Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Pelayanan Istimewa


__ADS_3

Arsenio keluar dari rumah keluarga Winona pada pukul satu dini hari. Pikirannya makin berkecamuk. Hal itu membuat dia merasa gelisah. Bagi kebanyakan orang, menyambut hari pertunangan pastilah suatu hal yang teramat membahagiakan. Namun, tidak untuk seorang Arsenio. Hidupnya yang selama ini bebas dari segala aturan, harus berubah jika dia sudah resmi mengikat tali hubungan dengan Winona. Tinggal selangkah lagi, pertunangan itu akan meningkat menjadi sebuah pernikahan.


“Ah,” keluh Arsenio seraya meraup wajahnya kasar. Terbersit dalam pikiran pria dua puluh tujuh tahun tersebut, untuk menabrakkan mobil yang dia kendarai saat itu pada salah satu pohon besar yang tumbuh di pinggir jalan. Dalam benak Arsenio, jika dia celaka maka tentu saja acara pertunangan yang telah disusun rapi pun mau tak mau harus diundur atau bahkan dibatalkan. Akan tetapi, belum juga ide gilanya itu terlaksana, ponsel yang dia simpan pada tempat khusus yang tertempel di dashboard samping kemudi berbunyi. Di sana tertera nama sang ibu sebagai pemanggil. “Halo,” sapanya setelah menyentuh ikon hijau.


“Sen, apa kamu akan pulang ke rumah?” Terdengar suara merdu nan lembut milik Aggraini.


“Ma, tolonglah, aku bukan anak kecil lagi. Usiaku sudah dua puluh tujuh tahun. Aku akan pulang ke manapun yang kumau,” jawab Arsenio sedikit ketus, walaupun dia menyesalinya beberapa detik kemudian. “Maaf, Ma. Aku hanya lelah. Tak seharusnya aku melampiaskan hal itu kepada mama. Izinkan aku beristirahat di apartemen malam ini. Kita akan bertemu di ballroom besok sore. Aku akan berganti pakaian di sana,” lanjutnya dengan intonasi yang jauh lebih halus.


“Tidak apa-apa, Nak. Mama mengerti,” balas Anggraini dengan suara lesu. "Mama hanya mencemaskanmu, karena seharian ini kamu tidak memberi kabar." Setelah berkata demikian, Anggraini pun terdiam.


“Ma,” panggil Arsenio beberapa saat kemudian, sebelum benar-benar mengakhiri panggilannya. Dia merasa tak enak terhadap wanita yang telah melahirkannya.


“Ya, nak?” sahut Anggraini cepat. Sejujurnya dia berharap agar Arsenio pulang ke rumah, lalu berbincang dengannya dari hati ke hati sebelum acara besar besok.


“Apa mama sungguh-sungguh menyayangiku?” tanya Arsenio tiba-tiba.


“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja mama sangat menyayangimu, nak,” jawab Anggraini tegas.


“Kalau begitu, apakah mama peduli jika aku menjalani hidup dengan bahagia ataukah tidak? Apakah mama peduli, ketika aku memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis di usia yang masih sangat belia sebagai bentuk tanggung jawab sebagai anak tertua, ketika itulah aku menggadaikan kebahagiaan dan kebebasanku? Apakah mama tahu, jika aku harus tampil sempurna di depan awak media dengan senyum terkembang, tak peduli betapa hancurnya diriku saat itu?” cecar Arsenio lagi.


“Ada harga yang harus dibayar untuk semua, nak. Papamu dulu juga mengalami apa yang kamu rasakan,” tutur Anggraini, mencoba untuk bersikap bijak.


“Apakah papa juga dipaksa menikah dengan mama?” Arsenio seperti tak berniat berhenti dengan segala pertanyaannya.

__ADS_1


“Tidak, nak. Aku dan papamu … kami memang saling mencintai sejak awal, tapi tolong jangan bandingkan kondisi kami denganmu saat ini. Kamu ….”


“Terima kasih atas penjelasannya, ma. Sampai jumpa besok sore,” potong Arsenio begitu saja ketika sang ibu belum menyelesaikan kalimatnya.


“Kamu tidak berencana untuk lari, ‘kan?” tanya Anggraini was-was.


“Aku bukan pengecut, ma. Tenang saja, karena aku tidak akan lari,” tutup Arsenio seraya mengakhiri sambungan teleponnya. Dia kembali fokus pada jalanan lengang di depannya. Tekad pria dua puluh tujuh tahun itu sudah bulat untuk kembali ke apartemen. Setelah memarkirkan mobil di area parkir tempat tinggalnya tersebut, Arsenio buru-buru melangkah masuk ke dalam lift dan memencet tombol yang menunju ke lantai teratas. Di sanalah apartemen Arsenio berada, pada griya tawang gedung apartemen tersebut.


