
Setelah mendapatkan persetujuan dari manajer toko, Binar akhirnya dapat bernapas lega. Dia juga sempat berpamitan pada rekan-rekan kerjanya yang lain, sebelum berjalan kaki menuju terminal terdekat. Dari sana, Binar menaiki bus yang menuju ke pelabuhan Gilimanuk.
Tiga jam perjalanan Binar lalui hingga tiba di pelabuhan terbesar di Bali tersebut. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan dengan cuaca yang cukup terik. Beruntungnya karena Binar telah membeli tiket feri secara online, sehingga dirinya tak perlu antri terlalu lama. Dia dapat memasuki kapal dengan mudah dan memilih duduk di dek sambil menatap lautan lepas. Binar pun mendekap ransel yang ada di atas pangkuan.
Angin berembus cukup kencang menerpa wajah dan mempermainkan rambut panjangnya. Sementara mata indah gadis itu menerawang. Daratan Bali perlahan menjauh dari pandangannya. Begitu pula dengan ribuan kenangan yang dia miliki di sana. “Wisnu, Praya, maafkan mbok,” bisiknya begitu lirih. Hatinya tersayat setiap kali mengingat kedua adik yang dia tinggalkan. Namun, Binar harus mengambil sikap demi perubahan dalam hidupnya.
Sejurus kemudian, ingatan gadis itu kembali pada Rain. Pria yang belum lama dia temui, tetapi telah meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi dirinya. Ciuman pertama sekaligus hati yang telah dicuri oleh pria misterius itu. Binar tak tahu apakah takdir akan mempertemukan mereka kembali atau tidak. Masa depan masih terlihat begitu buram baginya.
Pikiran Binar yang melayang membuat dia tak sadar bahwa dirinya kini telah tiba di pulau seberang. Suasana yang berbeda dari pulau Bali, sedikit memberikan perasaan tak nyaman pada diri gadis itu. Akan tetapi, Binar sudah bertekad untuk pergi sejauh mungkin dari Widya dan peristiwa buruk yang telah menimpanya. Dia kembali memantapkan hati dan niat.
Dari pelabuhan Ketapang, Binar pergi menuju stasiun kereta. Di sana, dia hendak membeli tiket tujuan Jakarta. Namun sayang, petugas loket mengatakan tidak ada kereta tujuan langsung ke ibu kota. “Mbak beli saja tiket ke Yogyakarta dulu. Dari sana mbak bisa membeli tiket jurusan Jakarta,” jelas petugas tersebut.
“Tidak apa-apa, Pak. Asalkan sampai Jakarta,” putus Binar setelah berpikir agak lama.
“Baiklah. Satu, ya?” petugas itu meyakinkan.
“Iya, Pak,” Binar mengangguk mantap dan menerima selembar tiket. Gadis itu lalu berjalan menuju peron dan menunggu kereta. Kurang lebih dua jam dia menghabiskan waktu menunggu datangnya kereta dengan bermain ponsel. Binar sempat berkirim pesan dengan mantan teman-teman kerjanya di toko suvenir.
Ketika keretanya tiba, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Binar memasuki gerbong yang sesuai dengan yang tertera di tiket. Dia mendapatkan tempat duduk tepat di dekat jendela, berhadapan dengan seorang wanita paruh baya. “Mau ke Jogja, Nak?” tanya wanita itu berbasa-basi.
“Ke Jakarta, Bu,” jawab Binar sambil tersenyum ramah. Tas ransel hitamnya sama sekali tak lepas dari dekapan.
“Jauh sekali. Apakah ada saudara di sana?” tanya wanita itu lagi.
“Tidak ada, Bu. Saya mau cari kerja,” lagi-lagi Binar menjawab sambil tersenyum manis.
“Hati-hati, Nak. Kehidupan di sana itu keras. Yang punya kerabat atau kenalan di sana saja susah, lho. Apalagi sendirian seperti ini. Hati-hati kena tipu,” tutur wanita itu.
__ADS_1
“Iya, Bu. Terima kasih atas nasihatnya. Saya akan berhati-hati di sana,” ucapnya.
Sepuluh jam pun mereka lalui dengan obrolan ringan. Mereka bahkan sudah saling bertukar nama. Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Irma. Percakapan keduanya pun menjadi semakin hangat. Sama-sama lelah, kedua wanita berbeda generasi itu akhirnya tertidur sampai Irma terbangun lebih dulu. Dia berdiri lalu membangunkan Binar. “Sudah sampai di stasiun Jogja, Nak,” ujarnya.
