Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Berebut Perhatian


__ADS_3

Anggraini buru-buru berjalan ke bagian depan rumah mewahnya, di mana Ghea sudah menunggu di ruang tamu dengan pakaiannya yang selalu terlihat ketat dan seksi. “Selamat pagi, Tante,” sapa Ghea ramah.


“Selamat pagi, Ghea. Kok tumben,” balas Anggraini dengan bahasa tubuh yang hangat, menyambut mantan istri dari Chand itu sambil menempelkan pipinya pada pipi Ghea, kanan dan kiri.


“Iya, Tante. Aku dengar dari satpam rumahnya Chand, katanya dia sedang ada di sini, ya?” tanya wanita cantik itu.


“Iya, betul. Tuh, dia lagi asyik mengobrol dengan om Lievin di belakang. Ada Fabien dan Arsenio juga. Formasi lengkap pokoknya,” kelakar Anggraini seraya mengarahkan Ghea agar mengikutinya ke taman belakang.


“Oh, ya?” Sepasang mata Ghea seketika berbinar indah, saat mendengar nama Arsenio disebut. “Ada acara istimewa apa sebenarnya hari ini, Tante?” tanyanya penuh semangat.


“Tidak ada. Ini hanya acara sederhana untuk


menyambut kedatangan Fabien, mumpung dia libur dan memutuskan untuk pulang ke Indonesia,” jelas Anggraini sambil terus berjalan ke arah meja jamuan yang terletak di tengah-tengah taman. “Chand sekaligus mengenalkan kekasihnya yang baru,” imbuh Anggraini sambil tersenyum lebar.


Sementara Ghea langsung tertegun mendengar penjelasan ibunda Arsenio tersebut. Raut cerianya memudar, apalagi ketika dia melihat sesosok gadis muda yang saat itu tengah duduk di dekat Arsenio.


Arsenio sendiri tampak tengah sibuk menerima telepon. Namun, pandangan pria tampan itu tak lepas sama sekali dari gadis cantik yang terlihat begitu segar.


"Oh, dia," ucap Ghea dengan nada setengah mencibir.


“Ya. Itulah kekasih Chand yang baru,” jawab Anggraini. “Ayo," ajaknya pada Ghea. Mereka melewati jalan setapak untuk tiba di taman dan berhenti di depan meja makan. “Lihat, siapa yang datang,” seru Anggraini.


Chand yang duduk membelakangi arah datangnya ibunda Arsenio itu segera berbalik dan tertegun untuk beberapa saat. Akan tetapi, dia segera bisa menguasai diri. Chand kembali pada posisinya semula tanpa memedulikan Ghea.


“Apa kabar, Ghea?” sapa Lievin yang baru kembali ke sana bersama Fabien, setelah tadi sempat masuk sebentar. Dia duduk di sebelah Chand, kemudian segera berdiri untuk menyalami janda cantik itu. Demikian pula dengan Fabien yang mengikuti sikap sang ayah.


“Bukankah dia ini ….” Fabien tampak ragu sembari mengarahkan telunjuknya pada Ghea dan Chand secara bergantian.


“Kami sudah resmi bercerai beberapa waktu yang lalu,” sahut Chand cepat, sebelum Ghea sempat membuka mulutnya.


“Oh, begitu rupanya.” Fabien mengangguk dan kembali duduk. Sejenak, keadaan menjadi sedikit canggung. Namun, bukan Lievin namanya jika tak dapat mencairkan suasana agar kembali hangat.


“Chand tipe pria yang diam-diam menghanyutkan. Belum lama berpisah, tahu-tahu dia sudah mendapatkan gandengan baru lagi. Masih muda dan segar pula,” candanya yang segera disambut gelak tawa oleh semua orang, kecuali Ghea tentunya.


“Kalau begitu, kedatanganku kemari tepat waktu dong. Benar bukan, Om dan Tante?" sahut Ghea menanggapi. Dia berusaha agar tetap tampil tenang dan menawan meskipun dalam hati merasa kesal. Sesaat, dia sempat melirik ke arah di mana Arsenio berada. Pria itu tengah berdiri dengan posisi yang sudah sedikit menjauh dari Binar. Tampaknya, dia sedang berbicara serius saat itu.

__ADS_1


“Kebetulan aku ingin membicarakan sesuatu tentang pasca perceraian,” lanjutnya.


