
“Kok, bengong? Ayo, katanya lapar,” Chand menjentikkan jarinya di depan wajah Binar yang masih terpaku.
"Eh, i-iya, tapi .…” Binar tergagap. “Dari mana Anda tahu namaku?” tanyanya ragu.
“Oh, itu. Kemarin aku dengar Rena memanggil kamu dengan nama itu. Nirmala. Nama yang bagus.” Chand tersenyum lembut. Sorot matanya yang teduh, menatap Binar dalam-dalam sampai gadis itu salah tingkah. “Baiklah, kita pergi sekarang,” ajaknya kemudian.
“Ke-kemana, Pak?” Binar sepertinya masih kebingungan dengan situasi yang dihadapinya.
“Ya, makan. Bagaimana kamu ini? Kasihan perut kamu sudah teriak-teriak dari tadi.” Chand tergelak sambil menggelengkan kepala.
“Oh iya, Pak.” Binar segera memalingkan muka agar Chand tak melihat wajahnya yang memerah. Gadis itu sibuk menata kembali kotak bekal dan memasukkannya ke dalam tas ransel, barang yang selalu dia bawa ke manapun. Binar lalu mengikuti langkah pria tiga puluh tahun itu menuju parkiran. Dirinya sedikit gugup ketika Chand membantu membukakan pintu mobil untuknya, sebelum dia duduk di balik kemudi. “Terima kasih, Pak,” ucapnya.
Chand tidak menjawab. Dia hanya tersenyum kecil, lalu sibuk memutar kemudi. “Kamu asli dari mana?” tanyanya ketika mobil sudah melaju pelan meninggalkan area gedung serba guna tadi.
“Saya selama ini berdomisili di Bali,” jawab Binar. Raut cerianya tiba-tiba berubah murung. Dia kembali teringat pada Wisnu dan Praya, dua adik kesayangan yang terpaksa harus terputus kontak dengannya sejak ponsel Binar jatuh dan hilang. Sebenarnya, bisa saja dia membeli ponsel baru dengan uang tabungan yang dibawa dari Bali. Namun, Binar merasa sayang untuk menghabiskannya. Apalagi masa depan masih belum jelas selama dia berada di perantauan.
“Terus? Kenapa bisa sampai sini?” tanya Chand lagi.
“Sa-saya …” Binar terdiam sejenak. Kali ini bayangan wajah Rain yang tampan kembali hadir dan menggoda benaknya. “Saya ingin merantau, mencari peruntungan yang jauh lebih baik,” jawab Binar pada akhirnya.
“Kenapa tidak di Bali saja? Bukannya di sana juga sudah maju dan banyak sekali lapangan pekerjaan?” tanya pria itu seraya mengernyitkan kening.
Binar terdiam sejenak dan berpikir. Sangat tidak mungkin jika dia harus menceritakan pengalaman pahitnya yang hendak diperkosa oleh Surya, pada pria yang baru saja dia kenal. “Saya hanya ingin mencari suasana baru, Pak,” balas Binar lirih.
“Putus cinta, ya?” tebak Chand setengah menggoda. “Biasanya kalau orang putus cinta, sukanya begitu. Tiba-tiba ingin pergi menjauh dari mantannya,” ucap Chand yang lagi-lagi terbahak. Akan tetapi, tawanya kali ini sungguh terasa getir, hingga akhirnya Chand memilih untuk diam. “Sebenarnya, aku juga begitu,” ucapnya beberapa saat kemudian dengan mata mengarah lurus ke jalan di depannya yang mulai padat. Lihai, tangan pria itu membelokkan kemudi ke arah kiri.
“Begitu bagaimana, Pak?” Binar menautkan alisnya tanda tak mengerti.
“Ya ... putus cinta,” jawab Chand seraya kembali terkekeh pelan.
“Dari pacarnya?” tanya Binar.
