Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Sosok Tak Bernyawa


__ADS_3

Sebelum berangkat menunaikan tugas yang diamanatkan Arsenio, Ajisaka melakukan beberapa persiapan. Untungnya, dia sudah mengantongi alamat tempat tinggal Haris. Pria itu berada di sebuah perumahan rakyat yang berjarak tidak terlalu jauh dari perumahan tempat tinggal Arsenio.


Sekitar setengah jam di perjalanan, Ajisaka akhirnya tiba di depan kediaman Haris atau yang bernama asli Syamsir Lagawi. Salah satu ajudan Arsenio tersebut, tiba di sana sekitar pukul sepuluh malam. Kebetulan, tempat tinggal orang kepercayaan Biantara Sasmita itu bukanlah termasuk perumahan mewah, sehingga Ajisaka dapat masuk ke area sana dengan leluasa tanpa harus melapor pada petugas kemanan dan meninggalkan kartu identitas. Dia langsung melajukan motor yang dirinya pinjam dari satpam di Kediaman Rainier, hingga menemukan alamat yang dicari.


Kebetulan, tempat tinggal Haris berada jauh di dalam kawasan perumahan. Bangunannya berjejer sekitar lima buah dan menghadap ke sebuah lapangan basket. Tak jauh dari lapangan tadi, terdapat sebuah taman bermain dengan beberapa bangku. Selain itu, di sekelilingnya juga terdapat beberapa pohon rindang. Suasana rimbun tersebut tentunya sangat menguntungkan bagi Ajisaka. Dia dapat memarkirkan motor beberapa meter jaraknya dari rumah Haris, yang kebetulan berada di deretan paling samping.


Ajisaka kemudian merogoh ponsel. Dia mengirimkan pesan kepada Arsenio. Memberitahukan bahwa dirinya telah berada di lokasi, dan akan mengawasi keadaan sekitar terlebih dulu sebelum beraksi. Namun, pria itu harus memicingkan mata, saat melihat keadaan tempat tinggal Haris yang tampak gelap gulita. Ajisaka pun berdiri sambil menyandarkan lengannya pada sebatang pohon. Dia melakukan hal itu untuk beberapa saat.


Suasana yang remang-remang ditambah dengan pakaiannya yang serba hitam, telah berhasil menyamarkan keberadaan Ajisaka di sana. Sesekali, sepupu Dwiki tersebut melihat arloji di pergelangan tangan kirinya. Tak ada pergerakan apapun dari dalam rumah yang ditempati oleh Haris. Ajisaka sempat berpikir bahwa rumah tersebut dalam keadaan kosong. ”Jika memang kosong, maka itu akan jauh lebih mudah,” gumamnya seraya menyunggingkan senyuman kecil di sudut bibir.

__ADS_1


Ajisaka kembali melihat arloji di pergelangan kiri. Tak terasa, sudah hampir satu jam dia berdiri di tempatnya tadi. Setelah memastikan bahwa situasi sudah aman, Ajisaka mulai keluar dari persembunyiannya. Pria bertubuh jangkung itu berjalan ke depan pagar rumah Haris yang tidak seberapa tinggi. Dia juga telah memakai sarung tangan sebelumnya, sehingga tak merasa ragu untuk meraih pengait pagar yang ternyata dalam kondisi tidak terkunci. Ajisaka bernapas lega, karena segalanya seperti dipermudah. Dia membuka pagar tadi dengan sangat hati-hati, kemudian bergegas masuk dan kembali menutupnya rapat.


Dengan langkah waspada dan diatur sedemikian rupa, Ajisaka berjalan menuju teras. Pria itu harus ekstra hati-hati, karena di sana begitu gelap. Satu-satunya yang membantu, hanyalah sedikit pantulan dari lampu depan milik rumah sebelah yang berada di dekat gerbang.


Ajisaka yang sudah berdiri di depan pintu, segera merogoh saku jaketnya. Dia mengeluarkan benda andalan yang kemarin dirinya gunakan untuk membuka kunci laci di ruangan kantor Haris. Sebelum memasukkan benda tadi ke lubang kunci, Ajisaka sempat merapal mantra terlebih dahulu. Entah apa yang dia ucapkan saat itu, hanya dirinya yang tahu. Pria itu kerap melakukan hal konyol tersebut, yang tak jarang membuat Dwiki menatapnya dengan sorot aneh.


