
"Kenapa aku harus memberikan ponsel padamu? Kamu bukan siapa-siapaku," tolak Winona. Dia lalu meneguk kopinya. Penolakan wanita muda itu, justru membuat Dwiki tersenyum puas. "Kenapa? Apanya yang lucu?" Winona mengangkat sebelah alisnya yang indah.
"Tidak apa-apa. Tiba-tiba aku mendapat sebuah bisikan," sahut Dwiki enteng.
"Tentang apa?" tanya Winona penasaran. Dia memandang penuh harap kepada pria di hadapannya. Sorot mata wanita muda itu pun perlahan melunak, tak seperti beberapa saat yang lalu.
Senyuman di bibir Dwiki pun terlihat semakin lebar, saat kembali melihat sosok Winona yang dia rindukan. Winona yang cantik, lembut, dan juga apa adanya. "Manis sekali," gumam Dwiki tanpa sadar. Dia terlalu larut dalam tatap mata si pemilik rambut panjang di hadapannya.
"Kamu dan Arsen sama saja. Perayu." Winona segera mengalihkan pandangan pada hot plate steak yang baru saja dihidangkan oleh seorang pelayan. "Aku lapar," ucap Winona tanpa menoleh kepada Dwiki. Wanita muda itu segera memainkan pisau dan garpu yang dia pegang. Setiap gerakan serta bahasa tubuh yang diperlihatkan olehnya, tak luput dari perhatian seorang Dwiki.
Tiba-tiba, Dwiki menyodorkan garpu dengan satu potongan kecil daging steak kepada Winona. Pada awalnya, putri tunggal Biantara Sasmita itu hanya tertegun. Dia menatap ragu kepada Dwiki. Namun, setelah Dwiki mengisyaratkan agar Winona segera menyantapnya, wanita bertubuh molek itu pun mendekatkan serta membuka mulutnya dengan tidak terlalu lebar.
Baru saja Winona akan menggigitnya, dengan segera Dwiki menarik kembali garpu tadi. Winona pun langsung mengatupkan mulut dengan raut kesal. Lain halnya dengan Dwiki yang justru terlihat senang, karena sudah berhasil mengerjai si cantik itu.
Winona memilih untuk tak berkomentar. Dia kembali fokus pada hot plate miliknya. Dengan kesal, Winona memotong daging steak tadi sedikit demi sedikit dalam tiap suapannya.
Tak berselang lama, Dwiki kembali menyodorkan satu potongan kecil ke dekat mulut Winona. Akan tetapi, kali ini Winona tak memedulikannya. Dia tetap fokus pada steak yang sedang dirinya potong.
"Kali ini serius," ucap Dwiki saat melihat sikap Winona yang tak memedulikannya. Dia terus menyodorkan garpu dengan potongan daging steak. Namun, Winona masih tetap tak menggubrisnya sama sekali. "Ayolah, Wini. Apa kamu sudah tidak ingin bercanda lagi denganku?" Dwiki terdengar kecewa.
Setelah mendengar nada bicara Dwiki yang berbeda, Winona pun merasa tak enak. Dia lalu mengangkat wajahnya, kemudian menatap si pria untuk sejenak. Sesaat kemudian, pandangan Winona beralih pada garpu di dekat mulutnya. Namun, wanita muda itu masih tetap terlihat ragu. "Kamu suka sekali mengerjaiku."
"Karena kamu terlalu baik, sehingga tak bisa melihat sisi jahat dari orang di hadapanmu," balas Dwiki seraya kembali menarik garpu yang disodorkan kepada Winona. Dia lalu menggigit potongan steak tadi dan meletakkannya di bibir. Tatapan Dwiki pun terlihat nakal, membuat Winona kembali menunduk demi menyembunyikan rasa malu. "Setelah dari sini kamu akan ke mana?" tanya Dwiki kemudian.
"Aku akan ke kantor papa," jawab Winona pelan.
"Lalu, kapan kamu ada waktu luang?" tanya Dwiki lagi.
"Tidak ada. Aku sibuk," jawab Winona lugas.
................
Winona tiba di kantor sang ayah tepat pada saat pria paruh baya itu akan segera pulang. Dengan segera, dia mempercepat langkah untuk mencegah Biantara agar tak memasuki lift. “Pa, tunggu!” serunya.
“Win? Papa kira kamu sedang mengurus laporan keuangan bersama Bayu,” ujar Biantara mengernyit keheranan.
