Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Nirmala Dan Binar


__ADS_3

Fabien terus mengikuti gerak sang kakak yang memilih untuk masuk ke dalam kamar. “Apa kau marah, Broer (Kak)?” tanyanya.


“Jangan ganggu aku!” Arsenio segera berbalik dan mendorong Fabien sekuat tenaga hingga pemuda itu terhuyung ke belakang. Namun, dia sigap berpegangan di ambang pintu.


“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya,” ujar Fabien membela diri.


“Tutup mulutmu! Jangan mengajari apa yang harus aku lakukan!” sentak Arsenio dengan muka merah padam.


“Rustig aan (tenanglah), Broer,” Fabien mengangkat kedua tangannya ke depan dada. “Kau tak boleh mengkhianati Chand lagi. Ingatlah saat dulu ketika Tuhan menjadikan kalian sahabat,” tegurnya sembari mengikuti Arsenio yang hendak melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


“Maju sedikit lagi, maka aku tak akan segan untuk membuat tulang hidungmu patah. Dengan begitu kau tak bisa melaksanakan tur konser keliling Eropa!” ancam Arsenio penuh penekanan.


“Kenapa kau begitu marah? Seharusnya kau beruntung karena aku mengingatkanmu dengan tulus,” protes Fabien merasa heran dengan sikap Arsenio yang berlebihan.


“Dengarkan aku, bocah ingusan!” Arsenio mengacungkan telunjuknya tepat ke wajah Fabien. “Pertama, Binar bukanlah piala bergilir yang bisa dibuang saat aku bosan!” tegasnya.


Seketika Fabien terpaku mendengar nama yang baru saja disebut oleh kakak kandungnya itu. “Nirmala, Arsen. Bukan Binar,” ralatnya sedikit ragu.


“Aku tahu apa yang kukatakan,” sahut Arsenio.


Mata coklat Fabien terbelalak sempurna mendengarkannya. “Jadi … dia adalah gadis yang menyelamatkanmu dari kecelakaan itu? Tapi … kenapa dia berganti nama menjadi Nirmala?” desisnya.

__ADS_1


“Dari mana kau tahu akan hal itu? Aku tak pernah mengatakannya pada siapa pun.” Arsenio mengernyitkan kening sambil menatap Fabien penuh curiga.


“Kau pernah mengatakannya pada Chand. Dia menceritakannya padaku,” sahut Fabien.


“Apa? Kenapa dia menceritakannya padamu? Bukankah kalian tak terlalu akrab?” Arsenio menautkan alis dan menggeleng tak mengerti. Teringat jelas dalam benaknya, saat dia meminta pada Chand untuk mencarikan seorang gadis bernama Binar yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya. Saat itu Arsenio masih dalam keadaan hilang ingatan.


“Aku juga tak paham. Tiba-tiba saja dia menghubungiku dan menceritakan semua yang terjadi padamu. Kau kecelakaan, mobil dan barang-barang berhargamu dirampok dan untungnya seorang gadis bernama Binar menyelamatkanmu. Dia bahkan membawamu ke rumah sakit dan membiayai semua kebutuhanmu,” papar Fabien sambil terus memperhatikan raut Arsenio yang menegang. “Ambil saja sisi positifnya, Broer. Siapa tahu Chand ingin agar aku mengetahui kondisi dirimu yang sebenarnya di saat orang tua kita menutupi semua itu dariku.” Pemuda yang piawai bermain gitar itu melipat kedua tangannya di dada.


“Ya, tapi tetap saja hal itu terasa aneh bagiku. Tak ada pentingnya bagi Chand untuk menceritakan semuanya padamu,” bantah Arsenio.


“Seperti yang kukatakan tadi. Aku mendapatkan sisi positifnya, yaitu aku jadi tahu jika kasus kecelakaan itu pasti hanyalah rekayasa seseorang untuk melukaimu,” ujar Fabien dengan mimik serius.


Niat Arsenio untuk membersihkan badan, dia urungkan ketika Fabien berkata demikian. “Bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu?” tanyanya seraya menyandarkan tubuh di ambang pintu kamar mandi.


Dilihatnya Arsenio hendak membuka mulut, sehingga dia lebih dulu menyelanya. “Jangan ditanya kenapa aku tahu segalanya tentang dirimu. Itu karena kau akan selalu menjadi saingan terbesar dan terberatku. Oleh sebab itulah aku terus memata-mataimu.” Fabien menyeringai lebar, lalu tertawa nyaring.


