
Arsenio membuka matanya saat terdengar burung pipit berkicauan di luar jendela kamar yang dia tempati. Dia lalu terduduk saat menyadari bahwa Binar tidak berada di sampingnya. Dengan segera, pria berambut coklat tadi turun dari ranjang dan mencari keberadaan sang istri. "Binar!" panggilnya saat mencari ke ruang tamu dan ruang keluarga. Akan tetapi, istri cantknya itu tidak ada di sana.
"Binar!" panggil Arsenio lagi. Kali ini, dia berjalan ke dalam dapur. Ternyata, wanita yang tengah dirinya cari-cari tadi sedang sibuk di sana. Binar saat itu tampak sibuk memasak sarapan dengan ditemani oleh Fabien yang sedang bertelanjang dada, sama seperti dirinya. "Sedang apa kalian berduaan di sini?" Wajah rupawan itu tampak bersungut-sungut.
"Hai, Rain. Selamat pagi," sapa Binar. Wanita muda nan cantik yang saat itu mengikat rambutnya seperti ekor kuda, segera menghampiri sang suami lalu mengecup bibirnya lembut. Dia sama sekali tak menghiraukan pertanyaan Arsenio yang terdengar keberatan.
"Sarapanmu sudah siap. Untuk Fabien juga. Tak kusangka dia ternyata juga memakan nasi. Aku menemukan beras di tempat penyimpanan bahan makanan," celoteh Binar dengan raut yang sulit diartikan dan terlihat agak berlebihan. Setelah itu, Binar menyuguhkan sepiring nasi goreng lengkap dengan sosis dan omelet telur.
"Kenapa memasak saja sampai harus ditemani oleh Fabien?" protes Arsenio masih dengan ekspresi tidak suka.
"Astaga, tidak perlu berlebihan, Zus. Aku mengajarinya dasar-dasar bahasa Jerman," jelas Fabien yang merasa jika sang kakak merasa cemburu padanya. "Tenang saja, aku tak berpikiran untuk merebut istri kakak sendiri," celetuk musisi muda tersebut, kemudian duduk di samping Arsenio. Hal itu dia lakukan setelah Binar menyuguhkan sepiring nasi goreng padanya. Wanita muda itu juga mengambil sepiring untuk dirinya sendiri, lalu duduk di hadapan sang suami.
"Sialan kau!" sergah Arsenio yang merasa tersindir.
Namun, Fabien tak menanggapinya sama sekali. Dia masih terlihat tenang dan justru mengajak sang kakak berbincang santai.
"Setahuku kau dan Binar datang ke Jerman dengan menggunakan visa kunjungan, yang hanya berlaku selama tiga bulan. Setelah itu, kalian harus memperpanjang lagi," jelas Fabien.
"Kau pasti tahu, Arsen. Jika kalian ingin mendapatkan izin tinggal di negara ini, maka kalian harus mendapatkan pekerjaan dan penghasilan tetap. Supaya mudah mendapatkan pekerjaan, Binar harus lancar berbahasa Jerman," sambung Fabien lagi.
"Iya, aku juga paham akan hal itu," sahut Arsen, "karena itulah, hari ini kami berencana untuk menemui seorang kenalan."
"Siapa?" tanya Fabien.
"Nanti saja kuceritakan. Aku sedang makan," tolak Arsenio dengan santainya.
"Ck! Nanti malam aku harus berkumpul bersama teman-teman dan kru di hotel. Besok kami akan memulai tur, berawal dari kota Berlin," papar Fabien.
__ADS_1
"Berapa lama kamu akan pergi?" Binar ikut bertanya.
"Kira-kira sebulan, tapi aku akan merasa tenang meninggalkan apartemenku. Sebab ada kalian di sini," jawab Fabien seraya tersenyum manis kepada Binar.
"Walau tak ada siapa pun di sini, kurasa kau tetap tak perlu khawatir. Siapa yang akan berhasrat mencuri di rumah berantakan seperti kapal pecah begini," ledek Arsenio yang segera mendapat tatapan tajam dari adiknya.
"Berterima kasihlah karena aku sudah bersedia memberikan tumpangan!" balas Fabien tak mau kalah.
"Sudah, sudah. Kalian segeralah bersihkan diri. Ini sudah siang," tegur Binar. Dia merasa seperti tengah melerai dua adiknya yang memperebutkan sesuatu. Anehnya, dua orang kakak beradik itu menurut dan bangkit menuju kamar masing-masing. Sementara Binar membereskan dapur dan membersihkan peralatan makan.
