Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Ciuman Kedua


__ADS_3

Arsenio mengempaskan napas berat setelah mendengar ucapan Binar. Dia lalu berpindah menjadi duduk tepat di sebelah gadis cantik itu. Sedangkan Binar hanya tertunduk sambil sesekali terisak. Sikap yang ditunjukkan oleh gadis di sebelahnya tersebut dapat Arsenio pahami dengan baik.


Di satu sisi, Arsenio tak suka saat melihat Binar menangis. Akan tetapi, di sisi lain dia patut untuk berbangga hati. Binar ternyata masih memiliki perasaan yang sama terhadapnya. "Binar." Berat dan dalam suara Arsenio terdengar di telinga gadis itu.


Binar yang tertunduk pun perlahan mengangkat wajahnya. Dia memberanikan diri menatap pria tampan yang juga tengah memandang lekat, dengan sorot mata yang teramat lembut. "Jangan menangis," ucap Arsenio seraya mengusap lembut pipi Binar yang basah. Dia juga menyeka air mata yang masih menggenang dan belum sempat menetes. "Apa aku yang telah membuatmu menangis?" Suara pria tampan itu terdengar semakin menenangkan di hati Binar.


"Kamu akan segera menikah?" tanya Binar parau.


"Cegahlah aku, Binar," pinta Arsenio. Dia meluruskan sebelah tangannya ke belakang pundak Binar, sementara punggung tangan yang lain membelai pipi gadis muda yang sudah mencuri dan mengikat jiwanya dengan erat. Kebersamaan singkat di antara mereka, telah berhasil memenjarakan Arsenio sehingga dirinya tak mampu untuk berlari ke lain hati.


"Apa yang harus kulakukan? Aku tak ingin menempatkan diriku dalam masalah," ucap Binar ragu.


"Masalah akan selalu ada, Sayang. Justru karena hal itulah maka hidup yang kita jalani akan terasa lebih bermakna. Sebuah katana bisa menjadi kuat dan bagus, karena tercipta dari tempaan keras serta proses yang tidak mudah," balas Arsenio tanpa menyingkirkan tangannya dari pipi Binar. "Sejujurnya, aku merupakan seseorang yang mudah bosan. Karena itulah diriku selalu mencari masalah agar semuanya terasa jauh lebih menyenangkan," ucap pria itu lagi dengan enteng.


"Apakah aku termasuk ke dalamnya?" tanya Binar polos.


"Ya, tentu saja. Kamu adalah sebuah masalah bagiku. Kamu tahu kenapa?" Arsenio balik bertanya. Sedangkan Binar hanya menggeleng pelan. "Karena baru kali ini aku tidak bisa tidur nyenyak akibat terlalu memikirkan seorang gadis," jelas Arsenio dengan nada penuh rayuan. Kata-kata yang seketika membuat Binar memalingkan wajahnya. Dia terlalu muda serta polos untuk menanggapi godaan mesra dari seorang cassanova seperti Arsenio.


"Kenapa kamu sangat berbeda? Rain begitu lembut dan juga manis," pikir Binar sambil menggumam pelan. Namun, Arsenio masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Lalu, apa bedanya dengan Arsenio?" tanya pria itu tepat di dekat telinga Binar, sehingga gadis tersebut langsung menoleh.


"Arsenio?" Binar berpikir beberapa saat. Kedua bola matanya bergerak dengan tak beraturan. "Kalian seperti dua orang yang sangat berlainan. Arsenio ... Arsenio ... apakah karaktermu yang asli memang seperti itu? Jika memang iya, apa itu artinya kamu ...." Binar menatap ragu kepada pria yang tersenyum kalem padanya.


"Apa? Kamu bisa menebak hal itu?" tanya Arsenio lagi seakan tengah bermain teka-teki dengan Binar. Namun, Binar tak menjawab. Dia tampak ragu, terlebih ketika Arsenio menyentuh dagu dan mengangkatnya perlahan. "Ya. Ingatanku sudah kembali sepenuhnya."


"Sejak kapan?" tanya Binar lagi dengan begitu polos.


"Sejak beberapa waktu yang lalu, sebelum acara pertunanganku dengan Winona dilangsungkan. Namun, aku sengaja merahasiakan kebenaran ini dari semuanya, bahkan dari kedua orang tuaku," jelas pria tampan bermata cokelat terang itu.


