Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Something to Remember


__ADS_3

Chand menerima ponsel yang disodorkan oleh Arsenio, agar bisa melihat foto yang ditunjukkan pria keturunan Belanda itu dengan jelas. Beberapa saat lamanya Chand memperhatikan wajah dalam layar ponsel tadi. Pria berusia tiga puluh tahun itu pun tampak menautkan alis, kemudian mengernyitkan kening. Setelahnya, dia lalu menggeleng pelan. "Foto apa ini? Aku tidak bisa melihat wajah gadismu dengan jelas. Apa ada foto yang lain?" tanyanya.


"Apa? Kamu tidak bisa melihatnya dengan jelas?" Arsenio merebut kembali ponsel miliknya kemudian mengamati gambar pada layar ponsel itu dengan saksama. Harus diakui jika wajah Binar dalam foto yang dikirimkan oleh Praya memang terbilang buram. Selain karena terkena pantulan cahaya lampu, gambarnya pun agak tidak karuan. "Maklum saja, karena yang mengambil foto ini seorang anak SD. Dia baru bangun tidur. Jadi, wajar kalau hasilnya seperti ini," ujar Asenio seraya menggaruk kepala.


"Sudah tidak jelas gambarnya, itu juga seperti foto wisuda. Kenapa kamu tidak minta foto terbarunya saja. Kita tahu wajah perempuan zaman sekarang sangat mudah berubah dan bikin pangling. Entah itu karena riasan atau yang paling ekstrim ya operasi plastik," balas Chand menanggapi penjelasan Arsenio.


Arsenio terdiam dan tampak berpikir. Sesekali pria tampan itu menyugar rambut cokelatnya. "Jadi, kalau cuma berbekal foto ini tidak bisa, ya?" tanyanya lagi meyakinkan.


"Bisa saja, tapi pasti tidak semudah jika menggunakan foto terbaru dengan gambar jelas tentunya," sahut Chand antara ragu dan yakin.


"Masuk akal juga," balas Arsenio. Semangat yang tadi sudah begitu menggebu, perlahan menyusut sedikit demi sedikit.


"Kamu tahu nama lengkap gadis itu?" tanya Chand lagi ketika melihat sahabatnya mulai tampak bingung.


"Nama lengkap?" ulang Arsen. Dia kembali terdiam. "Aku ... aku hanya tahu nama dia adalah Binar. Astaga! Kenapa dulu aku sama sekali tidak memikirkan hal lain?" sesal Arsenio seraya meraup kasar wajah tampannya.


Sementara Chand hanya menatap sahabat sekaligus seseorang yang telah dianggapnya seperti saudara itu dengan lekat. Dia tahu seperti apa kehidupan Arsenio sebelum mengalami amnesia. Namun, sebagai sesama pria tentu saja Chand bisa memahami kenapa Arsenio bisa menjadi seorang petualang cinta.


Arsenio Wilhelm Rainier. Apa yang tak dimilikinya? Pria keturunan Belanda itu mempunyai segala hal yang dapat menarik perhatian seorang wanita. Tampan, kaya raya, sukses. Semua ada dalam dirinya. Arsenio juga merupakan pria yang terbilang agresif dan panas dalam memperlakukan lawan jenis, sehingga para wanita yang dekat dengannya kerap merasa dimanjakan.


Sebuah karakter yang berlainan dengan Chand. Dia jauh lebih tenang dan terkesan tak acuh. Chand tak pernah menunjukkan sikap yang berlebihan terhadap seorang wanita. Mungkin hal itu juga yang membuat Ghea lebih memilih untuk lari ke pelukan Arsenio. Padahal dirinya tak jarang dimanjakan dengan berbagai kemewahan oleh Chand. Namun, hingga saat ini entah Chand tahu atau tidak perselingkuhan antara Ghea dengan Arsenio. Satu hal yang pasti, dia kini telah mantap mengurus proses perceraian dengan wanita cantik betubuh montok tersebut.

__ADS_1


"Jadi, sebenarnya seperti apa kedekatan kalian? Maksudku antara kamu dengan gadis bernama Binar itu," tanya Chand kemudian setelah beberapa saat terjadi kebisuan di antara mereka berdua.


"Aku? Dengan Binar?" Arsenio kembali berpikir. Dia terlihat gelisah dan seperti orang yang sedang kebingungan.


"Apa gadis itu sangat istimewa?" tanya Chand lagi. "Terus terang saja karena kamu terlihat sangat berbeda. Terlepas dari kondisimu yang tengah mengalami amnesia, tapi aku melihat hal lain yang tidak pernah ada selama kamu menjalin kedekatan dengan Winona," pikir Chand.


"Begitukah?" tanya Arsenio. "Apa dulu kita sering menghabiskan banyak waktu bersama? Maksudku ... bersenang-senang, pesta, atau ...." Arsenio menjeda kalimatnya.