“Haris di mana?” Winona malah memberikan sebuah pertanyaan kepada Biantara.
“Dia ada di ruangannya. Kenapa, Win?” Biantara mulai merasakan ada sesuatu yang tak beres, sehingga dia memutuskan untuk kembali ke ruangannya sambil menuntun tangan putri satu-satunya tersebut.
__ADS_1
“Sudah berapa persen progresnya sampai kita dapat mengembalikan kedua perusahaan itu kembali pada Lievin?” tanya Biantara, setelah duduk dengan nyaman di kursi kebesarannya.
“Sekitar tujuh puluh persen, Pa. Namun, bukan itu masalahnya.” Winona duduk di hadapan sang ayah, dengan sedikit mencondongkan tubuh. “Aku memiliki mata-mata. Dia mengatakan bahwa Haris dan Bayu ternyata saling mengenal akrab.”
“Bayu asisten Lievin?” tanya Biantara.
“Iya, Pa. Asisten om Lievin. Mereka ternyata saling mengenal,” tutur Winona pelan. Sesekali dia melayangkan pandangan ke arah pintu, khawatir jika pria yang tengah dia bicarakan memasuki ruangan sang ayah.
“Papa rasa itu sesuatu yang wajar? Ada banyak sahabat dekat yang bekerja di perusahaan berbeda,” pikir Biantara yang tak menganggap laporan Winona tadi sebagai suatu masalah, “asalkan Haris tidak melakukan hal yang macam-macam selama bekerja denganku. Namun ….” Pria paruh baya tersebut tiba-tiba tak melanjutkan kalimatnya.
“Kenapa, Pa?” tanya Winona penasaran.
“Beberapa hari yang lalu, Haris sempat membujuk Papa untuk membatalkan perdamaian dengan Lievin. Dia bahkan setengah memaksa agar Papa memberi perintah untuk mengacaukan kembali dua perusahaan itu,” jawab Biantara.
“Lalu, apa yang Papa katakan?” tanya Winona lagi.
“Papa tidak memberikan jawaban yang aneh-aneh, ‘kan? Aku khawatir jika Haris merekam pembicaraan Papa dan memberikannya pada Bayu untuk menyudutkan kita.”
“Tidak. Papa hanya mengatakan bahwa kita akan tetap melanjutkan proses perdamaian. Papa juga mulai merasa lelah, Win. Apalagi kesehatan mamamu sudah semakin menurun. Ternyata membalas dendam itu menguras tenaga.” Biantara tersenyum getir.
“Bagaimana tanggapan Haris?” tanya Winona lagi semakin penasaran.
“Hm. Kalau begitu, izinkan aku bertanya beberapa hal padanya.” Tanpa menunggu tanggapan dari sang ayah, Winona segera bangkit dari duduknya. Dia melangkah dengan tergesa-gesa menuju ruangan Haris. Di sana, Winona melihat pria itu tengah serius memperhatikan layar komputer.
Haris yang melihat keberadaan Winona di ruangannya, langsung menoleh dan tersenyum hangat. “Bu Wini. Silakan masuk. Apakah ada masalah?” Dia mengarahkan putri tunggal sang bos untuk duduk di sofa. Setelah itu, dia duduk tak jauh dari Winona.
“Aku tidak mengganggu, ‘kan?” tanya Winona.
“Oh tidak. Saya sedang memeriksa email saja,” jawab Haris seraya tersenyum lebar.
Seketika Winona teringat pada perkataan Arsenio, yang mengatakan bahwa Haris telah mengirimkan email berisi data-data perusahaan sang ayah lewat alamat email tak dikenal. “Boleh aku melihatnya?” pancing wanita cantik itu.
“Ah maaf, Bu Wini. Itu email pribadi. Tidak ada hubungannya dengan perusahaan,” tolak Haris demikian halus.
“Oh.” Winona manggut-manggut. Diam-diam dia memperhatikan raut Haris yang mendadak pucat. “Jadi, bagaimana menurutmu dengan proses perdamaian antara papaku dengan om Lievin?” tanya wanita itu lagi.
“Kalau boleh jujur, rasanya saya sangat menyayangkan hal itu. Tinggal sedikit lagi, Anda sudah bisa menguasai dua perusahaan raksasa milik keluarga Rainier. Dapat dipastikan pundi-pundi kekayaan Anda akan meningkat drastis,” sesal Haris.
