
Setelah memastikan istrinya aman di dalam bangunan mewah tersebut, Arsenio kembali melanjutkan langkah menuju area perkantoran di pusat kota Berlin.
Dia baru berhenti, ketika telah berada tepat di depan gedung dengan alamat sesuai yang tertera pada kartu nama. Tanpa ragu, Arsenio memasuki bangunan setinggi tujuh lantai. Dia pun bertanya pada bagian informasi.
“Selamat pagi. Aku ingin menanyakan ruangan tuan Normand Heinz berada di mana?" tanya Arsenio. Tak lupa, pria itu memasang wajah serta senyuman ramah yang menjadi ciri khasnya.
"Ruangan tuan Heinz berada di lantai teratas,” terang salah seorang resepsionis berpenampilan rapi itu.
Setelah berterima kasih, Arsenio bergegas masuk ke dalam lift dan tiba di lantai teratas beberapa saat kemudian. Tak sulit bagi dirinya mencari di mana ruang kerja Normand, sebab pria itu ternyata tengah berbincang dengan beberapa orang karyawan.
“Guten Morgen, mein Herr (selamat pagi, Tuan),” sapa Arsenio dengan sopan.
Seketika Normand menoleh dan tampak antusias saat menyadari bahwa pria blasteran Belanda itulah yang datang. “Arsenio! Herzlich willkommen (selamat datang). Biar kuperkenalkan kau pada pegawaiku,” sambutnya hangat
Arsenio mengulurkan tangan dan menjabat setiap orang yang ada di sana sambil tersenyum. Sikap tubuhnya yang terbiasa bertemu dengan banyak orang dan pernah berpengalaman dalam memimpin perusahaan, terlihat begitu menarik dan penuh percaya diri. Dalam waktu singkat, pria tampan tersebut sudah berhasil menarik perhatian semua yang ada di lantai itu, dengan segala kepiawaian serta kemahirannya dalam berbicara bahasa Jerman.
“Dia akan bekerja di divisi yang sama denganmu,” ujar Normand pada seorang pria. “Kemampuan rancang bangunnya di atas rata-rata. Pengalaman dan sepak terjang dia selama memimpin perusahaan di Indonesia juga luar biasa. Aku sudah membaca resumenya,” sanjung pria itu tanpa henti, membuat karyawan yang manggut-manggut mendengarkan.
“Kalau begitu, dia pasti siap bergabung bersama dalam pertemuan nanti siang,” ujar salah seorang pria.
“Jika boleh aku tahu ada pertemuan apa, Herr?” tanya Arsenio hati-hati.
“Panggil saja aku Janson. Kita akan berada dalam satu tim bersama Wolfgang.” Pria itu mengulurkan tangan pada pria berambut pirang di sampingnya.
“Tepat setelah makan siang nanti, kita akan mengadakan pertemuan dengan salah seorang klien besar dan penting,” sahut Wolfgang.
“Klien paling penting malah,” timpal Normand sembari mengangkat satu jari telunjuknya.
“Baiklah, apapun itu aku siap.” Arsenio tersenyum lebar. Belum sampai satu jam berada di sana, dia sudah merasa begitu nyaman di lingkungan kerjanya yang baru.
Kegiatan berikutnya, dilanjutkan dengan Normand yang menunjukkan sebuah ruangan besar. Ruangan itu terbagi menjadi lima bilik. Masing-masing bilik ditempati oleh rekan-rekan satu divisi.
“Ruanganmu di bilik paling ujung, Arsenio," tunjuknya. "Aku sengaja mendesain tempat ini agar tidak terbagi ke dalam beberapa ruangan. Hal ini kulakukan supaya kalian lebih mudah berkoordinasi tanpa harus mengetuk pintu ruangan masing-masing terlebih dulu,” jelas Normand.
__ADS_1
“Tidak ada masalah bagiku, Herr. Aku bisa bekerja dalam kondisi apapun,” sahut Arsenio dengan yakin.
“Baguslah kalau begitu. Kutinggalkan kau di sini, sementara diriku akan memeriksa ke divisi lain.” Normand menepuk pundak Arsenio sebelum berlalu.
Arsenio mengangguk sambil terus memasang senyuman yang menawan. Dia lalu kembali pada ruangannya. Di sana, dirinya mencoba membuka file-file kantor yang sudah tersimpan dalam perangkat komputer, sampai Janson datang menghampiri. “Apa kau sedang mempelajari profil pekerjaan kita, Teman?” tanyanya ramah.
“Ya. Aku mempelajari tentang latar belakang perusahaan ini,” jawab Arsenio.
“Oh, itu tidaklah sulit. Profil perusahaan ini bisa kau cari di mesin pencarian internet. Ketiklah nama Apollo Architectures, maka akan muncul berbagai informasi yang akan membuatmu terpana. Kau harus bangga karena bisa direkrut oleh Normand Heinze secara langsung. Itu artinya dia menemukan satu potensi dalam dirimu yang sudah menarik perhatiannya,” terang Janson tanpa jeda.
“Semoga di sini bisa menjadi batu pijakan untukku,” sahut Arsenio seraya tersenyum simpul.
