
"Hentikan, Rain ... um, maksudku, Arsenio. Aku ada janji dengan kak Chand hari ini untuk latihan. Sebentar lagi dia pasti akan datang," tolak Binar. Dia mencoba menghindar, tapi rasanya tak mampu.
"Aku meragukan itu," ucap Arsenio seraya menyeringai dan semakin mendekatkan dirinya pada Binar, sehingga membuat gadis itu semakin mundur. Binar memaksakan diri menjauh dari Arsenio, karena tak dapat dia tahan lagi debaran jantungnya yang semakin menggila.
"Chand jam delapan tadi sudah berada di rumahku. Papa memanggilnya untuk membicarakan sesuatu," terang Arsenio. Dilihatnya raut wajah Binar yang seolah tak percaya. "Telepon saja ke nomornya," saran Arsenio lagi seakan menantang gadis itu.
Tak ingin membuang waktu, Binar meraih ponselnya yang tergeletak di atas sofa dan mulai menghubungi duda rupawan itu. Cukup lama Binar menunggu sampai Chand menjawab panggilannya. "Halo." Lembut suara pria itu menyapa Binar.
"Kak Chand, kenapa belum menjemputku?" tanya Binar dengan suara yang dia buat-buat, sehingga terdengar manja. Terlihat jelas Arsenio tak menyukainya, sampai-sampai dia harus memalingkan muka.
"Maaf, Mal. Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu ke gedung hari ini. Kamu bisa memesan taksi dan berangkat sendiri, kan? Akan kukirimkan alamatnya sebentar lagi." Sebuah jawaban dari Chand yang seketika membuat Binar mende•sah pelan.
"Ya, sudah kalau begitu, kak. Aku naik taksi online saja, ya," tutup Binar terlihat kecewa dan juga gelisah. Itu artinya, dia tak memiliki alasan lagi agar dapat melarikan diri dari Arsenio.
"Aku bisa mengantarmu," ucap Arsenio menawarkan jasa untuk Binar. Sedari tadi, pria itu mengarahkan pandangan ke luar balkon yang terbuka. Namun, kini dirinya menoleh kepada Binar, lalu tersenyum manis. Senyuman sama yang telah berhasil memikat banyak wanita dan membuat mereka bertekuk lutut di hadapannya.
"Tidak usah. Aku bisa pergi sendiri," tolak Binar sembari mengetikkan jemarinya di layar ponsel.
"Agak riskan untuk bepergian seorang diri, bagi gadis yang baru menginjakkan kakinya di Jakarta. Tanpa bermaksud untuk menakut-nakuti, tetapi aku hanya mengingatkanmu saja. Beberapa hari yang lalu, aku mendengar berita yang mengabarkan bahwa telah terjadi perampokan yang disertai tindakan pelecehan terhadap seorang wanita yang menggunakan jasa taksi online," tutur Arsenio dengan enteng. Entah yang dia katakan benar atau tidak, karena setelah berkata demikian Arsenio tampak mengulum senyumnya.
Binar bergidik ngeri setelah mendengar hal itu, meski dia belum bisa memastikan kebenaran berita tersebut. Satu hal yang pasti, sekarang dia menjadi ragu untuk keluar sendiri. Dalam kebimbangan, Binar pun akhirnya mengangguk setuju. Dia menerima ajakan pria tampan yang langsung memamerkan senyum lebar terhadap dirinya.
Selama dalam perjalanan menuju gedung expo, Binar lebih banyak diam. Gugup, jemarinya memainkan ponsel yang berada di tangan. Niat hati ingin melirik kepada Arsenio. Meskipun ragu, tapi keinginan tersebut akhirnya dia tuntaskan. Binar memberanikan diri menoleh ke samping. Tak disangka, Arsenio juga tengah memandang ke arahnya. "Hai," goda Arsenio sambil terkekeh pelan.
Binar yang terkejut, segera membuang muka ke arah jendela. Entah semerah apa mukanya saat ini. Dia tak berani lagi mengubah posisi sampai mobil yang mereka tumpangi telah tiba di tempat tujuan. Binar buru-buru membuka pintu mobil lebar-lebar.
Akan tetapi, sebelum gadis itu sempat keluar dari dalam kendaraan, Arsenio lebih dulu mencekal lengan dan mencegahnya. "Nanti pulang jam berapa?" tanyanya seraya mendekatkan tubuh. "Bagaimana jika aku yang menjemputmu?" tawarnya.
"Tidak usah. Aku bisa naik taksi." Lagi, Binar menolak seraya berusaha melepaskan tangannya.
"Kamu lupa dengan ceritaku tadi, ya?" ujar Arsenio kembali menakut-nakuti.
__ADS_1
"Aku minta tolong kak Chand saja," sahut Binar masih tetap pada pendiriannya.
"Baiklah, jika itu maumu," ucap Arsenio kecewa. "Setidaknya, berikan aku nomor ponselmu. Please," pinta Arsenio memelas saat memohon kepada Binar.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia sudah sangat terlambat di acara latihan hari ini. Menolak permintaan Arsenio, sama saja dengan memakan waktunya lebih lama. Akhirnya, Binar menuruti permintaan pria tampan tersebut.
"Terima kasih, Binar." Tak terkira betapa bahagianya Arsenio setelah berhasil mendapatkan nomor kontak gadis yang selama ini dia cari. "Nomor yang masuk itu nomorku. Tolong simpan, ya," ujar Arsenio. "Sampai ketemu nanti," ucapnya kemudian. Dia paham jika Binar sedang terburu-buru. Pria itu terlihat sangat memesona dengan segala sikap dan tingkah lakunya.
