Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Penyesalan


__ADS_3

“Sedang apa kalian di sini?” tanya Fabien cukup nyaring seraya berjalan mendekat. Penampilannya lebih parah dari sang kakak. Fabien saat itu hanya mengenakan celana pendek dan juga bertelanjang dada. Beberapa tato kecil menghiasi dada bidang dan lengan kekarnya.


“Arsen, kamu jangan nakal, ya,” goda Fabien sambil menaikturunkan alis. “Jangan sampai kau berniat merebut pacar Chand. Dulu istri, sekarang pacarnya. Ya, ampun,” celoteh Fabien sembari tergelak.


“Fabien! Hou je mond (diamlah)!” sentak Arsenio panik. Dia lalu menoleh pada Binar yang tampak terkejut.


“A-apa maksudnya?” tanya Binar lirih.


“Maksudnya, kau harus berhati-hati dengan kakakku ini, Nona,” jawab Fabien dalam bahasa Indonesia yang terdengar kaku. “Bagi kakakku ini, perempuan itu seperti piala yang harus direbut dan dipajang. Jika sudah bosan, dia tinggal memasukkan piala tersebut ke dalam gudang,” lanjutnya dengan nada tenang dan kalem.


“Hou op (hentikan), Fabien!” Arsenio berusaha membungkam mulut adiknya dengan kedua tangan. Namun, Fabien lebih dulu menghindar dengan bergerak ke samping dan berlindung di balik tubuh ramping Binar. Pemuda itu tak juga berhenti tertawa.


“Oh, begitukah?” Binar tak dapat menyembunyikan rasa kecewa yang begitu besar dari wajahnya. Beberapa saat yang lalu, angannya seakan melayang mendapat kata-kata indah dan sanjungan dari Arsenio. Akan tetapi, kini rasanya dia bagaikan dihempas sedemikian keras hingga jatuh ke bumi.


“Jangan dengarkan dia, Nirmala,” pinta Arsenio. “Percayalah padaku. Semuanya berubah saat aku bertemu dengan ….”


“Jangan percaya kata-katanya, Nirmala. Kau pikir kenapa Chand dan istrinya sampai bercerai jika bukan gara-gara dia,” potong Fabien seraya mengarahkan telunjuknya tepat ke arah Arsenio.


“Fabien, verdomme (sialan kau)!” Arsenio bergerak maju, berusaha menggapai Fabien yang masih bersembunyi di belakang Binar. Dengan satu gerakan tangan, dia menarik lengan adiknya, lalu memukul rahang Fabien.


Binar spontan memekik. Satu lagi sisi Arsenio yang terkuak dan cukup mengejutkan bagi gadis lugu seperti dirinya. Tak ingin berlama-lama, Binar segera membalikkan badan dan berlari meninggalkan dua kakak beradik tersebut.


“Bi ….” Arsenio hampir keceplosan. Untung saja dia segera menghentikan teriakannya. Ditambah pula Fabien yang mencegah agar dirinya tidak bisa ke mana-mana. “Lepaskan aku! Dasar adik laknat!” umpatnya.

__ADS_1


“Sudahlah, Broer (kak). Jangan lagi menghancurkan hidup Chand,” saran Fabien dengan tangan yang masih mencengkeram kedua lengan Arsenio. “Lagi pula, kau sudah berjanji untuk mengajakku bicara tentang kecelakaanmu itu,” ujarnya mengingatkan.


Namun, Arsenio tak menjawab. Dia mengempaskan tangan Fabien dengan kasar, lalu meninggalkan adik kandungnya begitu saja menuju kamar.


Sementara Binar berjalan tak tentu arah. Gadis itu masih belum dapat menghapal dengan baik, tata letak rumah mewah yang menurutnya memiliki ukuran terlalu besar itu. Binar sempat berputar-putar melalui satu koridor yang sama hingga akhirnya berpapasan dengan Anggraini dan Winona yang baru saja keluar dari satu ruangan.


“Nirmala? Ya, ampun. Ke mana saja? Tante mencarimu dari tadi,” ujarnya sembari berjalan tergopoh-gopoh mendekati Binar.


“Ma-maaf, Tante. Saya tersesat,” jawab Binar dengan polos, membuat Winona hampir saja tertawa. Namun, segera saja dia tahan supaya tidak menyinggung perasaan.


“Wajar, Mal. Rumah tante ini memang tidak normal ukurannya. Aku dulu juga sempat tersesat lho,” timpal Winona ramah.


Binar menanggapinya dengan tawa kecil. Terbersit perasaan bersalah pada tunangan Arsenio tersebut. Dalam hati, dia meyakinkan diri agar tidak lagi mau didekati oleh pria itu.


“Ya, sudah. Kalau begitu, Tante tinggal dulu, ya. Kalau mau ke kantor, kamu minta diantar oleh Arsen saja. Tante lihat tadi dia masih berolahraga di belakang,” tutur Anggraini sembari menempelkan pipinya pada Winona.