“Harta gono-gini?” sahut Fabien, membuat semua mata memandang ke arahnya. “Aku sering mendengar istilah itu,” ujarnya sambil terbahak.


“Ya ampun. Ya sudah. Kalian silakan bicara berdua saja. Tante mau melanjutkan kegiatan wajib di akhir pekan yaitu merangkai bunga. Lagi pula, sekarang Tante ada teman bersama Nirmala,” pamit wanita paruh baya itu seraya menyentuh pundak Ghea, lalu berjalan menghampiri Binar. Gadis itu tampak asyik merangkai mawar miliknya yang sudah dipotong.


"Hai, Nirmala. Bagaimana?" tanya Anggraini sambil duduk dan mengikuti apa yang Binar lakukan.


Sementara Arsenio bergerak semakin menjauh dari tempatnya berdiri tadi, ketika ibunya mendekat. Dia tampak serius berbincang dengan seseorang di telepon yang tak lain adalah Dwiki. Arsenio berkali-kali mengangguk saat mendengar penjelasan anak buah kepercayaannya itu.


“Saya berhasil meminta tolong pada seorang teman dekat dari kepolisian, Bos. Dia dapat menyelidiki dari mana asalnya uang tiga ratus juta yang masuk ke rekening Burhan,” terang Dwiki.


“Lalu?” tanya Arsenio.


“Uang itu berasal dari setor tunai. Dilihat dari sandi yang tercatat di buku rekening dan nomor administrasi yang terekam di data, rupanya uang itu disetor melalui kantor cabang salah satu bank besar di dekat kantor anda, Bos,” jelas Dwiki.


“Bank yang dekat dengan kantorku?” ulang Arsenio seraya menautkan alis. “Kantor yang mana?” tanyanya lagi.


“Kantor perwakilan Rainier Airlines, Bos,” sahut Dwiki.


“Hm.” Arsenio menggumam pelan seraya menyugar rambutnya. Sedikit demi sedikit, semua teka-teki dan misteri mulai terkuak.


“Tepat sekali, Bos. Saya akan meminta bantuan pada seorang teman untuk melakukan pendekatan pada pihak bank. Nanti akan saya kabari lagi,” ujar Dwiki.


“Kerja bagus! Aku akan menunggu,” tutup Arsenio. Dia lalu berbalik. Arsenio berniat untuk mendekati Binar kembali. Pria rupawan itu sama sekali tak peduli meskipun ibunya juga berada di sana. “Kenapa kebanyakan wanita menyukai bunga?” tanyanya, lalu mengambil posisi duduk di samping Binar.


Merasa risih, Binar segera menggeser tubuhnya sedikit menjauh. Namun, Arsenio malah ikut bergeser mendekati gadis itu, hingga Binar berada di ujung kursi dan tak bisa lagi bergeser ke mana-mana.


“Karena wanita sangat menyukai keindahan,” jawab Anggraini yang tetap serius memilah tangkai bunga dan meletakkannya ke dalam keranjang yang berada di atas pangkuan Binar.


“Hm. Apa tidak aneh saat keindahan menyukai keindahan,” pikir Arsenio dengan sorot mata yang tak lepas dari wajah cantik Binar. Jelas sudah jika kata-katanya tadi pria itu tujukan untuk merayu Binar. Namun, gadis itu tak menanggapi. Dia hanya melirik Arsenio untuk sesaat, lalu kembali pada bunga yang sedang dirangkainya.


“Sudah, jangan mengganggu! Sana temani Chand dan adikmu,” usir Anggraini.


“Ck, baiklah.” Arsenio berdecak pelan. Dengan malas-malasan, pria itu bangkit dan hendak menuju meja makan. Akan tetapi, segera dia urungkan niatnya tersebut, ketika melihat Ghea berada di sana, turut duduk dan mengobrol di antara para pria. “Sedang apa dia di sini?” gerutu Arsenio.Terlihat jelas raut tak suka yang tergambar di wajahnya. Dia begitu malas jika sudah berhadapan dengan wanita yang kerap bersikap berani padanya.

__ADS_1


“Siapa?” Anggraini menoleh dan mengikuti arah pandangan sang putra. “Oh, Ghea. Dia sedang ada perlu dengan Chand katanya,” jelas wanita itu. Sesaat kemudian, dia kembali pada kegiatannya.


