Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Setelan Cinta


__ADS_3

“Kalian tenang saja. Aku dan papa akan mengatur semuanya. Jangan khawatir,” ucap Winona menanggapi apa yang Arsenio katakan. Winona kemudian menyibakkan rambut bagian depan agar tak menghalangi kening. Ekor mata wanita muda tersebut kembali tertuju kepada Dwiki. “Aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku harus kembali ke kantor.”


Winona berdiri dari duduknya. Dia meraih dompet kecil berisi ponsel dan juga lipstik. “Sampaikan salamku untuk Binar,” pesan wanita bertubuh sintal itu sebelum membalikkan badan. Namun, sebelum beranjak pergi, dia menyempatkan diri untuk mengalihkan pandangan kepada Dwiki yang sejak tadi tak bicara sedikit pun. “Apa kamu tidak ingin mengantarku, Ki?” tanya Winona.


“Mengantar ke mana?” Dwiki balik bertanya.


“Setidaknya sampai ke depan,” sahut Winona. Tanpa menunggu jawaban dari Dwiki, wanita cantik dengan kemeja hijau emerald tadi segera membalikkan badan. Langkah putri BIntara Sasmita tersebut begitu anggun, saat meninggalkan ketiga pria yang memperhatikan kepergiannya hingga tak terlihat lagi.


Sesaat kemudian, perhatian Arsenio dan Ajisaka beralih kepada Dwiki yang masih termangu. “Kejar dia, Ki!” suruh Arsenio, membuat salah satu orang kepercayaannya tersebut seketika tersadar.


“Iya, Ki. Jangan sampai kamu menyesal,” timpal Ajisaka yang tak bosan memberi semangat kepada sepupunya.


Sementara Dwiki masih terdiam. Dia menatap Arsenio dan Ajisaka secara bergantian. Beberapa saat kemudian, Dwiki pun tersenyum lebar. Pria itu segera beranjak dari duduknya. Dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke bagian depan rumah Keluarga Rainier.


Setibanya di halaman depan, tampaklah Winona yang sedang berdiri di undakan anak tangga menuju teras. Dia tampak serius memainkan ponsel. Sementara Dwiki yang berdiri di pintu, sempat merasa heran. Pria itu tak melihat mobil sang kekasih di sekitar sana. Dengan langkah tegap, pria berpostur 180 cm tadi terus berjalan hingga ke dekat Winona. “Win?” sapa Dwiki pelan.


Winona segera menoleh saat mendengar suara Dwiki yang menyebut namanya. Wanita itu tersenyum manis. Namun, dia tetap berdiri di tempatnya, hingga Dwiki benar-benar mendekat. Winona merasa sedikit lega, meski dia tak tahu maksud Dwiki menghampiri dirinya.


“Mobil kamu di mana?” tanya Dwiki.


“Di kantor,” jawab Winona singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari pria tampan dengan rambut yang terlihat semakin gondrong dan sedikit acak-acakan. Ingin rasanya Winona merapikan rambut pria itu menggunakan tangannya sendiri.


“Oh … begitu.” Dwiki manggut-manggut. Belum pernah dia merasa kikuk di hadapan seorang wanita, seperti yang dialaminya saat ini. Dwiki bahkan harus berkali-kali menarik napas dalam-dalam, sambil mengusap-usap tengkuk. Akan tetapi, apa yang dilakukannya tetap tidak membuat perasaan tak nyaman dalam diri segera sirna. Dwiki, justru terlihat makin salah tingkah. Dia tampak bingung harus berkata apa, saat Winona terus melayangkan tatapan lembut penuh cinta padanya.


“Apa kamu ingin mengatakan sesuatu?” pancing Winona. Sedangkan Dwiki hanya menggaruk kepala.


“Aku harus kembali ke kantor. Taksi yang kupesan pun akan segera datang. Jadi, kalau kamu ingin ….”

__ADS_1


“Apa kamu pernah dibonceng menggunakan motor?” sela Dwiki.


Winona tersenyum lembut. Kali ini, gilirannya yang terlihat salah tingkah. Namun, Winona dapat segera menguasai diri. Wanita berambut panjang itu kembali bersikap biasa. “Belum pernah,” jawab Winona, “tapi aku ingin mencobanya.” Dia tersenyum manis.