__ADS_1
“Bukan,” jawab Chand, “dari istri,” lanjut pria itu kemudian dengan tenang.
“Dari istri?” tanya Binar semakin tak mengerti.
“Iya. Pacar yang dinikahi itu namanya istri. Aku sangat menyayanginya, tapi dia ... dia tidak,” jelas Chand mengambil napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Kukira pernikahan bisa mengikat dia dan mempersatukan kami selamanya. Namun, apa yang kuharapkan tidak sesuai kenyataan,” ucap Chand kembali terkekeh seraya menggeleng pelan.
Sementara Binar tak tahu bagaimana harus menanggapi, sehingga dia lebih memilih untuk diam. Tak berselang lama, kendaraan yang Chand kendarai pun berhenti di halaman parkir sebuah rumah makan bernuansa pedesaan dengan suasana yang begitu asri.
“Ayo,” ajak Chand. Dia turun lebih dulu dan kembali membukakan pintu untuk Binar.
“Terima kasih, Pak,” balas Binar. Dia merasa sangat terkesan dengan perlakuan pria itu. Status sosial mereka yang jelas berbeda, tak membuat Chand bersikap angkuh dan seenaknya.
“Ini rumah makan favorit keluargaku. Terutama mama. Beliau senang sekali jika sudah diajak kemari,” tutur Chand sambil mengarahkan Binar ke dalam. Awalnya, gadis itu merasa ragu. Dia tak memiliki cukup uang untuk makan di tempat seperti itu, terlebih ketika mereka masuk dan melihat berbagai menu yang telah tersaji di sana.
Binar berdiri terpaku untuk beberapa saat. Dia memperhatikan suasana di dalam. Sebagian besar dinding rumah makan tadi terbuat dari anyaman bambu, begitu juga dengan berbagai ornamen penunjangnya. Nuansa klasik terasa dengan begitu kental. Bagaimanapun juga, Binar adalah gadis berdarah Jawa. Dia tentu merasa tak asing dengan tampilan seperti itu.
"Kenapa hanya berdiri?" tanya Chand yang merasa aneh dengan sikap gadis cantik tersebut. "Ayo, cepat pilih. Kamu mau makan apa?" suruhnya.
"Kenapa hanya itu?" tanya Chand yang lagi-lagi dibuat heran dengan sikap gadis muda di dekatnya.
"Sa-saya ..." Binar kebingungan harus menjawab apa. Namun, tak lama kemudian Chand mengambilkannya ayam bakar, cumi, dan juga beberapa menu lain hingga piring yang Binar pegang terisi penuh. Setelah itu, dia menyodorkan piring tadi pada seorang pelayan untuk diantar ke tempatnya nanti.
Mereka berdua berjalan keluar dari bangunan di depan. Keduanya melewati sebuah jalur yang telah dilapisi batuan alam, dengan rumput di sekitarnya yang tertata dengan apik. Di sepanjang jalur itu, pada kiri dan kanan terdapat gubuk kecil yang berjejer rapi. Semuanya terbuat dari bambu dan sudah diisi oleh pengunjung lain, sehingga Chand dan Binar harus mencari tempat yang kosong.
Selagi itu, pandangan Binar tak henti menyapu setiap sudut dari suasana rumah makan yang bernuansa pedesaan tersebut. Dia juga merasa tertarik dengan gentong yang terbuat dari tanah liat, dan terdapat di setiap gubuk. Gentong itu berguna sebagai tempat untuk mencuci tangan. Selain dari gentong-gentong tadi, di sana juga ada pancuran yang terbuat dari bambu dengan airnya yang tampak sangat jernih.
Pada akhirnya, Chand menemukan gubuk yang kosong. Dia pun segera memilih tempat itu. Walaupun berada paling ujung, tapi pemandangannya justru menjadi yang paling indah. Setelah mereka duduk di dalam gubuk, dua orang pelayan yang sejak tadi mengikuti sambil membawakan makanan pun segera menyajikannya di atas meja kayu. "Apa ada pesanan tambahan, Pak?" tanya salah seorang dari mereka.
