Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Dimulainya Pelacakan


__ADS_3

Setelah mendapat persetujuan dari Arsenio, Dwiki segera menghubungi sang pemilik rumah yang akan dikontrakkan itu. Mereka juga melakukan pertemuan secara langsung hingga didapat kata sepakat. Keesokan harinya, Dwiki bersama salah seorang asisten rumah tangga dari Kediaman Rainier, memutuskan untuk segera pindah ke sana. Mereka tak membawa apapun selain pakaian serta matras busa untuk alas tidur.


“Ingat. Jika ada yang bertanya, maka katakan saja bahwa saya adalah anak Mbok. Nama saya Jajang, sales obat nyamuk,” pesan Dwiki kepada asisten rumah tangga paruh baya yang dia panggil dengan sebutan ‘Mbok’.


“Iya, Mas. Beres. Mas tidak perlu khawatir,” balas si Mbok sambil mengangkat ibu jarinya yang sebelah kanan.


“Ingat, di depan orang lain jangan panggil ‘Mas’,” ujar Dwiki lagi mengingatkan. Dia harus benar-benar membuat wanita paruh baya itu mengerti dengan permainan yang sedang mereka lakukan, agar penyamaran untuk menyelidiki Bayu bisa berjalan dengan lancar.


“Iya, Jang. Biar si Mbok sudah hampir karatan begini, tapi belum pikun,” sahut wanita itu menegaskan bahwa dirinya sudah memahami maksud dari ucapan Dwiki.


“Bagus.” Dwiki balas mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum lebar. Setelah berunding sebentar tentang ini dan itu, ajudan kepercayaan Arsenio tersebut pun naik ke lantai dua. Di sana, dia mulai mengamati keadaan sekitar.


Di lantai dua itu ada bukaan untuk menjemur pakaian. Dari bukaan tersebut, Dwiki bisa melihat ke lantai dua rumah sebelah yang ditempati oleh Bayu, yang juga memiliki bukaan sama tapi terhalang pagar dari kawat berlapis. Sebenarnya Dwiki hanya tinggal melompat, andaikata dirinya seorang mutan yang bisa menembus benda keras. Pria itu pun berdecak pelan. Dia memutuskan untuk kembali turun. Akan tetapi, sebelum pria tampan tadi berbalik, dia menangkap gerakan seseorang yang muncul di lantai dua rumah sebelah.


Gadis muda yang kemarin dirinya temui di warung, tampak akan menjemur pakaian. Dwiki pun mengurungkan niat untuk turun. Dia malah mendekat ke tembok pembatas, lalu berdiri di sana dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. “Apa kering kalau menjemur pakaian di situ, Mbak?” tanyanya berbasa-basi.


Gadis yang sedang menjemur itu pun terkejut. Dia segera menoleh dan makin terkejut lagi, setelah melihat ada seorang pria yang berdiri di rumah sebelah. Setahu gadis itu, rumah yang Dwiki kontrak masih dalam keadaan kosong. “Mas siapa?” tanyanya ragu. Dia mungkin menganggap bahwa Dwiki merupakan penampakan di pagi hari.


“Saya Jajang. Kebetulan saya baru pindahan pagi ini,” jawab Dwiki seraya tersenyum ramah.


“Oh, saya ….”


“Yuni!” Terdengar seruan seorang pria dari lantai bawah.


Gadis yang rupanya bernama Yuni tersebut segera berpamitan. “Maaf, Mas. Saya permisi dulu.” Seusai berkata demikian, Yuni pun berlalu meninggalkan cucian yang belum sempat dijemur semua.

__ADS_1


Sementara Dwiki terdiam dan berpikir. Dia yakin bahwa suara pria tadi merupakan milik Bayu. Dwiki pun memutuskan untuk turun. Namun, lagi-lagi langkah tegapnya harus terhenti, ketika dia mendengar suara seseorang yang berbicara di telepon. Dwiki segera menurunkan tubuh agar orang yang tengah berbicara di rumah sebelah tak menyadari keberadaannya.


Dengan hati-hati, kekasih Winona tersebut mengintip pria yang sepertinya memiliki rentang usia hampir sama dengan Arsenio. Dwiki pernah melihat pria itu mendatangi kediaman milik Haris. Dari sana pula, dia mengetahui seperti apa sosok Bayu yang merupakan asisten pribadi Lievin.


Sambil merapatkan tubuhnya pada dinding dekat bukaan, Dwiki mencoba untuk menajamkan pendengaran. Dia cukup kesulitan mencerna obrolan pria itu. Selain karena suara si pria tidak begitu jelas, bahasa yang digunakannya pun bukanlah Bahasa Indonesia asli. Logat Melayu yang digunakannya pun terdengar sangat kental.


“Ah, sial!” gerutu Dwiki pelan. Pria itu hanya dapat mengerti sedikit sekali dari kata-kata yang diucapkan Bayu pada seseorang yang menjadi lawan bicaranya di telepon. Satu yang Dwiki catat saat itu ialah sebuah nama yang terus disebut oleh Bayu dalam perbincangannya, yaitu Syamsir Lagawi. Entah siapa pria yang dimaksud oleh asisten pribadi Lievin tersebut. Namun, Dwiki akan tetap memberikan nama itu kepada Arsenio untuk diselidiki lebih lanjut. Petunjuk sekecil apapun pasti dia ambil dan tak akan dirinya abaikan. Tanpa membuang waktu, Dwiki segera mengetikkan nama Syamsir Lagawi di ponsel, lalu dia kirimkan pada Ajisaka.


