Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Senyuman Winona


__ADS_3

Dwiki bergegas keluar dari dalam rumah, ketika dirinya melihat kedatangan Winona di sana. Wanita muda tersebut baru keluar dari dalam mobil mewah yang selalu dia kemudikan sendiri. Mantan tunangan Arsenio tersebut lalu berdiri sejenak sambil menaikkan kacamata hitam yang tadi dirinya kenakan, saat melihat sosok pria dengan tampilan santai datang menyambutnya.


Ya, saat itu Dwiki hanya mengenakan t-shirt round neck lengan pendek berwarna merah hati, yang dipadukan celana cargo pendek cokelat muda. Sebagai alas kaki, Dwiki lebih menyukai sandal jepit bermerk jadul yang masih bertahan dan menjadi favorit hingga saat ini. "Syukurlah kamu tidak tersesat," ujarnya saat sudah berdiri di hadapan Winona.


"Mana mungkin tersesat. Kamu memberikan alamat yang sangat jelas," balas wanita muda itu seraya tersenyum. Dia lalu melihat sekeliling, kemudian mengamati tempat tinggal milik Dwiki.


"Seharusnya aku mencicil ini selama lima belas tahun. Namun, karena waktu itu kebetulan mempunyai bos yang sangat baik, jadi aku bisa melunasi lebih cepat. Beginilah, hanya rumah sederhana," ujarnya tanpa menunggu komentar dari Winona.


"Tidak apa-apa," sahut wanita cantik berambut panjang itu. Dia lalu menoleh kepada Dwiki sambil melepas kacamatanya dari atas rambut. "Jadi, kamu tidak akan mengizinkanku untuk masuk atau memang harus melapor dulu kepada pak RT?" tanya Winona yang sudah pegal berdiri, padahal belumlah terlalu lama.


"Oh iya. Mari," ajak Dwiki. Dia mengarahkan tangannya ke bagian dalam rumah. Setelah menaiki sekitar lima buah undakan anak tangga pada bagian samping, keduanya pun tiba di teras. Mereka lalu memasuki rumah dengan pintu yang dibiarkan terbuka.


"Silakan duduk." Dwiki mengarahkan tangannya pada sofa, yang tentu saja tak semewah seperti di dalam rumah Winona. "Maaf karena di sini memang selalu berantakan. Maklumlah namanya juga bujangan," ujar lajang berusia dua puluh tujuh tahun tersebut.


"Jangan khawatir. Aku bukan ingin menyurvei rumahmu," sahut Winona santai. Wanita muda itu pun kemudian duduk. Dia kembali menyapukan pandangan pada setiap sudut ruang tamu sederhana yang langsung menghadap ruangan lainnya. Di sana ada sebuah karpet rasfur berwarna biru langit. Benda itu sengaja diletakkan di depan televisi layar datar 32 inch. Tampak pula sebuah play station terbaru, lengkap dengan stik dan beberapa kaset pada tempat khusus.


Winona tersenyum kecil. Rumah itu memang menunjukkan sisi seorang bujangan. Tak ada apapun di sana yang menandakan adanya sentuhan khas seorang wanita. "Kamu bisa bermain gitar?" tanya putri dari Biantara tersebut, saat Dwiki telah kembali dengan membawa dua gelas minuman dingin rasa jeruk. Itu juga dia beli secara mendadak dari toko yang berada tak jauh dari rumahnya. Dwiki tak yakin jika Winona mengkonsumsi minuman sejenis soft drink, yang selalu tersedia di dalam lemari es.


"Ya, kadang-kadang. Waktu SMA dan kuliah dulu, aku pernah menjadi anggota band. Lumayanlah, bisa jadi senjata untuk menggaet para gadis," ujarnya berkelakar. Winona pun tertawa renyah saat mendengar hal itu. "Ayo, minum dulu. Ini namanya sirup berani," tunjuk Dwiki pada dua buah gelas berisi minuman rasa jeruk tadi.


"Kenapa memangnya?" tanya Winona tak mengerti.


"Karena berani muncul tanpa ditemani camilan," sahut Dwiki lagi sambil menggaruk tengkuk kepalanya.


"Astaga," ucap Winona yang kembali dibuat tertawa oleh celetukan-celetukan tidak penting lajang dengan rambut yang mulai gondrong tersebut. "Entah kenapa, saat dekat denganmu aku jadi banyak tertawa," ujar Winona lagi menutupi mulut dengan punggung tangan.

__ADS_1


"Tertawa saja, Non. Sebelum dilarang," balas Dwiki.


"Memangnya siapa yang akan melarang kita tertawa?" Winona tampak mengernyitkan kening.


"Orang yang sedang sakit gigi," celetuk Dwiki lagi dengan enteng. "Mereka yang sedang sakit gigi, paling benci jika melihat orang di dekatnya bahagia," lanjut pria itu. "Aku jadi ingat saat-saat masih SMA dulu," kenang Dwiki.


"Kamu pasti punya banyak pacar saat sekolah dulu," ujar Winona menanggapi.


"Ah, tidak juga. Aku punya banyak teman. Dalam satu geng berjumlah sekitar sepuluh orang. Kebetulan waktu itu kami hendak menjenguk salah satu teman yang sakit. Menurut orang tuanya, dia mengidap penyakit yang cukup parah," tutur Dwiki yang tiba-tiba memasang raut serius.


