Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Antara Dua Sepupu


__ADS_3

Ajisaka patut merasa bangga pada diri sendiri. Pasalnya, dalam sehari ini dia sudah berhasil membobol dua komputer server dari dua perusahaan besar. Ajisaka bahkan berhasil melacak komputer-komputer client yang terbaca di dalamnya.


Senyuman pria dengan rambut cepak itu semakin lebar, ketika dia berhasil memindahkan semua file-file penting dan rahasia yang tertulis atas nama Haris Maulana. Tak sabar rasanya Ajisaka menunjukkan semua temuan tadi kepada sang bos.


Dengan tergesa-gesa, dia mencabut kabel data yang tersambung pada komputer server, lalu memasukkan laptopnya. Hati-hati, pria itu membuka pintu ruangan pusat jaringan sambil menyapu pandangan ke sekeliling. Dirasa aman, Ajisaka pun bergegas keluar dari sana dan langsung menuju area parkir, di mana motor pinjamannya sudah menunggu.


Beberapa saat kemudian, Ajisaka tiba di kediaman Rainier saat petang menjelang. Sebelum bertemu dengan Arsenio, dia lebih dulu menghubungi Dwiki sang sepupu untuk mengajaknya bertemu. Sayang, hingga beberapa kali panggilan, Dwiki tak juga menjawab panggilan telepon tersebut.


Tak putus asa, Ajisaka kembali berusaha menelepon Dwiki. Barulah pada panggilan terakhir, saudara sepupunya itu dapat menjawab. “Astaga. Lama sekali, Ki. Dari mana saja?” gerutu Ajisaka.


"Maaf, Ji. Aku baru selesai mandi," jawab Dwiki dengan enteng. "Ada apa memangnya?" tanya Dwiki sambil mengeringkan rambut dengan handuk, kemudian menggantungkan benda itu setelah selesai memakainya.


"Ya ampun. Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kamu sama sekali tidak rindu padaku?" ujar Ajisaka seraya berdecak pelan.


"Cih! Perempuan tulen masih banyak yang lebih pantas aku rindukan," cibir Dwiki tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Sialan!" dengus Ajisaka. "Ya sudahlah. Aku mau kita bertemu malam ini. Aku ke rumah kamu, ya."


"Boleh. Kamu masih menyimpan kunci serepnya, 'kan? Aku mau makan dulu," sahut Dwiki seraya mengakhiri panggilan dengan begitu saja. Dia bahkan tak memedulikan jawaban dari seberang sana.


"Sepupu sialan!" gerutu Ajisaka yang kesal karena sikap tak acuh Dwiki. Dia pun segera melanjutkan niat untuk menemui Arsenio.

__ADS_1


Beberapa saat telah berlalu. Dwiki sudah menyelesaikan santap malamnya. Sementara Winona belum tampak di rumah megah itu. Nona cantik tersebut sepertinya masih berada di kantor. Namun, Dwiki merasa tenang karena sudah meminta izin sebelumnya, bahwa dia tidak bisa menjemput ke kantor.


Dalam perjalanan dengan menggunakan motor kesayangannya, muncul seberkas ingatan tentang kejadian tadi pagi. Angannya melayang pada saat sebelum Dwiki menjemput kedua orang tua Winona ke bandara.


Pagi tadi, sepertinya menjadi hari yang sangat terburu-buru bagi seorang Winona. Wanita muda tersebut berjalan dengan cepat saat menuruni anak tangga, hingga tiba di ruang makan. Namun, meski begitu nyatanya dia tetap tak akan sempat untuk melakukan sarapan. Winona pun mengambil satu buah apel dari dalam keranjang buah di atas meja makan.


Akan tetapi, Winona justru malah tertegun sambil memandangi apel yang sedang dia genggam. Bagaimana tidak, buah berwarna merah tersebut telah mengingatkan dirinya akan kejadian semalam bersama Dwiki. Sesuatu yang membuat dia bangun kesiangan.


"Selamat pagi, Non," sapa Dwiki yang tiba-tiba ada di sana dan berhasil mengejutkan wanita berambut panjang itu. Semua lamunan Winona pun buyar seketika, saat dia menoleh dan beradu tatapan dengan sang sopir pribadi.


"Selamat pagi, Ki," balas putri dari Biantara Sasmita tersebut. Dia tersenyum manis, sebelum menggigit apel yang sejak tadi berada dalam genggamannya.


"Ya. Tolong antarkan aku ke kantor terlebih dulu, setelah itu pergilah ke bandara untuk menjemput mama dan papa. Mereka mengirimkan pesan semalam dan mengatakan bahwa akan pulang hari ini. Tidak sesuai jadwal." Winona tertawa pelan, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Dwiki yang segera mengikutinya.