Ajisaka yang telah menerima pesan tadi, langsung paham akan maksud dari sepupunya. Pria tampan berkulit sawo matang yang kini sedang bersantai di kamar, segera membuka laptop lalu mengetikkan nama tersebut di mesin pencarian. Dirasa tak menemukan apapun, Ajisaka mulai mengeluarkan peralatan yang biasa dia pergunakan untuk meretas pusat data. Dia mulai menyambungkannya pada komputer server di perusahaan Rainier, kemudian berpindah pada perusahaan Biantara. Lagi-lagi, Ajisaka tak menemukan apa yang dirinya cari. Sambil mengembuskan napas pelan, Ajisaka memutuskan untuk menghubungi Dwiki. “Apakah ada informasi lain selain nama?” tanyanya setelah panggilan tersambung.


“Apa, ya?” Dwiki malah balik bertanya. “Coba saja nama Baiduri Haziq,” cetusnya yang tiba-tiba saja teringat akan nama itu.


“Oke.” Ajisaka segera mengetikkan nama tersebut melalui jaringan komputer milik perusahaan Biantara. Dari sana dia menemukan profil pria yang ternyata milik seorang pengusaha besar dari Malaysia.


“Baiduri Haziq adalah salah satu rekan bisnis Biantara Sasmita. Mereka sepertinya telah saling mengenal sejak lama,” tutur Ajisaka pada Dwiki melalui panggilan telepon yang belum terputus.


Ajisaka pun melakukan apa yang Dwiki katakan. Namun, ternyata akun atas nama Baiduri Haziq dalam keadaan terkunci. “Akunnya terkunci, Ki. Aku coba intip followersnya dulu,” ucap Ajisaka lagi tanpa memutus sambungan telepon, “orang ini memiliki cukup banyak followers, tapi dia hanya mengikuti beberapa orang saja. Nah!” Ajisaka tiba-tiba berseru.


Apa yang dilakukannya, membuat Dwiki terkejut dan segera menjauhkan ponsel dari telinga. “Sialan kamu, Ji!” gerutu kekasih Winona tersebut sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah kusut sejak awal. “Jadi, bagaimana? Apa kamu menemukan sesuatu?” tanya Dwiki penasaran.


“Dia dan Syamsir Lagawi ternyata saling mengikuti. Namun, akun milik si Syamsir juga terkunci. Selain itu, foto profilnya juga tidak jelas,” tutur Ajisaka.


“Tidak jelas bagaimana, Ji?” tanya Dwiki tak mengerti.


“Foto profilnya hanya berupa gambar sebuah kamera. Aku rasa, mungkin saja si Syamsir ini penyuka fotografi atau mungkin ….” Ajisaka tidak melanjutkan kata-katanya, ketika ada sebuah pesan masuk dari Anika. Pria itu pun tersenyum kalem. Dalam beberapa waktu terakhir, Ajisaka memang tidak sempat menghubungi wanita itu. Kesibukannya dalam menjalankan tugas yang diamanatkan oleh Arsenio, telah benar-benar menyita waktu dan tenaga.

__ADS_1


Hai, Aka. Apa kabar? Aku sudah mendengar berita tentang kematian Bu Anggraini. Tolong sampaikan kepada Arsenio bahwa aku turut berduka cita.


Seperti itulah isi pesan yang diterima oleh Ajisaka. Sepupu Dwiki tersebut segera membalasnya.


Hai, Ani. Kabarku baik-baik saja. Aku hanya sedang sibuk. Ada banyak hal yang harus kuurus di sini. Bagaimana kabarmu?


Tanpa sadar, Ajisaka malah terus berbalas pesan dengan Anika. Dia sampai lupa bahwa dirinya masih berada dalam sambungan telepon dengan sang sepupu. Dwiki sampai gelisah. Dia berkali-kali menggaruk kepala, karena Ajisaka tak juga bersuara.


“Ji, kamu masih hidup kan?” tegur Dwiki beberapa saat kemudian. Pria itu mulai jengkel.


“Iya, Ki. Maaf. Ada iklan sebentar,” sahut Ajisaka. Dia kembali pada pekerjaannya yan tertunda. ”Nanti aku ulik lagi untuk memeriksa akun-akun tadi. Melakukan pekerjaan seperti ini harus benar-benar santai dan … aku akan membicarakan ini dengan si bos.”


“Ya sudahlah. Lagi pula, aku belum mandi. Kalau ada apa-apa, kabari aku lagi,” pesan Dwiki sebelum memutus sambungan teleponnya. Setelah itu, Dwiki termenung untuk sejenak. Dia lalu menghubungi Winona. Tak membutuhkan waktu yang lama, hingga sang kekasih menjawab panggilan darinya. Suara lembut putri Biantara Sasmita tersebut terdengar menyapa Dwiki dengan manja. “Hallo juga, cantik,” balas Dwiki ceria. “Sedang apa? Sudah sarapan belum?” tanya pria itu sok perhatian.


“Aku sudah selesai sarapan sejak tadi. Sebentar lagi akan berangkat ke kantor. Ada apa? Tidak biasanya kamu menghubungiku pada jam seperti ini.”


“Kalau bisa, aku ingin menghubungimu setiap detik,” rayu Dwiki seraya kembali mengacak-acak rambutnya. Siapa sangka bahwa tipe pria seperti dia, dapat menarik perhatian seorang Winona.


“Astaga. Kamu membuatku sangat tersanjung,” balas Winona dari seberang sana. Tawanya terdengar sangat ceria.


“Eits! Sayang sekali karena rayuanku tidak gratis, Non,” balas Dwiki.


“Hmm ….” Winona terdengar menggumam pelan.


“Tenang saja. Aku tidak akan meminta hal yang sedang kamu pikirkan sekarang,” sahut Dwiki dengan kalem.

__ADS_1


“Lalu?” tanya Winona.


“Berikan aku akses untuk masuk ke ruangan Haris,” pinta Dwiki.


__ADS_2