Sementara Arsenio hanya terdiam dan tampak berpikir. Sesaat kemudian dia mencekal kedua lengan Fabien. “Kalau begitu, kau harus ikut denganku ke kantor hari ini. Bersiap-siaplah! Aku juga akan mempersiapkan diri. Kita bertemu di teras depan setengah jam lagi!” titah Arsenio. Dia lalu melepaskan lengan sang adik dan berniat menutup pintu kamar mandi.


Akan tetapi, Fabien segera mencegahnya sambil memegangi tepian daun pintu erat-erat. Pemuda rupawan itu kembali menyeringai seraya mendekatkan wajah pada Arsenio. “Baiklah, aku akan menurutimu. Namun, kau juga harus menuruti keinginanku kalau kau tak ingin seisi rumah mengetahui bahwa sebenarnya Nirmala adalah Binar,” ancam Fabien.


"Brengsek!” maki Arsenio. Tangannya mengepal dan sudah bersiap untuk memukul paras menawan adiknya itu. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara merdu tengah memanggil namanya, sehingga Arsenio harus mengurungkan niat tersebut. “Winona,” gumam Arsenio. Matanya mengarah pada sosok wanita cantik yang berjalan anggun. Tanpa sungkan, dia memasuki kamar Arsenio.

__ADS_1


“Kalian sedang apa? Kenapa kamu belum juga mandi, Sen? Bukankah kamu masuk ke kantor hari ini?” cecar wanita yang tiada lain adalah Winona.


Wajah Arsenio memucat. Begitu pula Fabien yang tampak gelisah. Mereka tak ingin ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan rahasia di antara keduanya. “Aku akan siap dalam setengah setengah jam lagi. Kebetulan Fabien juga akan ikut ke kantor bersamaku. Keluarlah, Fabien!” usir Arsenio seraya mendorong tubuh sang adik.


Fabien hanya terkekeh menerima perlakuan yang demikian dari kakaknya. “Baiklah. Kutunggu di teras setengah jam lagi,” pesannya. “Apa kau akan ikut bersama kami, Wini?” tanya Fabien ketika tubuh jangkungnya melewati Winona.


“Iya. Kuharap kamu tidak keberatan kalau Arsenio mengantar ke kantorku lebih dulu,” sahut Winona.


“Geen probleem (tidak masalah).” Fabien mengangkat kedua bahunya dengan gaya yang begitu cuek, kemudian berlalu begitu saja dari kamar Arsenio.


Melihat tak seorang pun berada di kamar, Winona tak juga beranjak di sana. Dirinya berniat menunggu Arsenio sampai selesai. Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan Arsenio keluar dari sana. Tubuhnya masih terlihat basah dengan handuk melilit di bawah pinggang. Sementara satu tangannya sibuk mengusap-usap rambutnya dengan handuk lain yang berukuran lebih kecil. Gerakannya terhenti saat melihat Winona masih duduk manis di sofa dalam kamarnya.


“Sedang apa kamu di sini?” tanya Arsenio ketus.


“Menunggu kamu bersiap-siap,” jawab Winona enteng.


“Kenapa tidak menunggu di tempat lain saja? Dapur misalnya. Sekaligus belajar memasak bersama si Yanti,” ucap Arsenio seenaknya, lalu melenggang masuk ke dalam walk ini closet tanpa menghiraukan tunangannya.


Winona sendiri tak mau mengalah. Dia terus mengikuti Arsenio dan berdiri di depannya saat pria tampan itu hendak membuka handuk. Arsenio segera melilitkan kembali handuk putih itu ke pinggang sambil menatap tak suka pada Winona. “Mulai kapan kamu berani bersikap tidak sopan seperti ini? Bisa keluar sebentar tidak? Aku akan berganti pakaian. Dengan sikapmu yang seperti ini, sama saja kamu telah membuang lebih banyak waktu,” tegur Arsenio.


“Kamu harus terbiasa, karena sebentar lagi kita akan menikah,” balas Winona sembari tertawa pelan, lalu menutup pintu ruangan berukuran besar yang penuh dengan aksesoris dan pakaian mahal koleksi Arsenio itu.

__ADS_1


Winona kemudian berjalan ke arah sofa dan memutuskan untuk kembali duduk di sana. Akan tetapi, langkahnya segera terhenti tatkala ponsel sang tunangan yang tergeletak di atas ranjang berbunyi. Penasaran, dia mendekat ke peraduan mewah berukuran king size itu. Dilihatnya nama yang muncul pada layar. “Dwiki?” gumam Winona dengan heran.


__ADS_2