Binar sempat tergagap untuk beberapa saat sebelum akhirnya dapat mengumpulkan kesadaran. “Ah, iya. Terima kasih, Bu,” ucapnya sambil meraup wajah dan merapikan rambut. Gadis cantik itu meletakkan ransel di punggung sambil menggenggam ponselnya. Dia juga sempat membantu wanita tersebut menuruni tangga gerbong. Nahas, pada anak tangga terakhir tiba-tiba Irma kehilangan keseimbangan. Beruntung, Binar sigap memeganginya hingga tak sampai terjatuh.
Sayang, Binar tak menyadari jika ponselnya terlepas dari genggaman dan terjatuh di antara langkah kaki ratusan orang yang berlalu lalang di stasiun. Apalagi penerangan di stasiun kurang begitu bagus, mengingat saat itu sudah memasuki jam sepuluh malam.
“Ya, ampun. Hp-ku!” pekik Binar panik ketika dia menyadari bahwa ponselnya tak lagi berada di tangan.
“Kenapa, Nak?” tanya Irma yang juga ikut kebingungan.
"Hp saya sepertinya jatuh, Bu," tak terkira betapa kalut perasaannya. Binar tak bisa membayangkan jika harus kehilangan ponsel yang dulu dia beli dengan susah payah.
"Jatuh di mana?" wanita itu ikut panik ketika Binar mulai meneteskan air mata.
"Coba dicari dulu, Nak. Saya bantu?" tawar Irma.
"Tidak usah, Bu. Biar saya cari sendiri," tolak Binar halus.
Wanita itu menggeleng kuat-kuat. "Hp-mu hilang gara-gara membantu Ibu, Nak. Sekalian giliranku untuk membantumu," desaknya.
"Ibu pasti lelah. Biar saya cari sendiri, Bu," Binar memaksakan senyumnya agar terlihat baik-baik saja.
"Kalau begitu, Ibu akan menunggu di sini sampai hp-mu ketemu," tegas Irma membuat Binar menggelengkan kepala.
"Baiklah, kalau Ibu tidak keberatan. Tunggu di sini sebentar ya, Bu," ucap Binar. Gadis itu lalu membungkuk dan menyisir lantai peron demi mencari benda pipih kesayangannya. Namun, sayang sekali dia tak dapat menemukannya di manapun. Dengan langkah lunglai, Binar kembali ke tempat Irma yang masih tetap berdiri menunggunya sejak tadi. "Bagaimana? Ketemu?" tanya wanita itu was-was.
__ADS_1
Binar hanya bisa menggeleng lemah tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kemudian mulai menangis. "Bagaimana ini?" gumamnya.
"Ya, ampun. Maaf ya, Nak. Gara-gara Ibu ...." sesal Irma
"Bukan, Bu. Bukan karena Ibu, kok. Saya tulus membantu. Itu semua karena nasib saya yang kurang bagus," sanggah Binar.
"Terus sekarang kamu mau ke mana? Mau menginap di mana?" tanya Irma.
"Melanjutkan perjalanan, Bu. Saya mau ke loket untuk membeli tiket ke Jakarta," jawab Binar dengan lesu.
"Ya, ampun, jangan! Ini sudah malam! Tidak baik anak gadis bepergian malam-malam. Menginap dulu, baru lanjutkan besok pagi perjalanannya," saran wanita itu.
"Saya tidak punya tempat menginap, Bu. Saya tidak kenal siapa-siapa di sini," Binar tersenyum getir sambil mencengkeram erat tali ranselnya.
"Kalau begitu, kamu ikut Ibu pulang saja. Rumah Ibu tidak jauh dari stasiun," saran Irma.
"Tidak usah, Bu. Sungguh, saya tidak apa-apa," tolak Binar.
"Kalau kamu tidak mau, berarti Ibu akan tetap di sini sampai kamu mendapatkan keretamu," tegas wanita itu.
"Ta-tapi, Bu ...." elak Binar ragu.
"Tidak ada tapi-tapi! Kalau kamu menolak, maka Ibu akan tetap di sini," tegas Irma.
"Ya, ampun," Binar mende•sah pelan sembari memijit dahinya. "Saya tidak ingin merepotkan Ibu atau siapa pun," ujarnya pelan.
"Ibu tidak merasa direpotkan," ucap Irma yakin.
__ADS_1
"Ehm, bagaimana, ya?" Kini, Binar mulai bimbang. Di satu sisi, dia ingin cepat-cepat sampai di ibukota. Sedangkan di sisi lain dia merasa begitu lelah dan juga lapar. "Baiklah, Bu. Saya meminta izin menumpang di rumah Ibu," putusnya setelah berpikir selama beberapa saat.