Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Price To Pay


__ADS_3

Arsenio tak sedikit pun melepaskan pandangannya dari sosok Binar. Dia merasa tak percaya bahwa gadis jelita itu sudah menjadi istrinya, seseorang yang diharapkan akan menjadi pendamping dia seumur hidup. Masih terngiang di telinga pria rupawan itu, kalimat Hans yang benar-benar menggetarkan jiwanya.


Dengan ini kunyatakan kalian sah menjadi suami istri.


Arsenio menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Saat itu, dia terlalu bahagia hingga dadanya terasa akan meledak.


“Om Hans mengundang kita makan-makan di rumahnya,” bisik Binar yang seketika membuyarkan lamunan pria itu.


“Oh ya?” Arsenio yang sedari tadi menggenggam jemari Binar, langsung saja mengecup punggung tangan istrinya berkali-kali.


“Tadi aku melihat tante Hilda memasak banyak sekali,” bisik Binar lagi.


“Mungkin ini sebuah pertanda. Entah kenapa sejak kemarin istriku membuat berbagai macam masakan dan kue,” sahut Hans yang berdiri tak jauh dari Binar. Sebelumnya dia tengah berbincang seru dengan Rudolf. Sementara Wisnu dan Praya asyik meminjam ponsel Binar. Kedua anak itu berfoto di depan gereja.


“Rasanya sungguh tidak sopan kalau kita menolak kemurahan hati om Hans,” ujar Arsenio seraya tersenyum lebar.


“Syukurlah. Dengan begitu, masakan istriku tidak akan terbuang percuma. Kalian pasti akan terkejut dengan kepiawaiannya dalam hal mengolah bahan makanan,” ujar Hans bangga.


Memang benar, baik pasangan pengantin baru maupun Wisnu dan Praya, mereka semua tak sempat makan siang akibat ide dadakan dari Arsenio. Bagi dirinya yang jarang makan, tentu hal itu tak masalah. Berbeda halnya dengan Wisnu dan Praya. Mereka kini mulai merasakan perut yang keroncongan.


Sambil meringis, kedua bocah itu menghampiri Binar yang masih berdiri di depan altar sambil mengobrol bersama para pria. “Mbok.” Praya menarik bagian samping gaun putih Binar, setelah sebelumnya menyerahkan ponsel milik sang kakak. Gadis itu langsung mendekatkan telinga ke arah Praya yang hendak berbisik tentang sesuatu. “Aku lapar,” ujarnya teramat lirih.


Binar pun tersenyum dan mengangguk sambil memperhatikan Wisnu yang juga membuat bahasa isyarat yang sama. “Sebentar lagi,” balasnya dengan sedikit menggerakkan bibir


Akan tetapi, Hans sudah dapat melihat gelagat kedua bocah itu. “Ya sudah kalau begitu. Ayo, kita ke rumah saja. Apalagi sekarang sudah menjelang sore. Pasti kalian semua belum ada yang makan siang,” ajak pria yang berprofesi sebagai pendeta tadi. Dia mengarahkan semua orang menuju ke rumahnya yang terletak di belakang gereja.


Semua yang ada di dalam gereja segera mengikuti langkah Hans dengan ceria, terutama Wisnu dan Praya. Sementara Arsenio memilih untuk berjalan paling belakang bersama Binar. “Apa Wisnu tadi sudah mendokumentasikan acara pernikahan kita?” tanya Arsenio memastikan.


“Sudah. Mereka tadi mengambil gambar dan merekam video dengan memakai ponselmu, juga ponselku,” jawab Binar dengan wajah tersipu, karena Arsenio terus memandanginya secara intens. “Kenapa kamu terus melihatku seperti itu?” protes gadis yang baru saja melepas masa lajangnya.

__ADS_1


“Aku masih merasa tidak percaya … kamu dan aku ….” Arsenio menghentikan langkah, lalu menghadap kepada Binar. “Istriku,” desahnya lembut seraya mengecup bibir Binar yang masih berpoleskan lipstik.


“Kita belum sempat foto berdua,” ujar Binar, sesaat setelah kekasih yang sudah menjadi suaminya itu melepaskan tautan.


“Oh iya. Hampir lupa.” Arsenio tertawa, lalu merogoh ponsel mahalnya. Dia berdiri di belakang Binar, kemudian mengambil beberapa foto dengan berbagai gaya. Foto terakhir sengaja dia ambil saat mencium bibir istrinya.


“Ternyata benar-benar beda rasanya,” celetuk Arsenio kemudian.


“Apanya?” Binar menautkan alis tanda tak mengerti.


“Rasanya berbeda antara mencium pacar dengan istri,” jawab Arsenio.


“Memang bedanya di mana?” Binar tertawa renyah sambil menggeleng pelan.


“Mencium istri terasa jauh lebih nikmat,” sahut Arsenio masih sambil menggenggam ponsel, dengan kedua tangan yang merengkuh pinggang ramping Binar dan merekatkan tubuhnya. Dia kembali mencium dan ******* bibir gadis muda itu dengan jauh lebih hangat dan dalam. Binar memejamkan mata sambil mengalungkan tangan di leher sang suami demi meresapi setiap sentuhannya.


“Astaga!” Wisnu dan Praya berseru secara bersamaan. Tangan Wisnu terulur ke wajah Praya untuk menutupi kedua mata adiknya. Praya sendiri juga meletakkan tangan di depan mata Wisnu.


