
Sekitar pukul tujuh malam, Dwiki memutuskan untuk pulang. Tak seperti Ajisaka yang betah berada di Kediaman Rainier, Dwiki lebih memilih untuk kembali ke rumahnya. Bersamaan dengan pria itu yang baru selesai memarkirkan motor, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Kendaraan yang sudah tak asing lagi bagi Dwiki, terlebih setelah si pemilik keluar dari dalam sana.
Seperti biasa, Winona selalu tampil cantik dan sempurna meskipun malam itu tanpa stiletto dan juga riasan. Dia juga hanya mengenakan hotpants jeans dengan tank top putih yang dilapisi kardigan rajut. Winona tertegun untuk sejenak, sebelum berjalan menghampiri Dwiki yang baru saja turun dari atas motornya.
Wanita muda itu terlihat ragu untuk mendekat. Namun, setelah melihat senyuman yang dilemparkan Dwiki padanya, Winona pun segera melangkah maju. Sambil menggenggam sebuah dompet kecil dan juga ponsel, dia berjalan anggun ke hadapan Dwiki. “Kamu baru pulang. Dari mana?” tanyanya pelan.
“Dari rumah bosku. Ada banyak hal yang kami bahas di sana. Salah satunya tentang Bayu dan Haris,” jawab Dwiki tenang tanpa melepas senyuman.
“Oh.” Winona mengangguk. Dia terlihat kikuk. Bahasa tubuhnya pun tampak tak nyaman. Itu semua terlihat dari ekspresi wajah serta sorot mata yang tidak fokus. Entah mengapa, Winona selalu menjadi gadis biasa yang manja saat di hadapan Dwiki.
“Mau masuk?” tawar Dwiki.
“Memangnya kamu tidak sibuk?” Winona terlihat canggung.
“Mungkin aku akan menghabiskan malam ini dengan bermain PS,” jawab Dwiki santai. Dia lalu mempersilakan Winona untuk naik ke teras. “Wanita duluan,” ucapnya.
Winona mengangguk, kemudian berjalan lebih dulu menaiki deretan anak tangga yang hanya terdiri dari beberapa undakan saja. Setelah tiba di depan pintu masuk, Winona menunggu hingga Dwiki membuka kunci lalu membukanya dengan tidak terlalu lebar. Winona pun masuk. Terakhir kali dia datang ke sana, adalah ketika dirinya memergoki Dwiki bersama Arsenio dan Ajisaka. Sebuah momen tidak enak yang harus Winona dapatkan.
“Duduklah. Mau minum apa?” tawar Dwiki, meski dia ingat bahwa di dalam lemari es miliknya hanya ada minuman kaleng.
“Tidak usah,” jawab Winona. “Apa sepupumu tidak tinggal di sini?” Wanita cantik itu menanyakan keberadaan Ajisaka.
“Tidak. Dia menginap di Kediaman Rainier. Memangnya kenapa? Kuharap kamu tidak terpesona padanya,” ujar Dwiki seraya mengernyitkan kening.
“Astaga. Tentu saja tidak,” jawab Winona sedikit cemberut. Dia duduk sambil mengalihkan pandangan ke arah lain. Winona tak suka dengan celetukan Dwiki barusan tentang Ajisaka.
“Ya sudah. Aku mau mandi dulu. Tidak apa-apa jika kutinggal sendiri?” tanya Dwiki. Namun, Winona tidak menjawab. Wanita muda itu hanya mengangguk pelan. “Kalau mau, kamu boleh menonton tv,” ucap Dwiki lagi. Akan tetapi, lagi-lagi Winona tidak menjawab. Kali ini pun dia hanya menanggapi dengan sebuah anggukan pelan.
__ADS_1
Melihat sikap manja Winona saat merajuk seperti tadi, Dwiki memilih untuk tak banyak bicara. Pria dengan rambut yang sudah agak gondrong itu segera masuk ke kamar, lalu keluar lagi dengan membawa sebuah baju ganti. Dwiki melewati ruang tamu dengan begitu saja. Dia bahkan bersiul pelan, saat Winona melirik ke arahnya.
Sepeninggal sang pemilik rumah, Winona kemudian beranjak dari duduknya. Dia lalu berpindah ke atas karpet sulfur depan rak televisi. Wanita muda itu duduk manis di sana, sambil melipat kaki ke belakang. Sikap duduk khas seorang gadis. Winona menyalakan televisi layar datar, yang tentu saja tidak sebesar tv di dalam kamarnya.
Ketika Winona tengah asyik menonton siaran berita, Dwiki telah selesai mandi. Dia terlihat jauh lebih segar, apalagi karena dirinya sudah berganti pakaian. Pria itu berjalan sambil mengeringkan rambut yang basah dengan menggunakan handuk. Dwiki pun masuk ke kamar. Sesaat kemudian, sepupu Ajisaka tersebut telah kembali dengan rambut yang sudah tersisir rapi.
