
“Maksudnya apa, Ma?” Chand mengernyitkan kening tanda tak mengerti dengan perkataan ibunya.
“Kamu pikir saja sendiri, Chand. Kamu dan Ghea belum resmi bercerai, tapi kenapa sudah berani menggandeng perempuan lain. Hati mama sakit!” protes Kalini. Air mata mulai menetes di pipinya.
“Ma, tolong jangan libatkan Nirmala. Aku baru mengenal gadis itu beberapa hari yang lalu, sedangkan masalahku dengan Ghea sudah ada sejak hampir satu tahun. Nirmala tak ada hubungannya sama sekali dengan hancurnya rumah tanggaku bersama Ghea. Ini sepenuhnya salahku, Ma,” sanggah Chand.
“Maaf jika aku mengecewakan Mama. Akan tetapi, aku juga ingin bahagia. Sama halnya dengan Prajna,” tutur kata Chand begitu lembut dan penuh sesal terhadap Kalini, meskipun saat itu dia tengah berseberangan pendapat dengan sang ibu.
“Kalau begitu, beritahu Mama apa masalah kalian berdua? Kenapa kamu tidak mau terbuka, Chand? Seandainya kamu bersedia bercerita pada Mama, mungkin Mama bisa membantu,” desak Kalini.
“Maaf, Ma. Untuk kali ini, aku tidak bisa mengungkapkan aib rumah tangga kami. Anggap saja semua ini adalah kesalahanku,” ujar Chand seraya maju perlahan, lalu menyentuh dan mengusap kedua lengan sang ibu yang amat disayanginya.
“Mama juga ingin melihat kamu bahagia. Orang tua mana yang tidak ingin anak-anaknya hidup rukun dengan keluarga yang harmonis," balaa Kalini. Suaranya bergetar ketika mengatakan hal demikian.
“Mama percaya padaku, kan?” Chand mendekatkan wajahnya pada Kalini dan menatap lekat mata wanita yang telah melahirkannya.
Mendapat tatapan sendu dari putra sulungnya, Kalini tak punya pilihan selain mengangguk. “Ya, sudah. Temui temanmu itu,” ucap ibu dua anak tersebut pada akhirnya sambil balas menepuk lengan Chand.
“Terima kasih, Ma.” Chand meraih kedua tangan Kalini, lalu mengecupnya berkali-kali.
Sementara itu, Binar yang masih berada di ruang tamu tampak asyik mengamati lukisan wanita berbusana khas Jawa. Tak puas dengan duduk, dia pun berdiri sambil mendekati lukisan tersebut. Setengah mendongak dengan tangan terulur, dia berniat untuk menyentuh permukaan kanvas.
“Siapa kamu!” tegur seseorang, membuat Binar terperanjat dan segera menarik tangannya. Gadis itu pun segera membalikkan badan, lalu mengangguk sopan.
__ADS_1
“Selamat sore,” sapa Binar. Akan tetapi, wanita itu tak menyahut. Dia malah memperhatikan Binar dari ujung kepala sampai kaki dengan sorot tajam.
“Bagaimana bisa kamu masuk ke sini dengan seenaknya?” hardik wanita yang tiada lain adalah Ghea.
“Aku yang mengajaknya!” sahut Chand yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu ruang tengah.
“Siapa dia, Chand?” tanya Ghea sambil mengalihkan perhatian pada pria yang sebentar lagi menjadi mantan suaminya.
“Siapa pun dia, itu bukan urusanmu. Kamu harus ingat, lusa adalah sidang putusan. Kamu harus datang tanpa perwakilan,” tegas nada bicara Chand mengingatkan wanita itu. Namun, dia tak menjawab pertanyaan Ghea. Chand hanya menatap dingin wanita cantik di hadapannya itu dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
“Oh. Ya sudah. Aku kemari hanya untuk bertemu tante Anggraini. Aku dengar mereka menginap di sini selama di Jogja,” ujar Ghea yang bersikap seakan tak ada seorang pun di sana selain Chand. Padahal ada Binar yang terlihat tak nyaman karena berada di antara mereka berdua.
“Mereka sudah pulang tadi pagi. Aku sendiri yang mengantarnya ke bandara,” sahut Chand masih dengan raut yang dingin.
“Memangnya apa hubunganmu dengan keluarga Rainier? Setahuku, yang berteman akrab dengan mereka adalah aku. Sedangkan, statusmu sekarang bukanlah siapa-siapa lagi,” ucap Chand setengah meledek.
“Ya, ampun. Mentang-mentang sudah punya gantinya, kamu jadi bersikap begini,” cibir Ghea sambil tertawa pelan. Dia melirik ke arah Binar dengan tatapan sinis. "Kalau begitu, aku ingin bertemu mama Kalini saja,” putusnya seraya berlalu dari ruang tamu.
“Terserah,” balas Chand menanggapi. Namun, pada akhirnya dia tak menghiraukan Ghea. Pria itu memilih untuk menghampiri Binar yang masih terlihat kikuk. “Maaf, ya. Kamu jadi tidak nyaman dengan sikap semua orang di rumah ini,” sesalnya.
