Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Menembus Awan


__ADS_3

"Arsen mau ke mana? Apa benar jika dia hendak ke Jerman?" tanya Anggraini dengan dada yang mulai bergemuruh.


"Itu memang benar, Bu. Kabarnya pak Arsenio akan memulai hidup baru di Jerman. Saya pikir selaku ibunya, Anda jauh lebih mengetahui segala hal tentang dia daripada saya," jawab Dwiki setengah menyindir.


"Jadi, mereka baru berangkat hari ini?" Anggraini sama sekali tak menghiraukan sindiran Dwiki. Dia bahkan meninggalkan teman sosialitanya begitu saja. Tanpa menunggu jawaban dari mantan ajudan setia Arsenio tadi, Anggraini berlari menuju kendaraan mewahnya yang terparkir di luar area gerai kedai kopi yang cukup terkenal tersebut.


"Segera jalan, Pak Mono! Kita harus bergegas ke bandara," suruh Anggraini sambil menepuk pundak sopir keluarga Rainier tersebut. Sang sopir pun mengangguk tanpa banyak membantah.


Dengan kecepatan tinggi, mobil Anggraini melaju menuju bandara.


Setelah tiba di tempat tujuan, Anggraini langsung saja turun dan berlari ke arah terminal keberangkatan untuk penerbangan internasional. Di sana, dia bertanya pada petugas bagian informasi.


"Ada banyak penerbangan ke berbagai kota di Jerman untuk hari ini, Bu. Berlin, Munchen, Frankfurt, atau Hamburg? Ibu memilih tujuan mana?" tanya petugas bandara sembari menghadap ke layar monitornya.


Anggraini berpikir sejenak. Dia tak tahu kota mana yang telah dipilih oleh putranya. Anggraini hanya bisa menduga-duga jika Arsenio pergi ke kota tempat Fabien tinggal. "Berlin! Tujuan ke Berlin!" jawabnya setengah berseru. Wanita paruh baya tersebut tampak sangat cemas. Hal itu terlihat jelas dari bahasa tubuhnya yang tak tenang dan gelisah.


"Baiklah. Ada empat kali penerbangan menuju Berlin hari ini, terhitung pada jam ...."


"Arsenio!" seru Anggraini, memotong penjelasan petugas begitu saja. "Namanya Arsenio Wilhelm Rainier, penerbangan ke Jerman. Tolong carikan nama anak saya," desaknya tak sabar.


"Putra ibu?" ulang petugas itu hati-hati.


"Iya! Dia putra saya!" Anggraini semakin cemas dan tak sabar.


"Baiklah. Tunggu sebentar." Petugas itu mulai berkutat dengan perangkat komputernya untuk beberapa saat. Tak lama kemudian, petugas tadi kembali mengarahkan perhatiannya pada Anggraini. "Tercatat nama mister Arsenio Wilhem Rainier menumpang pesawat tujuan Jakarta - Berlin dengan jadwal keberangkatan lima belas menit lagi," jawabnya.


Anggraini terbelalak mendengarkannya. “Kalau begitu, beri saya akses ke boarding lounge,” pintanya setengah memaksa.


“Maaf karena itu tidak mungkin, Bu. Kecuali Anda juga termasuk salah seorang calon penumpang,” tolak petugas itu dengan sopan.

__ADS_1


“Tolonglah. Saya akan membayar berapa pun. Ini sangat penting. Saya harus bertemu dengan dia.” Anggraini terus mendesak.


“Maaf, tapi ini sudah menjadi kebijakan bandara. Saya tidak bisa mengambil risiko.” Petugas wanita itu masih tetap berpegang teguh pada kebijakan serta peraturan yang telah ditetapkan pihak bandara.


“Saya adalah istri pemilik maskapai Rainier Airlines.” Wanita paruh baya yang masih tetap terlihat cantik itu mengeluarkan kata-kata pamungkasnya.


“Maaf, Bu. Siapa pun Anda, tapi tetap tidak bisa.” Sang petugas menggeleng dengan raut sesal. Namun, memang sudah seperti itulah peraturan yang berlaku. “Saya benar-benar minta maaf.”


“Baiklah.” Anggraini lemas menerima keputusan itu. Dia seakan tak memiliki tenaga lagi untuk dapat berdiri dengan tegak. “Arsen, mama belum meminta maaf,” desahnya teramat lirih. Dia pun berjalan lunglai ke arah anjungan bandara, di mana dirinya bisa melihat puluhan pesawat yang berjajar di atas landasan. Beberapa di antaranya sudah bersiap untuk lepas landas. Terlihat dari boarding bridge atau jembatan berdinding seperti lorong yang menghubungkan pintu pesawat dengan terminal di bandara, telah ditarik menjauh dari badan pesawat.