“Dengan risiko bahwa Arsen akan melaporkan aku dan papa ke pihak berwajib? Sementara dia memiliki bukti-bukti kuat dan sulit untuk disangkal,” sanggah Winona. “Hal itu sama saja dengan bunuh diri bagi kami,” imbuhnya.
__ADS_1
“Ya. Benar juga, Bu.” Haris terkekeh pelan. Dia semakin tampak salah tingkah. Berkali-kali pria itu menggaruk kepalanya dan bersikap aneh.
“Kamu kenapa, Ris? Apakah ada masalah?” Winona mengernyitkan kening melihat tingkah tak biasa dari bawahannya tersebut.
“Tidak, Bu. Saya hanya penasaran. Di manakah pak Arsenio menyimpan bukti-buktinya. Siapa tahu kita bisa mencuri bukti-bukti itu dan kembali melanjutkan rencana awal,” cetus Haris.
“Apa?” Winona terbelalak tak percaya mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Haris. “Tidak. tidak! Aku menolak ide gilamu. Hal itu hanya akan semakin menambah masalah kami. Papaku sudah merasa lelah,” tolaknya tegas.
“Kalau Bu Winona mengizinkan, saya bisa mencari tahu tentang bukti-bukti itu,” tawar Haris setengah membujuk.
“Tidak!” Winona menggelengkan kepala kuat-kuat. “Jangan lakukan apapun, Haris. Aku ingin proses ini tetap berlanjut, bahkan dipercepat. Lagi pula, Arsen sudah meminta maaf padaku.”
“Anda memaafkannya?” desis Haris dengan sorot tak suka.
“Ya, aku memaafkannya. Karena itulah, apapun yang terjadi aku tetap akan mengembalikan dua perusahaan itu padanya,” jawab Winona dengan yakin.
“Anda akan menyesalinya,” geram Haris. Sesaat kemudian, dia menyadari bahwa dirinya sedikit berlebihan. Haris pun berdehem pelan dan kembali bersikap biasa saja. “Ehm. Maafkan saya, Bu. Maksud saya, Anda bisa memikirkan ulang tentang semua ini. Tidak menutup kemungkinan bahwa saya bisa saja mencuri dan menghancurkan bukti-bukti dengan mudah, agar keluarga Rainier tidak bisa menuntut Anda secara hukum.”
“Tidak, Haris! Berapa kali kukatakan 'tidak'. Kenapa kamu ngotot sekali tentang masalah ini?” Rasa curiga Winona semakin bertambah.
“Bukan begitu, Bu. Maksud saya ...”
“Aku jadi berpikiran untuk lembur dan menyelesaikan semuanya sebelum minggu ini berakhir. Kalau kamu keberatan, kamu boleh berhenti dari tempat ini dan mencari pekerjaan di tempat lain,” tegas Winona memotong perkataan Haris begitu saja.
“Anda mengancam saya?” geram Haris dengan satu telunjuk mengarah pada Winona.
“Aku tidak mengancam. Aku hanya memberikan penawaran,” sahut Winona dengan tenang.
Sementara Haris memicingkan mata, menatap lekat sosok cantik Winona. Tangan yang awalnya terkepal, perlahan melonggar. Pria itu tampak berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan emosi dan menguasai diri. “Saya sudah merasa sangat nyaman di lingkungan perusahaan ini, Bu. Baiklah. Saya akan mematuhi semua yang diperintahkan pada saya, karena Anda adalah bosnya.”
“Bagus.” Winona tersenyum puas. Dia lalu bangkit dari kursi dan kembali ke ruangan sang ayah. Dalam perjalanannya melintasi lorong yang menghubungkan ruangan Haris dengan ruangan Biantara, dia menyempatkan diri untuk meraih ponsel dan mengirimkan pesan pada Dwiki.
Sepertinya kecurigaanmu benar. Bolehkah aku meminta tolong padamu untuk mengawasi Haris agar tidak berbuat macam-macam padaku dan papa? Aku tidak ingin ada apapun yang menghalangi usaha kami untuk memperbaiki kondisi perusahaan om Lievin.
Demikian bunyi pesan yang Winona kirim.
Tak berselang lama, pesannya segera berbalas.
Siap, non Wini. Serahkan semuanya padaku. Terima kasih karena ternyata kamu masih menyimpan nomorku.
__ADS_1
Dwiki tersenyum puas.