
Winona mengajak Binar untuk duduk di tepian ranjang. Dia tak sedetik pun melepaskan genggamannya dari tangan istri Arsenio yang gemetar. “Bagaimana kehamilanmu?” tanya Winona. Dia sengaja berbasa-basi untuk mengalihkan segala rasa gundah Binar yang tengah hamil muda.
“Baik, Kak. Aku sekarang sudah jarang merasa mual,” jawab Binar lesu, lalu terdiam untuk beberapa saat “Apakah ini jawaban dari mimpi burukku selama ini?” gumamnya lirih seakan pada diri sendiri.
Namun Winona dapat mendengar apa yang Binar ucapkan dengan jelas.
“Semua akan baik-baik saja, Binar,” sahut putri Biantara Sasmita tersebut. Bibir Winona boleh saja tersenyum. Akan tetapi, dia tak bisa menyembunyikan sorot penuh kesedihan dari matanya. Terlepas dari segala permasalahan yang terjadi antara dia dan Keluarga Rainier dulu, Winona sudah merasa sangat dekat dengan Anggraini.
Winona bermaksud untuk mengatakan sesuatu pada Binar, ketika tiba-tiba ponselnya dan ponsel Binar berdering secara bersamaan. Winona segera menggeser ikon hijau saat nama Dwiki terpampang jelas di layar. Sedangkan Binar juga demikian. Wajahnya menjadi sedikit berseri ketika Arsenio lah yang ternyata menghubunginya.
“Rain, bagaimana mama dan papa?” tanya Binar tanpa basa-basi. Sesekali, mata indahnya melirik ke arah Winona yang beringsut menjauh. Mantan tunangan Arsenio tersebut juga terlihat serius berbincang dengan seseorang di telepon.
“Sayang ….” Suara Arsenio terdengar begitu lesu. Dia lalu terdiam beberapa saat, sampai-sampai Binar mengira bahwa panggilannya telah berakhir.
Binar menjauhkan ponsel dari telinga untuk memeriksa apakah teleponnya masih tersambung atau tidak, lalu menempelkannya di telinga saat terdengar kembali suara berat Arsenio. “Rain? Kamu belum menjawab pertanyaanku,” ucapnya.
“Aku pergi dulu, sayang. Papa mencariku,” kilah Arsenio. Pria itu tak memiliki kekuatan untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada sang istri. “Kemungkinan aku pulang besok,” lanjut Arsenio.
“Besok?” ulang Binar.
“Iya. Aku harus mengurus segala sesuatunya di sini,” jelas Arsenio. “Ingat selalu kata-kataku, Binar. Jangan pernah keluar ke manapun. Tetaplah di dalam rumah sampai aku datang. Kamu mengerti ‘kan, sayang?”
“Iya,” jawab Binar seraya mengangguk, meskipun Arsenio tak dapat melihatnya.
“Baiklah. Sampai jumpa besok.” Tak seperti biasa, Arsenio saat itu mengakhiri panggilan begitu saja. Tak ada ungkapan-ungkapan nakal khas pria itu.
Binar pun mengakhiri panggilannya, lalu memperhatikan Winona yang masih betah bertelepon. Sayup-sayup, dia mendengar mantan tunangan suaminya itu menyebut nama Dwiki.
Binar terus mengamati raut wajah Winona yang tampak berseri, setelah sebelumnya terlihat menyimpan beban berat.
“Nanti aku telepon lagi ya, Ki. Jaga dirimu baik-baik. I love you,” ucap Winona lirih, kemudian mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Binar tersenyum saat Winona itu berkata demikian. “Dwiki memang pria yang sangat baik, Kak. Dia juga ramah dan perhatian,” celetuknya saat Winona berbalik mendekat.
Tak terkira betapa malu Winona saat itu. Wajahnya memerah seketika. “Ka-kamu mendengarnya?”
Binar tergelak. “Santai saja, Kak. Aku turut bahagia melihat Kakak bahagia,” ucapnya tulus, membuat Winona terdiam.
“Maafkan aku ya, Kak,” ujar Binar lagi.
“Maaf untuk apa? Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku sudah melupakan semuanya.” Winona tersenyum lembut, kemudian merengkuh tubuh Binar.
“Sejak Arsenio bersimpuh di hadapanku dan kedua orang tuaku, aku jadi berpikir dalam-dalam.” Winona mengembuskan napas pelan sesaat setelah mengurai pelukannya.
“Bukan aku, mama, papa ataupun om Lievin dan tante Anggraini yang bisa menaklukkan anak nakal itu. Satu-satunya gadis yang bisa menundukkan Arsenio hanyalah kamu, Binar. Kalian berdua memang sepertinya sudah ditakdirkan untuk bersama,” tutur Winona.
