
“Setiap orang yang hidup di dunia ini, pasti dianugerahi dengan akal serta rasa. Banyak yang mengatakan bahwa mereka lebih suka mengutamakan logika dan mengabaikan perasaan,” ucap Binar seraya menoleh sesaat kepada Arsenio yang berdiri di sebelahnya.
“Dulu aku punya seorang teman. Dia meninggalkan kekasihnya yang miskin. Logikanya bekerja dan mengingatkan dia tentang bagaimana kerasnya hidup. Tak ingin mengambil risiko dengan masa depan yang akan dirinya songsong, temanku lebih memilih pria kaya yang dianggap mampu menopang segala kebutuhannya kelak. Namun, tiba-tiba dia merasa hampa, ketika perasaan cinta itu mengingatkan dirinya tentang sebuah makna kehidupan yang sesungguhnya,” tutur Binar lagi.
“Usiaku mungkin terlalu muda untuk membahas hal seperti ini. Namun, hari-hari yang kujalani membuat diriku merasa jauh tua beberapa tahun. Kamu tahu sendiri seperti apa, karena kamu menyaksikannya secara langsung.” Binar kembali menoleh kepada Arsenio yang saat itu tengah menatapnya. “Aku tidak yakin jika kamu tak memiliki perasaan itu dan baru menyadarinya saat ini.”
“Aku selalu mengabaikannya,” sahut Arsenio pelan dan dalam.
“Kenapa?” tanya Binar.
Arsenio tersenyum simpul. Tatapannya beralih pada lantai berlapis marmer yang dia pijak. Sesaat kemudian, pria tampan dengan postur 185 cm itu kembali menoleh kepada Binar. “Sama seperti kamu yang juga selalu mengabaikan rasa sakit dan lelah demi Wisnu dan Praya. Seperti itu pula diriku. Ada banyak tanggung jawab yang secara tak langsung sepertinya sudah tersusun dari sejak pertama kali aku menghela napas di alam dunia. Segala sesuatu dalam hidup yang kujalani, sudah terencana dalam jurnal kedua orang tuaku.”
“Aku adalah putra pertama dari keluarga Rainier. Papa dan mama sudah mempersiapkan segalanya dengan matang. Mereka bahkan tahu kapan aku harus bernapas, tertawa, dan segala hal yang berkaitan denganku. Semua berlangsung selama bertahun-tahun, hingga aku merasakan bahwa itu sudah bukan lagi merupakan sebuah agenda hidup. Aku menjalaninya dan mulai terbiasa serta mencoba menikmati, meskipun tak jarang ada rasa bosan yang begitu menyiksa. Saat itulah aku mulai keluar dari jalur yang telah ditentukan. Rasanya seperti tengah bermain petak umpet. Namun, ternyata itu membuat hidupku menjadi terasa jauh lebih menyenangkan.” Arsenio kembali tersenyum simpul atas penuturannya barusan.
“Apa kamu juga mengencani semua wanita atas nama untuk menghilangkan kebosanan?” tanya Binar lagi penuh selidik. Dia belum sempat mengenal lebih jauh sosok Rain. Namun, kini dirinya mendapat kesempatan untuk mengulik habis Arsenio, yang tiada lain merupakan wujud asli dari pria amnesia tersebut.
“Anggap saja begitu, meskipun sebenarnya aku masih memiliki kriteria tersendiri untuk setiap wanita yang kukencani. Tolonglah, Binar. Kamu tak akan suka mendengar hal ini. Jadi, jangan memancingku untuk membahasnya,” pinta Arsenio. Pria itu kembali menghindari pembahasan seputar dirinya bersama para wanita di masa lalu yang coba dia lupakan.
“Aku ingin menata kembali hidup yang kujalani agar tak lagi keluar dari jalur. Akan tetapi, hal itu seperinya tak mungkin lagi,” ucapnya kemudian.
“Kenapa begitu?” tanya Binar penasaran.
__ADS_1
Arsenio menggumam pelan seraya berpindah posisi. Dia kembali menghadap kepada gadis yang masih duduk di tepian meja. Kedua tangannya lalu pria itu letakkan di sisi kiri dan kanan tubuh Binar.
“Aku justru semakin keluar jauh dari jalur yang semestinya, setelah peristiwa buruk itu terjadi. Kehidupanku berubah seratus delapan puluh derajat, saat aku kembali dengan terus membawa satu nama di dalam hati. Binar, aku menginginkanmu untuk menuntun pria yang tersesat ini. Bawa aku pada cahaya cinta yang dapat menerangi hidupku agar menjadi lebih baik.” Arsenio meraih kedua tangan Binar, lalu menggenggamnya dengan erat. Dia tampak sangat bersungguh-sungguh saat itu.
“Kenapa harus aku? Itu sesuatu yang tidak mungkin.” Binar menggelengkan kepalanya, menolak apa yang Arsenio pinta.
“Karena kau yang mengubah jalan pikiranku. Bagi semua orang, aku mungkin masih terlihat seperti Arsenio yang dulu. Namun, lain halnya dengan yang kurasakan. Aku ... aku seperti seseorang yang baru terlahir kembali ke dunia,” ucap pria tampan itu kembali menegaskan. Akan tetapi, Binar tak segera menjawab. Dia hanya menatap lekat pria sejuta pesona tersebut.
