
"Ayo turun," ajak Dwiki sambil melepas sabuk pengaman. Dia keluar terlebih dulu. Barulah Winona mengikuti. Namun, mantan tunangan Arsenio tersebut tak segera mendekat. Dia berdiri sejenak di dekat kendaraannya, sambil memperhatikan Dwiki yang tengah bertegur sapa dengan teman-temannya. Winona baru berjalan mendekat, ketika Dwiki memberi isyarat. Namun, tentu saja dia tak terbiasa dengan tempat seperti itu.
Adalah sebuah arena bermain skateboard. Kebetulan, sore itu suasananya tidak terlalu ramai. Di sana hanya ada teman-teman dekat Dwiki yang sebagian besar merupakan pria-pria bertato dan juga menggunakan tindik. Namun, ada juga beberapa gadis yang terlihat sedang berlatih.
"Siapa ini, Ki?" tanya salah seorang teman Dwiki. Adalah pria dengan usia sama, tapi terlihat menakutkan karena memiliki banyak tindik dan juga tato di tubuhnya.
"Ini Winona. Dia ...." Dwiki menjeda kata-katanya, kemudian melirik wanita cantik yang juga tengah menoleh ke arahnya. Tampak raut tak nyaman yang ditunjukkan wanita muda tersebut. "Dia adalah tuan putri," lanjut Dwiki diiringi tawa pelan. Sementara Winona hanya membalasnya dengan sebuah cubitan di pinggang.
Dengan melihat bahasa tubuh dari mereka berdua saja, teman-teman Dwiki yang lain sudah dapat memahami. Mereka pun tak banyak bertanya lagi.
"Pantas saja elu jarang datang ke sini, Ki," ujar salah seorang yang lain ikut berkomentar.
"Gue sibuk," jawab Dwiki dengan enteng. Dia lalu mengajak Winona untuk duduk di atas sebuah bangku yang berada dekat pohon rindang. Bangku itu berada tak jauh dari arena bermain skateboard.
"Aku biasa menghabiskan waktu di sini saat sedang suntuk," ujar Dwiki setelah duduk di sebelah Winona.
"Mereka teman-temanmu, Ki?" tanya wanita muda itu terdengar ragu.
"Ya. Jangan melihat dari penampilannya yang menyeramkan. Itu hanya merupakan sebuah ekspresi dari kebebasan yang ingin mereka tunjukkan. Pada kenyataannya, mereka memiliki hati begitu tulus dan merupakan sahabat yang baik." Dwiki tersenyum samar sambil memperhatikan mereka yang tengah asyik memainkan papan beroda di arena lintasan.
"Aku bermain dulu sebentar ya," pamitnya seakan meminta izin. Namun, belum sempat Winona menjawab, Dwiki sudah terlebih dulu berlari ke arah teman-temannya berada.
Sementara Winona hanya duduk memperhatikan dari tempat duduknya.
Dari sana, wanita muda itu menyaksikan kehebatan Dwiki dalam bermain skateboard. Ada rasa kagum dalam diri mantan tunangan Arsenio tersebut. Sebuah senyuman pun terlukis indah di sudut bibirnya yang sensual.
Sesaat kemudian, Dwiki melambaikan tangan. Dia mengajak Winona untuk ikut bermain. Namun, dengan segera wanita berambut panjang itu menggeleng. Akan tetapi, Dwiki tetap memaksa. Dia bahkan kembali menghampiri Winona dan menarik tangannya agar bersedia untuk ikut ke arena. Dwiki memaksa wanita dengan celana kulot dan kemeja ketat tersebut, meskipun Winona bersikeras menolak. Wanita muda itu bahkan sampai harus melepas stiletto yang dia kenakan.
Winona mencoba apa yang Dwiki contohkan. Namun, untuk berdiri tegak di atas papan skateboard saja dia kesulitan. Tak jarang hal itu membuatnya tertawa lepas. Seketika, terlupalah dirinya akan segala kesedihan yang tadi sempat mendera.
__ADS_1
Winona tampak begitu lepas. Tak ada lagi kesan ingin membalas dendam yang tampak dari paras cantiknya. Saat itu, hanya ada keceriaan dan juga tawa bahagia. Kehadiran sosok Dwiki dalam hidupnya mungkin sedikit terlambat, tapi tak akan pernah wanita itu sesali.
Sementara itu di kediaman Rainier, Binar mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan sumringah. Dipandanginya foto USG berwarna hitam putih itu sambil tersenyum. Terngiang-ngiang di telinga wanita muda itu, penjelasan sang dokter kandungan yang mengatakan bahwa janin dalam rahimnya sudah berusia delapan minggu.
“Ingat, Binar. Kali ini, kamu tidak boleh lupa meminum obat penguat kandungan dan vitamin untuk janin. Jangan lagi ada kejadian menyakitkan seperti kehamilan pertamamu dulu,” tegur Arsenio mengingatkan.
“Siap, Bos!” Binar mengambil sikap hormat sambil tetap berbaring telentang. Sikapnya yang lucu dan menggemaskan, tentu saja membangkitkan hasrat dalam diri Arsenio. Namun, seketika pria itu teringat kata dokter Dipta yang mengatakan bahwa jangan terlalu sering melakukan hubungan suami istri, karena usia kandungan Binar yang masih teramat muda.
“Hhh,” desah Arsenio yang sengaja mengeraskan suara sambil mengacak-acak rambut coklatnya. Dia melepas kemeja dan bermaksud untuk masuk ke dalam kamar mandi.
