
Mata coklat terang Arsenio menatap ke luar dinding apartemen mewahnya yang terbuat dari kaca tebal. Lalu lintas ibukota beserta lanskap gedung-gedung tinggi, sejauh mata memandang dapat terlihat jelas dari tempatnya berdiri. Sehari setelah tiba kembali ke ibukota, Anggraini menawarinya untuk tinggal di kediaman Rainier, ataukah di apartemen pribadi milik Arsenio yang sudah tak ditempati selama berhari-hari.
Arsenio pun memilih untuk tinggal di apartemennya. Sebuah tempat sunyi dan tenang yang memang cocok baginya, saat digunakan untuk merenung. Arsenio kemudian beranjak dari tempatnya berdiri. Pria tampan itu kembali mengamati tiap detail benda yang terpajang di ruang tamu apartemennya. Adalah beberapa pigura yang berisi potret-potret kebersamaan antara dia dengan Winona. Foto-foto itu menghiasi dinding ruangan. Tak ada foto lain, selain yang berisi wajah Winona di sana.
Arsenio kembali menoleh ke arah dinding kaca dan mendekat lagi ke sana. “Aku akan memantapkan diri untuk bertunangan dengan Winona, Binar. Aku tak tahu apakah aku bisa bertemu denganmu lagi atau tidak. Tolong, berikanlah sedikit tanda untukku. Tampakkan dirimu di hadapanku sebelum pertunangan ini terjadi, sebagai tanda bahwa pilihanku ini adalah salah,” gumamnya berbicara sendiri. Dia lalu mengembuskan napas panjang seraya meraih ponsel yang tersimpan di saku celana.
Arsenio kembali berusaha menghubungi Praya. Beberapa kali dia mencoba, selalu saja gagal tersambung. Begitu pula dengan nomor Wisnu. “Ya, ampun. Ada di mana kalian?” resahnya seraya menyugar rambut yang berwarna kecoklatan.
Kini, jemari Arsenio berpindah ke nomor kontak Binar yang pernah diberikan oleh Praya. Meskipun dia tahu bahwa nomor yang dia panggil itu tak akan pernah tersambung, Arsenio tetap nekat menghubunginya. Dia pun berhenti ketika panggilan keluarnya terpotong oleh panggilan masuk dari Winona. “Halo,” sapa Arsenio pelan.
“Hai,” balas Winona, “tante Anggraini mengatakan bahwa kamu sudah pindah ke apartemen ya?” tanyanya basa-basi.
“Ya begitulah,” jawab Arsenio pelan. Nada bicaranya pada Winona sudah tak sedingin kemarin-kemarin.
“Oh. Baguslah.” Seusai berkata demikian, Winona terdiam. Begitu pula Arsenio yang seakan tak tahu harus menanggapi apa.
“Tadi pagi aku menelepon Chand. Aku sudah meminta bantuannya untuk menyelenggarakan pesta pertunangan kita. Mungkin kamu lupa bahwa Chand adalah pemilik Wedding dan Event Organizer yang sudah memiliki nama, serta menjadi rekomendasi untuk pesta-pesta kalangan atas,” jelas Winona beberapa saat kemudian setelah mereka sama-sama terdiam.
“Oh, ya? Usaha apa lagi yang dia punya?” tanya Arsenio.
__ADS_1
“Banyak, Sen. Dia juga orang yang ulet. Punya komitmen dan kemauan yang kuat. Mirip denganmu. Itulah kenapa kalian bersahabat,” jawab Winona.
“Begitu, ya?" Arsenio memejamkan mata. Sejuta rasa bersalah kembali menghujam jantungnya. Bisa-bisanya dulu dia mengkhianati seseorang sebaik Chand. “Win .…” ucapnya tiba-tiba.
“Ya?” Dada Winona berdebar ketika Arsenio menyebut namanya.
“Aku akan berubah menjadi lebih baik. Jika pertunangan ini bisa menebus semua kesalahanku di masa lalu, maka aku rela dan akan sepenuhnya menerima,” ujar Arsenio. Perih hatinya ketika mengucapkan hal tersebut. Rasanya seakan dia sudah melepaskan sosok Binar tanpa berusaha memperjuangkannya terlebih dahulu. Di satu sisi, Arsenio masih terus menggantungkan harapan kepada gadis muda yang lugu itu. Namun, di sisi lain dia juga merasa berat atas pernyataan Anggraini yang tidak akan merestui dirinya dengan Binar. Sementara dia juga harus memenuhi apa yang sudah menjadi komitmennya bersama Winona dulu.