Arsenio dan Binar hanya bisa tertawa melihat tingkah kocak adik-adiknya.


“Sudah belum, Mbok? Mister?” tanya Wisnu yang masih tetap pada posisinya. Begitu juga dengan Praya.


“Kenapa kalian masih memanggilku dengan sebutan 'mister'?” Arsenio merasa keberatan dengan sebutan itu.


“Ya, Mister kan termasuk bule muda. Kalau tua, kami panggil om seperti om Rudolf,” jawab Wisnu.


“Sekarang tidak boleh. Berhubung aku sudah menikah dengan kakak kalian, maka kalian berdua juga harus memanggilku ‘kakak’,” protes Arsenio seraya mengangkat telunjuknya.


“Iya, Kak. Sekarang Kakak Mister dan mbok Binar harus ikut ke rumah opa Hans. Kami sudah kelaparan menunggu kalian,” sela Praya.

__ADS_1


“Ya ampun!' Arsenio menepuk keningnya. Sedangkan Binar hanya tertawa geli menyaksikan itu semua. Kebahagiaannya semakin bertambah akibat ulah lucu adik-adiknya.


Mereka pun mengikuti langkah riang Wisnu dan Praya menuju rumah Hans yang terletak tepat di belakang gereja. Rumah itu memiliki cat yang sama dengan gereja tadi, dan juga memiliki teras yang luas.


Hilda, istri Hans ternyata menghidangkan berbagai macam masakan lezatnya di meja teras yang berukuran besar serta berbentuk bulat. Wisnu dan Praya sudah lebih dulu mengambil tempat duduk di sisi kiri dan kanan Rudolf. Arsenio pun memilih untuk duduk di samping Hans. Sedangkan tangannya masih terus menggenggam jemari Binar.


“Ayo, makan yang banyak. Kalian tidak boleh pulang dari sini, sebelum semua hidangan yang kusiapkan habis,” ujar Hilda penuh semangat. Wanita paruh baya yang selalu tampak ceria dan hangat itu berusia hampir sama dengan Anggraini. Dia adalah wanita asli Belanda. Demikian pula dengan Hans, sang suami. Namun, mereka sudah tinggal di Bali puluhan tahun lamanya.


Binar juga tampak sudah akrab dengan Hilda, walaupun baru berkenalan dalam hitungan jam. Mereka berbincang seru tentang banyak hal. Tak pernah Arsenio melihat wajah Binar yang tampak sangat bahagia seperti saat itu.


Pria rupawan tersebut menyugar rambut coklatnya. Dia begitu menikmati momen indah yang tengah berlangsung, di mana segalanya terasa begitu sempurna meski tanpa kedua orang tuanya.


“Ah.” Tanpa sadar, de•sahan napas pelan lolos dari bibirnya. Arsenio kembali merasakan awan hitam menggantung di dalam benaknya, saat teringat akan kemarahan dari Anggraini dan juga Lievin. Akan tetapi, melihat kehangatan dan keceriaan semua orang di meja makan tadi, membuat Arsenio ingin membaginya bersama sang ibu. Dia berharap agar Anggraini pun ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakannya hari itu.


Dengan tekad yang sudah benar-benar bulat, dia meminta tolong pada Rudolf untuk memotret kebersamaan indah tersebut. Arsenio menyodorkan ponselnya pada pria asal Jerman itu. Rudolf pun berdiri dan mengambil beberapa foto dari sudut yang berbeda, kemudian mengembalikan ponsel yang dia pakai tadi kepada Arsenio.


“Danke schön (terima kasih banyak),” ucapnya pada Rudolf.


“Freut mich (dengan senang hati),” balas pria itu seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada, lalu duduk kembali di antara Wisnu dan Praya.


Di saat semuanya tengah mengobrol seru, Arsenio memilih untuk memperhatikan tiap foto hasil jepretan Rudolf. Setelah mempertimbangkan segalanya dalam hati, dia memutuskan untuk mengirimkan foto-foto itu kepada sang mama sembari menuliskan sedikit kata-kata.


'Hai, ma. Aku menikah dengan Binar hari ini. Om Hans yang menikahkan kami berdua. Kuharap mama merestui dan bisa memberikan doa terbaik bagiku dan juga menantumu. Aku menyayangi mama dan papa sampai kapanpun'.


Jantung Arsenio berdebar saat seluruh foto itu terkirim. Tanpa menunggu lama, Anggraini terlihat membuka semua pesan dengan status yang sudah tersampaikan. Pria yang baru saja melepas masa lajangnya itu berdebar menunggu balasan sang ibu.


Satu, dua ... sepuluh, bahkan hingga lima menit berlalu, tak ada balasan apapun dari Anggraini. Foto profil wanita itu pun bahkan kini tak tampak lagi. Arsenio mencoba mengirim satu pesan, tapi hanya satu tanda centang yang muncul di sana.


Pria tampan bermata cokelat terang itu mengempaskan napas dalam-dalam, demi menahan segala gejolak di dalam dada. Dia harus sadar dan mulai belajar untuk mawas diri. Inikah harga yang harus dirinya bayar demi sebuah kebebasan berlandaskan cinta? Di satu sisi, sebuah kebahagiaan besar hadir dalam hidupnya. Akan tetapi, di sisi lain Arsenio seketika kehilangan kebahagiaan lain, yaitu orang tua.

__ADS_1


__ADS_2