
Arsenio baru selesai dengan latihan fisiknya di sore hari, ketika dia melihat Binar sedang termenung sendirian sambil duduk di bangku taman belakang. “Sedang apa, Sayang?” tanyanya seraya menghampiri sang istri yang tengah hamil muda.
“Rain.” Binar menoleh sambil memperlihatkan senyuman manisnya.
“Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Arsenio lagi. Dia lalu duduk di samping sang istri yang bergeser dan memberinya tempat.
“Entahlah, Rain. Perasaanku tidak enak sejak mimpi buruk kemarin,” jawab Binar lesu sembari menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Arsenio.
“Jangan terlalu dipikirkan, Sayang.” Dengan lembut, pria tampan itu mengusap rambut Binar. “Aku sempat membaca sebuah artikel kalau wanita hamil dilarang bersedih, karena hal itu akan berpengaruh pada janin.”
“Apa mungkin ini karena pengaruh hormon, Rain?” Binar mendongak, menatap lurus pada iris mata coklat terang Arsenio yang tampak begitu menawan.
“Bisa jadi,” jawab Arsenio sembari tersenyum lebar, lalu mencium bibir ranum itu dengan penuh perasaan. Adegan manis tersebut terus berlanjut sampai terdengar seseorang memanggil namanya.
“Maaf mengganggu, Bos,” ucap pria yang tak lain adalah Ajisaka. Dia tak berbicara apapun lagi saat melihat ada Binar yang juga memandang ke arahnya. Ajisaka hanya mengangkat tas ransel yang berisi laptop sambil tertawa pelan. Dengan satu gerakan isyarat seperti itu saja, Arsenio langsung paham dengan apa yang dimaksud oleh anak buah kepercayaannya tersebut. “Ayo masuk, Sayang,” ajaknya pada Binar.
“Nanti kita jalan-jalan yuk, Rain,” ucap Binar tiba-tiba, ketika mereka bertiga berjalan memasuki rumah menuju ke ruang keluarga.
“Memangnya kamu ingin jalan-jalan ke mana?” tanya Arsenio lembut.
“Aku ingin kita berjalan-jalan di mall. Sekadar melihat-lihat dan mencari suasana ramai. Rasanya perasaanku begitu aneh.” Binar mengempaskan napas pelan.
“Tumben sekali.” Arsenio menatap heran pada sang istri.
“Tadi pagi aku sempat melihat-lihat gerai makanan Jepang yang baru buka di salah satu mall. Aku jadi ingin mencoba makan di sana,” ujar Binar sambil mendudukkan diri di sofa empuk. Dia juga menarik tangan sang suami agar duduk di sampingnya. Ajisaka pun ikut mengambil tempat di depan pasangan suami istri itu.
“Boleh, tapi kamu harus pilih-pilih. Jangan pesan makanan mentah," saran Arsenio. Bagaimana kalau besok saja jalan-jalannya?”
“Kenapa tidak nanti?” sahut Binar sedikit memaksa.
“Um, sepertinya malam nanti aku masih ada urusan,” jawab Arsenio sambil melirik penuh arti kepada Ajisaka.
“Ini tentang bukti-bukti yang bisa digunakan oleh bos Arsenio untuk menjerat pak Biantara beserta putrinya, Bu Bos,” sahut Ajisaka. "Saya sudah berhasil menyimpan rekaman video waktu preman-preman itu datang ke kantor Biantara Sasmita. Saya juga sudah menyalin semua file rahasia milik Haris Maulana yang berhubungan dengan maskapai Rainier,” jelasnya panjang lebar.
“Tinggal mencari bukti sabotase yang mereka lakukan terhadap perusahaan investasiku,” timpal Arsenio.
“Saya bisa meluncur ke kantor Anda sekarang juga,” ujar Ajisaka antusias.
“Agak berisiko, karena Winona pasti masih ada di sana.” Selesai berkata demikian, Arsenio menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore.
“Itu mudah sekali, Bos. Apa pegawai Anda masih tetap seperti dulu atau telah dirombak oleh Winona Sasmita?” tanya Ajisaka.
“Aku tidak tahu sama sekali tentang itu, tapi ….” Arsenio menjeda kalimatnya sejenak sambil melirik ke arah Binar yang menguap dan tampak lesu. “Apa kamu ingin beristirahat di kamar, Sayang?” Dengan mudahnya pria blasteran Belanda itu mengalihkan perhatian pada sang istri.
Binar segera menggeleng. “Di sini saja. Aku suka mendengarkan obrolan kalian meskipun tidak mengerti sama sekali,” jawabnya.
