
Setelah dari villa milik Rudolf, pasangan pengantin baru tersebut kemudian memutuskan untuk kembali ke penginapan. Suasana pun sudah terbilang sepi, berhubung saat itu telah hampir pukul sembilan malam. Binar pun segera turun dari motor, begitu Arsenio menghentikan laju kendaraan roda duanya di depan kamar penginapan yang mereka sewa.
"Seharusnya aku membawamu ke hotel berbintang lima," sesal Arsenio. "Astaga. Kenapa saat memiliki seorang istri yang seharusnya kumanjakan secara materi, aku justru sedang dalam kondisi seperti ini," keluh pria tampan berambut cokelat tersebut seraya mengempaskan napas pelan.
"Jangan mengeluh seperti itu, Rain," tegur Binar. Dia tersenyum manis sambil memandang kepada pria yang kini telah resmi menjadi suaminya. "Kamu tidak perlu merasa bersalah karena belum bisa membahagiakanku secara materi. Lagi pula, aku sepenuhnya bisa menerima semua. Kamu adalah kebahagiaan dan juga anugerah, yang tak bisa diukur dengan nilai nominal sebuah barang berharga yang paling mahal sekalipun di dunia ini." Binar melangkah ke dekat sang suami, lalu memeluknya erat dari belakang.
Sementara Arsenio tersenyum simpul. Sebagai seorang pria, tanggung jawab besar kini berada di pundaknya. Dia lalu mengusap punggung tangan Binar yang melingkar di perut.
"Entah bagaimana respon kedua orang tuamu, andai mereka mengetahui bahwa kita berdua sudah menikah," ucap Binar lagi pelan.
"Jangan pikirkan hal itu. Aku sudah tidak peduli lagi. Saat ini, satu-satunya yang menjadi fokusku adalah bagaimana caranya bisa melakukan yang terbaik untuk hidup kita," balas Arsenio dengan perasaan yang berkecamuk dalam dada. Dia tak ingin mengatakan kepada Binar bahwa Anggraini telah mengetahui, tetapi tak memberi tanggapan dan justru langsung memblokir nomornya.
Arsenio tak ingin membuat momen kebahagiaan menjadi terusik. Dia bisa mengabaikan sejenak perasaan tak nyaman itu, tapi tidak dengan Binar. Sang istri yang berhati lembut dan sensitif, pasti akan merasa semakin kecewa. Karena itulah, Arsenio lebih memilih untuk tidak berkata jujur. Dia hanya akan menyerahkan urusan dengan kedua orang tuanya pada waktu. Ya, biarkan waktu yang akan menyelesaikan semuanya.
Arsenio membalikkan badan. Kembali ditatapnya paras cantik Binar yang lusuh, tapi masih tampak sangat menggemaskan. "Perjalananku ke Bali kali ini, kembali membuatku mendapatkan sebuah pelajaran berharga. Setelah dulu aku hampir mati, diriku dipertemukan denganmu. Lalu, sekarang aku memiliki seorang Binar dengan mutlak di pulau ini juga. Aku beruntung karena bisa dipertemukan dengan sosok seperti Rudolf, om Hans, tante Hilda. Ini pertama kalinya aku masuk kembali dan berlama-lama di gereja setelah sekian lama. Ya, Tuhan ... hidupku ...."
Arsenio tak melanjutkan kata-katanya, karena Binar segera menempelkan jari telunjuk pada permukaan bibir pria itu. Gadis yang kini telah melepas masa lajangnya tersebut tampak menggeleng.
Namun, bukanlah Arsenio jika akan menanggapi segala permasalahan hidupnya dengan terlalu serius. Pria itu tersenyum seraya membuka mulut. Dengan cepat dia menggigit pelan ujung telunjuk Binar yang masih menempel pada permukaan bibirnya. Arsenio pun tertawa pelan saat melihat Binar yang melotot karena hendak protes. Namun,
__ADS_1
sebelum wanita muda itu melayangkan bentuk protes lewat kata-kata, Arsenio telah lebih dulu membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman.
Akan tetapi, itu hanya sentuhan yang sesaat. Binar merasa tak nyaman dengan tubuhnya yang terasa lengket setelah seharian beraktivitas. "Hentikan. Aku ingin ke kamar mandi dan membersihkan diri. Badanku rasanya tidak nyaman," tolak Binar seraya berusaha melepaskan rangkulan Arsenio dari tubuhnya.
"Baiklah. Aku juga. Bolehkah aku menemanimu?" tanya pria itu nakal.
"Boleh saja, tapi jangan membuang waktu di dalam kamar mandi. Ini sudah malam. Aku takut masuk angin," pesan Binar yang sudah paham dengan karakter nakal pria berdarah Belanda tersebut.
"Aku tidak tertarik melakukannya di dalam kamar mandi sempit itu," balas Arsenio sambil tersenyum penuh arti. Sedangkan Binar hanya dapat mengempaskan napas pelan.
Beberapa saat telah berlalu. Pasangan pengantin baru tersebut kini sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuh keduanya. Arsenio segera menghampiri Binar sebelum wanita muda itu sempat mengenakan pakaian. Melihat sang istri hanya dalam balutan handuk dengan tubuh yang terlihat lembap, membuat naluri kelelakian Arsenio kian membesar.