"Kenapa harus dirahasiakan?" Begitu banyak pertanyaan yang membuat Binar merasa penasaran.


"Jawabannya, karena aku tidak yakin bahwa apa yang menimpa diriku di Bali adalah murni sebuah kecelakaan. Aku yakin ada seseorang yang telah merencanakan semua itu dengan sangat matang. Instingku mengatakan bahwa pelakunya bukan orang lain, tapi mereka yang berada di dekatku," jelas Arsenio membuat Binar membetulkan posisi duduknya. Gadis cantik berambut hitam itu menunjukkan raut yang tak mengerti.

__ADS_1


"Jika memang begitu, lalu mengapa ada orang yang ingin menyingkirkanmu?"


"Setiap orang memiliki alasan sendiri untuk tidak menyukai orang lain di sekitarnya. Aku tidak punya kuasa untuk bisa mencegah hal seperti itu. Aku juga menyadari dengan sepenuhnya, bahwa ada banyak orang yang memang tidak menghendaki seorang Arsenio agar tetap hidup."


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Binar merasa tak enak hati setelah mendengar penjelasan barusan.


"Karena ada banyak sekali kesalahan yang telah kulakukan. Aku dikenal sebagai seseorang yang kerap bersikap semaunya sendiri."


Binar menatap Arsenio dengan semakin intens. Dia mencoba mendalami seperti apa karakter sebenarnya dari pria tampan berambut cokelat tersebut. Sejenak, pikirannya mulai bercabang pada dua sisi yang saling bertolak belakang. "Aku yakin tidak seperti itu," sanggah Binar pelan.


"Maksudmu?" Arsenio tak mengerti.


"Kamu memiliki orang tua yang baik, hangat, dan terlihat sangat harmonis. Sedikit banyak, karakter itu pasti ada dalam dirimu. Namun, entah karena tak disadari keberadaannya atau memang sengaja diabaikan, kamu yang lebih tahu," ujar Binar lembut dan teramat lirih.


Apa yang Binar ucapkan barusan telah membuat Arsenio terdiam. Pikirannya bekerja dan terus mencerna setiap kata yang terucap dari bibir manis gadis belia tersebut. "Begitukah menurutmu?" tanyanya meyakinkan.


"Itu hanya pendapatku," jawab Binar.


"Tolong jangan merayuku," tolak Binar dengan sikap yang terlihat manja.


Arsenio tertawa renyah tanpa mengalihkan pandangan. "Akan selalu ada rayuan selama kamu berada di dekatku," ucapnya. "Kumohon, terimalah tawaran pekerjaan itu. Kamu pasti akan menyukainya. Kamu gadis yang baik dan juga sangat lembut, sementara mamaku mengurusi banyak kegiatan sosial. Aku rasa itu akan jadi pekerjaan yang menyenangkan untukmu."


"Kenapa? Kenapa harus aku?" Binar masih saja mempertanyakan keputusan Arsenio yang memilihnya. "Aku sama sekali tidak memiliki pengalaman untuk menjadi asisten pribadi seorang wanita kaya seperti mamamu."


"Pengalaman didapat setelah kita menjalaninya. Ayolah. Mamaku orang yang sangat baik dan juga menyenangkan. Namun, dia kerap pulang-pergi ke Belanda. Jadi, mama butuh seseorang untuk menghandle semua urusannya di sini," bujuk Arsenio lagi. Pria itu mengempaskan napas pelan. "Astaga, belum pernah aku membujuk seorang gadis seperti ini," keluhnya.


"Baiklah. Aku akan memikirkannya. Sekarang pulanglah. Aku sangat lelah."


Arsenio kemudian melihat arlojinya yang sudah menunjukkan lewat tengah malam. Namun, dia tampak enggan untuk menuruti permintaan Binar. Jika diizinkan, dirinya mungkin akan dengan senang hati untuk menginap di sana. "Aku tidak akan pulang sebelum kamu setuju dengan tawaran pekerjaan tadi. Ayolah katakan 'iya'. Setelah itu baru akan pulang," bujuk Arsenio lagi setengah memaksa. Sebuah sikap yang jarang bahkan hampir tak pernah dia lakukan terhadap gadis manapun.


