Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Akhir Untuk Sebuah Awal


__ADS_3

Setelah mengembalikan mobil dan berbasa-basi sebentar dengan Rudolf, Arsenio mengambil motor yang dia sewa lalu berpamitan pada bule baik hati itu. Pasangan pengantin baru tersebut kembali ke penginapan dan mulai berkemas. Tak lupa, Binar menyelipkan satu buku peninggalan sang ayah ke dalam ransel besar Arsenio.


Dari penginapan, mereka menuju ke tempat rental motor. Setelah itu, barulah mereka menaiki taksi online menuju bandara. Tak sedetik pun Arsenio melepaskan genggamannya dari tangan Binar selama menunggu keberangkatan pesawat. Dia mengernyit saat telapak tangan istrinya terasa basah. Wajah cantik Binar pun terlihat gelisah, apalagi saat terdengar pengumuman bagi para penumpang agar segera menaiki pesawat.


"Kamu takut?" tanya Arsenio sesaat setelah mereka melangkah melewati gate untuk masuk ke dalam pesawat.


"Tidak juga, aku hanya ...." Jawab Binar tertahan. "Aku pernah naik pesawat sekali, saat pertama berangkat ke Jakarta bersama kak Chand."


"Oh," sahut Arsenio menanggapi. "Semoga kamu tidak takut ketinggian," Arsenio yang berjalan di samping Binar, segera menoleh sambil tersenyum lucu.


"Tentu tidak," sahut Binar tenang, meski keringat dingin mulai memenuhi kening, tatkala Arsenio menuntunnya ke tempat duduk yang telah dipesan.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ada aku di sini." Arsenio mendudukkan Binar di sampingnya. Awalnya dia memilihkan kursi dekat jendela, tetapi sang istri menolak. "Pegang tanganku," suruh Arsenio. Tak hanya menggenggam, Binar malah mencengkeram jemari suaminya saat pesawat berguncang karena lepas landas.


"Tidur saja. Nanti kubangunkan saat pesawat akan mendarat," saran Arsenio yang segera dituruti oleh Binar. Gadis itu langsung memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar sang suami.


Dua jam perjalanan udara berakhir, ketika pesawat mendarat dengan mulus di bandara Soekarno Hatta. Dari sana, mereka menaiki taksi ke apartemen Prajna. Sebelumnya, Arsenio sudah meminta izin kepada Chand untuk menempati apartemennya lebih lama.


Pengantin baru itu memasuki kamar apartemen saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Mereka berdua seakan tak memiliki tenaga untuk membersihkan diri ataupun merapikan barang-barang. Arsenio dan Binar langsung merebahkan tubuh di atas ranjang, lalu tertidur hingga pagi menjelang.


Binar terbangun lebih dulu. Dia bergegas ke kamar mandi, lalu keluar dalam kondisi yang telah rapi beberapa menit kemudian. Ini adalah hari pertama dia tinggal di apartemen Prajna dengan status sebagai seorang istri. Binar pun berniat menyiapkan sarapan untuk suami tercinta. Dia mulai berkutat di dapur, setelah menemukan bahan makanan beku yang memang sengaja dirinya simpan sejak sebelum berangkat ke Bali.

__ADS_1


Sedangkan Arsenio baru saja membuka mata ketika terdengar ponsel miliknya dan milik Binar berbunyi bersahut-sahutan. Dia meraih ponselnya lebih dulu, lalu memeriksa setiap pesan masuk dan panggilan tak terjawab. Berhubung nomor yang Arsenio gunakan sekarang merupakan nomor baru, maka tak banyak kontak yang dia simpan selain yang memang sudah tersimpan otomatis dalam memori ponsel. Namun, yang mengetahui nomor barunya tersebut hanyalah Linda, sang sekretaris pribadi.


Pria rupawan dengan rambut yang masih acak-acakan itu terduduk dan membuka pesan dari wanita yang telah bekerja padanya selama beberapa tahun terakhir.


'Tuan Lievin menunggu anda di Safe Haven Investments. Oh ya, beliau juga sudah mengusulkan nama nona Winona sebagai kandidat CEO, untuk memegang perusahaan investasi milik anda yang telah dibaliknamakan.'


Arsenio terdiam. Dia fokus pada kalimat bahwa Lievin telah menunggu di kantor.


Pria itu langsung turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Dia bersiap-siap dalam waktu singkat. Dengan memakai kemeja berwarna biru dilengkapi celana bahan berwarna hitam, Arsenio keluar dari kamar. Dia mendekati Binar yang sedang asyik menata meja makan, lalu memeluk dari belakang. "Aku pergi dulu," pamitnya sambil mengecup pundak sang istri.


