
Arsenio menempatkannya kendaraannya di area parkir basement. Dia menunggu beberapa saat di dalam mobil sambil terus mengirim pesan.
Kutunggu di tempat biasa. Jangan di kantor.
Pria rupawan itu mengirim pesan terakhirnya tanpa ragu. Selang beberapa menit, dia mendapat balasan masuk.
Aku sudah berada di lobi. Segera menuju ke basement.
Arsenio tersenyum lebar setelah membaca balasan pesan tadi. Buru-buru dia menghubungi Dwiki melalui earpiece bluetooth yang tertempel di telinga. Orang kepercayaannya itu sudah siap di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari tempat Arsenio memarkirkan kendaraannya. “Cepat pakai alat penyadapnya, Bos,” suruh Dwiki mengingatkan.
Setelah mengakhiri panggilan tersebut, Arsenio membuka dashboard dan mengeluarkan benda kecil mirip mikrofon mini. Dia lalu memasangnya di balik kerah kemeja. Arsenio kemudian menunggu sambil mengetuk-ngetukkan jarinya pada kemudi.
Tak berselang lama, seseorang yang telah berkirim pesan dengannya sejak tadi akhirnya muncul dari balik pintu lift basement yang terbuka. Seperti biasa, wanita itu memakai pakaian seksi kegemarannya, yaitu kemeja putih ketat dengan dua kancing paling atas dibiarkan terbuka. Pakaian tadi dipadukan dengan rok span ketat super pendek yang memperlihatkan hampir sebagian besar paha mulusnya.
Wanita itu tampak mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tatapannya lalu terkunci pada mobil yang sudah teramat dia kenal. Kendaraan itu berada paling sudut di baris terdepan area basement yang memang digunakan khusus untuk tempat parkir.
Dengan langkah tergesa dia mendekat sambil memamerkan senyumannya yang terkembang sempurna. Terlebih ketika dilihatnya Arsenio keluar dari dalam mobil tersebut.
“Hai, Arsen. Aku kaget lho, waktu kamu mengirim pesan padaku. Tumben sekali. Apa kamu mulai kangen?” tanya wanita itu penuh percaya diri seraya mengibaskan rambut panjangnya yang indah.
“Ya, begitulah,” jawa Arsenio sambil menumpukan sikunya pada pintu mobil. Tak lupa dia juga memasang senyumannya yang menggoda.
Tak terkira betapa bahagianya si wanita tatkala mendengarkan jawaban pria tampan blasteran Belanda tersebut. Segera saja dia menghambur ke arah Arsenio dan hendak menciumnya. Akan tetapi, pria itu lebih dulu menghindar sambil mendorong tubuh si wanita perlahan. “Sabar dulu dong, Indah. Apa kamu tidak lihat ada kamera CCTV di sana? Jangan gegabah, apalagi sekarang Wini sudah mengetahui rahasia kita berdua,” elak Arsenio. “Masuklah dulu,” ajaknya seraya mengedipkan sebelah mata.
“Tentu." Dengan antusias, wanita yang tidak lain adalah Indah tersebut memutari mobil dan membuka pintunya. Dia lalu duduk menghadap pada Arsenio yang juga tengah memandang penuh arti ke arahnya. Sengaja dia merenggangkan kedua pahanya agar Arsenio dapat melihat dengan jelas isi di dalam rok mini yang dia kenakan.
“Ya ampun.” Arsenio tertawa pelan sambil membuang muka. “Kamu berangkat dari mana? Rumah atau kantor Wini?” tanyanya beberapa saat kemudian.
“Dari rumah. Aku izin datang terlambat ke kantor hari ini pada tunanganmu,” jawab Indah seraya mendekatkan wajahnya pada Arsenio, berharap dapat menikmati bibir tipis kemerahan yang menawan itu.
"Kamu diantar siapa kemari?" Sambil menahan rasa geli, telapak tangan Arsenio mendorong mundur wajah Indah yang tampak begitu sensual.
"Aku naik taksi," jawab Indah seraya kembali berusaha mendekat pada Arsenio.
"Yakin kamu naik taksi?" pancing pria rupawan itu.
__ADS_1
"Apa sih maksudnya?" Indah yang mulai curiga, mengernyitkan kening karena keheranan.
"Ya, bisa saja kamu diantar oleh Burhan," sahut Arsenio enteng.
Mendadak wajah Indah berubah tegang dan terlihat gelisah. "Kenapa kamu menyebut nama itu?" tanyanya was-was.
"Kenapa? Tidak boleh?" Arsenio malah balik bertanya. "Dulu waktu aku belum ditemukan, kamu menghubungi kedua orang tuaku dan mengatakan bahwa aku dirampok. Saat itu kamu juga menunjukkan wajah lebam Burhan yang mengaku telah membela dan melindungiku dari penjahat," tuturnya,
"tapi, anehnya ...." Arsenio menjeda kalimatnya. Kiini giliran dia yang mendekatkan wajah kepada Indah.