Arsenio sang penakluk wanita dengan rayuan yang begitu beracun, dan dapat melumpuhkan pendirian teguh wanita yang menjadi sasarannya. Setiap kata-kata manis yang keluar dari bibir pria itu, seakan menjadi sebuah mantra yang mampu menghipnotis siapa pun. Tak terkecuali Binar.
Usia belia membuat Binar masih labil, apalagi dalam urusan cinta yang baru dia kenal dan belum dikuasai dengan baik. Binar yang polos harus dihadapkan pada seorang pria dengan segudang pengalaman dalam hal percintaan. Seluruh pendirian kuatnya mulai goyah. Niat hati untuk tak lagi bersentuhan dengan Arsenio karena sadar akan status pria tersebut, menguap begitu saja dan hanya menjadi sebuah wacana tak berguna.
Pria tampan tersebut telah mengajarkan bagaimana caranya melakukan hal itu dengan baik, dan agar terasa menyenangkan. Arsenio menuntun kepolosan si gadis pada sesuatu yang jauh lebih berwarna. Sentuhan lembut dan rabaan menggoda pada setiap bagian tubuh ramping Binar, membuat si pemiliknya hanya mampu terdiam dan membiarkan itu semua.
Adegan tadi terus berlangsung di dalam dapur dengan cahaya temaram yang meneranginya. Seperti biasa, Arsenio tak akan melepaskan gadis cantik tadi sebelum dirinya benar-benar merasa puas. Namun, satu hal yang terasa begitu berbeda. Pria itu masih dapat mengendalikan diri, untuk tak melakukan yang lebih jauh lagi meskipun mereka berciuman dengan sangat mesra dan begitu dalam.
Binar menghela napas panjang, ketika Arsenio memberinya kesempatan untuk menghirup udara dengan leluasa. Akan tetapi, Arsenio tak membiarkannya terlalu lama, karena pria berambut cokelat itu kembali melu•mat bibirnya seperti tadi. Mereka seakan lupa bahwa malam akan segera berganti pagi, karena waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Satu hal lagi yang tak mereka sadari, yaitu adanya sepasang mata milik Fabien yang sejak tadi mengawasi setiap adegan di dalam dapur itu. Fabien kini mengetahui dan dapat memahami dengan sangat baik. Tak salah lagi jika berpikir bahwa memang Binar lah sosok yang telah membuat sang kakak berubah drastis.
Semua lamunan pria yang mengabdikan hidupnya pada musik itu menjadi terusik, saat dilihatnya sebuah pergerakan dari arah koridor yang menuju kamar para pelayan. Seorang wanita paruh baya muncul dan bersiap untuk memulai aktivitasnya. Fabien segera berpindah dari tempat dia berdiri. Adik kandung Arsenio tersebut pura-pura bersin dengan keras, membuat si wanita terkejut seketika.
__ADS_1
“Ya ampun, Tuan Muda. Maaf, saya pikir ada penampakan,” celetuk wanita bertubuh agak gemuk itu terkejut saat berpapasan dengan Fabien. Wanita yang akan menuju dapur itu segera menghentikan langkahnya sejenak, karena Fabien berdiri menghalangi.
“Aku akan ke dapur untuk mencari obat sakit perut,” sahut Fabien dengan nyaring, berharap agar Arsenio dan Binar mendengar sehingga menghentikan aktivitas sensual mereka di sana.
“Bagaimana ini?” tanya Binar sambil berbisik. Wajahnya pun tampak begitu was-was. Lain halnya dengan Arsenio yang justru terlihat tenang. Pria itu malah masih sempat tertawa pelan. “Ayo ikut aku,” ajaknya. Dengan hati-hati dia menurunkan Binar dari atas meja dan menuntunnya keluar melalui pintu kecil yang berada di samping dapur. Pintu itu langsung menuju tangga ke lantai dua. Sambil mengendap-endap, Arsenio menggandeng tangan Binar dan mengantarkannya hingga ke depan kamar yang ditempati oleh gadis cantik itu.
“Tidurlah. Kita harus beristirahat meskipun hanya sebentar,” ucapnya. Dalam hati, ingin rasanya dia masuk ke kamar, lalu mendekap Binar sampai pagi di atas ranjang yang sama. Akan tetapi, akal sehatnya kembali berkuasa. Kali ini, dia akan melakukan segala sesuatunya dengan benar.
“Aku akan memperjuangkanmu, Binar. Untuk sementara, bertahanlah di sini sampai aku menyematkan cincin di jari manismu,” ujar Arsenio dengan yakin. Sebelum berlalu dari sana, dia mengecup kening Binar terlebih dahulu.
"Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri dariku," pesannya sambil berjalan mundur dengan telunjuk lurus kepada Binar. Sedangkan gadis cantik itu hanya tersipu seraya menyembunyikan sebagian wajahnya di balik pintu. Dia tak mengatakan apapun, hingga Arsenio menghilang dari pandangan. Gadis itu bermaksud untuk menutup pintu kamar, sebelum mendengar sapaan halus Fabien. "Binar."
.
.
.
Aw, manis banget. Semanis cerita yang satu ini 😍
__ADS_1