Seketika, senyuman lebar terlukis di wajah tampan Dwiki. Dia bergegas ke halaman depan, di mana dirinya memarkirkan motor. Dwiki juga meminjam helm milik satpam. Sedangkan helm miliknya dia berikan untuk dipakai oleh Winona.


Dengan hati-hati, Winona yang saat itu mengenakan rok span ketat sebatas lutut, naik dan duduk di jok belakang. Tanpa diperintah, wanita cantik berambut panjang tersebut segera melingkarkan tangan kanan di perut Dwiki yang sudah melajukan motor. Kali ini, Dwiki menjalankan kendaraan roda duanya menggunakan metode setelan cinta. Tanpa kebut-kebutan sama sekali. Jika adu kecepatan dengan bekicot, sepertinya Dwiki akan rela mengalah pada hewan mollusca tersebut.


Selama di perjalanan, tak ada perbincangan apapun antara mereka berdua. Namun, Winona terlihat begitu menikmati pengalaman pertamanya dibonceng dengan motor. Sesekali, tangan berjemari lentik milik Winona mere•mas bagian depan t-shirt lengan pendek yang Dwiki kenakan. Sepertinya, itu merupakan sebuah isyarat bagi Dwiki. Akan tetapi, pria itu masih bersikap sedikit jual mahal.


Dwiki sempat melirik tangan Winona yang melingkar di perutnya. Rasa hati ingin menyentuh dan menggenggam jemari lentik dengan kulit putih bersih itu. Namun, Dwiki masih menahan diri. Dia berusaha untuk tetap fokus pada lalu lintas yang mereka lalui.


Beberapa saat kemudian, motor yang dikendarai Dwiki pun akhirnya tiba di depan gedung perusahaan Biantara. Dwiki segera memarkirkan kendaraan roda duanya di tempat khusus. Namun, dia ragu antara ikut turun atau tidak. Dwiki pun hanya duduk di motor sambil menunggu Winona yang sedang berusaha melepas pengait helm.


“Kamu tidak ingin bicara apapun padaku?” tanya Winona sebelum beranjak masuk.


“Tentang apa?” Dwiki balik bertanya.


Dwiki yang saat itu masih mengenakan helm, hanya mengernyitkan kening. Dia mengetuk-ngetukkan jemarinya pada helm yang diletakkan di atas tanki motor. Sepertinya, Dwiki ingin agar Winona sedikit memohon atau mungkin merayu dengan manja. Padahal, jauh di lubuk hati pria itu sudah tergelitik untuk segera merengkuh tubuh sintal dalam balutan kemeja hijau emerald di hadapannya.


Dwiki pun memilih mengalah. Dia membuka pengait helm kemudian melepasnya. Setelah turun dari motor, Dwiki lalu berjalan mengikuti Winona. Dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana cargo, pandangan lajang berambut gondrong tadi terfokus pada sesuatu yang terlihat sangat indah untuk diperhatikan berlama-lama. Pria itu tersenyum simpul. Namun, dia kembali bersikap kalem saat memasuki lift khusus bersama Winona.


“Karyawanmu memperhatikanku,” ucap Dwiki. Dia sadar, bahwa penampilannya tidaklah cocok untuk setelan orang yang akan memasuki sebuah perusahaan.


“Abaikan saja,” balas Winona melirik sesaat kepada Dwiki yang masih bersikap sok kalem.


Hingga tiba di lantai yang dituju, tak ada lagi percakapan di antara mereka berdua. Ketika pintu lift telah terbuka pun, Dwiki dan Winona masih bertahan dalam kebisuan. Dwiki hanya memberikan isyarat agar Winona berjalan terlebih dulu sampai tiba di depan ruang kerja wanita itu.

__ADS_1


“Mau minum apa?” tanya Winona saat mereka telah berada di dalam ruang kerjanya.


“Tidak usah. Aku kemari bukan untuk minum,” sahut Dwiki. Dia memandang paras cantik sang kekasih yang berdiri di hadapannya.


“Kamu masih marah padaku?” tanya Winona. Dia memberanikan diri untuk membahas permasalahan yang terjadi. “Kamu sudah tahu bahwa aku dan Arsen … kami memang ….” Winona tak kuasa untuk melanjutkan kata-katanya. Namun, dia yakin bahwa Dwiki dapat memahami apa yang akan dirinya katakan.