Chand tak langsung menjawab. Dia menoleh kepada Binar sebagai isyarat. Namun, gadis itu membalasnya dengan sebuah gelengan pelan sambil tersenyum. "Tidak ada," jawab Chand pada pelayan yang tadi bertanya padanya. Kedua pelayan tadi pun pamit untuk mengambilkan minuman yang tadi sudah dipesan oleh Chand.
“Ya, sudah. Ayo dimakan,” suruh Chand saat melihat Binar yang tak segera menyendok makanannya. Gadis itu seakan ragu dengan tatapan yang sedikit gelisah.
__ADS_1
“Tenang saja. Semua ini aku yang bayar, karena aku yang mengajak kamu,” ujar Chand tersenyum penuh arti saat dirinya paham tentang apa yang Binar khawatirkan. "Aku pernah tinggal di Italia selama beberapa tahun. Kebiasaan di sana seperti itu. Siapa yang mengajak makan, maka dia yang harus membayar," tuturnya santai.
Binar langsung mendongak dengan mata membulat. “Benarkah? Baiklah kalau begitu.
Te-terima kasih, Pak,” ucapnya lega. Malu-malu, dia menyendok nasi dan makanan yang lain. Namun, ketika lidahnya mengecap cita rasa masakan yang lezat tadi, rasa malu dan sungkan dalam dirinya seketika menghilang. Binar menyantap makanan itu dengan lahap. Sementara Chand hanya tersenyum saat melihat sikap polos Binar. Makan sorenya kali ini menjadi begitu menyenangkan. Baginya, Binar seperti sebuah hiburan.
“Ya ampun, Nak Chand. Kapan datang?” sapa seseorang tiba-tiba ketika mereka berdua sudah hampir menyelesaikan makan. Binar menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya menghampiri, lalu memeluk Chand dengan akrab.
“Tante Prapti,” balas Chand. Dia mencium punggung tangan wanita itu beberapa saat setelah mengurai pelukannya.
“Tadi si Wati mengatakan kalau kamu datang. Langsung saja Tante buru-buru kemari,” tutur wanita itu.
“Prajna menikah besok lusa. Tante tentu sudah mendengar, ‘kan?” tanya Chand.
“Undangannya sudah sampai di Tante. Kamu ini, ya. Kalau saja adiknya tidak menikah, pasti tidak mau pulang ke Jogja. Kasihan mamamu sendirian terus,” celoteh wanita yang dipanggil tante oleh Chand.
“Saya sibuk sekali di Jakarta, Tante,” dalih Chand. “Lagi pula, berkali-kali saya memaksa mama untuk ikut ke sana, tapi beliau selalu saja menolak.”
“Ya, pasti menolak. Lha wong makam papamu ada di sini. Kalini tidak bisa jauh dari Gunadhya,” cerocos wanita itu. Dia baru berhenti berbicara setelah menangkap sosok Binar. “Eh, siapa ini?” tanyanya sambil memandang penuh arti kepada Chand.
“Pegawainya Rena, Tante,” jawab Chand seraya tersenyum.
“Tante,” sapa Binar mengangguk dan meraih tangan wanita itu. Dia bermaksud untuk mencium tangannya.
“Ya, ampun, sopan sekali. Siapa namamu, Nak?” tanya wanita itu dengan sorot mata haru.
“Nirmala,” sela Chand. “Nirmala, kenalkan. Dia tante Prapti, pemilik rumah makan ini,” ujarnya pada Binar.
Prapti memandang ke arah Chand dan Nirmala secara bergantian. “Jadi … dia ini?” tanyanya ragu.
“Hanya kenalan, Tante,” sahut Chand. Raut wajahnya terlihat tak nyaman saat itu.
__ADS_1