"Setelah aku ditemukan, Burhan malah menghilang. Aku sampai mendatangi rumahnya. Istri Burhan bahkan tak tahu ke mana perginya sang suami. Apa menurutmu itu tidak aneh?" Arsenio semakin maju hingga napasnya menyapu kulit wajah Indah yang mulus.
"A-aku juga selama ini mencari keberadaan Burhan." Indah tergagap sambil memundurkan wajahnya.
"Oh, ya? Lalu, bagaimana hasilnya?" tanya Arsenio sinis.
"Seperti yang kamu bilang, dia menghilang," jawab Indah gugup.
"Hm." Arsenio menjauhkan dirinya dari Indah, lalu bersandar pada kursi mobil. Tangannya kembali mengetuk-ngetuk kemudi. "Lalu, siapa laki-laki misterius yang sering mengantar jemput kamu ke mana-mana?" pria rupawan itu kembali melanjutkan interogasinya.
"Jangan pura-pura, Sayang. Aku beberapa kali memergokinya berduaan denganmu. Siapa dia?" tanya Arsenio.
"Oh, jadi ini maksud kamu mengajakku bertemu." Indah tertawa getir sambil melipat tangannya di dada.
"Anggap saja aku cemburu." Arsenio tertawa lirih, lalu kembali mendekati Indah. Dia nekat mencium bibir wanita itu dengan kasar dan melepaskannya begitu saja. Arsenio juga menatap wajah Indah dengan lekat. "Siapa dia?" desak Arsenio tak putus asa.
"Teman," jawab Indah lirih, "dia hanya seorang teman." Wanita itu menunduk, menyembunyikan wajah cantiknya. Tak biasanya Indah tidak membalas perlakuan nakal Arsenio.
"Oh, baiklah. Jadi dia hanya sekadar teman," ulang Arsenio pelan. "Keluarlah," titah Arsenio setelah beberapa saat terdiam.
Indah segera menoleh dengan raut keheranan. "Hanya itu?" tanyanya.
"Memangnya kamu mau apa lagi?" tawa Arsenio meledak saat itu.
"Aku sudah membawa pengaman untuk kita ...."
__ADS_1
"Ya, ampun." Arsenio kembali terbahak. Dia memotong kalimat Indah begitu saja. "Aku tidak mau bercinta denganmu. Tiba-tiba saja aku menjadi tak tertarik," kilahnya asal.
"Kurang ajar! Kamu sudah mempermainkanku, Arsen! Beberapa waktu yang lalu kamu menolak dan menyakiti lenganku. Sekarang kamu menolak diriku seakan aku ini barang tak berharga!" gerutu Indah tanpa jeda. Dikeluarkannya semua ganjalan yang mengganggu hati akibat ulah pria cassanova tersebut.
"Jadi, kamu merasa dirimu berharga? Dengan sikap murahanmu selama ini?" cela Arsenio sambil tersenyum sinis.
"Kamu!" Indah melayangkan tangan, bermaksud hendak menampar Arsenio. Namun, gerakan pria itu jauh lebih cepat. Dia menangkis, lalu mencengkeram tangan Indah demikian erat sampai wanita cantik itu meringis kesakitan.
"Pulanglah, Sayang. Jika tidak, maka kamu akan merasakan sakit yang lebih dari ini," seringai Arsenio. Perlahan, dia melepaskan cengkeramannya ketika Indah mulai terisak.
"Aku memang bodoh, selalu saja menginginkan dirimu. Ka-kamu seperti candu," wajah Indah memerah, membayangkan masa-masa panas yang pernah dia lalui bersama tunangan sahabatnya itu, "tapi kamu malah memperlakukanku seenak hatimu," imbuhnya.
"Memang begitulah diriku. Silakan pergi kalau tak suka," sahut Arsenio kalem.
"Kamu ...." geram Indah dengan tangan terkepal erat. Dia lalu membuka pintu mobil dan keluar dari sana sambil membawa sejuta amarah, yang hanya bisa dirinya lampiaskan dengan membanting pintu mobil sekencang mungkin. Suara high heels yang beradu dengan lantai, bergema mengiringi langkahnya keluar dari basement.
Tak ada yang Arsenio lakukan saat itu, selain diam mengamati sampai Indah menghilang dari pandangan.
"Bagaimana, Bos?" tanya Dwiki dari earpiece bluetooth yang tersembunyi di daun telinga.
"Aku sudah memasang alat penyadap di kerah bagian belakang. Semoga Indah tak menyadarinya sampai dia menghubungi pria misterius itu," jawab Arsenio. "Apa kamu juga sudah merekam pembicaraan kami?" Arsenio balik bertanya.
"Sudah, Bos. Aman! Sudah tersimpan semua," jelas Dwiki.
"Bagus." Arsenio menyunggingkan senyum menawannya.
.
.
.
Seru, ya ges yaa.. sekalian mampir dulu di lapak temen aku yg super keren ini.
__ADS_1