“Aku tidak mempermasalahkan hal itu, karena kamu juga bukan wanita pertama untukku,” balas Dwiki. “Aku hanya kecewa karena kamu masih menyimpan rekaman video percintaan panas kalian. Apakah terlalu sulit untuk melupakan dia? Aku harap, kamu tidak memutar video itu secara berulang-ulang," ujar Dwiki.


“Astaga, Ki.” Winona memperlihatkan raut protes kepada sang kekasih yang terkesan meragukannya. “Tentu saja tidak. Terus terang bahwa aku sudah lupa jika video dan foto-foto itu pernah ada. Demi Tuhan. Alasan satu-satunya karena … aku bahkan tidak menyadari jika flashdisk itu dicuri oleh Haris,” jelas Winona terlihat bersungguh-sungguh. “Kumohon, Ki. Aku pernah mengalami rasa sakit karena dicampakkan oleh pria yang sangat kucintai. Aku tak ingin hal itu terulang lagi,” ucapnya lagi dengan lirih.


“Kamu mencintaiku?” Dwiki menaikkan sebelah alisnya.


“Haruskah kamu bertanya begitu?” protes Winona memperlihatkan raut manja. Sementara Dwiki hanya berdecak pelan seraya mengacak-acak rambutnya. “Ya ampun, Ki!” Winona menyingkirkan tangan Dwiki yang tengah mengacak-acak rambutnya sendiri. “Rambutmu sudah berantakan. Jangan diacak-acak lagi,” cegahnya. Tanpa rasa canggung, Winona merapikan rambut sang kekasih dengan tangannya.


Lembut, jemari lentik wanita cantik berpostur 170 cm itu menyisir helai demi helai hingga terlihat rapi.


Dwiki yang mendapat perlakuan demikian dari seseorang seperti Winona, tentu merasa begitu tersanjung. Dia pun tak ingin lagi melawan dorongan dalam dirinya. Dwiki segera merengkuh pinggang ramping Winona. Menarik tubuh sintal wanita itu hingga merapat padanya.


Sementara itu, tangan kanan Winona yang tadi digunakan untuk menyisir rambut Dwiki, telah berpindah ke tengkuk si pria. Winona mere•mas lembut, bersamaan dengan sentuhan bibir Dwiki yang dia terima sebagai balasan dari sikap manisnya tadi.


Pertautan mesra berlangsung hingga beberapa saat.


Sesekali, mereka saling melepaskan lalu kembali berciuman. Perasaan rindu dan gelisah pun terempas jauh. Semua berganti dengan kebahagiaan atas kebersamaan yang terjalin lagi. Winona telah memantapkan hati dengan pilihannya saat ini. Dwiki adalah sosok pria yang dia butuhkan, di balik penampilan tak acuh yang sangat berlainan dengan Arsenio.


Namun, ternyata Winona sudah menyadari bahwa bukan penampilan, sanjungan, atau pengakuan dari banyak orang yang dia butuhkan. Winona tak ingin lagi sebuah popularitas. Satu hal yang dia harapkan saat ini dalam hidupnya, hanyalah sebuah perhatian tulus dari seseorang yang benar-benar mencintai dan bukan karena terikat kontrak kerja sama demi sebuah keuntungan finansial.


Cinta jauh lebih dari sekadar nominal. Tak ada jumlah uang yang sepadan, dengan sebuah senyuman kebahagian sesungguhnya. Winona hanya menginginkan pria itu. Dwiki Aryasatya.

__ADS_1


Beberapa saat telah berlalu. Akan tetapi, mereka belum juga berhenti berciuman. Winona dan Dwiki justru terlihat semakin tenggelam dalam romansa indah nan syahdu itu. Namun, ada satu hal yang membuat kedua sejoli tadi harus menghentikan adegan manis di antara mereka, yaitu ketika terdengar seseorang yang tiba-tiba membuka pintu.


Seorang pria berperawakan tegap dengan kemeja putih rapi tanpa jas. “Wini?” Bintara Sasmita berdiri gagah sambil memperhatikan dua sejoli yang segera saling menjauhkan diri. Ayahanda Winona tersebut menatap putri semata wayangnya dengan sorot heran.


__ADS_2