
“Mono! Cepat telepon ambulans!” seru Lievin. Rasa panik begitu menguasai diri sampai-sampai pria paruh baya itu tak dapat berpikir jernih. Dia mendekap erat tubuh Anggraini yang sudah tak bergerak. Lievin membiarkan darah sang istri ikut membanjiri bagian depan tubuhnya.
Sementara, sang sopir pribadi langsung melakukan perintah dari Lievin sambil meminta tolong para pemilik mobil yang berada di sekelilingnya untuk memberi jalan.
Beberapa dari mereka mengetahui kejadian penembakan itu. Namun, tak ada satu pun yang berani untuk menolong. Orang-orang itu terlalu takut pada senjata yang dipegang oleh pria berhelm misterius tadi.
Secara logika, siapa pun pasti akan lebih mencari aman daripada harus membahayakan diri. Karena itu, mereka semua yang ada di jalanan pada saat kejadian mengerikan tadi berlangsung bersikap seolah-olah tak melihat apa-apa.
“Pak, bagaimana ini? Ambulans tidak akan bisa lewat,” ujar Mono dengan wajah gusar.
“Suruh semua orang minggir, Mono! Lakukan apa saja! Selamatkan istriku!” Lievin meracau tak karuan. Entah sudah berapa banyak air mata yang jatuh. Dia tak lagi memikirkan wibawa yang selalu dijaganya selama ini.
Satu hal yang ada di dalam pikiran pria paruh baya tersebut hanyalah keadaan Anggraini. Paras cantik sang istri, lama-kelamaan tampak semakin memucat.
“Saya seorang dokter.Biar saya periksa,” ujar seseorang dengan tiba-tiba. Mono dan Lievin menoleh secara serempak ke arah seorang pria yang baru keluar dari mobilnya. Dia juga sama-sama terjebak macet saat itu. Posisi kendaraannya sejajar dengan kendaraan Lievin.
“Silakan, Pak.” Mono segera membuka pintu samping supaya pria tadi bisa memeriksa Anggraini dengan mudah.
Pria itu kemudian menekan pergelangan tangan Anggraini sekuat mungkin. Setelah itu, dia berpindah pada leher ibunda Arsenio tersebut. Cukup lama si pria yang mengaku sebagai dokter tadi menekan tiga jarinya di sana, sampai akhirnya pria yang masih muda itu menggeleng pelan. “Maaf, Pak. Beliau sudah meninggal dunia,” ucapnya penuh sesal.
Kata-kata yang terlontar dari bibir dokter tersebut begitu singkat, tetapi telah berhasil meruntuhkan akal sehat Lievin. Dunianya seakan berguncang sedemikian dahsyat. Tubuh pria itu pun mendadak mati rasa, hingga pandangannya menjadi buram dan gelap seketika.
...****************...
Arsenio menatap kosong pada jasad sang ibu yang telah kaku di ruang autopsi. Seluruh tubuhnya sudah terbungkus oleh kantung mayat. Hanya wajah cantiknya saja yang diperlihatkan oleh tim forensik.
Sementara beberapa orang yang merupakan tim penyidik dari kepolisian juga ikut mengerubunginya. Mereka telah bersiap untuk melontarkan pertanyaan.
“Banyak saksi mata yang melihat kejadian ini, Pak. Mereka semua memberikan keterangan yang sama. Pelakunya memakai jaket kulit hitam dan helm berwarna senada. Sedangkan motornya juga sudah berhasil diketahui plat nomornya oleh beberapa orang saksi. Kami akan terus mendalami fakta-fakta yang ada,” jelas salah seorang polisi.
Arsenio sempat melirik nama di seragam sebelah kanan polisi tersebut yang bertuliskan Darmawan. Namun, dia sama sekali tak berkomentar.
__ADS_1
“Karena kejadian ini tanpa disertai perampokan, maka kesimpulan pertama adalah murni pembunuhan. Bisa saja merupakan sesuatu yang sudah direncanakan. Apakah anda mempunyai seseorang yang bisa dicurigai, Pak? Musuh mungkin?” tanya polisi berpangkat Iptu itu.
Namun, Arsenio hanya menanggapinya dengan gelengan kepala pelan. Dua tangannya terlipat di depan dada. Pria tampan yang mewarisi warna mata coklat terang dari sang ayah tersebut hanya terpekur menatap wajah damai sang ibu, yang tak pernah dikira akan pergi dengan begitu cepat.
“Apa saya bisa keluar dari sini sekarang?” tanya Arsenio lemah.
Beberapa polisi dan petugas forensik tadi saling pandang sebelum akhirnya mengangguk. “Kami akan melakukan proses autopsi secepatnya,” ujar salah seorang polisi yang berpangkat lebih rendah.
Arsenio lagi-lagi hanya menanggapi dengan gerak tubuh. Pria itu mengangguk, lalu berbalik begitu saja tanpa permisi.
Bumi yang dia pijak seolah bergerak bagaikan ombak di lautan. Kakinya terasa begitu lemah seperti tak bertulang, sehingga tidak kuat menopang bobot tubuhnya. Alhasil, Arsenio harus berpegangan pada dinding dan menyandarkan punggung.
