
Arsenio menerima ponsel yang disodorkan oleh Dwiki. Dia memperhatikan layarnya yang penuh dengan wajah Winona. Wanita itu tengah mengadakan siaran langsung di akun pribadi sosial media dan telah ditonton oleh ribuan orang.
“Dengan ini saya sampaikan bahwa pertunangan saya dengan Arsenio telah dibatalkan," ucap Winona dalam tayangan yang sedang Arsenio saksikan.
“Saya menemukan adanya penyimpangan dalam perilakunya yang dapat membahayakan hidup saya," ucap wanita cantik itu lagi.
“Arsenio kerap berlaku kasar dan banyak melakukan tindakan-tindakan tak terpuji lainnya yang selalu dia lakukan terhadap saya. Dia sudah merugikan diri saya secara moral maupun finansial. Arsenio juga telah membawa perusahaan menuju pada ambang kehancuran." Winona terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.
“Kami akan melakukan perundingan lebih lanjut untuk masalah ini. Namun, satu hal yang pasti. Saya telah membatalkan rencana pernikahan kami.”
Winona menutup siaran langsungnya dengan menangis sesenggukan. Arsenio juga sempat membaca banyaknya komentar yang menyudutkan, bahkan mencaci maki dirinya. Akan tetapi, pria itu malah mengembuskan napas lega, karena Winona sama sekali tak menyebutkan nama Binar.
“Setidaknya dia sudah membantu memecahkan satu masalahku,” ujar Arsenio terkekeh seraya menyerahkan ponsel tadi kembali pada Dwiki.
“Jadi, bagaimana selanjutnya, Bos?” tanya anak buah kepercayaan Arsenio itu.
“Kita tunggu saja perkembangannya. Tetaplah awasi Damar. Dia saksi utama dan paling berharga,” jawab Arsenio masih terlihat santai.
“Lalu, apakah anda akan menyikapi fitnah dari nona Winona tadi, Bos?” tanya Dwiki lagi.
“Aku tidak peduli akan hal itu. Sekarang, keluarlah dulu. Aku mau menyelesaikan pekerjaanku hari ini.” Pria rupawan itu mengusir Dwiki secara halus, sebab dia memang masih memiliki sederet tugas terhadap perusahaan properti yang masih berada di bawah tanggung jawabnya. Ayah Winona sudah mempercayakan jabatan CEO kepada Arsenio.
Begitu Arsenio tenggelam pada pekerjaannya, pria itu seakan lupa waktu. Dia sampai tak menyadari jika jarum jam sudah bergerak melewati angka lima sore. Arsenio masih saja berkutat pada layar laptop dan ponsel. Dia juga lupa bahwa Chand sudah berada di apartemennya untuk menemani Binar. Duda tampan itu tengah mendengarkan semua hal yang terjadi pada Binar selama dua puluh empat jam terakhir.
“Jadi, Winona memergoki kalian berdua?” tanya Chand dengan mimik muka yang terlihat sangat khawatir.
__ADS_1
Binar menanggapinya dengan sebuah anggukan. Dia memalingkan wajah saat Chand memandangi dirinya dengan intens.
“Saranku adalah sebaiknya kamu menjauhlah dari keluarga Rainier. Kamu tak akan suka jika om Lievin dan tante Anggraini tahu akan hal ini. Mereka orang yang baik, tapi bisa juga berubah kejam saat ketenangannya terusik,” tutur pria yang kini menggeser duduknya sehingga menjadi lebih dekat kepada Binar.
Sementara Binar sendiri memilih untuk menjaga jarak dengan bergeser menjauh. Apa yang dia lakukan bersama Arsenio siang tadi pagi, membuatnya membatasi diri untuk dekat dengan Chand.
“Aku bisa membantumu pergi dari sini,” ucap pria blasteran India itu menawarkan bantuannya.
Akan tetapi, Binar segera menggeleng kuat-kuat. “Aku tidak mau, Kak. Aku sudah berjanji pada Rain untuk tidak meninggalkannya, apapun yang terjadi. Lagi pula, aku masih memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaanku pada tante Anggraini,” tolaknya dengan yakin.
“Mal, kamu tidak tahu siapa yang sedang kamu hadapi. Keluarga Rainier dan Biantara adalah salah satu taipan ekonomi di negara kita. Dengan uang, mereka bisa berbuat apa saja. Mereka juga bisa membeli dan membayar siapa pun yang mereka kehendaki,” terang Chand.
“Aku memercayakan semuanya pada Rain. Aku yakin dia bisa melindungiku, Kak,” sahut Binar lirih.
Untuk sejenak, Chand tertegun dengan pernyataan Binar. “Kamu percaya padanya?” tanya pria itu seraya menautkan alis. “Kamu tahu ‘kan masa lalu dia seperti apa?”