Beberapa menit kemudian, Arsenio keluar dari kamar dalam keadaan sudah berpakaian rapi. Segera saja dia memeluk Binar dari belakang. Saat itu Binar juga baru selesai membersihkan dapur. "Kita berangkat sekarang?" ajaknya. "Kamu sudah mandi, 'kan?"
"Aku lebih dulu mandi dibandingkan kalian." Binar membalikkan badan menjadi menghadap pada sang suami. Lagi-lagi, wanita muda itu terpana melihat penampilan Arsenio yang terlihat begitu menawan dengan rambut disisir rapi ke belakang.
"Kamu yang paling tampan, Rain." Binar membetulkan posisi krah dari kemeja biru tosca Arsenio, lalu mengecup lembut bibir beraroma mint itu.
"Astaga, dasar mesum." Binar terkekeh geli melihat sikap menggemaskan sang suami. "Ayo, nanti kita terlambat." Wanita muda yang cantik itu langsung menuntun tangan Arsenio setelah meraih tas selempang yang sudah dia siapkan di atas sofa ruang tamu.
"Kamu memakai tas itu lagi?" protes Arsenio.
"Aku tidak mempunyai tas yang lain," sahut Binar. "Sudahlah. Lagi pula, tas ini masih baru. Kak Chand yang ...." Dia segera menghentikan kalimatnya. Apalagi ketika Arsenio memandang dengan sorot tajam.
"Ingatkan nanti setelah bertemu mister Heinze, kita akan membeli tas untukmu!" tegas Arsenio penuh penekanan saat sudah berada di dalam lift, menandakan bahwa kemauannya sama sekali tak boleh ditolak.
"Ya ampun. Belum juga dapat kerja," gumam Binar lirih. Akan tetapi, Arsenio dapat mendengarnya dengan jelas.
"Sebagai seorang suami, aku merasa sangat terhina ketika istrinya dibelikan tas oleh pria lain," sahut Arsenio dengan pandangan lurus ke depan.
__ADS_1
"Astaga, kamu pencemburu berat rupanya." Lagi-lagi, Binar tertawa geli menanggapi tingkah menggemaskan suaminya.
"Itu jelas. Semakin kita mencintai seseorang, semakin besar rasa cemburu kita terhadap orang itu," ujar Arsenio, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Dia kemudian menggandeng tangan Binar dan mengajak istrinya berjalan menyusuri trotoar menuju tempat pertemuan.
Bertahun-tahun meninggalkan kota Berlin, tak membuat Arsenio lupa akan rute yang dia lalui. Beruntung dia mengajak bertemu di sebuah cafe langganannya dulu semasa berkuliah. Tak sampai sepuluh menit, pasangan pengantin baru itu telah tiba di tempat yang dituju.
"Syukurlah." Arsenio mengempaskan napas lega. "Kita datang lebih awal dari waktu yang kami sepakati."
Binar menanggapinya dengan anggukan, sebab matanya sibuk mengamati sekeliling. Sebuah cafe yang mereka masuki terlihat asri dengan adanya tanaman hias yang diletakkan di sudut-sudut ruangan.
Arsenio kemudian mengarahkan Binar untuk duduk di salah satu meja berbentuk bulat, berwarna putih yang berada tepat di sisi jendela cafe. "Beruntung tuan Normand berdomisili di Berlin. Jadi, kita tidak perlu jauh-jauh mencarinya," ujar Arsenio.
"Iya." Binar tak banyak bicara karena masih mengamati sekeliling. Dia menikmati suasana luar negeri yang begitu berbeda dengan Indonesia. "Ini pasti restoran mahal, ya?" tebak Binar.
"Bukan, Sayang. Di Berlin, cafe ini terkenal paling murah tapi cita rasa makanannya tak kalah dengan restoran mewah," jelas Arsenio. "Ini tempat favoritku sewaktu pulang kuliah dulu. Aku bisa berjam-jam berdiam di sini sambil mengerjakan tugas," imbuhnya.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Binar, sebelum gadis itu kembali menyapu pandangan ke sekeliling. Sesaat kemudian, matanya terpaku pada pria paruh baya yang seperti kebingungan saat masuk ke dalam cafe. "Apakah itu orangnya, Rain? Wajahnya mirip dengan foto yang dikirimkan oleh nomor tuan Heinze kemarin."
Arsenio langsung menoleh dan tersenyum lebar. Itu tandanya tebakan Binar tidak salah. Buru-buru dia menghampiri dan menyalami pria yang baru saja ditemuinya tersebut. Setelah berbasa-basi sebentar, Arsenio mengajak pria bernama Normand Heinze untuk duduk di kursi yang sudah dirinya pilih.
.
.
.
Hai, otor datang membawakan karya baru yang dijamin keren.
__ADS_1