Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Ich Liebe Dich, Rain!


__ADS_3

Diam-diam Arsenio menghitung selisih waktu Indonesia dengan Jerman. Jika saat ini pukul sembilan pagi waktu Jerman, maka dapat dipastikan di Indonesia adalah pukul tiga dini hari. “Masih terlalu pagi,” gumam Arsenio pelan. Bukan tak mungkin jika Lievin sang ayah, yang akan merespons panggilannya nanti. Dia pun memilih untuk menunda menghubungi sang ibu, lalu memutuskan untuk memasak sarapan.


Tak sampai satu jam, bubur ayam sudah siap dihidangkan. Arsenio meletakkan semangkuk bubur beserta segelas air ke atas nampan, lalu mengantarkannya ke kamar. Dia melihat Binar masih meringkuk dengan tubuh tertutup selimut hingga ke dagu. Wajah cantik itu juga tampak terpejam. Entah dia memang tertidur atau hanya sekedar menutup mata.


“Sayang, makanlah,” ucap Arsenio pelan. Sebenarnya, rasa marah dan kecewa itu masih ada. Akan tetapi, melihat kondisi lemah Binar membuatnya iba.


“Rain.” Binar membuka matanya perlahan. Setitik butiran bening kembali menetes tatkala melihat sang suami yang masih bersikap dingin padanya. “Aku tidak mau makan kalau kamu masih marah,” tolaknya manja.


“Aku tidak marah, Binar. Makanlah,” bujuk Arsenio. Sebisa mungkin dia menunjukkan raut yang hangat ditambah senyuman tipis.


“Kamu marah. Aku bisa merasakannya.” Binar menggeleng sambil memundurkan tubuhnya.


“Ayolah. Bubur jauh lebih enak dimakan saat hangat. Makanlah, Binar. Setelah ini, minum obatmu,” suruh Arsenio dengan sikap yang jauh lebih manis.


Ragu-ragu, Binar mendekatkan tubuh dan melahap sesendok bubur yang disuapkan oleh suaminya. “Enak,” bisik wanita muda itu. Semangkuk bubur hangat pun habis dalam waktu singkat.


“Sekarang minum obatnya.” Arsenio bangkit dari tepi ranjang, lalu meraih beberapa bungkus obat yang tergeletak di atas nakas. Dengan sabar, dia memasukkan satu demi satu obat ke dalam mulut sang istri. Binar kemudian meneguknya bersamaan dengan segelas air.


“Bagus, sekarang istirahatlah.” Arsenio mengecup kening Binar sekilas sebelum beranjak ke dapur sambil membawa peralatan makan yang kotor. Dia hendak mencuci piring ketika ponselnya berdering.


Buru-buru Arsenio merogoh saku celana dan tertegun membaca nama Anggraini di layar.


Mungkin benar kata-kata yang sering dia dengar, bahwa perasaan seorang ibu akan selalu tertaut pada anaknya, tak peduli sejauh apa jarak membentang di antara mereka.


“Ma, aku tadi sudah berniat menelepon. Namun, aku urungkan karena pasti masih dini hari di Indonesia,” ujar Arsenio begitu saja sebelum ibunya mengucapkan salam.

__ADS_1


“Arsen, apa kamu baik-baik saja, Nak? Perasaan mama tidak enak dari tadi malam. Mama sampai tidak bisa tidur,” keluh Anggraini.


“Ma? Apa papa tidak marah kalau mama meneleponku?” Arsenio malah balik bertanya.


“Papamu tidak pulang lagi malam ini. Ada sedikit masalah di kantor. Dia menginap di sana dengan ditemani oleh Bayu,” jelas Anggraini.


“Bayu? Siapa Bayu?” tanya Arsenio lagi.


“Bayu adalah asisten Lievin yang baru. Dia seumuran denganmu, Nak. Kapan-kapan akan kukenalkan kamu dengannya,” jawab ibunda Arsenio tersebut. “Sekarang jawab pertanyaan mama. Apa kamu baik-baik saja?”


“Aku sedang tidak baik-baik saja, Ma.” Arsenio terdiam sejenak, lalu menceritakan perihal keguguran Binar. Dia juga mengungkapkan tentang rencana menunda kehamilan yang berakhir kacau seperti sekarang.


“Kamu bertengkar dengan Binar?” tebak Anggraini hati-hati.


"Berkali-kali kami membahas rencana masa depan, dan seharusnya dia sudah paham."


“Sen, jangan bicara seperti itu. Jangan pernah mengungkit-ungkit masalah pengorbanan, sebab Binar sendiri juga berkorban. Dia rela dimusuhi oleh banyak orang, terutama papamu, demi hidup bersamamu, Nak. Winona bahkan menyebut secara terang-terangan tentang profil Binar di sosial medianya. Dia menyebut istrimu sebagai perusak hubungan dan memengaruhi pengikutnya,” beber Anggraini panjang lebar.