Belum sempat Janson menanggapi, seorang rekan lain yang Arsenio ketahui bernama Wolfgang, datang menghampiri. “Hei, teman-teman. Rose Petals Enterprise hendak memajukan jadwal pertemuan. Bagaimana menurut kalian?”
“Apa itu Rose Petals Enterprise?” Arsenio malah balik bertanya.
“Salah satu klien terpenting dari perusahaan kita. Rose Petals Enterprise memiliki banyak sekali cabang usaha. Salah satunya adalah industri hiburan. Dari awal, mereka selalu menyewa jasa arsitek kita. Kau tahu taman hiburan yang terkenal di Hamburg, bukan? Itu kami yang mendesain dan membangun. Sekarang mereka hendak membangun Opera House di Frankfurt. Lagi-lagi, mereka mempercayakannya pada perusahaan kita,” terang Wolfgang tanpa henti.
“Wow, luar biasa.” Arsenio bertepuk tangan karena terlalu antusias mendengar cerita rekan-rekannya.
“Tentu saja. Itu artinya mereka akan menraktir kita makan siang,” sahut Janson ceria, lalu menoleh pada Arsenio dan diikuti oleh Wolfgang. Dua pria tadi seakan meminta jawaban dari pria rupawan itu juga.
“Tidak masalah bagiku. Aku ikut suara terbanyak. Lagi pula, aku orang baru di sini,” kelakar Arsenio.
“Tidak ada istilah orang baru atau lama di sini. Kita memiliki hak dan kewajiban yang sama, Teman,” jelas Wolfgang sambil merengkuh pundak Arsenio.
“Wah, luar biasa.” Arsenio berdecak kagum melihat sikap rekan-rekan barunya yang hangat dan tulus.
“Ayo, jangan biarkan mereka menunggu. Klien adalah raja,” celoteh Janson sambil berjalan cepat menuju lift.
Arsenio dan keempat rekan barunya menumpang mobil Janson yang membawa mereka ke sebuah restoran mewah dan terletak di dekat taman kota Berlin. Tak sampai setengah jam, mereka tiba di tempat yang dituju.
Ketika memasuki ruangan restoran yang bergaya romawi itu, mata Arsenio tertuju pada wanita berblazer merah yang melambaikan tangan ke arah mereka. “Dia?” gumamnya ragu.
__ADS_1
“Itu adalah Agatha Kirsch, penanggung jawab Rose Petal Entertainments. Dia yang mewakili industri hiburan Rose Petal Enterprise,” terang Janson.
“Dia klien kita. Klien yang sangat cantik,” sahut Wolfgang.
Sementara Arsenio hanya diam dan mengikuti langkah mereka yang semakin mendekat ke arah wanita berbaju merah tersebut. Arsenio kemudian tersenyum lebar ketika wanita bernama Agatha itu menyadari keberadaan dirinya.
Agatha tampak sangat terkejut saat Arsenio mengulurkan tangan kepadanya. “Ka-kau?” tanyanya seolah tak percaya. “Jadi ini yang kalian bilang pegawai baru?” Agatha membelalakkan matanya pada Wolfgang.
“Ya, Nona Kirsch. Dia adalah orang pilihan tuan Normand,” jawab Wolfgang.
“Astaga. Ini tidak bisa dipercaya,” Agatha menggelengkan kepalanya dengan sorot mata tertuju pada Arsenio.
“Apa kabar, Agie?” sapa suami Binar itu ramah.
“Kalian saling mengenal?” tanya empat orang rekan Arsenio secara bersamaan.
“Dia mantan pacarku,” jawab Arsenio enteng.
“Bukan, kau tidak pernah mengucapkan kata putus. Waktu itu kau meninggalkanku begitu saja. Setelah aku mencari tahu, ternyata kau pulang ke Indonesia.” Wajah cantik berambut coklat itu tampak bersungut-sungut sembari melipat tangannya di dada.
“Wah, hebat sekali!” Janson berdecak kagum. “Sudah kuduga ada sesuatu yang istimewa dalam dirimu,” ujarnya sambil terbahak.
“Aku sampai tak ingin membuka hatiku untuk siapa pun, sampai bertemu denganmu,” sahut Agatha yang lagi-lagi membuat keempat pria tadi terbelalak.
“Wah, sayang sekali. Harusnya kau mulai mencari pasangan,” balas Arsenio masih dengan gayanya yang cuek dan santai.
“Tak semudah itu, Arsen. Apakah kau tidak berpikir bahwa pertemuan kita kali ini adalah jodoh? Kau pasti tak mengira sama sekali jika akan bertemu denganku sekarang,” ucap Agatha penuh percaya diri.
“Sayangnya, tidak. Karena aku sudah menemukan jodohku, Agie. Aku sudah menikah sekarang.” Arsenio kembali memamerkan cincin lumba-lumbanya pada Agatha.
“Menikah?” desis Agatha. Setelah itu dia hanya bisa membuka mulutnya tanpa berbicara apapun. Agatha seolah kehabisan kata-kata.
“Ehm, apa kita di sini hanya untuk membicarakan masalah pribadi ataukah untuk bisnis?” Janson berusaha menengahi.
__ADS_1
“Tentu saja untuk bisnis, dan … makan siang gratis,” jawab Arsenio tanpa sungkan.