
Dua jam sudah berlalu dengan tanpa terasa. Binar menatap tak percaya pada pantulan cermin sebesar dirinya. Dia begitu terpana atas tampilan baru yang membuat siapa pun pasti akan merasa pangling. “Seperti bukan aku,” gumamnya pelan. Jemari lentik berbalut kulit kuning langsat itu mengusap pipi dan bibir.
Malam itu, Binar memang terlihat begitu berbeda. Rambut hitam dan panjang yang selama ini hanya dia ikat dengan gaya ekor kuda, kini digerai dan ditata sedemikian rupa hingga terlihat jauh lebih indah dan sesuai dengan penampilannya. Setelah itu, Binar juga meraba gaun malam berwarna biru doff dengan bagian bawah model pinguin. Gaun tadi begitu mengkilap, terlebih karena bahannya yang terbuat dari satin lembut berkualitas. Ini adalah pertama kalinya Binar mengenakan pakaian semewah itu. "Ya, Tuhan," desah gadis tadi lirih. Hampir saja air matanya menetes, andai tidak segera dia tahan karena takut membuat riasan yang telah diaplikasikan pada wajahnya menjadi luntur.
"Mbak, silakan coba sepatunya," ucap salah satu karyawan salon yang membantu dia bersiap-siap. Gadis yang sepertinya berusia sama dengan Binar itu, mempersilakan dia untuk kembali duduk.
"Ah, tidak usah. Aku bisa memakainya sendiri," tolak Binar yang merasa tak nyaman, saat gadis tadi akan memasangkan sepasang platform heels berwarna senada dengan bagian depan yang terbuka. Binar langsung meringis saat melihat tinggi hak dari sepatu yang telah disiapkan Chand untuknya. "Ya, Tuhan. Bagaimana caranya berjalan dengan sepatu setinggi itu?" pikir Binar setengah bergumam. "Berapa tinggi sepatu ini, Mbak?" tanyanya pada karyawan salon yang tetap memasangkan sepatu untuknya.
"Saya rasa ... mungkin ini sekitar lima belas senti," sahut si gadis ragu, "tapi, sepatu jenis ini lebih nyaman dipakai. Itu yang saya baca di artikel, karena saya juga belum pernah mencobanya," ujar gadis itu lagi terkikik geli, seraya mengaitkan gesper di pergelangan kaki Binar. "Ini cocok untuk Mbak. Apalagi betis Mbak ramping, mirip betis barbie."
Binar hanya tersenyum menanggapi ucapan gadis itu. Dia lalu berdiri dan mencoba untuk tetap terlihat seimbang dengan sepatu yang kini membuatnya terlihat jauh lebih tinggi. Namun, raut khawatir tak juga lepas dari wajah cantiknya saat itu.
"Bagaimana? Apa sudah cukup atau masih ada yang kurang?" tanya wanita si pemilik salon mewah.
Binar yang tengah terpaku menatap dirinya, seketika menoleh. "Ini sudah jauh lebih dari cukup. Aku bahkan merasa tak mengenali diri sendiri," jawabnya polos.
"Baguslah," balas wanita pemilik salon yang sepertinya sepantaran dengan Rena. Dia lalu tersenyum dan mendekat kepada Binar. "Satu yang harus diingat, kecantikan itu tak hanya dilihat dari riasan semata. Namun, rasa percaya diri yang terpancar dari dalamlah yang akan membuatmu terlihat luar biasa," pesannya yang dapat melihat rasa gugup dari bahasa tubuh serta mimik wajah Binar.
"Begitukah?" Binar menoleh kepada wanita yang berdiri di sebelahnya. Si wanita pemilik salon menanggapinya dengan sebuah anggukan penuh arti. Setelah itu, dia menyentuh pundak Binar yang terbuka lebar, karena bagian atas gaun yang dikenakannya kebetulan dibuat dengan model sabrina. "Terima kasih," ucap Binar terharu. Tatapannya mengiringi kepergian wanita tadi yang berlalu ke bagian dalam salon itu.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Binar kembali termenung sebelum akhirnya dia tersadar karena suara dering ponsel. Nama Chand tertera di layar. "Apa kamu sudah selesai?" tanya pria tampan tersebut.
"Sudah, kak," jawab Binar. Telapak tangannya menjadi basah karena rasa gugup yang kian menjadi, saat Chand mengatakan bahwa dia sedang di jalan untuk menjemputnya. "Baiklah, aku tunggu," sahut Binar sebelum panggilan itu berakhir. Dengan harap-harap cemas, dia menggenggam clutch bag berwarna silver untuk mengurangi perasaan tak karuan dalam dirinya.
“Kak, pak Chand sudah menunggu di luar,” ujar salah seorang pegawai salon padanya. Binar segera berbalik dan tersenyum pada gadis yang tadi membantu memasangkan sepatu untuknya.
“Terima kasih,” balas Binar sambil berjalan ke bagian depan salon dengan langkah yang teramat hati-hati. Dia harus menjaga keseimbangan agar tak jatuh dan mempermalukan diri.
Di sana, Chand yang awalnya duduk sambil berkali-kali melihat jam tangan segera berdiri. Dia terpaku karena merasa terpesona saat menatap Binar yang mendekat ke arahnya. Mata duda tiga puluh tahun itu tak berkedip, saat memperhatikan sosok gadis yang kini telah berubah menjadi sangat memesona.