Tubuh gagah itu melorot. Dengan kaki tertekuk dia duduk di lantai rumah sakit. Padahal tujuan utamanya adalah menjenguk sang ayah yang dirawat di sana. Tempat yang sama di mana jenazah Anggraini diautopsi.
Lievin menderita shock berat. Tekanan darahnya menurun drastis sehingga harus dirawat secara intensif. Sedangkan Binar belum mendengar berita buruk ini. Arsenio hanya mengatakan pada wanita yang sedang hamil muda tersebut, bahwa kedua orangtuanya mengalami kecelakaan dan tengah dirawat di rumah sakit.
“Ma,” desah Arsenio pelan. Jemarinya tampak gemetar merogoh ponsel di saku celana. Dia sempat linglung ketika hendak memencet nomor kontak Fabien. Hingga beberapa saat lamanya, Arsenio baru dapat menguasai diri. Setelah beberapa kali menarik napas panjang, barulah dia menghubungi sang adik.
“Pulanglah ke Indonesia,” sela Arsenio lemas. Dari nada bicara serta suaranya yang terdengar bergetar saja, Fabien sudah dapat memastikan bahwa ada sesuatu yang tak beres dengan sang kakak.
“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Fabien pelan.
“Mama ….” Arsenio tak kuasa melanjutkan kata-katanya.
Sementara itu, Fabien yang tengah berada di studio musik miliknya masih menunggu jawaban sang kakak dengan harap-harap cemas. Dia menghentikan sejenak segala aktivitas. “Apa yang terjadi pada mama? Kumohon jangan bercanda, Sen,” desak Fabien tak sabar.
Namun, beberapa saat kemudian rasa penasarannya terjawab.
Lebih dari sebuah hentakan bencana gempa bumi terdahsyat sekalipun. Dunia Fabien berguncang dengan sangat kuat. Langit pun seakan runtuh menimpa dirinya. Tangan yang pada awalnya lincah bergerak melakukan berbagai aktivitas, kali ini hanya dapat membeku. Fabien tak mampu menggerakkannya sama sekali.
“Jangan bercanda denganku, Arsenio! Bajingan kau! Berani-beraninya kau ….” Fabien tak dapat mengendalikan diri. Nada bicara pria itu meninggi. Dia bahkan hampir melempar apa saja yang ada di hadapannya, andai rekan-rekan yang lain tak segera mencegah.
__ADS_1
Teman-teman Fabien yang berada di studio itu tak tahu apa yang terjadi. Mereka merasa heran karena pria itu tiba-tiba hilang kendali.
Fabien rasanya ingin berteriak sekuat tenaga. Tubuh tegap musisi muda tersebut ambruk ke lantai, kemudian menangis dengan kepala tertunduk.
Sementara Arsenio masih dalam posisinya tadi. Entah apa yang akan dia katakan kepada Binar. Sang istri tengah hamil dan tak boleh mendapat goncangan sedikit pun.
Berita buruk seperti ini pasti akan sangat memengaruhi mental dan tentunya berakhir pada kesehatan fisik.
Arsenio kemudian menghubungi Ajisaka. Dia mengabarkan kejadian mengerikan yang baru menimpa sang ibu. Namun, pria itu menekankan agar Binar tak diberitahu dulu.
Setelah berbicara dengan Ajisaka, putra sulung dari Keluarga Ranier tersebut menghubungi Dwiki. Arsenio meminta pria itu agar menemuinya di rumah sakit, tanpa memberitahukan apa yang terjadi.
Beberapa saat kemudian, Dwiki pun telah tiba. Kali ini, Arsenio sudah berada di depan ruang perawatan sang ayah.
“Apa yang terjadi pada pak Lievin, Bos?” tanya Dwiki. Dia berdiri di dekat Arsenio yang tengah bersandar pada dinding dengan wajah setengah mendongak.
Arsenio memasukkan kedua tangan pada saku celana. Sesekali, pria tampan berambut cokelat itu memejamkan mata.
“Haris. Dia sudah membuktikan semua ancamannya padaku,” ucap Arsenio pelan.
Hanya dengan berkata begitu, Dwiki sudah dapat menangkap ke mana arah pembicaraan sang bos. Dia menatap lekat pria berdarah Belanda tersebut sambil memicingkan mata.
“Apa yang sudah bajingan itu lakukan terhadap ayah Anda, Bos?” tanya Dwiki lagi penuh penekanan.
Arsenio menggeleng pelan. Dia lalu mengalihkan pandangan kepada Dwiki yang masih terlihat penasaran. “Bukan papaku. Dia hanya mengalami shock berat,” jawab suami Binar tersebut.
“Lalu?” tanya Dwiki lagi kian penasaran.
Akan tetapi, Arsenio tak segera menjawab. Dia menoleh kepada Dwiki. Sorot mata yang tadinya terlihat sendu dan penuh kepedihan, tiba-tiba berubah seketika. Sepasang iris cokelat terangnya menyiratkan kemarahan yang luar biasa.
Namun, Arsenio belum juga bicara. Setelah puas menatap tajam kepada Dwiki, barulah pria itu berkata, “Aku ingin nyawa mamaku terbayar dengan tuntas!” desisnya penuh penekanan.
__ADS_1