Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Diskusi Malam


__ADS_3

Arsenio menopang keningnya menggunakan tangan kiri. Keluhan pendek pun sesekali terdengar begitu saja dari bibir pria dua puluh tujuh tahun tersebut. Dia termenung untuk beberapa saat, hingga terdengar suara ponselnya berdering. Nama Lievin tertera di layar, saat Arsenio memeriksa alat komunikasi canggih tadi. "Papa," sapa pria bermata cokelat terang itu lesu.


"Apa-apaan ini, Arsen? Kamu di mana?" terdengar suara Lievin yang sepertinya tengah menahan amarah, karena sayup-sayup terdengar suara Anggraini yang meminta sang suami agar tetap tenang.


"Aku sudah menitip pesan pada Winona. Apa dia tidak mengatakan apapun?" sahut Arsenio malas.


"Bukan begitu caranya, Arsen! Kamu tahu tata krama dalam sebuah acara, bukan? Lagi pula, ini adalah pestamu. Bagaimana bisa tokoh utama melarikan diri begitu saja? Sungguh kacau! Sangat memalukan!" Lievin memang patut untuk marah. Pasalnya, selaku orang tua dari Arsenio, dia harus menahan malu serta rasa tak enak hati dari para tamu undangan dan terutama keluarga Winona. "Apa yang orang-orang pikirkan tentang keluarga kita nanti?"


"Sudahlah, pa. Kenapa harus memikirkan pendapat orang lain? Benar atau salah, orang akan tetap membicarakan kita. Aku tak yakin terhadap mereka yang selama ini terlihat baik di hadapan kita, tapi sebenarnya memiliki niat buruk di belakang," ucap Arsenio menanggapi keresahan hati Lievin.


"Tetap saja papa tidak bisa membenarkan apa yang telah kamu lakukan ini. Papa bahkan tidak bisa menemukan Chand sebagai penanggung jawab acara. Ada apa dengan kalian berdua? Ini pesta formal dan juga penting, bukan sebuah acara lawakan kampung!" Lievin belum juga meredam emosi dalam dirinya.


"Chand ada bersamaku. Kami sedang berbincang-bincang. Aku juga ingin bicara serius dengan papa dan mama. Besok aku akan pulang. Malam ini aku tidur di apartemen," ujar Arsenio yang tampk semakin malas dalam menanggapi ucapan sang ayah.


"Kita memang harus bicara serius!" tegas Lievin sebelum menutup sambungan teleponnya.


Arsenio mengempaskan napas berat. Selama ini, dia tak pernah dipusingkan dengan urusan asmara. Walaupun di mata semua orang dirinya adalah kekasih dari Winona, tapi pada kenyataan di belakang layar pria itu justru memiliki affair dengan banyak wanita. Namun, hal tersebut tak membuatnya merasa begitu terusik apalagi terbebani. Arsenio melenggang begitu saja, bahkan setelah berhasil memporak-porandakan rumah tangga sahabatnya sendiri.


Akan tetapi, sikap tak acuh itu kini tak bisa lagi dia pertahankan, setelah dirinya mengenal sosok Binar. Siapa gadis itu? Dia bukan seseorang dengan pengaruh besar seperti Winona. Binar tak sehangat Ghea dalam memperlakukan dirinya, karena Binar bahkan cenderung pemalu. Tidak juga seperti Indah yang tak tahu diri, serta gemar memamerkan tubuhnya yang aduhai. Lalu, mengapa gadis belia itu teramat berpengaruh bagi Arsenio? Satu jawaban yang pasti, pria berdarah Belanda tersebut sudah bosan dengan kehidupan yang dijalaninya selama ini. Binar seperti menjadi cahaya mentari di pagi hari, yang memberikan sebuah pencerahan dari malam-malam gelap penuh kebosanan yang dilewati Arsenio.


"Kamu hanya akan menempatkan diri dalam masalah, Arsen," ujar Chand mengingatkan.


"Aku sudah melakukan hal itu sejak lama," sahut Arsenio datar, "tapi, kali ini pasti berbeda dan jauh lebih memusingkan."


"Semua itu datang dari dirimu sendiri. Namun, itulah orang hidup. Tak ada siapa pun yang tidak memiliki masalah." Chand kembali menanggapi. Dia lalu terdiam beberapa saat sambil menatap Arsenio dengan lekat. "Kenapa kamu pergi meninggalkan pesta?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Karena aku ingin mencari Binar kemari," jawab Arsenio enteng.


"Astaga." Chand tertawa pelan seraya menggelengkan kepala tak mengerti. Sebenarnya, dia sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Namun, tak mungkin juga jika dirinya harus menyuruh Arsenio untuk pergi. "Kamu sudah resmi bertunangan dengan Winona. Kenapa masih tetap mengejar Binar?"