“Nirmala?” Chand menyebut nama Binar pelan dengan sorot penuh arti.
“Ah jangan begitu lah, Kak. Ini hanya karena pengaruh make up.” Binar mencoba merendah. Dia merasa malu dan menjadi salah tingkah, karena Chand terus memperhatikannya.
"Aku takut terjatuh dengan sepatu setinggi ini. Untungnya karena kemarin sudah sedikit latihan saat menjadi model dadakan," ujar Binar polos.
"Nanti juga kamu akan terbiasa. Kamu harus tahu, wanita dan high heels itu ibarat sambal dengan lalapannya," sahut Chand seraya mengemudikan kendaraan dengan kecepatan sedang. Apa yang menjadi dugaannya memang tidak meleset. Mereka terjebak macet setelah lima belas menit meninggalkan salon. Chand pun tampak gelisah. Apalagi jarum jam tangan mahalnya menunjukkan waktu mendekati pukul delapan malam. “Aduh, sebentar lagi masuk sesi pemasangan cincin,” gumamnya pelan dengan diakhiri sebuah keluhan.
“Apa ada masalah, Kak?” tanya Binar ikut was-was melihat bahasa tubuh Chand.
__ADS_1
“Sedikit. Akan tetapi, bukan Chand namanya jika tidak bisa mengatasi hambatan sekecil ini,” sahut pria tampan itu jumawa, kemudian tersenyum lebar. Sesaat kemudian, Chand menyentuh layar ponsel yang tertempel di dashboard dan menghubungi seseorang. “Na, tolong gantikan posisiku untuk sementara,” perintahnya saat panggilan itu tersambung. Tanpa basa-basi lagi, Chand kemudian segera mengakhirinya. “Aman,” ucapnya lega kembali tersenyum. Dia lalu menoleh kepada Binar dengan wajah ceria.
Sementara itu, di tempat pesta suasana semakin ramai. Detik-detik menuju acara puncak akan segera dilangsungkan. Arsenio dan Winona tampak berbincang dengan beberapa tamu penting yang mereka sambut hangat. Rata-rata yang hadir di sana merupakan orang-orang dari kolega bisnis terdekat dan beberapa sahabat dekat Winona, selain Indah tentunya. Wanita cantik berpenampilan seksi itu, tak juga melepaskan perhatian dari pasangan yang akan segera bertukar cincin. Masih terngiang di telinganya, ucapan Arsenio yang akan menyelidiki kasus kecelakaan yang terjadi di Bali. Indah yang terlibat dalam hal itu, harus mencari cara untuk mencuci tangannya.
Waktu telah menunjukkan pukul delapan tepat. Lievin sebagai penyelenggara pesta, membuka acara dengan sambutan penuh kebahagiaan. Biantara pun selaku ayah Winona ikut menimpali, sehingga suasana pesta menjadi kian semarak.
"Berhubung waktunya sudah tiba, jadi sebaiknya jangan berlama-lama lagi," ucap Biantara. "Saya sudah tidak sabar dengan pengukuhan dari hubungan antara putra-putri kami. Setelah ini, kami akan menyelenggarakan sebuah perhelatan besar, yaitu pesta pernikahan Arsenio dengan Winona." Ucapan Biantara disambut dengan tepuk tangan dari para tamu undangan yang ikut berbahagia.
Setelah itu, Anggraini yang ditemani oleh Yohana menghampiri Arsenio serta Winona yang berdiri dengan sedikit menjaga jarak. Terlihat kecanggungan di antara kedua sejoli tersebut, seakan itu adalah pertemuan pertama mereka.
"Kenapa berjauhan? Ayo deketan," canda Yohana yang disambut tawa dari para tamu undangan.
Sambil memasang senyuman manis, Winona bergeser sehingga lebih mendekat kepada Arsenio. Setelah mereka berdiri berdampingan, seorang gadis datang dengan membawa sebuah baki berhiaskan ukiran di sekelilingnya. Di atas baki itu, terdapat sepasang cincin yang akan dikenakan oleh Arsenio dan Winona.
Berat rasanya bagi Arsenio saat harus menghadapkan tubuh kepada Winona. Terlebih, ketika wanita cantik itu memasangkan cincin dengan bahan platinum berkualitas nomor satu pada jari manisnya. Arsenio pun mengela napas dalam-dalam sebelum meraih cincin yang akan dia pasangkan di jemari Winona. Pria tampan bermata cokelat terang itu berpikir untuk sesaat, sebelum akhirnya mengambil cincin tadi.
'Binar kamu di mana'? Bisik kecil dalam hati Arsenio. Dia masih berharap akan adanya keajaiban. Namun, ternyata kisah dramatis seperti itu hanya ada dalam dunia dongeng dan cerita film semata. Arsenio pun kembali menarik napas dalam-dalam, membuat Winona menjadi heran.
"Arsen," tegur wanita itu dengan setengah berbisik.
__ADS_1
"Oh, putraku sangat gugup," seloroh Anggraini yang mencoba mencairkan suasana.
Sesaat kemudian, Arsenio segera memasangkan cincin tadi bersamaan dengan masuknya Chand dan juga Binar.