“Baiklah.” Arsenio merangkul sang istri, lalu kembali fokus pada percakapannya dengan Ajisaka. “Akan kucoba untuk menghubungi Linda, sekretarisku dulu,” ujarnya. Arsenio kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan, lalu kembali lagi sambil menggenggam telepon selulernya.
Di depan Binar dan juga Ajisaka, Arsenio membuka layar ponsel, kemudian menghubungi mantan sekretarisnya dulu. Tak membutuhkan waktu lama hingga Linda menjawab panggilan tersebut. “Halo! Siapa ini?” tanyanya dari seberang sana.
__ADS_1
“Hei, Lin. Apa kabarmu? Masih hafal suaraku, ‘kan?” sapa Arsenio sambil terkekeh pelan.
“Bapak?” Suara Linda mendadak terdengar begitu lirih. Setelah itu hening, tak terdengar lagi suara wanita itu hingga beberapa saat berlalu.
“Lin?” panggil Arsenio. Dia sempat kecewa, ketika Linda tak juga menanggapi sehingga Arsenio memutuskan untuk mengakhiri panggilan tadi.
“Pak?” balas wanita itu saat Arsenio hampir saja memencet tombol merah. “Maaf, pak. Saya tadi mencari tempat dulu agar bu Wini tidak mendengar,” ucap Linda. “Bapak apa kabar?”
“Jadi, dia tidak memecat kamu?” Arsenio malah balik bertanya.
“Bu Wini mengatakan pada saya kalau hanya saya yang paham seluk beluk perusahaan ini,” jawab Linda sambil tergelak.
“Kebetulan, Lin. Aku membutuhkan sedikit bantuanmu.” Arsenio memelankan suaranya.
“Ini pasti tentang dana nasabah yang raib itu ya, pak?” Seperti halnya Arsenio, Linda juga memelankan suara.
“Apa kamu mengetahui tentang sesuatu?” tanya Arsenio lagi.
“Saya tidak berani menjawab, pak. Mungkin ada baiknya kita bertemu secara langsung,” jawab Linda.
“itu bisa diatur, Lin. Akan tetapi, sebelumnya aku ingin kamu memberi akses pada anak buahku untuk masuk ke kantor. Sekarang,” tegas Arsenio.
“Sekarang, pak?” ulang Linda.
“Iya, sekarang,” jawab Arsenio tanpa ragu.
“Ck!” Arsenio berdecak pelan sambil mengacak-acak rambutnya. “Baiklah. Kalau begitu terima kasih, Lin. Nanti kuhubungi lagi, ya.”
“Baik, pak!” balas Linda sebelum mengakhiri teleponnya.
“Suruh dia menyamar saja, Rain,” cetus Binar seraya menunjuk Ajisaka.
Arsenio yang awalnya tampak putus asa, langsung menyeringai lebar. Dia memandang ke arah istri dan orang kepercayaannya itu secara bergantian. “Ide bagus, Sayang!” sanjungnya, lalu mengecup bibir Binar.
“Datang saja ke sana, Ji. Bilang saja kalau kamu adalah suruhan papaku untuk memeriksa dokumen-dokumen penting,” ujar Arsenio penuh semangat.
“Bisa, Bos. Kalau begitu saya pergi dulu.” Ajisaka tak kalah antusias. Dia segera berdiri dan hendak berlalu dari hadapan majikannya.
“Tunggu!” cegah Arsenio.
“Kenapa lagi, Bos?” Ajisaka kembali berbalik dan mengernyitkan kening.
“Apa kamu punya jas atau blazer? Soalnya, anak buah papa harus selalu terlihat rapi,” jawab Arsenio.
“Bukankah saya sudah memakai kemeja dan celana bahan?” Ajisaka merentangkan tangan sambil memutar tubuhnya.
“Masih kurang.” Arsenio meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Pinjamkan saja jasmu, Rain. Sepertinya ukuran kalian sama,” cetus Binar lagi.
__ADS_1
“Benar juga.” Arsenio menjentikkan jari, lalu berlari secepat kilat menuju kamar. Tak berapa lama, dia kembali ke hadapan Ajisaka sambil membawa sepotong jas berwarna abu-abu. “Pakai ini,” suruhnya.
Tak ingin membuang waktu lebih lama, Ajisaka segera memakai jas milik bosnya itu. “Sudah, Bos. Saya pergi dulu,” pamitnya.
“Ingat, Ji. Kamu adalah akuntan suruhan papa yang bertugas mengecek seluruh transaksi dan dokumen keuangan,” pesan Arsenio.
“Siap,” sahut Ajisaka mengangguk paham. Dia bergegas menuju halaman dan memacu motornya menuju perusahaan investasi yang dulunya adalah milik Arsenio. Di sana, dia harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan izin masuk.