"Terima kasih atas tumpangannya," balas Binar pelan setengah malu-malu, terutama setelah melihat Arsenio yang kembali tersenyum padanya.
"Jaga diri baik-baik. Semoga harimu menyenangkan," sahut Arsenio ketika gadis itu sudah benar-benar keluar dari mobilnya dan segera berjalan masuk saat kendaraan mewah berwarna putih tadi kembali melaju.
Namun, tak lama Arsenio melihat ke arah spion. Dari sana dia melihat Binar tertegun dan tampak memperhatikan kepergiannya.
Hal demikian Binar lakukan bahkan sampai mobil milik Arsenio menghilang dari pandangannya. Setelah itu, barulah dia benar-benar masuk.
"Aku tak akan membiarkan kamu pergi lagi, Binar. Bagaimanapun caranya, kamu harus tetap berada di dekatku," gumam Arsenio pelan. Dia dapat melihat dan merasakan dengan jelas, bahwa perasaan yang dulu sempat hadir di antara mereka ternyata masih ada dalam hati Binar. Arsenio dapat mengetahuinya dengan jelas dari bahasa tubuh yang diperlihatkan gadis itu.
"Dari mana saja kamu? Hampir dua jam kami menunggumu di sini!" tegur Lievin yang segera berdiri dan berkacak pinggang, ketika Arsenio berjalan santai ke arahnya.
Namun, pria itu sama sekali tak menanggapi sikap sang ayah. Dia malah merentangkan tangan dan memeluk Anggraini dengan erat sebelum menyalami Chand. "Ada sedikit urusan," jawab Arsenio pada akhirnya sembari melirik pada sahabatnya, lalu mengedipkan sebelah mata. "Bagaimana, Pa?" tanya Arsenio kemudian.
"Papa sudah memarahi Chand. Beruntung asistennya berhasil menghandle segala urusan pesta dengan lancar dan sempurna. Walaupun demikian, Papa tetap kecewa karena Chand menghilang di penghujung acara," tegas Lievin. Matanya tajam menatap Chand yang juga tengah memandang dengan sorot yang sulit diartikan pada Lievin.
"Saya bersedia mengganti rugi kelalaian itu, Om," balas Chand dengan yakin. "Om tinggal menyebutkan berapa nominalnya, maka akan segera saya siapkan cek," lanjut Chand dengan dingin.
"Bukan itu maksudku, Chand," sahut Lievin. Baik dia maupun istrinya tampak cukup terkejut melihat sikap Chand yang tak seramah biasanya.
"Kamu yang paling dekat dengan keluarga kami, bahkan sudah kami anggap seperti anak sendiri. Sedari awal kami memercayaimu untuk mengatur semuanya," sanggah Anggraini lembut.
"Saya berjanji, tidak akan terulang lagi untuk ke depannya. Maafkan ketidakprofesionalan sikap saya tadi malam," sahut Chand tulus disertai senyuman kalem.
__ADS_1
"Kami masih memintamu untuk menyusun acara pernikahan Arsen dan Wini nanti," timpal Lievin.
Lagi-lagi Arsenio dibuat gerah oleh sikap kedua orang tuanya, terutama sang ayah. "Haruskah berjalan secepat itu, Pa? Untuk apa kami buru-buru menikah?" protesnya.
"Untuk apa katamu?" Lievin menggelengkan kepala. Dia sama sekali tak bisa memahami sikap putra sulungnya itu. "Bulan depan proyek apartemen dan perumahan milikmu sudah selesai dan siap diresmikan. Sedangkan kau dan Wini adalah brand ambassadornya. Citra properti kita akan semakin positif jika saat itu kamu telah berpasangan sebagai suami istri yang sah dengan Winona," jelasnya lagi.
"Jangan lupa, bulan depan juga launching logo terbaru dari maskapai penerbangan milik papamu. Kamu juga harus tampil sebagai wakil," imbuh Anggraini.
"Astaga." Arsenio memijit pangkal hidungnya. Hidupnya tiba-tiba terasa demikian berat.
"Mama tidak mau berdebat. Selain hal itu sudah diputuskan dan disetujui oleh dua keluarga, Mama juga tidak ada waktu untuk berselisih denganmu," tegas Anggraini. "Aku pergi dulu! Orang-orang dari yayasan sudah menunggu."
"Mamamu semakin sibuk dengan kegiatan yang dia buat sendiri. Yayasan, panti asuhan, semuanya. Lihatlah wajahnya yang terlihat lelah," ujar Lievin setengah berbisik.
"Apa Mama tidak ingin menyewa asisten?" cetus Arsenio tiba-tiba. "Mama akan jauh lebih terbantu, dan yang terutama Mama juga tidak perlu berlelah-lelah," ucapnya lagi seraya menaikan sebelah alis.
"Ah, tidak. Mama malas kalau harus mencari dan mewawancarai banyak orang. Lebih baik segala sesuatunya dikerjakan sendiri," tolak Anggraini yang sibuk memasukkan ponsel dan dompet ke dalam tas tangan berukuran sedang.
"Mama tidak perlu mencari. Aku tahu siapa yang cocok untuk posisi itu," sahut Arsenio.
"Oh, ya? Siapa?" tanya Anggraini.
"Nirmala. Teman dekat Chand," jawab Arsenio mantap.
.
.
.
Hai, hai. Sambil menunggu, yuk mampir di karya keren temen otor yg satu ini 😍
__ADS_1