Binar berkaca-kaca mendengarkan perkataan wanita cantik itu. “Kakak adalah orang yang sangat baik. Siapa pun yang menjadi pasangan Kakak nantinya, pastilah dia menjadi orang yang paling beruntung.”
Winona tergelak menanggapi ucapan Binar. “Kamu tahu tidak? Waktu itu, Arsen juga berkata demikian,” ungkapnya. “Kalian memang benar-benar pasangan serasi.”
“Menurutku Kakak juga terlihat sangat serasi dengan Dwiki. Kalian berdua cocok,” ujar Binar yang segera disambut dengan tawa malu-malu Winona.
“Besok aku akan ke sini lagi,” ujar Winona sebelum dia melangkah anggun meninggalkan kamar.
Binar menanggapinya dengan anggukan pelan. Dia bermaksud mengikuti Winona turun ke lantai bawah.
Akan tetapi, Ajisaka buru-buru mencegah wanita muda itu. “Bos Arsen mengatakan bahwa Anda dilarang keluar ke mana-mana, Bu Bos,” cegahnya.
“Aku hanya ingin mengantarkan kak Wini pulang,” sahut Binar tampak merengut.
“Maaf, tapi Bos Arsen sudah mewanti-wanti saya agar Anda tetap berada dalam kamar.” Suara Ajisaka terdengar lembut, tetapi penuh ketegasan.
“Sudah, tidak apa-apa. Tidak usah diantar. Lagi pula, aku masih ingat pintu keluar,” kelakar Winona sambil memamerkan senyuman yang menawan. “Aku pulang dulu, ya,” pamitnya lagi.
__ADS_1
“Hati-hati, Kak,” balas Binar. Setelah itu dia menatap ke arah Ajisaka dengan raut sebal. “Aku merasa seperti tahanan rumah,” gerutunya.
“Hanya sementara sampai Bos Arsen datang, Bu Bos,” bujuk Ajisaka.
“Terserahlah!” sungut Binar sambil menutup pintu kamar sedikit kencang. Tak lama kemudian, dia membuka pintu itu kembali sambil menyembulkan wajah cantiknya. “Kalau aku lapar, bagaimana? Apa tidak boleh makan juga?”
“Kalau Bu Bos lapar, biar saya yang mengambilkan makan. Anda ingin makan apa?” tawar Ajisaka sopan.
“Ah, tidak usah. Menyebalkan,” omel Binar sembari menutup kembali pintu kamar.
Sambil merebahkan diri di atas pembaringan, Binar meraih ponselnya. Dia berusaha menelepon Arsenio. Namun, hingga beberapa kali panggilan, suaminya itu tak jua menjawab panggilan itu.
Wanita yang tengah hamil muda tersebut tak putus asa untuk terus menghubungi Arsenio sampai dia tertidur.
Arsenio sendiri bukannya tak tahu bahwa Binar menelepon. Dia sengaja untuk tak mengangkatnya, sebab pria tampan itu takut jika dirinya tak akan bisa menjawab pertanyaan Binar seputar keadaan sang ibu.
Masih teringat jelas dalam ingatannya, betapa Anggraini melimpahkan seluruh kasih sayang kepada Binar, seolah wanita itu telah merasa bahwa dirinya akan segera pergi.
“Ma.” Arsenio menggumam lirih. Air matanya mulai mengalir, makin lama makin deras. Kesedihannya makin bertumpuk saat melihat secara langsung keadaan sang ayah yang masih shock dan lemah di atas ranjang rumah sakit.
Satu-satunya hal yang dapat sedikit membuatnya tenang adalah Fabien yang mengabarkan bahwa dia sudah terbang dari Berlin siang tadi.
“Ma,” desahnya lagi seraya tergugu. Tubuh jangkungnya dia sandarkan ke dinding luar kamar perawatan Lievin.
Cukup lama dia berada pada posisi tersebut, sampai seorang polisi yang tadi pagi menanyainya datang menghampiri.
“Pak Arsenio,” sapa polisi tersebut pelan, membuat putra sulung keluarga Rainier tersebut segera menegakkan tubuhnya.
“Proses autopsi sudah selesai dilaksanakan. Kita tinggal menunggu hasilnya selama beberapa hari ke depan. Dua butir proyektil peluru juga sudah berhasil dikeluarkan dan akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” jelas penyidik berpangkat Iptu itu dengan penuh wibawa.
“Jadi, saya sudah bisa membawa mama saya pulang?” tanya Arsenio dengan suara bergetar.
__ADS_1
“Ya, Pak. Paling lambat besok pagi, kami akan mengantarkan jenazah ibu Anda sampai ke rumah,” jawab polisi itu.
“Jenazah,” Arsenio tertawa lirih. Satu kata itu bagaikan sebuah bom yang menghancurkan tubuh dan jiwanya hingga berkeping-keping.