
Arsenio menuntun Binar untuk masuk kembali ke dalam apartemennya. Gadis itu sempat mundur ketika hendak memasuki lift. Akan tetapi, Arsenio terus meyakinkan dia dengan tak melepaskan genggaman tangannya sama sekali. “Tidak apa-apa, Sayang. Tetaplah di belakangku,” bujuknya sambil menarik tangan Binar pelan, lalu membalikkan tubuh ramping itu bersandar di dinding dan menghadap padanya.
Pria tampan itu kembali mengungkung tubuh indah Binar. Posturnya yang tegap dan jangkung membuat Arsenio harus menunduk saat mencium bibir gadis itu. “Kuharap sentuhan ini bisa sedikit menenangkanmu,” ucapnya setengah berbisik. “Maaf, karena hanya cara ini yang kutahu." Arsenio kembali melu•mat bibir Binar sampai pintu lift terbuka.
Mereka kembali lagi ke ruangan apartemen mewah Arsenio, tempat di mana keduanya baru saja menyatukan raga yang berakhir dengan drama. Jantung Binar berdebar mencari sosok Winona. Namun, dia tak menemukan wanita cantik tersebut di sana.
“Wini pasti sudah pergi. Mungkin dia kembali ke kantor, atau mengadu pada ayahnya,” ujar Arsenio seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Binar.
“Bagaimana jika dia mengadu pada ayahnya? Kamu pastinya akan berada dalam masalah besar, Rain,” sahut Binar dengan was-was.
Arsenio terkekeh pelan, lalu menangkup wajah cantik Binar dengan kedua tangan. “Biarkan aku saja yang memikirkan hal itu. Kamu tak perlu memikirkan apapun. Sekarang, beristirahatlah di kamar. Aku akan menghubungi Chand,” saran Arsenio lembut seraya mengusap pipi halus gadis yang telah membuatnya jatuh cinta tersebut.
“Baiklah, tapi ….” Belum sempat Binar meneruskan kata-katanya, Arsenio sudah lebih dulu melu•mat bibir merah muda gadis itu. Binar pun tak dapat berkutik sama sekali atas segala perlakuan manis pria tampan tersebut.
“Sudah kukatakan agar jangan memikirkan apapun. Biarkan aku saja yang menghadapi semuanya. Aku sudah terbiasa hidup dalam tekanan seperti ini,” ucap Arsenio pelan setelah melepaskan tautan bibirnya.
"Aku juga sudah terbiasa hidup dalam tekanan yang berat. Kamu tahu sendiri akan hal itu," balas Binar menanggapi.
"Di dekatku, kamu tidak boleh merasakan hal seperti itu lagi," ucap Arsenio diiringi sebuah senyuman. Binar merasa ragu. Namun, akhirnya dia mengangguk. Binar pun melangkah pelan menuju kamar Arsenio. Hal pertama yang tertangkap oleh matanya adalah sprei putih polos yang menggantikan bed cover abu-abu yang telah ternoda oleh darahnya. Sementara bed cover itu masih teronggok di sudut kamar.
“Tiap sore akan ada orang yang bertugas untuk membersihkan apartemenku,” ujar Arsenio tiba-tiba. Entah sejak kapan pria rupawan itu berdiri di belakangnya.
Binar menoleh, lalu mengangguk. Bukannya duduk dan berbaring di ranjang, gadis itu malah mendekat ke sudut ruangan. Dia memungut bed cover tadi dan mencari letak noda merah miliknya. Setelah didapat, dia usap dengan mata menerawang.
“Kenapa? Apa kamu menyesal?” tanya Arsenio sambil menghampiri gadisnya.
Binar menggeleng dengan tatapan sendu. “Aku hanya takut,” jawabnya lirih.
__ADS_1
“Hamil?” Arsenio mengangkat satu alisnya. “Aku akan menjadi ayah dan kamu menjadi ibu,” selorohnya sembari menyentuh pucuk hidung Binar, lalu mengecupnya lembut.
“Rain.” Alis Binar bertaut, seolah dirinya tak suka dengan ucapan Arsenio barusan.
“Kamu tak ingin kunikahi?” tanya Arsenio lagi dengan raut yang terlihat kecewa.
“Bukan itu,” bantahnya. Dia meletakkan bed cover tadi ke lantai. Satu tangannya kemudian menyentuh dada bidang Arsenio, lalu mengusapnya perlahan. Hanya sentuhan kecil seperti itu, Arsenio sudah menghela napas dalam-dalam. “Kalau kamu memaksa menikahiku, lalu bagaimana dengan keluargamu?” Binar mendongak dan menatap Arsenio lekat-lekat.
“Mereka pasti akan menggila.” Arsenio tertawa renyah, seakan hal itu bukanlah masalah, “tapi aku tetap akan menikahimu,” tegasnya. Dia hendak berkata sesuatu lagi, ketika ponselnya berdering. “Ini pasti Chand. Tadi dia tak bisa kuhubungi,” ujarnya sambil menjawab telepon. “Chand,” sapa Arsenio.
“Ada apa, Sen?” balas duda itu dengan suaranya yang berat dan khas.
“Bisakah kamu datang kemari sepulang dari kantor nanti? Aku ada di apartemen,” jawab Arsenio.