"Rain ...." desah Binar pelan, saat jemari Arsenio bergerak ke bawah, lalu bergerak pelan di bawah pusar dan menelusup masuk. Binar pun memejamkan mata sambil menyandarkan kepala ke dekat pundak sang suami yang berpostur jauh lebih tinggi darinya. Dia mencari pegangan, mere•mas pelan handuk yang masih menutupi bagian bawah tubuh tegap Arsenio.
"Kenapa kamu nakal sekali?" desah Binar lagi yang sedang menahan dan mulai meresapi permainan jari tengah Arsenio.
"Jika aku tidak nakal, maka kamu tidak akan menyukaiku. Aku tahu bahwa kamu mulai membutuhkan aktivitas seperti ini," sahut Arsenio sambil sesekali menciumi daun telinga Binar.
"Dari mana kamu tahu hal itu?" tanya Binar yang sesekali meringis dan disertai dengan de•sahan pelan.
__ADS_1
"Buktinya belum aku apa-apakan saja kamu sudah basah duluan," jawab Arsenio tertawa renyah. Dia kembali menciumi leher Binar, yang telah berani melepaskan handuk dari tubuh tegapnya. Sepasang suami istri itu pun kini telah sama-sama polos.
Arsenio kemudian menghentikan permainan jarinya. Dia membalikkan Binar dan mengarahkan sang istri agar menurunkan tubuh di hadapannya. Binar pun mencoba untuk memahami. Nalurinya sebagai seorang wanita mulai bekerja. Dia memang belum pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. Namun, Binar sudah mengetahui dari cerita seorang teman.
Dulu, Binar berpikir bahwa itu merupakan sesuatu yang sangat menjijikan. Dia tak dapat membayangkan melakukan adegan seperti yang sedang dilakukannya saat ini. Akan tetapi, semua pikiran buruk itu lenyap seketika. Dia ternyata mulai menyukai hal tersebut, apalagi saat melihat ekspresi dari wajah tampan Arsenio yang tampak begitu menikmati pelayanan dari dirinya.
Sesekali, Arsenio memejamkan mata demi meresapi segala rasa nikmat yang mendera. Dia memegangi tengkuk kepala Binar, kemudian menggenggam rambut panjangnya. Pria itu menahan agar sang istri tak berpaling ke manapun, dan tetap fokus pada apa yang dilakukan.
"Oh ... Binar ...." desah Arsenio dengan helaan napas berat khas pria dewasa. Dia menarik dirinya dari dalam mulut Binar yang saat itu mendongak sambil menatap penuh arti. Arsenio kemudian menyentuh dagu wanita cantik berambut hitam tersebut, lalu membantunya berdiri. Sebuah lu•matan lembut menyambut Binar.
Sesaat kemudian, Arsenio mengarahkan istrinya agar duduk di tepian tempat tidur. Dia lalu menurunkan tubuh tepat di hadapan sang istri, lalu membuka kaki jenjangnya dengan cukup lebar. Kini, giliran Binar yang dibuat mende•sah berkali-kali. Tubuh polos wanita muda itu bergerak tak karuan. Binar yang setengah berbaring dengan bertumpu pada kedua siku, dapat melihat jelas ketika Arsenio balas memanjakan dirinya.
Sapuan-sapuan lembut itu terasa begitu menggelikan, sekaligus memberinya kenikmatan yang tak dapat dia lukiskan. Binar merasa menjadi wanita paling seksi, saat menerima perlakuan sensual dari pria tampan yang baru saja resmi menjadi suaminya. Dia sudah tak kuasa menahan gejolak yang kian menggebu dan terus memberontak. Akan tetapi, apa yang Arsenio lakukan padanya terlalu indah. Dia tak ingin berhenti. Binar pun hanya dapat memejamkan mata sambil menggigit bibirnya pelan.
Setelah merasa puas, Arsenio menghentikan apa yang tadi dia lakukan. Pria itu menatap kepada Binar yang sudah terlihat sayu dan amat kacau. Arsenio tersenyum nakal, tapi dia tetap terlihat kalem. Sebagai seseorang yang sudah sangat berpengalaman, pria itu mengetahui dengan jelas bahwa lawan mainnya telah siap untuk melakukan permainan utama.
Dengan sedikit isyarat, dia meminta Binar agar berbalik. Wanita muda itu mengerti. Dia segera membalikkan badannya dengan posisi kedua telapak tangan serta lutut sebagai tumpuan. Binar menunggu hingga Arsenio melakukan penyatuan dengan dirinya. Namun, pria itu masih terlihat asyik membelai serta sesekali mere•mas pinggul mulus yang tersaji di depan mata.
"Rain ...." desah Binar pelan, ketika dia mulai merasakan sesuatu yang memasuki dirinya. Wanita muda tersebut mencengkeram kain pelapis kasur yang menjadi saksi malam pertama mereka, meskipun keduanya telah melakukan hal itu dari sebelum resmi menikah. Lenguhan pelan pun mulai meluncur dengan diiringi de•sahan-de•sahan, yang membuat Arsenio kian bergairah. Pria itu makin bernafsu untuk memacu dirinya semakin dalam, hingga membuat Binar kembali tak berkutik.
__ADS_1