“Astaga, benarkah itu, Ma?” Arsenio terbelalak tak percaya.


“Arsen, dalam rumah tangga, adalah suatu kewajaran jika suami maupun istri sama-sama memiliki banyak hal untuk dikorbankan. Yang penting, kalian berdua sedang memperjuangkan sesuatu yang sama, satu visi, satu misi. Kalian boleh bertengkar, tapi jangan sampai berlarut-larut, apalagi sampai mendiamkan pasangan. Itu sama sekali tidak sehat, Nak. Bicaralah dengan istrimu, pelan-pelan saja. Wanita itu sangat lembut perasaannya, Nak." Anggraini memberikan nasihatnya.


Arsenio sempat tercenung mendengarkan nasihat sang ibu. Memang, sikap Binar yang sedikit berlebihan tak bisa dilepaskan dari masa lalunya yang liar. Segala hal yang terjadi di masa depan adalah cerminan dan sebagai bentuk sebab akibat dari apa yang Arsenio lakukan di masa lampau.


“Banyak-banyaklah bersabar, Nak. Baik kamu maupun Binar, harus sama-sama pandai mengelola emosi. Saran mama, mengalahlah, Arsen. Kurangilah sedikit sifat keras kepalamu. Dekati istrimu dan peluk dia. Dengarkan segala keluh kesahnya, sebab keguguran pastilah menjadi satu hal yang sangat berat bagi Binar,” lanjut Anggraini.

__ADS_1


“Baik, Ma." Arsenio mengempaskan napasnya perlahan. Sungguh suatu keputusan yang sangat tepat bagi Arsenio untuk menghubungi sang ibu. Pikirannya menjadi jauh lebih jernih sekarang. “Terima kasih banyak,” ucap Arsenio lirih.


“Mama kangen sekali, Nak,” balas Anggraini penuh haru. “Oh, ya, bagaimana Fabien? Apa dia masih belum pulang?” tanyanya kemudian.


“Belum, Ma. Terakhir kali dia menghubungiku, Fabien masih berada di kota Brussels, mungkin akhir bulan dia baru pulang,” jawab Arsenio.


“Baiklah, kalau begitu. Oh, astaga, mama harus tutup teleponnya. Papamu sudah pulang.” Suara Anggraini terdengar makin pelan, kemudian menghilang. Dia mengakhiri panggilannya begitu saja tanpa basa-basi lagi. Namun, Arsenio sepenuhnya paham bahwa ada sang ayah di sana.


Pria rupawan itu meletakkan ponselnya, kemudian lanjut mencuci piring. Setelah semuanya beres, dia berbalik dan berniat untuk kembali ke kamar.


Akan tetapi, ternyata Binar tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Wajah cantik itu terlihat begitu murung dan menyedihkan. “Apa kata mama? Apa mama ikut marah padaku?” tanyanya.


“Ya ampun. Kamu menguping, ya?” Gemas, Arsenio mendekat dan menangkup paras cantik yang membuatnya tergila-gila itu. Diciuminya seluruh permukaan wajah Binar sampai puas. “Kenapa kamu bangun dari tempat tidur? Memangnya kamu sudah kuat?” tanya pria bermata coklat terang itu.


Binar menggeleng sambil mende•sah pelan. “Aku tidak bisa tidur kalau kamu marah padaku, Rain,” jawabnya.


“Itulah kelemahanmu, Sayang. Kamu selalu berpikir jelek tentangku. Siapa bilang aku marah? Aku tidak pernah bisa marah pada nyonya Arsenio. Aku hanya … sedikit kecewa,” sahut pria tampan itu.


“Maafkan aku.” Binar buru-buru menyela kalimat suaminya.


“Aku yang minta maaf.” Arsenio tak mau kalah. “Aku paham dan mengerti sepenuhnya atas sikapmu, Binar. Maafkan aku yang belum bisa menjadi suami sempurna untukmu, tapi aku tak akan lelah ataupun bosan untuk terus berusaha.”


Kata-kata sang suami sungguh membuat Binar terharu. Dia tak dapat lagi menahan air mata agar tidak lolos dari pelupuknya. Dipeluknya tubuh tegap dan jangkung itu erat-erat. “Ich liebe dich (aku mencintaimu), Rain,” seru Binar antusias.


“Wah, sudah pintar berbahasa Jerman rupanya,” goda Arsenio seraya mengurai pelukan Binar. Mata indah dan bulat yang menggemaskan Binar memang selalu berhasil membangkitkan naluri kelelakiannya. Namun, dia teringat pada pesan dokter yang menangani Binar kemarin, bahwa untuk sementara, dia harus ‘berpuasa’.

__ADS_1


__ADS_2