"Kita kerap menghabiskan waktu sama-sama, tapi untuk beberapa hal saja. Kau suka pesta, clubbing. Sedangkan aku tidak," jelas Chand.


"Apa yang kau ketahui tentang diriku?" tanya Arsenio lagi.


"Tentang apa?" Chand balik bertanya.


"Apa yang harus kuceritakan tentangmu? Kamu memiliki kehidupan yang sempurna. Karier dan pasangan yang luar biasa seperti Winona," balas Chand menanggapi.


"Winona," gumam Arsenio diiringi sebuah keluhan pendek. "Kamu tahu sudah berapa lama aku menjalin hubungan dengannya?" tanya Arsenio lagi. Lama-kelamaan, pria tampan itu terlihat semakin gelisah.


Chand tidak segera menjawab. Dia tengah mengingat-ingat. Sesekali, calon duda itu menggaruk keningnya. "Entahlah pastinya. Namun, aku rasa mungkin sekitar tiga tahun. Apa kamu tidak bertanya langsung pada Winona?"


"Tidak. Aku sama sekali tidak mengerti, karena rasanya begitu berat untuk berdekatan dengannya. Aku bahkan tidak yakin apakah diriku mencintainya atau tidak. Entahlah, Chand. Rasanya tak ada getaran apapun yang muncul, tak seperti saat aku berada di dekat Binar," ungkap Arsenio. Raut wajah serta sikap gelisahnya seketika sirna saat menyebut nama Binar.

__ADS_1


"Kamu jatuh cinta pada gadis itu?" Chand menatap pria bermata cokelat terang yang berada di sebelahnya. "Memamgnya seberapa istimewa dia?" tanya pria keturunan India tersebut.


"Entahlah, Chand. Binar tidak seperti Winona ataupun Indah. Dia bahkan selalu mengikat rambutnya yang panjang, padahal aku yakin jika dia memiliki rambut yang bagus. Binar tak pernah mengenakan pakaian yang terbuka. Dia juga tidak suka high heels, make up ... astaga, dia itu ... dia memiliki mata bulat yang ... yang sangat ...." Arsenio tertawa pelan seraya menoleh kepada Chand yang juga tengah menoleh ke arahnya.


"Apa amnesia membuatmu jadi orang dengan karakter yang berbeda?" pikir Chand setengah bergumam. "Sejak kapan kamu tertarik dengan gadis seperti itu? Setahuku dulu kamu suka dengan tipe-tipe wanita seperti Indah," ujar Chand seraya mengulum senyumnya. Sebuah isyarat yang diartikan lain oleh Arsenio.


"Astaga. Indah," ucap Arsenio seraya tertawa pelan.


"Jujur saja bahwa aku mulai penasaran dengan sosok Binar yang telah berhasil merebut perhatianmu. Jika kamu sudah memiliki petunjuk yang jauh lebih meyakinkan, maka aku pasti akan membantumu dengan senang hati untuk mencarinya," ujar Chand lagi seraya menepuk pundak Arsenio.


Arsenio tersenyum seraya menatap pria yang berusia tiga tahun lebih tua darinya. Perasaan bersalah itu muncul kian besar, saat bayangan antara dirinya dengan Ghea kembali hadir. Betapa bejat apa yang telah dilakukannya di masa lalu.


"Maafkan aku, Chand," ucap Arsenio penuh sesal.


"Maaf untuk apa?" tanya Chand lagi.


"Maaf untuk semua yang sudah kulakukan di masa lalu. Aku sama sekali tak bisa mengingat semuanya. Jika boleh jujur, sebenarnya aku juga tak berharap dapat mengingat semua itu lagi." Arsenio setengah membungkukan badan ke depan, kemudian meraup wajahnya kasar.


"Lalu bagaimana dengan terapi yang kamu jalani? Mungkin lebih baik sepulang dari Jogja kamu cek ulang secara lengkap. MRI, MRA, CT Scan, semuanya,” saran Chand. "Seburuk apapun masa lalu kita, tapi pasti itu tak akan membuatmu nyaman untuk menjalani hidup dengan memori yang hilang. Ingat, Sen. Tidak semua hal harus kamu lupakan. Salah satunya adalah setiap kenangan yang telah tercipta antara dirimu dengan tante Anggraini, om Lievin, dan juga adikmu Fabien. Aku rasa terlalu sayang jika kamu tidak dapat mengingat semua itu. Ini hanya sekadar saran. Walaupun ada banyak perubahan positif setelah kamu kembali dari Bali, tapi itu tak berarti kami tidak merindukan Arsenio yang lama."


"Hidupmu bukan hanya tentang Binar. Ada banyak kewajiban dan tugas yang harus kamu emban. Kembalilah pada aktivitasmu sebelumnya. Jangan biarkan potensi dalam dirimu terkikis hanya karena seorang gadis yang bahkan entah berada di mana," saran Chand lagi.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Arsenio.


"Lupakan tentang Binar dan kembalilah pada Winona. Kalian akan segera bertunangan," jawab Chand.


__ADS_2