“Apakah ada masalah? Nirmala baik-baik saja, ‘kan?” Chand terdengar begitu mengkhawatirkan Binar.
"Apa maksudmu, Sen? Tolong jangan bercanda!” tegas Chand dari seberang sana.
“Sudahlah. Kutunggu kamu di sini sepulang kerja,” tutup Arsenio tanpa menunggu jawaban dari Chand. Dia kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. “Aku pergi ke kantor dulu,” pamit Arsenio sambil mendaratkan kecupan di kening Binar.
“Tunggu!” Binar mencengkeram lengan Arsenio erat-erat. “Jangan tinggalkan aku sendirian,” pintanya memelas.
“Tidak apa-apa, Sayangku. Kamu aman di sini. Di bawah ada sekuriti. Aku akan memberi pesan padanya untuk menolak siapa pun yang hendak menemuiku dan masuk ke dalam lift pribadi, kecuali Chand,” kedua tangan Arsenio mengusap-usap lengan Binar. “Sekarang, kamu harus istirahat. Tenangkan hati dan pikiranmu,” ujarnya lembut.
Setelah itu, Arsenio berbalik dan bermaksud untuk keluar kamar. Akan tetapi, dia teringat sesuatu sehingga kembali menghadap ke arah Binar. “Oh, ya satu lagi. Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku, Binar. Karena aku akan sangat marah. Aku tidak akan tinggal diam seandainya kamu pergi dari tempat ini. Aku pasti akan mengejarmu ke manapun,” ancamnya dengan sorot mata yang terlihat begitu tajam.
“Iya,” sahut Binar pasrah. Kaki jenjangnya melangkah mendekati ranjang, kemudian berbaring di sana. Ranjang itu terasa begitu nyaman. Apalagi, Binar masih dapat mencium aroma keringat Arsenio di bantal yang dia pakai. Tak membutuhkan waktu lama sampai gadis itu terlelap dan mendengkur pelan.
__ADS_1
Arsenio begitu kasihan melihatnya. Andai dia tak mempunyai tanggung jawab di perusahaan, pasti dirinya memilih untuk melepas kemeja dan ikut berbaring di samping Binar. Begitu banyak masalah yang akan dia hadapi di depan mata. Namun, Arsenio sudah meyakinkan langkah dan tak akan mundur meski selangkah pun.
Dipungutnya map hijau yang tadi dia lemparkan begitu saja ke atas lantai. Map itu berisi catatan transaksi rekening Indah dan Burhan. Di dalamnya juga terdapat flashdisk berisi rekaman suara Indah, ketika melakukan panggilan telepon dengan seseorang tak dikenal. Tujuannya saat ini adalah menuju kantor, di mana Dwiki telah menunggu sejak beberapa menit yang lalu.
Sesampainya di kantor, Arsenio bergegas menuju ruang kerjanya. Sedikit rasa aneh menelusup ke dalam hati, ketika semua orang di sekelilingnya memandang Arsenio dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Akan tetapi, dia memilih untuk tidak peduli.
Di atas sofa di ruang kerjanya, Dwiki duduk dengan raut tegang. Dia berdiri ketika Arsenio memasuki ruangan. “Bos,” sapanya.
“Bagaimana? Apakah ada perkembangan?” tanya Arsenio tanpa basa-basi.
“Sejauh pengamatan saya ... Ghea bersih, Bos. Dia hanya menghubungi Chand dan orang tuanya beberapa kali, sampai saya tidak bisa terkoneksi dengannya lagi. Sepertinya dia tahu jika ponselnya disadap. Dia tidak sebodoh yang kita pikirkan,” jelas Dwiki.
“Aku sudah menaruh alat penyadap di mobil Ghea,” sahut Arsenio.
“Aku juga tidak menemukan apa-apa di sana,” jawab Dwiki penuh sesal.
“Baik. Anggap saja dia bersih. Lalu, siapa yang dihubungi Indah saat itu? Orang itu juga sepertinya bersikap waspada. Terbukti dia mengacak suaranya sendiri saat menerima telepon dari Indah,” papar Arsenio dengan kesal. Dia lalu meletakkan map hijau yang sedari tadi dibawanya ke hadapan Dwiki.
“Kamu simpan barang bukti ini sampai tiba waktunya kita berikan pada pihak kepolisian untuk membuat laporan. Setelah bukti-bukti kuat lainnya berhasil kita kumpulkan tentunya."
“Siap, Bos.” Dwiki meraih map plastik itu dan membuka isinya, kemudian meletakkan kembali ke atas meja. “Oh ya, Bos.” Pria itu tampak ragu ketika akan mengatakan sesuatu.
“Apa?” tanya Arsenio seraya berpindah ke kursi kebesarannya.
“Sepertinya tunangan Anda sedang tidak baik-baik saja,” jawab Dwiki dengan hati-hati.
“Kenapa begitu?” Arsenio mengernyitkan dahi.
__ADS_1
“Um, dia sedang mengadakan siaran langsung di akun sosial medianya. Dia tengah menjelek-jelekkan Anda,” beber Dwiki sembari menunjukkan layar ponselnya kepada Arsenio.