
Pagi mulai menjelang. Meskipun berat, Binar memaksakan diri untuk membuka mata. Kegiatan panas sudah dia lalui bersama Arsenio selama hampir semalam suntuk, sehingga dia hanya sempat tidur tak sampai dua jam lamanya.
Binar kemudian menoleh ke samping, di mana sang suami masih terlelap sambil memeluk dirinya. Arsenio menggunakan tubuh Binar sebagai guling. Pelan-pelan, wanita muda itu menyingkirkan tangan sang suami dari perutnya, lalu turun dari ranjang. Dengan segera, dia membersihkan diri di kamar mandi, dan berganti pakaian. Seperti yang telah dirinya janjikan pada Wisnu dan Praya, Binar akan selalu menyiapkan perlengkapan sekolah kedua adiknya selama berada di Bali.
Setelah rapi, Binar mengirim pesan pada Arsenio agar segera menyusulnya ke rumah Widya, sesaat setelah dia meninggalkan penginapan. Jarak penginapan dengan rumah ibu tirinya tersebut tidak terlalu jauh. Cukup hanya dengan berjalan kaki selama lima belas menit, Binar sudah tiba di depan teras.
Dalam sekali ketukan, pintu itu telah terbuka. Namun, bukan wajah Wisnu ataupun Praya yang muncul seperti hari-hari kemarin, melainkan Widya. Wanita paruh baya itu setengah terkejut saat mendapati Binar berdiri di hadapannya.
"Apa anak-anak belum bangun?" tanya Binar dengan datar.
"Belum. Aku harus berangkat pagi. Aku hendak membantu Dayu Biang memasak. Akan ada acara besar yang diadakan di tempatnya," jawab Widya seraya menunduk. Dia seakan tak ingin melihat wajah Binar. Wanita itu terus menghindar dari anak tirinya tersebut.
"Kalau begitu, tinggalkan saja kunci rumahnya di sini," ujar Binar ketika wanita itu tengah memakai sepatunya di teras.
"Memang akan kutinggalkan di situ," balas Widya, kemudian langsung pergi tanpa menoleh lagi.
Istri Arsenio tersebut mengempaskan napas pelan seraya menggeleng. Tak ingin terlalu memikirkan sikap ibu tirinya, Binar bergegas masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan sarapan bagi Wisnu dan Praya. Dia langsung menuju dapur dan membuka lemari makanan. Ibu tirinya itu tak memiliki kulkas, sehingga untuk menyimpan sayuran dan bahan makanan lainnya, dia harus memasukkan ke dalam lemari kayu.
Beruntung, sepertinya Widya kemarin telah berbelanja. Binar melihat lemari tersebut penuh dengan sayur-mayur dan bumbu-bumbu pelengkap. Dengan cekatan, gadis itu mengolah bahan makanan yang ada di sana. Binar sengaja memasak banyak agar cukup untuk Arsenio juga.
Tak sampai satu jam, masakan sudah matang, bersamaan dengan Wisnu dan Praya yang keluar dari kamar. Wisnu segera menghampiri Binar, sedangkan Praya berbelok menuju kamar mandi.
"Mbok, aku lapar," ucap Wisnu sambil menguap panjang.
"Mandi dulu," suruh Binar.
"Praya duluan yang mandi, Mbok. Hari ini giliran dia," jawab Wisnu sambil menarik satu kursi dan langsung duduk terpekur di meja makan. Bocah itu masih setengah mengantuk.
"Ya, sudah. Makan saja, tapi setidaknya kamu kumur-kumur dulu," ucap Binar pada akhirnya sembari menahan tawa. Dia lalu mengambilkan piring dan menyodorkannya kepada Wisnu. Itulah kebiasaan aneh kedua adiknya yang akan selalu dia ingat.
__ADS_1
Binar juga hendak mengambilkan lauk ketika terdengar ketukan pelan di pintu depan. "Itu pasti Rain." Dia bergegas membuka pintu, lalu tersenyum lebar ketika tebakannya benar.
"Baru hari pertama menjadi istri, sudah berani meninggalkanku sendirian di penginapan," protes Arsenio gemas.