Tiba-tiba saja Binar merasa amat menyesal karena telah menerima pekerjaan dari Anggraini dan bahkan pindah ke rumahnya. Dia merasa sebagai seseorang yang berusaha merebut kebahagiaan wanita yang terlihat begitu baik dan lembut itu.


“Mal.” Panggilan Anggraini membuyarkan segala angan gadis cantik itu. Binar segera menoleh pada ibunda Arsenio, lalu memaksakan tersenyum.


“Iya, Tante?” jawabnya sambil memperlihatkan sikap yang sebiasa mungkin terlihat normal. Sebisa mungkin Binar menyembunyikan segala gundah yang tengah memenuhi hatinya.


“Tante sudah membuat draft dan garis besar jadwal kegiatan. Kurang lebih, ini yang akan kita lakukan selama sebulan ke depan. Untuk bulan berikutnya, kamu pasti sudah bisa mempelajari dan membuat jadwal terbaru. Pelan-pelan saja, pahami dulu tugasmu sebagai seorang asisten yang harus mengatur dan menyesuaikan jadwal. Tugas kamu adalah jangan sampai kegiatan satu dengan yang lain tidak saling berbenturan,” terang Aggraini panjang lebar. Dia juga memberikan map berisi beberapa lembar kertas pada Binar, yang langsung dibaca oleh gadis itu.

__ADS_1


Sebagai seorang yang cerdas, tentu Binar dapat memahami penjelasan Anggraini dengan baik. “Saya akan berusaha sebaik mungkin, Tante,” ucapnya yakin sambil tetap serius membaca lembaran kertas tadi.


“Baguslah.” Anggraini menepuk lembut punggung tangan Binar yang memegang tepian map. “Sekarang tujuan pertama kita hari ini adalah mengunjungi kantor yayasan,” lanjut Anggraini. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda tersebut tampak begitu bersemangat hari itu. Dia banyak bercerita pada Binar hingga mereka tiba di sebuah gedung beberapa lantai.


“Ini gedung yayasan milik keluarga Rainier. Tempat ini sudah mencetak banyak siswa dan mahasiswa berprestasi. Mulai dari pendanaan hingga beasiswa penuh, diberikan kepada anak-anak cerdas dan berpotensi. Banyak dari mereka yang tersebar ke luar negeri,” tutur Anggraini penuh semangat.


Mata indah Binar membulat mendengarkan hal itu. Dari dulu, pendidikan yang tinggi selalu menjadi cita-citanya. Sayang, nasib baik tak berpihak kepada gadis malang tersebut sehingga Binar hanya mampu menyelesaikan sekolah sampai bangku SMA.


“Apakah ada batasan usia untuk bisa mendapatkan beasiswa itu, Tante?” tanya Binar hati-hati seraya membantu Anggraini turun dari mobil.


Hal kecil tersebut nyatanya mampu menarik perhatian Anggraini. “Terima kasih, Nirmala,” ucapnya tulus. “Tentu saja ada batasan usia untuk penerima beasiswa." Dia menerangkan sambil mengarahkan Binar untuk masuk ke gedung utama. “Yayasan mengutamakan anak-anak usia sekolah SMA dan perguruan tinggi. Namun, jika kamu mempunyai kenalan yang membutuhkan bantuan, sebutkan saja. Kami akan siap mewawancarai dan menilai apakah siswa tersebut berhak mendapatkan bantuan.”


“Sebenarnya ….” Binar merasa ragu. Ingin sekali dirinya mengatakan bahwa dia hendak mengajukan dirinya sendiri. Cukup lama Binar menimbang-nimbang sampai kalimatnya benar-benar terjeda, ketika Anggraini mengajak dia masuk ke sebuah ruangan luas di mana terdapat banyak anak usia sekolah di sana.


“Nah, ini calon-calon penerima beasiswa kita, Mal. Mereka akan dikirim ke berbagai sekolah berkualitas bagus di Jakarta. Ada pula yang akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi di luar negeri,” jelas Anggraini. Tampak jelas dirinya menikmati saat dikerubungi oleh banyak anak-anak yang berebut menyalaminya. Sampai terdapat beberapa orang staf yang berteriak untuk menertibkan anak-anak tersebut.


Di tengah hiruk-pikuk, Binar melihat sosok bocah yang mengingatkannya pada Praya, sang adik. Tak kuasa menahan rasa rindu yang bergolak, air matanya menetes saat itu juga. Tak dipedulikannya Anggraini yang kebingungan melihat sikap gadis itu, sembari terus menyalami satu per satu anak-anak yang berebut mendekat padanya.


.


.


.

__ADS_1


Uh, syedih.. Baca ini dulu deh, biar terhibur. Ya, yaa.. 😍



__ADS_2