Ketika dua sisi hatinya berperang, Arsenio merasakan nyeri yang teramat sangat pada kepalanya. Semakin lama, rasa sakit itu semakin tak tertahankan. “Aduh,” rintih pria itu sesaat sebelum ponselnya terlepas dari genggaman.
“Sen, kamu kenapa?” tanya Winona. Wanita itu semakin was-was ketika mendengar suara gemerisik layaknya benda jatuh. “Sen?” panggilnya lagi ketika sang kekasih tak juga menyahut.
Sekeliling Arsenio mendadak gelap. Sementara kepalanya seolah tengah dihimpit oleh dua batu besar. Tak ada yang bisa dia lakukan saat itu selain memegangi kepalanya erat-erat dengan harapan agar sakitnya dapat berkurang. Walaupun pada kenyataannya rasa nyeri itu semakin dahsyat menyerang.
Termasuk kejadian di suatu sore, ketika dirinya baru saja menghabiskan waktu siang bersama Ghea di sebuah hotel berbintang. Dirinya sudah hampir membuka pintu mobil di tempat parkir hotel tersebut, ketika ada satu tangan kekar yang menahan geraknya. Arsenio berbalik dan mendapati Chand sedang memandang kepada dirinya dengan sorot yang begitu tajam. Wajah penyabar dan kalem pria itu tak tampak sama sekali, karena yang terlihat hanyalah amarah. Terlebih saat itu Ghea tengah melingkarkan tangannya di lengan Arsenio.
“Keterlaluan kamu, Sen,” geram Chand. “Kamu sadar kan, istri siapa yang baru saja kamu tiduri!” intonasinya meninggi. Tangannya terkepal, seakan bersiap untuk menyarangkannya di wajah tampan Arsenio.
Pria keturunan Belanda itu sempat tertegun sejenak sebelum dapat menguasai diri. “Ghea sendiri yang menawarkan dirinya padaku,” kilah Arsenio enteng, seolah tak ada beban sama sekali. Sementara istri Chand itu begitu ketakutan. Dia melangkah perlahan, menjauh dari dua pria rupawan yang siap untuk bertarung.
__ADS_1
“Apakah itu artinya kau menerima semua perempuan yang menawarkan diri padamu, Arsenio? Di mana harga dirimu? Apa artinya persahabatan kita, hah!” sentak Chand yang berakhir bersamaan dengan tangan yang melayang dan menyasar hidung mancung Arsenio. Dia tak berhenti memukul sampai wajah sahabatnya tersebut mengeluarkan darah. Akan tetapi, Arsenio tak tinggal diam. Dia membalas semua serangan Chand. Perkelahian itu baru berakhir ketika beberapa satpam melerai mereka berdua.
“Chand,” desis Arsenio. Rasa pusingnya berhenti tatkala kilasan peristiwa itu berakhir. Sekelilingnya mendadak gelap, tubuhnya terasa begitu ringan. Dia lalu kehilangan kesadaran. Entah untuk berapa lama, hingga terdengar suara seseorang membangunkannya.
“Anakku ... Arsen.” Suara tangis Anggraini memaksa Arsenio untuk membuka mata meskipun berat. Wajah sendu sang ibu dan raut khawatir ayahnya, kini mengelilingi tempat pembaringan Arsenio.
“Di mana ini?” tanyanya dengan suara parau.
“Di rumah sakit. Winona khawatir waktu merasa ada sesuatu yang aneh darimu saat di telepon. Dia langsung menyusul ke apartemen dan mendapati kamu pingsan di lantai ruang tamu,” tutur Lievin.
“Di mana Wini sekarang?” tanya Arsenio lagi.
“Dia sedang mengurus pemeriksaan menyeluruh untuk kondisimu, Nak. Sebentar lagi dia pasti kemari,” Anggraini menjawab pertanyaan putranya.
“Kamu kenapa, Arsenio? Apa yang kamu rasakan sebelum pingsan?” Lievin mendekatkan dirinya pada Arsenio yang terbaring dengan selang infus menancap di tangan kiri.
“Sudah berapa lama aku pingsan?” Arsenio malah balik bertanya.
“Hampir dua belas jam,” jawab Lievin seraya mengusap lengan putranya.
__ADS_1
“Lama juga, ya.” Arsenio tertawa pelan. Perasaannya menjadi lebih ringan saat itu, karena seluruh ingatannya yang hilang, kini telah kembali sepenuhnya. Akan tetapi, dia tak berniat untuk menceritakan hal itu pada kedua orang tuanya.
“Tolong katakan pada Wini, aku tidak perlu pemeriksaan lebih lanjut, Pa. Aku sudah sepenuhnya baik-baik saja.” Arsenio tiba-tiba bangkit dan duduk di ranjang. Dia juga berusaha untuk mencabut selang infus secara kasar.