Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Obrolan Petang


__ADS_3

Lift bergerak turun dan berhenti di lantai lobi. Sambil membawa dua ransel serta satu tas jinjing besar, Arsenio dan Binar berjalan keluar dari sana, lalu menitipkan kunci apartemen pada seorang pengelola gedung.


Sebelumnya, Arsenio sudah mencari penginapan sederhana yang sesuai melalui aplikasi online. Kebetulan, penginapan tersebut letaknya tak terlalu jauh dari kedutaan Jerman di Jakarta. Hal itu akan memudahkan Arsenio untuk mendampingi Binar dalam mengurus visanya.


Setelah beberapa saat, pasangan pengantin baru itu berdiri di depan area gedung apartemen. Sebuah taksi yang sudah dipesan oleh Arsenio, berhenti di depan mereka. Tanpa menunggu lama, pria itu segera membantu sang istri untuk duduk di jok belakang, lalu memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi dengan dibantu oleh sopir.


Tak sampai satu jam, mobil yang mereka tumpangi telah tiba di depan penginapan. Sebuah bangunan dua lantai yang terlihat asri dan bersih, menjadi pilihan Arsenio. Setelah membayar kepada sopir dan menurunkan barang-barang mereka, dia bermaksud untuk meraih tangan Binar dan mengajaknya masuk. Namun, wanita yang masih berusia belia itu malah mematung seraya memperhatikan bangunan di hadapannya.


“Kenapa, Sayang? Apakah tempat ini kurang cocok untukmu?” tanya Arsenio lembut.


Masih dengan kepala yang sedikit mendongak, wanita muda itu menggeleng. “Tempat ini terlalu bagus, Rain. Pasti harga sewanya mahal,” jawab Binar dengan raut wajah yang terlihat khawatir.


“Tenang saja, Sayang. Saldoku masih cukup di rekening. Hasil penjualan mobil kemarin, ditambah sisa tabungan yang telah dipotong untuk membayar Dwiki, masih cukup untuk dua tiket pesawat ke jerman dan biaya hidup kita selama sebulan di sana. Aku hanya ingin membuatmu merasa nyaman,” terang Arsenio. Akan tetapi, Binar masih saja terdiam, walaupun sudah mendengarkan penjelasan darinya.


“Kabarnya, Rian juga akan segera menransfer sisa hasil penjualan mobilku. Kemungkinan besok atau lusa,” imbuh Arsenio.


“Rain,” desah Binar sambil mengalihkan perhatiannya pada paras rupawan sang suami. “Kamu pasti lelah hidup seperti ini,” ujarnya seraya membelai lembut pipi Arsenio. “Biasanya kamu hidup mewah dan serba ada, tapi sekarang ....”


“Baru juga berapa hari, Sayang. Lagi pula, aku tidak merasa berat. Aku malah senang karena bisa mendapatkan pengalaman yang tidak pernah kudapatkan seumur hidup,” ucap Arsenio seraya tersenyum lebar, “dan yang terpenting, aku mendapatkan kamu.” Pria blasteran Belanda itu menjatuhkan dua tas ranselnya begitu saja ke atas jalanan yang mereka pijak, tepat di sebelah kiri dan kanannya. Dia lalu merengkuh tubuh ramping Binar. Sedikit lagi, Arsenio akan mencium bibir istrinya. Namun, suara seseorang membuat dia menghentikan adegan favoritnya tersebut.


“Ehm. Ma’af, Bos.”


Arsenio menoleh ke arah suara yang terdengar tak asing lagi di telinganya. Dia terbelalak saat melihat Dwiki sudah berdiri di teras penginapan. “Ki? Bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya Arsenio setengah tak percaya.

__ADS_1


“Ini penginapan milik tante saya, Bos. Sementara saya yang membantunya di sini, sampai saya mendapatkan pekerjaan tetap,” jelas mantan anak buah kepercayaan Arsenio tersebut.


“Kebetulan sekali, Ki!” Arsenio tersenyum lebar sambil berjalan menghampiri Dwiki, kemudian menjabat tangan pria lajang tadi. “Aku akan menginap di sini untuk beberapa hari sampai visa Binar siap," terangnya.


“Bos." Dwiki menyebut Arsenio dengan sebutan yang sama, meskipun kini dirinya tak lagi menjadi anak buah kepercayaan pria itu. Dwiki bahkan menatap Arsenio dengan sorot mata penuh arti. Setelah itu, dia juga menatap ke arah Binar untuk beberapa saat. “Aku sudah mendengar semuanya dari kenalanku. Tentang Bos yang ....” Pria itu seakan ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


“Ya, begitulah hidup,” sela Arsenio masih terlihat tenang. “Kadang alurnya berjalan tanpa dapat kita duga,” kelakar si pemilik rambut cokelat itu dengan santai, sambil menarik tangan Binar agar mendekat kepadanya.


“Apalagi di sosial media, sekarang tengah ramai sekali berita tentang Anda,” lanjut Dwiki.


