
Arsenio tercenung sesaat setelah mengakhiri panggilannya dengan Dwiki. Cukup lama dia duduk di tepian ranjang sambil menopang kepala dengan satu tangannya.
“Sedang apa, Rain? Kenapa belum juga turun untuk makan malam?” tanya Binar yang berdiri di ambang pintu. Dia baru saja selesai menyiapkan makan malam bersama beberapa orang asisten rumah tangga di kediaman Rainier.
“Binar ....” Arsenio sempat tergagap sebelum akhirnya melayangkan senyumannya yang teramat menawan pada sang istri. “Duduk sini.” Pria rupawan itu menepuk-nepuk permukaan ranjang di sebelahnya.
“Ada apa? Apakah ada masalah?” Binar menurut, lalu berjalan mendekat dan duduk dengan anggun di samping suaminya.
“Bagaimana kehamilanmu?” tanya Arsenio lembut. “Apa kamu mulai merasa mual-mual? Biasanya orang hamil akan merasa mual."
“Tidak juga. Aku belum merasakan apa-apa,” sahut Binar menggeleng pelan sambil membalas senyuman Arsenio. “Kamu belum menjawab pertanyaanku,” ujarnya lagi memperlihatkan raut wajah cemberut. Usia yang masih sangat muda, tak jarang membuat Binar bersikap sangat manja dan tak jarang begitu kekanak-kanakan.
“Oh, itu ….” Arsenio menjeda kata-katanya, kemudian tertawa. “Sebelum kita ke bawah, aku ingin menceritakan tentang sesuatu padamu,” ujarnya sambil melingkarkan tangan di bahu sang istri.
“Apa itu?” Binar selalu saja antusias terhadap apapun yang Arsenio katakan.
“Ini tentang Winona,” jawab Arsenio lirih, yang seketika membuat Binar terdiam.
“Kenapa? Ada apa dengan dia?” desis wanita muda itu memasang raut tak suka.
“Aku mendengar kabar bahwa ibu Winona sedang sakit dan memerlukan perawatan khusus di Singapura,” jawab Arsenio. Ragu-ragu dia hendak melanjutkan kalimatnya.
“Lalu?” Bahasa tubuh Binar terlihat semakin tegang. Dia menegakkan tubuh sembari melipat tangan di dada.
“Aku merasa … sedikit bersalah,” ujar Arsenio mengurai pelukannya dari pundak Binar. Dia kembali mencondongkan badan, bertumpu pada kedua siku tangan sambil menunduk dalam-dalam. “Semua permasalahan pelik ini bermula dariku,” gumamnya pelan.
Binar yang sempat bersungut-sungut, kini mulai mencair. Raut wajahnya berubah lembut dengan tatapan teduh dia layangkan pada sang suami yang menerawang memperhatikan lantai kamar. “Rain.” Satu tangannya lembut mengusap pundak lebar pria itu. “Aku akan mendukung apapun yang kamu lakukan.”
“Terima kasih, Sayang.” Arsenio membalas sentuhan tersebut dengan mengusap punggung tangan Binar, lalu mengecupnya penuh perasaan. “Maafkan aku, ya,” ucap pria itu terlihat pilu.
“Maaf untuk apa?”
“Maafkan untuk masa laluku yang kelam. Aku tak pernah merasa begitu menyesal seperti sekarang ini. Terlebih, sebentar lagi aku akan memiliki seorang anak.” Sorot mata Arsenio semakin sendu. Perlahan, tangannya bergerak mengusap perut Binar yang masih rata. “Seandainya aku bisa mengubah masa laluku, Binar.”
__ADS_1
“Tidak ada yang bisa mengubah masa lalu, Rain. Tidak ada pula kata seandainya. Semua kalimat itu hanya membuat dirimu terpuruk semakin dalam,” sahut Binar menanggapi.
“Kamu jadi ikut tertarik ke dalam hidupku yang kacau dan terkena imbasnya,” sesal Arsenio.
“Aku sudah menentukan pilihanku, Rain. Aku memilihmu. Aku sudah harus siap dengan segala risiko di dalamnya. Namun, seberat apapun risiko yang kuhadapi, tak berarti apa-apa dibandingkan dengan kehilangan seorang Arsenio.” Binar tersenyum penuh arti seraya membelai lembut kening sang suami. Dia juga memainkan helaian rambutnya yang menutupi kening.
“Aku jadi bimbang menentukan langkahku,” ujar Arsenio setelah terdiam beberapa saat lamanya.
“Lakukan apa yang menurutmu benar. Kali ini, dengarkan nuranimu, Rain. Jauh di dalam sana, kamu adalah laki-laki yang baik. Kamu memang sempat tersesat, tapi bukankah setiap orang pernah tersesat? Yang penting, sekarang kamu sudah menemukan jalan yang benar,” tutur Binar.
“Tak semua orang bisa berpikiran seperti dirimu, Sayang. Terlebih orang-orang yang sudah pernah kusakiti.” Arsenio mengempaskan napasnya pelan. Dia menghadapkan tubuh seluruhnya pada sang istri, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu mungil Binar.
“Menurutku, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, Rain. Aku sudah memaafkan semua yang menyakitiku, salah satunya adalah Surya. Kamu masih ingat dia, ‘kan?” Binar mengangkat kepala suaminya dengan kedua tangan.
