu.


“Minta tolong apa?” Arsenio tertawa pelan atas kalimat polos Praya.


“Tolong carikan mbok Binar, mister. Kami kangen,” jawab Praya memelas. “Selain itu ….” tiba-tiba suara Praya menghilang dan tak terdengar.


“Selain itu apa? Halo?” panggil Arsenio.


“Iya, halo, mister,” sahut Praya lagi.


“Katakan saja, tidak apa-apa. Jangan malu,” desak Arsenio yang telah dikuasai rasa penasaran.


“Rumah ibu akan disita meme Ida, mister,” ucap Praya.


“Meme Ida? Siap Meme Ida?” tanya Arsenio.


“Meme Ida adalah ibu dari bli Surya. Dia bilang kalau ibu sudah mencuri uangnya. Jadi, ibu harus mengganti semua kerugian,” jelas Praya lemah.

__ADS_1


"Astaga," gumam Arsenio tak percaya. "Lalu, apa rencana kalian selanjutnya?" tanya pria itu lagi terlihat mulai khawatir.


"Entahlah, Mister. Ibu bilang kalau kami akan pindah rumah, tapi bagaimana jika nanti mbok Binar tiba-tiba pulang dan tidak menemukan kami di sini," ujar Praya penuh sesal.


__ADS_2