Setibanya di depan teras, mobil milik Winona telah siap menunggu. Dwiki pun berjalan mendahului sang nona untuk membukakan pintu bagi wanita cantik tersebut. Namun, sebelum si pemilik postur 170 cm tadi masuk ke dalam kendaraan, Dwiki lebih dulu menahannya. "Maaf," ucap sopir tampan tersebut sambil terus memegangi pintu mobil.


"Untuk apa?" tanya Winona tak mengerti.


"Untuk yang kulakukan semalam," jawab Dwiki pelan. Entah apakah dia harus merasa menyesal, atau justru sebaliknya. Satu hal yang pasti, dia akhirnya mengetahui bahwa Winona begitu manis. Lebih dari sekadar sebuah apel merah.


"Tak apa. Lagi pula, aku menyukainya," ujar Winona tersenyum lembut. Sambil menyembunyikan rautnya yang kemerahan, wanita muda itu pun kemudian masuk dan duduk dengan anggun. Sikap yang ditunjukkan oleh Winona tadi, membuat Dwiki dapat bernapas dengan lega. Dia pun menutup pintu mobil dan segera duduk di belakang kemudi.

__ADS_1


Selama di dalam perjalanan, tak ada percakapan yang berarti antara sopir dengan sang nona. Keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing, hingga kendaraan mewah itu pun berhenti di depan gedung perusahaan milik Biantara.


"Jangan lupa ke bandara," pesan Winona setelah Dwiki membukakan pintu untuknya.


"Siap," sahut Dwiki memasang sikap hormat. "Ah satu lagi," ucap pria itu lagi, ketika Winona hendak berlalu dari hadapannya. Sang nona muda pun menoleh. "Setelah dari bandara, aku ingin meminta izin untuk pulang ke rumah. Ada sesuatu yang harus kulakukan di sana, dan mungkin sampai larut." Dwiki tersenyum kalem.


"Ya sudah," balas Winona membalas senyuman Dwiki dengan manis. Dia menatap pria berambut gondrong itu untuk sesaat. "Kapan kamu akan pergi ke tukang cukur?" tanya Winona sebelum akhirnya memutuskan untuk segera masuk ke dalam gedung puluhan lantai tadi. Dia meninggalkan Dwiki begitu saja tanpa menunggu jawaban dari sang sopir.


Sementara Dwiki hanya tersenyum. Pria itu terpaku beberapa saat sambil memandang sosok semampai tadi yang kini sudah tak terlihat lagi. Sepeninggal Winona, Dwiki segera kembali ke dalam mobil dan melajukannya menuju bandara. Beruntung, karena dia tidak membuat Biantara dan Yohana menunggu terlalu lama. Sepasang suami istri itu baru turun dari pesawat. Dwiki pun segera menyambut mereka berdua.


Namun, pandangan pria dua puluh tujuh tahun tersebut langsung tertuju pada sosok Yohana yang terlihat semakin ringkih, jika dibandingkan dengan saat pertama kali dia bertemu dengannya. "Selamat pagi, Pak. Selamat pagi, Bu," sapa Dwiki ramah. Seperti biasa, pria itu selalu terlihat hangat dan bersahabat.


"Selamat pagi, Ki. Mana Wini?" balas Biantara. Dia juga menanyakan keberadaan putri semata wayangnya yang tak ikut menjemput.


"Nona langsung ke kantor. Dia berangkat dengan terburu-buru tadi," jawab Dwiki dengan diiringi senyuman. "Bagaimana kabar Anda?" Pria itu mengalihkan perhatian kepada Yohana dengan wajah tirus dan tubuh kurus. Keadaan fisik ibunda Winona tersebut, telah mengusik kenangan menyedihkan Dwiki akan sosok mendiang ibu kandungnya dulu. Ibunda Dwiki pun menderita sakit parah, hingga kondisi fisiknya bagaikan tulang-belulang hidup berbungkus kulit keriput.


"Saya selalu berharap untuk bisa jauh lebih baik," jawab Yohana dengan senyumannya yang tampak lesu.


"Mama pasti segera membaik " ucap Biantara yang tak menyukai jawaban Yohana.


"Bapak benar. Apalagi Anda mendapat perawatan yang terbaik," timpal Dwiki. "Mari, saya bawakan barang-barang Anda." Tanpa menunggu persetujuan dari kedua majikannya, Dwiki segera meraih koper lalu beranjak keluar dari sana.

__ADS_1


__ADS_2