“Silakan, Pak. Bu Winona sudah bisa ditemui. Di lantai lima ya, Pak,” ujar seorang resepsionis.
“Terima kasih.” Sambil merapikan jasnya, Ajisaka melangkah gagah menuju lift dan memencet tombol lantai yang dituju. Dia berusaha tampil setenang mungkin, lalu mengetuk pintu ruangan.
Tak berselang lama, seorang wanita yang terlihat beberapa tahun lebih tua darinya membuka pintu tersebut dengan raut bertanya-tanya. “Saya Ajisaka, akuntan pak Lievin yang ditugaskan untuk memeriksa seluruh dokumen keuangan,” ucapnya memperkenalkan diri sambil mengedipkan sebelah mata.
Wanita yang tak lain adalah Linda, sempat tertegun sejenak. “Ajisaka?” ulangnya setengah berbisik.
“Siapa, Lin?” Terdengar suara lain yang menyela. Ajisaka dapat memastikan bahwa suara merdu dan lembut itu adalah milik Winona.
“Ajisaka, Bu.” Pria macho itu melangkah masuk begitu saja, melewati Linda yang hanya berdiri ternganga.
“Oh, akuntan om Lievin kamu bilang itu? Kenapa aku tidak pernah melihat wajahmu, ya?” tanya Winona dengan tatapan penuh selidik.
“Saya akuntan yang baru saja disewa untuk menyelidiki penyelewengan dana, yang mungkin saja terjadi di perusahaan ini,” jawab Ajisaka dengan percaya diri.
“Penyelewengan? Om Lievin menuduh saya?” Winona mulai tersulut emosi. Dia berdiri dari kursinya sambil melipat tangan di dada dengan sorot menantang.
“Tidak ada yang menuduh Anda. Saya hanya melakukan apa yang diminta oleh pak Lievin,” sahut Ajisaka masih dengan sikapnya yang tenang.
“Katakan padanya bahwa terlalu sulit untuk melacak pelaku pembobolan dana nasabah, karena anak buahku pun sudah berusaha untuk mencarinya. Jejaknya mengarah ke peretas dari luar negeri,” terang Winona.
“Peretas luar negeri?” Ajisaka mengangkat satu alis sembari tersenyum sinis. “Saya hanya ditugaskan untuk memeriksa seluruh dokumen dan file keuangan perusahaan. Cukup berikan saja akses, maka saya akan melakukan pekerjaan dengan cepat,” ujarnya.
“Maaf, tidak bisa. Saya baru akan memberikan akses jika Anda didampingi oleh pak Bayu,” tegas Winona dengan wajah yang sedikit mendongak. “Lagipula, ini sudah terlalu sore. Mana ada akuntan yang melakukan pemeriksaan di sore hari?” ucapnya sinis.
“Apakah ini artinya Anda tidak bersedia diajak bekerja sama?” Ajisaka maju beberapa langkah, mendekat ke arah meja kerja Winona.
“Saya tidak mengatakan demikian. Saya hanya ingin Anda datang kemari bersama pak Bayu. Besok pagi.” Kata-kata Winona penuh penekanan, pertanda bahwa keputusannya tak dapat diganggu gugat.
“Baiklah kalau begitu. Saya akan datang besok. Akan tetapi, bisakah sekretaris Anda mengantarkan saya keluar ruangan. Setidaknya saya tidak terlalu merasa dipermalukan,” bujuk Ajisaka sambil tersenyum penuh arti.
“Astaga.” Winona berdecak kesal. “Ya, sudah. Linda, antarkan dia keluar,” suruhnya.
“Baik, Bu.” Linda mengangguk sebelum beralih pada Ajisaka. “Mari, Pak.” Dia mengulurkan tangan ke arah pintu keluar pada pria itu. Sesampainya di luar, Linda berniat kembali ke dalam ruangan. Namun, Ajisaka lebih dulu mencekal lengan wanita itu dan memberi isyarat agar dia mau mengikutinya.
Linda sendiri tampak serba salah. Dia sempat menoleh ke belakang. Dilihatnya Winona yang kembali sibuk pada layar laptop. Akhirnya Linda memutuskan untuk menuruti permintaan Ajisaka. “Ada apa? Cepat katakan. Saya tidak memiliki banyak waktu,” bisiknya.
“Cukup beritahu padaku, di mana ruangan komputer server?” tanya Ajisaka sambil berbisik pula.
Linda tak segera menjawab. Dia menoleh ke kiri dan kanan, sebelum kembali memusatkan perhatian pada Ajisaka. “Ada di lantai paling atas, ruangan nomor satu setelah lift,” terangnya. Setelah itu, dia segera kembali masuk ke dalam ruangan Winona, meninggalkan Ajisaka yang tersenyum puas.
__ADS_1