Sesampainya di depan pintu apartemen, Arsenio terdiam sejenak sebelum masuk. Angannya kembali pada Binar yang masih juga tak dia ketahui keberadaannya. Sesaat kemudian, Arsenio mengembuskan napas pendek, lalu masuk ke dalam ruangan luas nan mewah itu. Dia bergegas ke dalam kamar. Tanpa berganti baju, Arsenio mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang kemudian memejamkan mata.


Waktu berlalu tanpa terasa. Dini hari berganti dengan begitu cepat. Pagi pun merangkak dan dengan begitu cepatnya berlalu, sehingga petang pun akhirnya datang. Di sudut lain ibukota, seorang gadis muda terlihat begitu gelisah. Dia terus mondar-mandir di dalam kamar sambil berkali-kali menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Tadi siang, dia sudah melewati hari pertamanya sebagai seorang model dadakan. Beruntung, dirinya dapat menjalankan latihan dengan baik dan lancar.


Akan tetapi, bukan itu yang membuatnya merasa cemas. Seorang Chand Fawwaz Gunadya, yang telah membuatnya merasa tak karuan, karena memaksa gadis yang tak lain adalah Binar untuk bersedia berpura-pura menjadi kekasih semalam. Binar tak pernah berpacaran, sehingga dia tidak tahu apakah yang harus dia lakukan saat harus berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Sedangkan untuk menolak keinginan pria yang sudah berbuat banyak baginya, Binar seakan tak tega.


“Mal? Kenapa kamu belum bersiap-siap? Mana gaun yang mau kamu pilih?” tanya Chand sesaat setelah melangkah masuk ke apartemen milik adiknya. Dia sudah tampil rapi dengan kemeja putih dan blazer abu-abu. Chand terlihat sangat tampan petang itu. Binar bahkan sempat terpana dan mengagumi sosok indah di depan matanya untuk beberapa saat.


“Mal?” panggil Chand sambil menepukkan tangannya di depan wajah Binar yang masih terpaku.


“Kak, perutku mulas. Aku tidak tahu caranya berakting sebagai kekasih,” jawab Binar setelah kesadarannya kembali hadir.


“Astaga! Kenapa kamu harus berpikir sampai sejauh itu, Mal? Aku tidak akan memintamu untuk berbuat macam-macam. Cukup datang berdua denganku. Kamu bisa menggandeng tanganku dan tersenyum. Sudah itu saja,” jelas Chand sembari menahan tawa. Betapa dia sangat terhibur akan tingkah polos gadis itu.


“Jadi?” mata indah Binar membulat.

__ADS_1


“Jadi, tunggu apa lagi? Kita sudah terlambat. Sementara aku sudah membuat janji dengan salon langganan adikku untuk mendandanimu.” Chand segera menarik lengan Binar dan membawanya ke kamar. Di dalam kamar, dia membuka lemari lebar-lebar, lalu mengambil satu gaun dalam gantungan yang menurutnya paling baik dan cocok untuk Binar. “Ayo!” Chand kembali menarik tangan Binar dan mengajaknya keluar.


“Kak, tunggu! Hp-ku!” Binar melepaskan tangannya, kemudian meraih ponsel baru yang tergeletak begitu saja di atas meja.


“Tas ranselku bagaimana?” gadis itu teringat pada tas berisi sejumlah uang yang dia bawa dari Bali.


“Masukkan saja ke lemari, lalu kunci!” jawab Chand.


Tanpa membuang waktu, Binar segera melakukan apa yang Chand sarankan, lalu buru-buru mengikuti langkah pria rupawan itu menuju tempat parkir. Dengan kecepatan penuh, Chand melajukan mobilnya menuju sebuah salon mewah tak jauh dari komplek apartemen. Setelah berbasa-basi sebentar dengan pemilik salon, Chand berpamitan pada Binar. “Aku tinggal dulu ya, Mal. Aku harus kembali ke ballroom dan memastikan acaranya agar berjalan lancar. Kalau kamu sudah selesai, telepon saja. Aku akan segera menjemputmu,” pesannya seraya meninggalkan salon dengan tergesa.


Binar berdiri kikuk di tengah ruangan yang terlihat mewah dan berkilau itu, sambil memperhatikan Chand hingga menghilang dari pandangannya.


“Permisi, Kak. Bisa kita mulai?” Pemilik salon yang sempat berbincang dengan Chand tadi, menepuk bahu Binar pelan. Dia juga memanggil dua orang anak buahnya untuk mendekat.


“Ah. Eh. Iya bisa." Binar mengangguk gugup sambil menggenggam erat ponsel di dadanya. Dia pasrah ketika beberapa orang wanita muda mengarahkannya ke sebuah kursi empuk dan menyuruh dirinya untuk duduk di sana. Wanita-wanita muda tadi mengelilinginya. Ada yang memegang rambut Binar, ada pula yang menyentuh kuku jari kaki. Binar yang tak tahu harus berbuat apa, hanya diam dan mencoba menikmati pelayanan istimewa tersebut.


.


.


.


Sambil menunggu mbok Binar nyalon, baca cerita keren yang satu ini, yuk.

__ADS_1



__ADS_2