Binar memaksakan dirinya untuk beranjak dari atas kursi. Dia lalu menarik tangan Arsenio agar ikut berdiri. Niat gadis itu adalah hendak mengusir si pria yang terus saja mengganggunya. "Sudah kukatakan bahwa aku akan memikirkannya dulu, Tuan Pemaksa," ujar Binar seraya menuntun Arsenio yang hanya tertawa dan bersikap pasrah atas apa yang Binar lakukan padanya. "Sekarang pulanglah. Kamu memang pengganggu dan sangat meresahkan." Binar baru melepaskan tangannya ketika sudah berdiri di dekat pintu tadi. Gadis itu bermaksud untuk memutar pegangannya, sebelum Arsenio lebih dulu mencegah.


Erat tangan pria itu memegangi pergelangan Binar. Dia mendorong pelan tubuh ramping si gadis hingga bersandar pada pintu. Beberapa saat dipandanginya paras cantik seseorang yang telah sangat berjasa tersebut. "Kenapa Chand menyebutmu sebagai kekasihnya?" tanya pria bermata cokelat terang itu. Dia mulai mengungkapkan keresahan hatinya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, tapi kak Chand memang senang bercanda," sahut Binar yang lagi-lagi tak kuasa melawan tatapan Arsenio.


"Tidak," sanggah Arsenio seraya menggeleng pelan. "Aku sangat mengenalnya. Chand adalah pria yang pendiam dan juga sangat tenang. Setahuku dia juga selalu bersikap serius dan jarang sekali bercanda."


"Aku tidak tahu itu. Namun, selama mengenalnya ... dia sering mengajakku untuk bersenda gurau," bantah Binar.


"Oh begitu rupanya," gumam Arsenio yang terlihat berpikir untuk beberapa saat. "Lalu, apakah aku harus menganggap pengakuan tadi sebagai candaan atau sesuatu yang serius?" tanyanya kemudian. Dia berharap agar Binar mengungkapkan sesuatu yang bisa lebih meyakinkan perasaannya.


"Aku tidak memiliki hubungan istimewa apapun dengan kak Chand. Dia sangat baik, dan aku berutang budi padanya," sahut Binar mengambil jawaban yang aman.


"Lalu kenapa kamu tidak menolak saat dia menciummu malam itu?" Arsenio kembali mengungkit kejadian pada malam pertemuan pertama mereka, setelah sekian waktu berpisah.


"Ah tidak. Jangan membahas hal itu karena aku sangat malu," tolak Binar kembali memperlihatkan ekspresi wajahnya yang tampak sangat menggemaskan. "Aku ... aku sama sekali tidak menyangka bahwa kak Chand akan melakukan hal itu. Dia juga sudah meminta maaf padaku," ujarnya lagi tanpa menoleh kepada Arsenio.


"Aku harap itu yang pertama dan terakhir kalinya dia melakukan hal demikian, karena ...." Arsenio menjeda kalimatnya.


"Karena apa?" Binar yang sejak tadi membuang wajahnya untuk menghindari agar tidak bersitatap dengan Arsenio, kembali memandang pria tampan tersebut.


"Karena hanya aku yang boleh melakukannya padamu," jawab Arsenio dengan senyuman nakal, yang langsung berbalas sebuah cubitan di pinggangnya. Namun, pria dua puluh tujuh tahun tersebut hanya tertawa.


Sesaat kemudian, tawa itu berhenti saat Arsenio merekatkan keningnya dengan kening Binar. Helaan napas mereka berdua pun saling berbaur menjadi satu, dan berakhir pada sebuah pertautan yang menjadi obat dari segala rasa rindu. Terulang kembali momen manis seperti di dekat air terjun dulu. Namun, kali ini Binar lebih tahu apa yang harus dilakukannya.


Sementara itu, tangan Arsenio mere•mas pelan rambut panjang yang menutupi tengkuk kepala Binar. Gadis cantik tersebut mendongak dengan kedua kaki yang berjinjit. Balasan manis darinya membuat Arsenio semakin lupa akan status yang telah menjadi tunangan wanita lain.


.


.


.


Lagi ngapain ya mereka? Sambil mencari tahu, intip sekalian karya keren yg satu ini 😍


__ADS_1


__ADS_2