“Tidak apa-apa. Lagi pula, semua akun media sosialku sudah dinonaktifkan. Jadi, aku tidak perlu mendengar hal-hal yang tak berguna semacam itu. Semuanya hanya akan menambah beban pikiran," sahut Arsenio. “Itu pula yang mendasariku untuk cepat-cepat pergi dari negara ini. Bagiku yang sudah terbiasa hidup dalam dunia seperti ini, mungkin tak akan terlalu jadi pikiran. Namun, tidak bagi Binar. Istriku belum terbiasa. Jadi, bukannya menjadi pengecut atau semacamnya, tapi aku hanya ingin tetap menjaga kenyamanan orang yang kucintai."


“Jangan khawatir, Bos. Seperti kata pepatah, 'badai pasti berlalu'. Semua akan indah pada waktunya,” sahut Dwiki sembari terkekeh. “Ah, sudahlah. Silakan masuk. Anda memesan kamar berapa? Biar kuantar." Pria itu masih bersikap sama. Loyalitasnya yang besar terhadap Arsenio dulu, memang patut diacungi jempol.


Tanpa diminta, Dwiki segera meraih salah satu ransel Arsenio, lalu membawanya di punggung. Pria itu tak terlihat sedang membawa beban berat, seakan yang sedang dia bawa itu hanyalah sekantong kapas. Pria itu memang memiliki kekuatan fisik dan kemampuan bela diri yang seimbang dengan Arsenio.


“Oh, itu berada di lantai dua. Mari, Bos,” ajak Dwiki mengarahkan mereka ke resepsionis untuk menyelesaikan administrasi dan mengambil kunci. Setelah itu, mereka lalu menaiki tangga menuju ke lantai dua.


Ketiganya kini telah tiba di depan ruangan dengan angka 104, yang tertempel di bagian sebelah atas pintu. Dwiki kemudian memutar kunci dan membukanya lebar-lebar.


“Silakan." Pria itu mengulurkan tangan lurus ke arah dalam ruangan.


“Terima kasih,” balas Arsenio. Dia mempersilakan kepada Binar untuk masuk terlebih dulu.

__ADS_1


Binar sendiri rupanya cukup tertarik dengan ruangan yang tidak terlalu luas, tapi penataannya cukup bagus dan artistik. Suasana di dalam ruangan tadi membuat setiap orang betah berlama-lama untuk berada di dalamnya. Binar kemudian berjalan ke arah saklar dan menyalakan lampu, berhubung waktu sudah memasuki petang. Wanita itu mengempaskan napas pelan seraya menoleh kepada Arsenio. Dia pun tersenyum lembut.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Arsenio.


"Aku harap kita bisa tidur nyenyak selama berada di sini," candanya.


"Oh, tenang saja, Bu Bos. Kebetulan setiap ruangan di penginapan ini sudah dilengkapi dengan peredam suara, jadi bisa dipastikan tidak akan ada suara yang masuk atau terdengar keluar. Anda berdua bisa leluasa untuk ...."


"Ki ...." Arsenio mendehem pelan. "Istriku pemalu ... jika di hadapan orang lain," kelakar pria berdarah Belanda tersebut sembari tertawa geli, terlebih karena saat itu Binar langsung menanggapi dengan sebuah cubitan di pinggang.


Melihat bahasa tubuh seperti itu, Dwiki menjadi tak nyaman sendiri. "Baiklah. Saya tidak ingin membuat bu bos untuk berlama-lama menjadi pemalu. Sebaiknya saya permisi dulu," ujar lajang itu sambil meletakkan barang-barang Arsenio di dekat tempat tidur. "Tidak usah memberi tips, Bos. Ini bukan hotel berbintang," candanya disertai tawa.


"Setidaknya, biarkan aku memelukmu," balas Arsenio seraya melirik Binar. "Ah, tidak jadi. Aku takut kamu cemburu," kelakarnya lagi, membuat Binar kembali mencubit pinggangnya.


Sepeninggal Dwiki, Arsenio pun segera menutup pintu kamar itu rapat-rapat. Untuk beberapa saat, dia memperhatikan Binar yang sedang membuka tas jinjing. Kelihatannya dia sedang mencari sesuatu. "Apa yang kamu cari?" tanyanya sambil berdiri di sebelah sang istri.


"Baju ganti. Aku mau mandi dulu," sahut Binar tanpa menoleh.


Sementara Arsenio hanya menggumam pelan. Namun, perhatiannya masih tertuju sepenuhnya kepada wanita cantik yang kini telah dia miliki seutuhnya. "Sayang." Seperti biasa, Arsenio tak bisa tahan untuk tidak bersentuhan dengan Binar. Dia memeluk wanita muda itu dari belakang, sembari menciumi pipi serta daun telinganya.


"Rain, aku ...." Binar berusaha menghindar. "Aku belum mandi, badanku lengket dan bau."


"Aku tetap mencintaimu. Jangan khawatir," balas Arsenio. "Aku ingin bicara sesuatu," ucapnya lagi.

__ADS_1


"Tentang apa?" tanya Binar menghentikan aktivitasnya.


"Tentang anak," jawab Arsenio serius. "Aku ingin kita menunda dulu kehamilanmu."


__ADS_2