"Kamu tidur nyenyak sekali, Rain. Aku tidak tega membangunkan." Binar tertawa geli, lalu maju dan mengecup bibir sang suami. "Ayo, masuk. Kita sarapan bersama," ajaknya.
Binar menggandeng lengan Arsenio dan menuntunnya ke meja dapur yang sekaligus berfungsi sebagai meja makan. "Kamu mau 'kan mencoba menu sederhana dariku?" Ragu-ragu, Binar menyodorkan hasil masakannya pagi itu pada sang suami.
"Apapun yang kamu masak, akan tetap aku makan," jawab Arsenio mantap.
"Meskipun tidak enak?" goda Binar sambil mengangkat satu alisnya.
"Iya," jawab Arsenio singkat. Dia lalu terdiam untuk beberapa saat, kemudian tertawa. "Akan kuusahakan," ujar pria rupawan itu pada akhirnya, yang berbuah cubitan ringan di pinggang dari Binar. "Dasar," gerutu gadis cantik itu.
Sementara Wisnu yang sudah selesai sarapan, sekarang telah digantikan oleh Praya. "Selamat pagi, Kakak Mister," sapa bocah itu sembari meraih piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauk pauk.
"Masakan mbok Binar selalu enak," celoteh Praya sambil terus mengunyah.
Binar selalu saja tersipu dengan tatapan mata coklat terang yang menghanyutkan. Padahal, sudah tak terhitung saat pria itu menyentuh dan memandangnya. Namun bagi Binar, semuanya seolah terasa bagaikan yang pertama kali.
"Oh, ya, Kakak Mister. Apa Kakak Mister nanti jadi membelikan kakakku dan aku sepatu baru?" tanya Praya dengan polosnya.
"Praya! Tidak boleh begitu," tegur Binar. Dia tak suka jika adiknya terkesan meminta-minta.
"Tidak apa-apa, Sayang. Lagi pula, aku sudah berjanji pada mereka," ujar Arsenio. "Nanti sepulang sekolah, kita akan berjalan-jalan lagi, ya. Kita akan meminjam mobil om Rudolf," jelas pria itu setelah mengalihkan perhatian pada Praya.
Bocah kelas enam SD itu tak segera menjawab. Dia mengangkat piring dan memasukkan nasi dengan cepat ke dalam mulutnya, seakan tak dikunyah. Dia melakukan itu sampai piringnya bersih.
Praya lalu meletakkan piring kosong tersebut, meminum segelas air dan mengelap bibirnya menggunakan punggung tangan. Setelah itu dia beranjak ke dekat Arsenio. Tanpa diduga, Praya langsung memeluk Arsenio yang juga tengah menikmati sarapannya. "Terima kasih, Kakak Mister," ucapnya lirih dari balik punggung sang kakak ipar.
__ADS_1
Arsenio tersenyum kalem. Sesaat, dirinya teringat kepada Fabien. Walaupun selama ini mereka lebih sering berselisih tak penting, tapi Fabien adalah adik kesayangannya. "Iya, sama-sama. Sudahlah, aku sedang makan. Jadi, jangan buat aku menangis karena terharu," ujar Arsenio setengah bercanda, demi mengurangi rasa yang berkecamuk dalam dadanya.
"Hari ini Mbok dan kakak mister akan berada di sini, karena Mbok ingin membereskan barang-barang lama," ucap Binar membuat Arsenio segera menoleh padanya. "Aku tidak akan memaksamu untuk membantuku." Binar memalingkan wajah, seakan paham dengan bahasa tubuh pria yang kini telah menjadi suaminya tersebut.
"Kamu sudah semakin mengenalku rupanya." Arsenio tertawa renyah. Sesaat kemudian, pria itu mengalihkan perhatian kepada Wisnu yang baru keluar dari kamar mandi. "Pagi, Nu," sapanya.
"Pagi, Kak. Lanjutkan saja sarapannya. Aku mau pakai seragam dulu. Hari ini ada jadwal piket, jadi harus berangkat lebih awal," tutur anak sulung Widya tersebut.
"Terus aku bagaimana?" tanya Praya.