Tanpa sadar, wajah Binar merona ketika membayangkan itu semua. Dia menunduk dan tersipu malu. Rasanya terlalu indah untuk melewatkan setiap reka adegan percintaan di antara dirinya bersama pria berdarah Belanda itu.
Sedangkan Chand yang sejak tadi tak melepaskan tatapan dari Binar, sepertinya mulai memahami atas apa yang telah terjadi antara gadis itu dengan Arsenio. “Aku mengerti,” ucapnya kemudian. “Kamu telah memilih jalanmu bersama Arsen. Aku hanya berharap semoga pilihanmu memang tepat, Mal. Kuharap kamu bahagia dengan keputusan ini,” lanjutnya dengan suara yang bergetar.
“Kak.” Binar yang lebih banyak menghindari pandangan Chand, langsung menoleh dan memperhatikan wajah tampan itu dengan mata berkaca-kaca. “Aku ….”
“Jangan dilanjutkan. Aku sudah mengerti,” potong Chand, “tapi, aku akan tetap membantumu sebisaku. Demi kamu, Nirmala,” ucapnya tulus.
“Terima kasih banyak ya, Kak,” balas gadis itu. Entah apa yang bisa dia lakukan untuk membalas semua kebaikan Chand.
__ADS_1
“Akan tetapi, sepertinya ada satu masalah besar yaitu ….” Chand tampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya. “Wini sudah menabuh genderang perang yang dia tujukan kepada Arsenio. Dia telah membeberkan pada publik tentang keburukan kekasihmu itu. Aku hanya berharap .…” Kalimat Chand kembali menggantung begitu saja.
“Apa?” tanya Binar penasaran.
“Kuharap kamu juga siap dengan semua risiko yang akan kalian berdua hadapi untuk ke depannya,” jawab Chand. “Harus kuakui, nama Wini cukup dikenal di kalangan masyarakat ibukota sebagai publik figur. Ketika dia menyudutkan Arsenio, maka akan ada banyak orang yang mengikuti dan mendukung dirinya,” teran pria itu lagi.
“Arsenio akan dihantam dari berbagai sisi. Kalau memang kamu sudah memutuskan untuk berada di sampingnya, mau tidak mau kamu juga harus siap menghadapi semua cercaan dan hujatan yang dialamatkan kepadanya,” lanjut Chand lagi.
Mata indah Binar terbelalak mendengarkan penjelasan Chand. “Seberat itukah kehidupan yang harus Rain jalani?” pikirnya.
“Seberat itulah kehidupan yang kita semua lalui. Semua orang memiliki porsi deritanya sendiri-sendiri, Mal. Arsen, Wini, kamu, dan juga aku. Terkadang orang lain melihat kehidupan kami yang mewah dan bergelimang harta, sebagai sebuah anugerah dan keistimewaan tak ternilai. Akan tetapi, bagi kami tetap ada hal-hal yang harus dibayar untuk itu semua,” jelas Chand dengan mata menerawang. Dilihatnya langit ibukota dari dinding kaca apartemen Arsenio yang sudah menghitam.
“Aku sudah memasrahkan semuanya pada Rain,” tutur Binar lirih seraya menunduk dalam-dalam.
“Kamu melakukan itu atas dasar cinta, ‘kan?” Chand ikut memiringkan kepala agar dapat melihat wajah cantik Binar dengan jelas.
“Iya, kak. Itu pasti. Aku jatuh cinta pada Rain, um ... maksudku Arsenio dari semenjak pertama dia menginjakkan kaki pada lantai rumah kecilku di Bali,” tutur Binar dengan pipi yang bersemu merah.
“Syukurlah,” ujar Chand seraya tersenyum getir. Dia menepuk-nepuk lembut punggung tangan Binar. Namun, apa yang dia lakukan itu harus terhenti, ketika terdengar suara berdenting yang menandakan bahwa pintu lift sedang terbuka.
Chand dan Binar menoleh ke arah yang sama. keduanya mendapati Arsenio yang tengah melangkah gagah ke arah mereka. “Binar pasti sudah menceritakan semuanya kan, Chand?” tanya pria tampan itu tanpa basa-basi.
“Ya. Dia sudah menceritakan semuanya,” sahut Chand mengangguk, lalu berdiri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Arsenio yang masih dalam posisi berdiri.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Arsenio lagi. Sesekali, tatapannya tertuju kepada Binar yang kembali tersipu.
__ADS_1
“Nirmala mengaku siap untuk membantumu menghadapi semua yang terjadi,” jawab Chand dengan yakin.
Mendengar hal itu, tatapan Arsenio berubah sendu. Diperhatikannya paras cantik Binar yang juga tengah memandang ke arahnya. “Sayang.” Arsenio mendekat kepada gadis cantik itu. Tanpa rasa canggung sama sekali, dia merengkuh tubuh ramping sang kekasih. Pria tampan berdarah Belanda itu juga memeluknya dengan begitu erat. “Binar, mari kita menikah besok,” ajak Arsenio tanpa ragu lagi.