"Aku sudah memutuskan untuk membatalkan pertunangan kami," jawab pria berdarah Belanda itu seraya mengambil camilan dan memakannya. "Semuanya telah kubahas dengan Winona," ucap pria itu lagi dengan benar-benar enteng.


"Semudah itu? Lalu apa tanggapannya?" tanya Chand sambil mengernyitkan kening.


"Tentu saja tidak. Winona menolak dengan tegas, tapi aku juga tidak akan mengurungkan niat untuk membatalkan pertunangan kami," jelas Arsenio. Pria tampan itu terdiam untuk sejenak seraya mengusap bibir menggunakan punggung jemarinya. Dia tiba-tiba teringat akan sesuatu. "Jadi, dengan tujuan apa kamu membawa Binar ke Jakarta?" selidiknya.


Chand membetulkan posisi duduk yang tadinya setengah menghadap kepada Arsenio. Dia meletakkan kedua tangan di atas meja, kemudian mengempaskan napas pelan. "Nir ... maksudku ... dia bercerita kalau tujuan pertamanya memang kota ini, tetapi diurungkan karena satu dan dua alasan. Akhirnya Nirmala ... maaf, aku terbiasa memanggilnya seperti itu."


"Tak apa. Lanjutkan," sahut Arsenio menanggapi.


"Kebetulan, aku membutuhkan seorang model untuk acara expo kemarin ...." Chand pun menceritakan alasannya membawa Binar ke Jakarta, hingga menjadikan gadis itu sebagai kekasih pura-pura.


"Memangnya apa yang kamu harapkan?" Chand balik bertanya.


"Entahlah. Aku melihatmu menciumnya. Seberapapun brengseknya diriku, tapi aku tidak pernah berpikir untuk mengambil kesempatan dari seorang gadis lugu seperti dia," ujar Arsenio menegaskan. "Kecuali jika kamu memiliki perasaan lebih terhadapnya."


Chand tak segera menjawab. Dia lalu menoleh kepada pria di sebelahnya yang masih menatap dengan intens. Chand tahu bahwa Arsenio adalah orang yang sangat cerdik, dan seakan memiliki kemampuan untuk membaca ekspresi lawan bicaranya. "Dia gadis yang manis dan juga terlihat sangat alami. Jarang sekali menemukan gadis seperti itu di kota metropolitan seperti ini. Namun, aku baru juga bercerai. Rasanya lebih baik jika menenangkan diri dulu untuk sejenak." Chand terdiam dengan tatapan yang tertuju pada meja berbahan granit warna hitam di hadapannya.


"Kamu yakin tidak jatuh cinta padanya?" tanya Arsenio lagi yang seakan masih ragu dengan penjelasan sahabatnya tadi. Sedangkan Chand tidak menjawab. Duda tampan tersebut hanya menggumam pelan seraya tersenyum kalem. "Lalu, apa yang Binar kerjakan sekarang?" tanyanya lagi.


"Tadinya aku ingin mengajak dia bergabung di perusahaan. Namun, aku belum sempat membahas hal itu dengan serius," jelas Chand.

__ADS_1


"Di mana dia tinggal sekarang?" tanya Arsenio lagi, membuat Chand merasa tak enak untuk menjawbnya. Namun, dia juga tak mungkin menghindar dari pertanyaan tersebut.


"Nirmala ... dia ... aku menempatkannya di apartemen Prajna untuk sementara, sebelum dia mendapatkan tempat tinggal sendiri," jawab mantan suami Ghea tersebut.


"Oh ya. Baiklah." Arsenio beranjak dari duduknya. Dia bermaksud untuk pamit.


"Jangan mengganggunya, Arsen," pinta Chand tiba-tiba, membuat Arsenio tertegun dan menoleh. "Biarkan dia menenangkan diri," ucapnya lagi.


"Aku tahu apa yang harus kulakukan, jadi kamu tidak perlu terlalu mencemaskan hal itu," jawab Arsenio dengan nada bicara yang biasa saja.


"Aku tidak bermaksud apa-apa. Ini hanya ...." Chand tak melanjutkan kata-katanya. Dia seakan tak tahu harus berkata apa. Sedangkan Arsenio hanya menanggapi dengan sebuah senyuman samar. Dia melangkah keluar dari arah dapur. Chand pun segera mengikutinya. "Apa yang kamu rencanakan?" tanya duda tampan tersebut menyejajari langkah Arsenio menuju pintu keluar.


"Rencana untuk apa? Binar?" Arsenio melirik sahabatnya.


"Ya," jawab Chand tampak sedikit resah.


"Ada banyak rencana yang ingin kurealisasikan dengan Binar. Namun, aku tak harus memberitahumu satu per satu," jawab Arsenio dengan enteng.


.


.


.


Penyegaran dulu, yuk 😍

__ADS_1


mari mampir di karya keren milik temen otor yang satu ini



__ADS_2