"Bagaimana apanya? Ya buruan kamu pakai seragam. Kamu itu pasang sabuk saja sampai setengah jam," ujar Wisnu seraya berlalu dan segera diikuti oleh sang adik.
Kini, di sana hanya ada Binar dan Arsenio yang masih menikmati sisa sarapannya. "Semenjak denganmu, aku jadi rajin makan," ucap pria berdarah Belanda itu. Piring di hadapannya telah kosong dalam waktu yang cukup singkat.
"Itu bagus. Tante Ang ... um ... aku tahu kamu sulit makan sejak kecil. Karena itulah, aku akan memaksa bahkan memarahimu jika perlu." Binar tersenyum lembut. Dia mendekat, kemudian mengecup kening sang suami. "Kamu harus makan banyak, agar sehat dan kuat menghadapi kenyataan," kelakarnya yang membuat Arsenio tersenyum lebar.
Waktu terus merayap. Wisnu dan Praya sudah berpamitan untuk berangkat sekolah. Sementara Arsenio menemani Binar. Wanita muda itu sedang memeriksa barang-barang yang sebagian besar dia tinggalkan dulu. Binar sudah membuka dus pertama, kini dia beralih pada dus kedua. Sedangkan Arsenio tertidur pulas di atas kursi rotan panjang. Ya, di rumah itu tak ada sofa atau perabot lain. Widya tak membawa apapun selain pakaian dan barang-barang yang penting.
Dalam dus kedua itu berisikan buku-buku milik Binar. Melihat benda tadi, keinginan Binar untuk melanjutkan pendidikan kembali hadir. Walaupun dia tahu bahwa takdir seorang wanita tetap akan kembali ke dapur, tapi dia ingin memiliki pendidikan yang mumpuni, agar kelak dapat mendidik anak-anaknya dengan baik dan menjadikan mereka generasi cerdas berkualitas.
Semua buku di dalam dus tadi dia dapatkan dari hasil tabungannya. Namun, ada satu buah buku yang dibelikan khusus oleh mendiang sang ayah. Buku filsafat yang terlupa untuk dia baca. Binar ingat betul bahwa sang ayah membelikan buku tersebut beberapa bulan sebelum jatuh sakit, sehingga Binar belum sempat membaca karena ketiadaan waktu. Dia harus merawat sang ayah dan kedua adiknya yang masih sangat kecil, selagi Widya bekerja.
Diambil, lalu dirabanya permukaan buku tadi. Desir kepedihan tiba-tiba menyeruak dalam sanubari terdalam. Binar mencoba untuk menahan agar air matanya tidak menetes. Dia lalu membolak-balikkan buku yang cukup tebal itu.
Sesaat, Binar menoleh kepada Arsenio yang begitu nyenyak dan terlihat damai. Wanita muda itu pun tersenyum. Dia kembali melanjutkan memeriksa buku yang lain. Binar tak akan membawa buku-bukunya, karena semua itu pasti akan berguna untuk Wisnu dan Praya di kemudian hari. Dia hanya membawa buku filsafat tadi dan memisahkan benda tersebut dengan barang lain yang hendak dirinya bawa. Namun, lagi-lagi Binar tak langsung membuka buku itu. Dia kembali merapikan semua dus berisi barang-barangnya yang lain, yang akan dirinya simpan.
Tanpa terasa, siang pun datang. Praya memang terbiasa menunggu sang kakak hingga bubar dari sekolahnya. Dengan begitu, mereka bisa pulang bersama.
Sesuai rencana yang telah disepakati, Arsenio langsung mengajak kedua adik iparnya pergi setelah mereka berganti pakaian. Sedangkan Binar tinggal sendiri menunggu mereka kembali.
__ADS_1
"Kunci pintunya dan jangan biarkan siapa pun masuk," pesan Arsenio sebelum pergi.
Binar mengangguk sambil tersenyum manis. Setelah itu, dia menutup pintu rapat-rapat. Binar duduk dan mulai membuka buku tadi. Lembar demi lembar dibacanya, hingga dia menemukan secarik kertas di antara halaman buku tersebut.