“Alasan saja,” gerutu Arsenio yang juga tak beranjak dari tempatnya. Dia terus memperhatikan Ghea dan Chand yang sedang mengobrol bersama Lievin serta Fabien. Sesekali, Ghea menyentuh punggung tangan Chand. Akan tetapi, pria itu buru-buru menepisnya. Arsenio dapat menangkap raut tak nyaman dari sahabatnya tersebut.


Tak berapa lama, Chand berdiri dan meninggalkan Ghea begitu saja. Duda menawan itu berjalan gagah ke arah Anggraini dan Binar yang masih asyik merangkai bunga. “Apa masih lama, Mal? Aku tinggal dulu, ya,” pamit Chand kemudian.


Tak hanya Binar, Anggraini pun menoleh padanya. “Kok buru-buru? Mau ke mana?” tanya Anggraini.


“Ada sedikit urusan di luar, Tante,” jawab Chand sedikit ragu.


“Bersama Ghea?” sahut Arsenio.


“Mana mungkin aku sudi mengajaknya,” Chand tertawa sinis. “Ghea itu pengkhianat. Seorang pengkhianat hanya cocok berpasangan dengan sesama pengkhianat,” ucapnya enteng dengan tatapan yang tertuju kepada Arsenio.


“Eh, tidak boleh bicara begitu, Chand. Kalian boleh berpisah, tapi jangan sampai hal tersebut membuat kalian bermusuhan,” tegur Anggraini memberikan sedikit nasihatnya.


“Ah, Tante benar. Sepertinya saya sedikit kelepasan,” ujar Chand terkekeh. Sekilas, ekor matanya kembali melirik pada Arsenio yang menatapnya dengan raut tegang.


Pria blasteran Belanda itu dapat merasakan dengan jelas betapa kalimat Chand itu memang sengaja ditujukan kepadanya.


“Chand, kenapa kamu pergi begitu saja? Kita ‘kan belum selesai bicara.” Tanpa diduga, Ghea ternyata mengikuti sang mantan suami dan kini berdiri di dekatnya dan juga Arsenio. Diam-diam janda cantik bertubuh sintal itu mencuri pandang sambil tersenyum nakal pada Arsenio. Sedangkan Arsenio sendiri malah membuang muka, lalu memperhatikan Binar yang lebih banyak menunduk.


“Jadi, bagaimana, Mal? Apa tidak masalah kalau kau kutinggal sebentar di sini, atau kamu mau ikut pulang sekalian?” tawar Chand tanpa memedulikan ucapan mantan istrinya.


“Eh, jangan. Kami belum selesai merangkai bunga,” tolak Anggraini. “Lagi pula, mulai hari ini Nirmala akan tinggal di sini. Benar, ‘kan?” tanya Anggraini setengah mendesak.


“Eh, saya ....” Binar kembali dihadapkan pada kebimbangan. Sebenarnya dia sudah sangat nyaman tinggal di apartemen milik adik Chand.


“Tidak apa-apa, Mal. Putuskan apa yang membuatmu merasa nyaman,” saran Chand dengan intonasi yang begitu lembut.


“Tinggal di sini saja,” sahut Arsenio. “Kamu tidak perlu membuang ongkos untuk transportasi,” lanjutnya. Arsenio juga menaikturunkan alis sambil melontarkan senyuman menggoda ke arah Binar. Hal yang tak luput sedikit pun dari pengamatan Ghea.


Binar merasa cukup tergoda dengan kalimat ‘tidak perlu membuang ongkos hanya sekedar untuk transportasi'. Ditatapnya kembali Chand yang juga memandang penuh arti. “Sudah kukatakan jangan merasa terbebani, Mal. Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Sepenuhnya aku akan mendukung,” ujar Chand tanpa ragu.


“Aku juga akan membantumu memindahkan barang-barang. Lebih cepat lebih baik,” ujar Arsenio tak mau kalah.

__ADS_1


“Dasar kalian ini, ya. Terutama kamu, Arsenio.” Anggraini memasang mimik lucu, lalu menyentil ujung hidung mancung putranya.


Wajah-wajah bahagia begitu jelas terlihat di minggu pagi yang cerah itu. Kecuali Ghea yang hatinya dipenuhi api cemburu dan tak terima ketika dua pria tampan tersebut saling berebut perhatian Binar.


__ADS_2