“Hah?” Ajisaka melongo. Ternyata, rumah tersebut dalam keadaan tidak terkunci. Hal itu, menimbulkan kecurigaan yang yang besar di hatinya. “Tidak terkunci,” gumamnya teramat pelan sambil memutar gagang pintu hingga terbuka. “Apa-apaan ini?”


Ajisaka kemudian berjalan ke ruangan lain. Bau tak sedap kian tercium dengan jelas. Entah di mana posisi pria itu saat ini, berhubung suasana begitu gelap gulita. Namun, Ajisaka memperkirakan bahwa dirinya sedang berada di ruang keluarga, karena cahaya senter dari ponselnya sempat menyorot sebuah televisi layar datar. “Apa rumah ini ditinggalkan dengan terburu-buru dan dibiarkan kosong?” pikir Ajisaka seraya bergumam pelan. Dia merasa terganggu dengan bau tidak sedap yang tercium semakin jelas. “Bau apa ini?” gumam pria itu lagi. Ajisaka melanjutkan langkah, menyusuri bagian lain rumah dua lantai tersebut.

__ADS_1


Sayup-sayup, terdengar suara aneh entah dari bagian mana rumah itu. Ajisaka mengikuti instingnya. Dia menajamkan pendengaran dan mulai mengikuti arah suara yang makin lama terdengar semakin jelas. Sementara bau busuk yang sejak tadi mengganggunya, kian menusuk hidung.


Ajisaka mengembuskan napas pelan. Merasa tak nyaman dengan kondisi gelap tadi, dia mulai mencari tombol saklar. Lagi pula, salah satu ajudan kepercayaan Arsenio tersebut menyakini bahwa tak ada siapa pun di sana selain dirinya. Ajisaka tak merasakan ada pergerakan lain di dalam rumah.


Setelah menemukan tombol saklar yang dia cari, Ajisaka segera menekannya hingga lampu di dalam ruangan tempat dirinya berada saat ini menyala. Namun, sepertinya itu akan menjadi hal yang paling dia sesali. Pasalnya, saat itu Ajisaka melihat pemandangan yang teramat mengerikan. Tepat di dekat kakinya, tercecer bercak darah yang telah mengering dan sangat banyak. Noda darah itu terus memanjang membentuk jejak, dan mengarahkan Ajisaka pada sudut lain ruangan yang merupakan sebuah dapur.


Sesaat kemudian, Ajisaka tertegun. Tubuhnya seperti tak bertulang lagi. Dia segera memalingkan muka, ketika dorongan dari dalam perut kian kuat. Pria itu merasa ingin segera memuntahkan segala isinya. Ajisaka pun bergegas menuju bak tempat mencuci piring.


Mual dan sangat menjijikan. Kekuatan Ajisaka sebagai seorang pria yang jago dalam berkelahi, tetap saja tak ada gunanya saat dia dihadapkan pada sesosok mayat yang sudah dalam kondisi sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak? Jika dilihat dari keadaan jasad yang ada dalam posisi duduk dengan kepala terkulai ke depan itu, Ajisaka dapat memperkirakan bahwa orang tersebut sudah meninggal selama berhari-hari. Hal itu ditandai dengan kulit yang menghitam dan menggembung. Lalat dan belatung pun mengerubuti luka menganga di beberapa bagian tubuh. Sepertinya, mayat itu merupakan korban pembunuhan setelah mendapat kekerasan fisik terlebih dulu.

__ADS_1


Sementara bau tak sedap begitu menusuk. Membuat Ajisaka harus menaikkan kerah t-shirt yang dikenakannya untuk menutupi hidung, meski tetap saja tidak banyak membantu. Bau amis itu terlalu kuat. “Mayat siapa ini?” gumam Ajisaka. Dia mengambil gagang sapu. Ajisaka menggunakan benda itu untuk mengangkat wajah mayat tadi yang sudah kaku, dan justru membuat si mayat jatuh ke samping masih dalam posisi sama. Namun, setidaknya dari posisi yang demikian, Ajisaka dapat mengamati wajah dari jasad yang sudah tak bernyawa tersebut.


Seketika, Ajisaka mundur beberapa langkah. Dia begitu terkejut, setelah mendapati sosok tak bernyawa dengan kondisi memprihatinkan tadi adalah Haris Maulana atau yang memiliki identitas asli Syamsir Lagawi.


__ADS_2