“Arsen.” Bola mata coklat Anggraini terpaku pada satu pesawat milik maskapai Jerman yang mulai berputar dan melaju menuju runway. Entah mengapa, dia merasa sangat yakin bahwa putra sulungnya berada di sana. Tak lama, pesawat yang menjadi fokus Anggraini, sudah bergerak melintasi runway dan terbang ke angkasa. Air matanya menetes seiring dengan menghilangnya burung besi itu di balik awan.


Sementara itu, di dalam pesawat yang menjadi pusat perhatian Anggraini tadi, Binar bernapas lega ketika proses lepas landas berjalan lancar tanpa hambatan. “Berapa jam perjalanan kita kali ini, Rain?” tanyanya. “Rain?” ulang Binar ketika sang suami tampak melamun dengan tatapan menerawang ke luar jendela. Wanita muda nan cantik itu kemudian menepuk bahu Arsenio pelan, seraya memamerkan senyuman indah saat sang suami menoleh kepadanya. “Apa yang kamu pikirkan?” tanya Binar lembut.


“Tidak ada,” jawab Arsenio sembari mencium hangat bibir istri cantiknya. “Kalau di sini, tak masalah jika aku ingin menciumimu berkali-kali,” goda pria itu seraya menempelkan keningnya pada kening Binar.


“Memangnya tadi kamu bertanya apa?” Arsenio terkekeh pelan. Adalah sebuah hiburan baginya saat mendengar suara manja Binar.


“Berapa jam perjalanan yang akan kita tempuh hingga bisa tiba di Jerman?” ulang wanita muda itu sambil mengusap pipi Arsenio.


“Tiga puluh jam. Ini akan lebih lama jika dibandingkan dengan perjalanan menggunakan bus dari Jakarta ke Bali,” kelakar Arsenio diiringi dengan gelak tawa.


“Oh.” Binar mengangguk. Akan tetapi, raut wajahnya terlihat tak nyaman saat itu.


“Kenapa lagi?” Arsenio tertawa geli melihat paras lugu sang istri.


“Bagaimana caranya andai aku mau buang air kecil?” bisik Binar demikian pelan.


“Caranya ya seperti biasa, bisa dengan jongkok atau duduk,” jawab Arsenio yang segera mendapat cubitan kecil dari Binar. Pria itu kembali tertawa geli.

__ADS_1


“Jangan bercanda, Rain. Aku bisa mengompol di sini,” protes wanita cantik itu. Wajahnya semakin memerah akibat menahan keinginan untuk ke toilet.


Arsenio tertawa lebar melihat wajah sang istri yang tampak begitu menggemaskan. “Ya, sudah. Ayo kuantar,” ajak pria jangkung itu seraya berdiri dan mengulurkan tangan kepada Binar, “tapi ingat, pekerjaan ini ada bayarannya,” tegas pria itu pelan sambil menuntun Binar ke bagian belakang kabin.


Setibanya di tempat yang dimaksud, Arsenio lalu menggeser pintu kecil yang terletak pada bagian samping dan membawa Binar masuk ke dalamnya.


“Kenapa kamu ikut masuk juga, Rain?” Binar terheran-heran melihat tingkah suaminya.


“Aku hanya ingin menjagamu supaya tetap aman,” dalih Arsenio.


“Iya, tapi aku tidak nyaman jika kamu ada di sini dan melihatku buang air kecil,” protes Binar seraya meringis kecil, ketika pria rupawan itu terus memperhatikan dirinya saat menurunkan pakaian dalam dan duduk di atas kloset. “Rain, keluarlah,” suruhnya dengan suara tertahan. Binar takut jika orang lain di luar bilik akan mendengarnya.


Akan tetapi, Arsenio hanya mengangkat bahu, lalu bersedekap dan bersandar di dinding bilik. Dia terus menunggu sampai Binar benar-benar selesai. "Kenapa kamu harus merasa risih? Lagi pula, aku sudah mengetahui sampai sedetail-detailnya," ujar pria itu dengan tak acuh.


"Tetap saja berbeda," balas Binar. Dia mengempaskan napas lega. Mau tak mau dirinya mengalah juga. Dia tak peduli dengan kehadiran Arsenio di sana.


Beberapa saat kemudian, Binar telah selesai. Dia juga sudah merapikan kembali pakaian yang dikenakannya. Sementara Arsenio terus memperhatikan wanita muda itu dengan saksama. Merasa tak tahan, pria itu pun mendekat. "Hentikan, Rain. Ingat kita sedang berada di mana," tolak Binar ketika Arsenio mulai menggerayangi tubuhnya.


"Tidak apa-apa. Sebentar saja," bisik Arsenio. "Aku biasa melakukan ini dengan pramugari, setiap kali harus menempuh penerbangan panjang," ujar Arsenio keceplosan.


.


.


.


Waduh, gawat. Melipir dulu di sini, yuk. Dijamin seru 👇


__ADS_1


__ADS_2