"Lalu?" Winona yang melihat perubahan pada sikap Dwiki, menjadi tampak serius pula saat menanggapinya.


"Kami semua mendoakannya agar lekas sembuh. Namun, salah satu di antara sahabatku ada yang berkomentar ...." Dwiki menjeda kata-katanya, membuat Winona terlihat penasaran. "Dia mengatakan bahwa tetangganya pun yang memiliki penyakit seperti itu tidak bisa bertahan lama dan akhirnya meninggal. Setelah itu, ibu dari temanku yang sedang sakit mengusir kami semua agar segera pergi dari sana." Dwiki mengakhiri ceritanya yang benar-benar tidak penting.


Sementara Winona segera menunduk. Dia kembali menutupi mulut karena menahan tawa. Namun, itu tak berhasil. Tawanya pun meledak saat membayangkan apa yang tadi Dwiki ceritakan. Winona bahkan tak berhenti tertawa hingga beberapa saat.


"Setahuku, jika seorang wanita tertawa secara berlebihan untuk sesuatu yang tidak terlalu lucu, maka dia sedang menyembunyikan sebuah masalah dalam dirinya. Kamu melakukan hal itu sejak semalam," terang Dwiki dengan sikap yang kini terlihat jauh lebih kalem, dan sangat berbeda dari kekonyolan yang tadi dia tunjukkan.


"Kamu memperhatikanku dengan sedetail itu?" Winona merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya.


"Aku terbiasa melakukan hal demikian kepada setiap lawan bicaraku. Dengan begitu, aku bisa menyesuaikan diri, karena tidak semua orang senang dengan candaan atau sebaliknya. Ada juga orang-orang yang tak ingin membahas sesuatu yang terlalu serius. Namun, tak sedikit pula yang berpura-pura tenang serta bahagia hanya untuk ...." Dwiki tak melanjutkan kata-katanya, ketika terdengar suara khas dari pedagang keliling.


"Kamu mau?" tawarnya.


"Apa?" tanya Winona.

__ADS_1


"Siomay itu harganya sangat murah, tapi cita rasa dari bumbunya tak kalah dengan yang dijual di dalam mall ternama. Kamu harus mencobanya." Tanpa menunggu jawaban dari Winona, Dwiki segera beranjak dari kursi. Dia bergegas menuju ke luar, lalu memanggil pedagang siomay dengan gerobak dorong yang kebetulan lewat di depan rumah. Setelah itu, Dwiki kembali masuk untuk mengambil dua buah piring. Dia juga mengajak Winona, untuk memilih langsung apa saja yang ingin wanita muda itu masukkan.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua kembali masuk. Sesuatu yang tak biasa terjadi pada mantan tunangan Arsenio tersebut. Segala keangkuhan serta sikap dinginnya yang kaku, seketika memudar dengan mudah saat berada di dekat Dwiki si pecinta sandal jepit.


Karakter Winona yang membosankan seperti penuturan Arsenio kepada Dwiki beberapa waktu lalu, tak terlihat sama sekali. Sebuah tanda tanya besar muncul dalam hati lajang dua puluh tujuh tahun tersebut. Arsenio ternyata tak mengenali Winona dengan baik, atau memang pria itu tak berniat mengenalnya karena tak pernah ada ketertarikan. Hal tersebut membuat Dwiki merasa penasaran, untuk dapat mengenal sosok Winona dengan lebih jauh.


"Jadi, selama ini kamu kerja di mana?" tanya Winona sesaat setelah menyudahi acara makan siomay murah-meriah tadi.


"Aku belum mempunyai pekerjaan tetap. Awalnya, aku bekerja sebagai ajudan kepercayaan dari seseorang yang sangat baik dan bisa dikatakan dia berjasa besar dalam hidupku," tutur Dwiki sambil membasuh piring kotor bekas makan tadi. Sedangkan Winona hanya memperhatikan, karena dia tak terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga.


"Berjasa besar?" ulang Winona.


"Ya. Dia telah membiayai seluruh pengobatan ayahku yang terkena gagal ginjal. Aku sangat menghargai hal itu, meski pada akhirnya beliau tetap harus mengalah dan ...." Dwiki tersenyum kelu.


Sedangkan Winona terdiam sejenak mendengar hal itu. "Aku turut berduka," ucapnya pelan.


"Terima kasih, tapi itu sudah berlalu beberapa tahun yang lalu," balas Dwiki. Dia kembali memasang wajah hangat di hadapan Winona yang sudah terlihat murung dan serius. Dwiki juga telah menyelesaikan pekerjaannya.


"Lalu, sekarang apa rencanamu? Maksudku ... tentang pekerjaan," tanya Winona. Tatap matanya mengikuti setiap gerak Dwiki yang terlihat sudah biasa melakukan pekerjaan rumah tangga.


"Aku belum tahu. Sebenarnya untuk sekadar makan dan membeli rokok, aku biasa membantu seorang teman di bengkel. Namun, itu tidak bisa dijadikan sebagai pekerjaan utama, kecuali jika bengkel itu milikku sendiri." Dwiki tersenyum kalem.


"Bagaimana jika kutawari kamu pekerjaan?"


"Di mana?"

__ADS_1


"Menjadi sopir pribadiku," jawab Winona.


__ADS_2