“Oh ya. Bagaimana kabar si brengsek itu? Sayang sekali aku tak ada di sana waktu kejadian buruk itu menimpamu,” geram Arsenio.
“Seperti yang kukatakan tadi, Rain. Aku memaafkannya. Lagi pula, sekarang dia sudah menikah. Ibu sendiri yang menceritakannya padaku waktu kami bertelepon beberapa hari yang lalu,” terang Binar.
“Oh ya? Menikah dengan siapa dia?” tanya Arsenio yang sedikit penasaran.
“Satu per satu orang-orang telah menemukan jalannya,” celetuk Arsenio seraya terkekeh. “Lalu, bagaimana denganku yang masih terikat masalah? Papa sakit karena aku, dan sekarang tante Yohana juga sakit. Semua karena kelakuanku,” sesal Arsenio seraya mere•mas rambut coklatnya yang selalu dalam keadaan rapi.
“Katakan apa yang bisa kulakukan untukmu, Rain? Aku akan membantu sebisaku, sekuat tenagaku,” hibur Binar seraya memeluk erat suaminya untuk memberikan kekuatan.
“Tetap temani aku, Binar. Bantu aku untuk menuntaskan semua masalah yang diakibatkan oleh segala sikap dan kelakuanku yang semena-mena, sehingga aku bisa menyambut kelahiran anak kita tanpa ada beban sedikit pun,” pinta Arsenio.
“Itu pasti, Rain.” Binar mencium bibir suaminya dengan hangat dan penuh perasaan.
Sayangnya, adegan manis itu harus berhenti tatkala terdengar ketukan pelan di pintu. “Biar aku yang membukanya,” ucap Arsenio sesaat setelah melepaskan tautannya. Ternyata Ajisaka lah yang berada di balik pintu kamar tersebut. “Bos, tidak turun?” tanyanya tanpa sungkan.
“Sebentar lagi, Ji. Ada apa?” Arsenio balik bertanya.
“Mungkin kita bisa berbicara di tempat lain, Bos?” tawar pria berkulit sawo matang itu.
__ADS_1
“Di ruang makan saja, sekalian kita makan malam,” ajak Arsenio sembari menepuk pundak orang kepercayaannya tadi. “Sebentar, biar kupanggil Binar.”
Akan tetapi, belum sempat Arsenio menyerukan nama sang istri, wanita muda yang cantik itu sudah lebih dulu berdiri di belakangnya. “Ayo, aku lapar,” ajak Binar sambil berlalu melewati dua orang yang berdiri menghalangi pintu.
Makan malam kali itu terasa hangat, dengan candaan Ajisaka yang rupanya mempunyai selera humor yang bagus. Seperti halnya Dwiki, pria berpostur jangkung tersebut ternyata juga memiliki pembawaan yang ramah dan sopan.
Arsenio dan Ajisaka tak henti-hentinya mengobrol sampai jarum jam bergerak ke angka sepuluh dan lampu-lampu ruangan utama mulai dipadamkan. Binar sendiri sudah tak kuasa menahan kantuknya, sehingga dia berpamitan lebih dulu.
Kini di sana hanya tinggal dua pria itu yang kemudian berpindah ke teras belakang, dengan posisi langsung berhadapan dengan taman. Mereka duduk di bangku kayu panjang, ditemani dua cangkir kopi dan lampu kuning temaram yang tertempel pada dinding samping pintu.
“Aku sudah menghubungi Anika, Bos. Dia juga telah memberikan akses masuk beserta ID pengenal,” lapor Ajisaka sambil mengisap rokok, lalu mengepulkan asapnya ke udara.
“Kapan kamu mulai bergerak?" tanya Arsenio juga tak mau kalah. Dia mengambil sebatang rokok miliknya yang disuguhkan di atas meja, lalu menyulut benda tadi.
“Secepatnya, Bos. Besok pagi,” jawab Ajisaka dengan yakin.
“Hm.” Arsenio mengangguk, lalu terdiam. Terbersit perasaan aneh, saat dirinya mengingat ibunda Winona yang tengah sakit.
“Ji,” panggil Arsenio pelan beberapa saat kemudian.
“Iya, Bos?” Sepupu Dwiki tersebut langsung menoleh.
“Bagaimana kalau … rencana kita sedikit dibelokkan?” tanya Arsenio sedikit ragu.
“Dibelokkan bagaimana, Bos?” Ajisaka menautkan alisnya tanda tak mengerti.
“Aku ingin … misi kita sekarang ini ….” Arsenio sengaja menggantungkan kata-katanya, membuat Ajisaka semakin penasaran.
“Bagaimana, Bos?” tanya Ajisaka lagi tak sabar.
“Kamu cukup mengungkap semua bukti bahwa om Bian lah yang menyuruh preman-preman itu untuk melakukan pengrusakan di kediaman Rainier, dan juga mengungkap keterlibatannya dalam sabotase dua perusahaan papa,” ucap Arsenio.
“Setelah itu bagaimana?” tanya Ajisaka.
__ADS_1
“Setelah itu … aku rasa mungkin diriku akan melakukan gencatan senjata,” jawab Arsenio sembari mengepulkan asap dan tertawa pelan.