“Tidak apa-apa, Kak. Saya mengerti, kok,” ucap Binar seraya mengulum senyumnya. Kali ini dia tidak lagi salah memanggil sebutan untuk Chand.
“Kita keluar saja, yuk. Rasanya itu akan lebih baik daripada di sini yang suasananya panas,” kelakar calon duda itu yang disambut dengan tawa renyah dari Binar. Tak biasanya pria itu banyak bercanda dengan seseorang.
__ADS_1
“Boleh. Sepertinya saya juga ingin refreshing,” putus Binar menerima ajakan Chand dengan senang hati.
Sedangkan Ghea sendiri sudah berjalan menyusuri ruangan demi ruangan. Dia bersikap seolah masih tinggal dan memiliki rumah itu. Tujuan wanita cantik tersebut adalah bertemu Kalini dan menyapanya.
Selama menikah dengan Chand, sikap Kalini padanya begitu baik dan penuh kasih sayang. Hingga saat ini pun dirinya masih tetap akrab dengan wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan mertuanya. “Mama?” panggil Ghea. Dia masih memanggil Kalini dengan sebutan itu. “Mama,” ulangnya ketika sudah berada di bagian belakang rumah. Tampak beberapa asisten rumah tangga yang berjalan melewatinya sambil sedikit membungkuk.
“Mbok, mama Kalini ke mana?” tanyanya pada salah satu dari beberapa orang di sana.
“Jam segini biasanya Ndoro ada di dalam kamarnya, Nyonya,” jawab wanita tersebut dengan sikap yang penuh sopan santun.
“Oh, baiklah. Terima kasih,” balas Ghea dengan gaya bicaranya yang memang sedikit centil tapi angkuh. Dia lalu bergegas ke kamar Kalini. Untuk menuju kamar ibunda Chand tersebut, Ghea harus melewati beberapa kamar tamu.
Sesaat kemudian, Ghea menghentikan langkahnya di depan salah satu kamar dengan pintu yang terbuka lebar. Diam-diam, Ghea masuk ke sana sambil mengedarkan pandangan ke tiap sudut ruangan. Wanita bertubuh montok itu menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari kamar tersebut. “Hm, bau parfum Arsen,” gumamnya lirih. Matanya lalu menangkap sebuah botol parfum yang tergeletak begitu saja di atas meja. Ghea mendekat dan mengambil benda itu. Iseng dirinya menyemprotkan parfum tadi pada pergelangan tangan bagian dalam, sambil menggosok-menggosokkannya perlahan menggunakan pergelangan tangan yang lain.
Ghea lalu menghirup aroma parfum itu lagi. “Ya, ampun. Parfummu masih tetap sama seperti yang dulu. Aku jadi ragu kalau kamu benar-benar amnesia,” gumam wanita itu berbicara sendiri, kemudian tertawa lirih.
Terlintas sesuatu di benaknya sehingga Ghea buru-buru merogoh ponsel di dalam tas tangan yang menggantung pada lengan kirinya. Jemari lentik wanita itu mengusap layar ponsel dan mulai mengetikkan sesuatu. Namun, beberapa saat kemudian, dia menghapus ketikannya. Ghea memutuskan untuk beralih pada pesan suara.
Ghea menekan tombol mikrofon dan bersiap untuk merekam suaranya sendiri. “Hai, Arsenio. Apa kamu tahu bahwa sekarang aku sedang berada di kamar tamu yang kamu tempati tadi malam. Astaga, aku menemukan parfummu yang tertinggal di sini. Tak kusangka, ternyata kamu masih memakai parfum yang sama. Aku sudah sangat mengenal aromanya. Aku jadi ragu jika kamu amnesia. Kuharap itu bukan hanya alasan agar bisa menghindariku, karena kupastikan bahwa kamu tak akan pernah bisa melakukannya. Cuma aku satu-satunya wanita yang bisa memuaskanmu di atas ranjang. Ingatlah dengan malam-malam panas kita. Omong kosong dengan amnesia,” Ghea tertawa menggoda sebelum mengakhiri rekamannya.
Namun, Ghea tak menyadari bahwa saat itu Kalini sudah berdiri di belakangnya. Dia mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Ghea. Wanita paruh baya tersebut begitu terkejut atas kenyataan yang baru saja dia dapati. Kalini tak pernah menyangka bahwa Ghea sang menantu kesayangan sanggup berbuat demikian.
Kalini mengusap dadanya yang mulai terasa sesak. Dia menahan isakan yang hampir lolos dari bibirnya. Ibunda Chand tersebut akhirnya memilih untuk pergi dari kamar tamu tersebut dan bersembunyi di kamar Chand. Mulai detik itu, Kalini bersumpah untuk tidak akan menemui Ghea lagi. “Ternyata, itu alasan kamu menceraikan dia, Nak,” gumamnya begitu lirih sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
__ADS_1