"Sarapan dulu, Rain. Sudah kusiapkan semuanya," cegah Binar.


"Aku ke kantor dulu sebentar, Sayang. Nanti akan kucicipi masakanmu sepulang dari sana," balas Arsenio.


"Kalau nyonya Arsenio yang memasak, tidak ada istilah kelezatan berkurang," rayu pria blasteran Belanda itu seraya mencium bibir istrinya. "Aku harus ke kantor, Sayang. Papa sudah menungguku di sana," ujar Arsenio dengan sorot mata yang berubah sendu.


"Sekarang?" Mata indah Binar terbelalak. "Ya, sudah. Berangkat sekarang saja, jangan biarkan om Lievin menunggu lama." Gadis cantik itu buru-buru merapikan kerah kemeja dan menyisir rambut coklat Arsenio dengan jemarinya.


Lagi-lagi, Arsenio terpesona akan sikap Binar yang sama sekali tak terlihat mendendam atau marah pada Lievin. Padahal sikap sang ayah sebelumnya begitu merendahkan dia. “Aku keluar dulu, ya. Jangan lupa kunci pintunya,” pesan pria itu lembut sembari melu•mat bibir ranum Binar. Mencium wanita cantik itu adalah salah satu kegiatan favoritnya sekarang.


Binar sempat memeluk sang suami erat-erat, sebelum melepaskan tubuhnya dan mengantar hingga ke depan pintu. Sesuai pesan Arsenio yang telah menghilang di balik pintu lift, Binar segera menutup pintu apartemen rapat-rapat lalu menguncinya.

__ADS_1


Arsenio sendiri tampak begitu tegang. Sejak keluar rumah, hingga perjalanan sampai ke kantor, perasaannya begitu campur aduk. Dia mencoba merangkai kata yang akan dirinya ucapkan nanti saat bertemu Lievin.


Akan tetapi, kata-kata tersebut seakan tak berguna. Ketika dia tiba di tempat yang sebentar lagi akan beralih kepemilikan, Arsenio hanya melihat pengacara Lievin, Linda sang sekretaris, dan Winona. “Di mana papa?” tanya pria itu begitu masuk ke bekas ruang kerjanya.


“Om Lievin sudah pulang sesaat setelah menandatangani berkas-berkas ini. Sepertinya dia benar-benar tak ingin bertemu denganmu,” jawab Winona dingin. Sorot matanya seakan merendahkan Arsenio yang berdiri tepat di depannya tersebut.


Arsenio terpekur untuk beberapa saat. Tak dapat dipungkiri bahwa dirinya begitu kecewa karena gagal bertemu dengan sang ayah. “Ya, sudah. Mungkin lain kali,” gumamnya pelan.


“Tanda tangan di sini, Pak Arsenio,” tunjuk kuasa hukum Lievin. Hati-hati, dia menyodorkan berlembar-lembar kertas ke hadapan pria yang baru saja melepas masa lajangnya tersebut.


Arsenio segera meraih kertas-kertas itu dan membacanya dengan teliti. Semakin dia baca semakin terasa sesak dadanya. Bagaimana tidak, perusahaan investasi yang dia bangun dengan jerih payahnya sendiri, harus berpindah ke tangan Lievin. Ditambah lagi, pria paruh baya itu malah memercayakan Winona untuk memegangnya.


“Ayo, cepat tanda tangani. Mau kamu baca sampai sepuluh kali pun tetap tak akan mengubah keadaan,” tegur Winona yang sedari tadi terus memperhatikan mantan tunangannya itu.


“Ah iya. Kamu benar.” Arsenio terkekeh pelan. Dia menuruti perkataan Winona, lalu mengambil pulpen mahal yang tersimpan di saku kemeja. Arsenio membubuhkan tanda tangannya pada setiap lembar kertas sampai selesai. Setelah itu, dia menyerahkannya kembali pada pengacara Lievin.


“Bagus. Kamu sudah tidak dibutuhkan lagi di sini. Sekarang pergilah,” usir Winona seenaknya.


Mendengar kalimat tak mengenakkan tersebut, Arsenio mengarahkan mata coklat terangnya pada Winona. Tatapannya begitu garang ketika itu. Namun, Winona sama sekali tak terpengaruh. Dia malah tertawa mengejek. “Bagaimana rasanya?” tanya Winona saat Arsenio hendak berbalik meninggalkan ruangan.


“Apanya?” balas Arsenio datar.

__ADS_1


“Bagaimana rasanya terpuruk dan tidak punya apa-apa?” ledek Winona.


“Rasanya luar biasa,” jawab Arsenio. “Aku menikah dengan Binar dua hari yang lalu,” lanjutnya seraya memamerkan cincin kawin bermata lumba-lumba.


__ADS_2