“Kamu kenapa, Rain?” tanya Binar keheranan saat Arsenio sudah berada di ambang pintu.
“Badanku terasa panas, Sayang. Siapa tahu berendam bisa menurunkan suhu tubuh,” jawab Arsenio asal.
“Kamu sakit?” Binar segera melompat turun dari ranjang, lalu menempelkan punggung tangan ke dahi suaminya. Setelah itu, dia membandingkan dengan suhu tubuhnya sendiri. “Biasa saja,” gumam menantu pertama dari keluarga Rainier tersebut dengan raut heran.
“Ah, sudahlah. Kamu tidak akan mengerti,” ujar Arsenio seraya mencium bibir sang istri dengan gemas. Hampir saja dia keterusan jika saja tidak terdengar ketukan pelan dari arah pintu kamar. “Astaga,” keluh pria tampan itu kembali mende•sah sambil berjalan gontai untuk membuka pintu.
“Maaf, Pak. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda,” lapornya memberi tahu.
“Siapa?” tanya Arsenio lagi.
“Ajisaka, Pak,” jawab asisten rumah tangga itu.
“Ajisaka?” Arsenio yang saat itu sudah dalam keadaan bertelanjang dada, buru-buru memakai kemejanya lagi. Dia lalu bergegas turun menuju ruang tamu.
Di sana, seorang pria dengan postur tegap dan jangkung, berdiri ke arah lukisan yang tergantung di satu sisi dinding ruangan. Dua tangannya tersembunyi di balik saku celana jeans yang sobek pada bagian lutut.
“Ji? Kapan datang?” sapa Arsenio sembari tersenyum lebar.
__ADS_1
“Bos?” Pria itu berbalik. Dia terbelalak dan tampak takjub melihat sosok yang berdiri gagah di hadapannya. “Aku baru saja tiba di stasiun Gambir, Bos. Berangkat dari Surabaya jam enam pagi,” jawab pria yang tak lain adalah Ajisaka. Dia mengulurkan tangan, kemudian menjabat Arsenio dengan antusias.
“Bagaimana kabarmu? Ibumu sehat, ‘kan?” tanya Arsenio seraya mempersilakan pria berkulit sawo matang itu untuk duduk.
“Alhamdulillah semuanya sehat, Bos,” jawab Ajisaka yang segera duduk di atas sofa mewah sambil menopang kaki. “Bapak dan ibu Rainier apa kabar?” Ajisaka balik bertanya.
“Masih belum ada perkembangan dengan kondisi kesehatan papa. Beruntung ada mama yang selalu setia merawatnya,” terang Arsenio. Mata coklat terang pria itu tak berhenti mengamati sosok salah satu orang kepercayaannya tersebut. Ajisaka memiliki gaya dan bahasa tubuh yang lebih manly dibandingkan dengan Dwiki yang santai dan cuek.
“Kasihan sekali,” sesal Ajisaka. “Jadi semua ini akibat ulah Biantara Sasmita dan putrinya?”
“Sepertinya begitu. Untuk itulah aku memintamu datang. Aku ingin kamu menyusup ke dalam kantor om Bian dan memeriksa rekaman CCTV di sana. Cari sosok-sosok pria yang fotonya pernah kukirimkan padamu via email. Mungkin saja wajah-wajah mereka terekam oleh kamera,” jelas Arsenio secara detail.
“Baik, Bos. Kalau begitu, saya akan menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan,” ucap Ajisaka.
“Di mana peralatanmu?” tanya Arsenio sembari mengedarkan pandangan ke sekeliing ruang tamunya.
“Kebetulan tadi saya menitipkan barang-barang bawaan di pos satpam,” sahut Ajisaka seraya meringis kecil, lalu berdiri. Dengan langkah cepat, dia menuju pos satpam. Pria itu baru kembali ke ruang tamu setelah beberapa menit kemudian.
Pria berwajah manis tapi masih terlihat maskulin itu, menurunkan dua buah ransel berukuran besar tepat di dekat kakinya. “Ini barang-barang saya, Bos. Apa kita akan mulai bekerja sekarang?” tanya Ajisaka.
“Santai saja, Ji. Kamu baru saja datang. Beristirahatlah dulu,” cegah Arsenio. “Aku akan menyiapkan satu kamar untukmu di rumah ini.” Arsenio langsung melingkarkan tangannya di bahu Ajisaka tanpa sungkan. Dia lalu mengarahkannya ke sebuah kamar di lantai dua.
“Letakkan saja barang-barangmu di sini. Setelah itu, kita lanjutkan perbincangan di meja makan,” titah Arsenio dengan santai.
“Baik, Bos,” balas Ajisaka. Dia melakukan sesuai dengan yang majikannya perintahkan. Tanpa membuang waktu, Ajisaka lalu mengikuti langkah Arsenio menuju ruang makan. “Apa Anda masih ingat saat menyewa saya untuk menjaga proyek yang berada di Kepulauan Seribu? Saat itu kita menghajar preman suruhan saingan bisnis Anda. Kita hanya berlima bersama Dwiki, sementara mereka berjumlah belasan,” celoteh Ajisaka saat mengenang masa lalu mereka.
“Ya, dan kita mengalahkan mereka dengan mudah,” sahut Arsenio sambil tertawa.
“Apa nanti kita juga akan menghajar Biantara Sasmita habis-habisan?” tanya Ajisaka iseng, membuat langkah Arsenio terhenti seketika.
__ADS_1
“Tentu saja tidak, karena aku sudah memikirkan pembalasan yang jauh lebih kejam dari itu,” jawab Arsenio sambil menyeringai lebar.