Dengan tanpa rasa bersalah sama sekali, Dwiki duduk di dekat Winona yang langsung menoleh ke arahnya. Pria itu memandang lekat paras cantik Winona, meski tanpa polesan make up sama sekali. Dwiki tiba-tiba saja menyentuh pipi wanita itu, kemudian membelainya lembut. Hal sederhana yang membuat darah dalam didi wanita dengan kardigan rajut tadi berdesir jauh lebih cepat dari biasanya. "Jangan marah," bisik Dwiki dengan suara yang terdengar berat dan dalam.
Sementara Winona tak dapat berkata apa-apa. Wanita berambut panjang tersebut tengah sibuk menata perasaan gelisah dalam dada. Dia terus berusaha mengendalikan degup jantungnya yang bergemuruh dengan kuat. Namun, pada akhirnya Winona tak mampu mengendalikan diri lagi, ketika bibirnya sudah berada dalam kekuasaan Dwiki. Tak ada hal lain yang dapat Winona lakukan, selain menerima dan menikmati pertautan yang merupakan kedua kalinya bagi mereka. Dia bahkan membiarkan ketika Dwiki menurunkan kardigan rajut yang dirinya kenakan.
Merasa jika posisi mereka tidak begitu nyaman, Dwiki pun mendorong pelan tubuh molek Winona hingga wanita itu akhirnya merebahkan diri di atas karpet dengan Dwiki yang berada di atas tubuhnya. Ciuman di antara mereka berdua kian dalam dan juga panas. Tak ingin hanya menikmati bibir dari wanita idamannya, tangan Dwiki mulai bergerak tak terkontrol. Jemari pria itu bergerak nakal, menelusuri setiap inci kulit halus yang membungkus raga indah Winona.
Tak puas-puasnya seorang Dwiki melu•mat bibir polos yang tak juga dia lepaskan. Sementara tangan kanannya sudah berhasil menaikkan tank top putih yang Winona kenakan, hingga memperlihatkan sepasang cup berwarna sama di dalamnya. Dwiki segera menyentuh, menggenggam dengan lembut, kemudian memainkannya perlahan.
Makin lama, hal itu membuat Winona terlihat semakin tak karuan. Ini adalah pertama kalinya Dwiki melakukan hal demikian. "Dwiki ...." desah Winona pelan. Namun, belum sempat dia melanjutkan ucapannya, Dwiki lebih dulu membungkam dengan sebuah ciuman seperti tadi. Wanita muda itu pun kembali terbuai, dalam rayuan maut penuh kehangatan ala Dwiki.
"Apa maumu?" Winona menatap sayu wajah tampan Dwiki, yang masih berada di atas tubuhnya. Pria yang saat itu tengah membelai lembut rambut serta pipi Winona.
"Apakah kamu selalu meminta izin terlebih dulu?" Winona balik bertanya.
"Hanya padamu," jawab Dwiki kembali melu•mat bibir Winona untuk beberapa saat.
Detik jarum jam terus berpindah dari satu angka ke angka lainnya. Malam pun terus merayap, menghadirkan suasana sepi di sekitar perumahan tempat tinggal Dwiki. Semua orang telah berada nyaman di dalam rumah masing-masing, berkumpul dan bercengkerama berasama keluarga.
Tak terkecuali Dwiki dengan Winona. Wanita cantik itu bahkan kini sudah tampil polos, tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh moleknya. Dwiki pun sama saja. Dia begitu asyik menikmati setiap bagian dari raga indah nan mulus Winona. Ternyata, wanita kelas atas rasanya memang berbeda. Setiap detail dari lekukan sempurna Winona begitu bersih dan terawat dengan baik
Sementara bagi Winona, ini adalah pertama kalinya lagi dia merasakan hal seperti itu setelah perpisahan dengan Arsenio. Namun, Dwiki terasa jauh berbeda. Cara pria tersebut memperlakukan dirinya, sangat lain dengan cara yang biasa diakukan oleh Arsenio dulu.
__ADS_1
Suara helaan napas memburu terdengar saling berbaur, dari kedua insan yang tengah memacu diri dalam samudera kenikmatan. Winona berkali-kali menggigit bibirnya, demi meresapi setiap hentakan yang dia terima dari Dwiki. Tak ada hal lain yang Winona sukai saat itu, selain hangat dada Dwiki yang melekat erat di atas punggungnya. Sementara bibir mereka kembali bertaut dengan mesra.
Beberapa saat berlalu. Dwiki pun tampaknya akan segera mengakhiri permainan panas itu. Dia membalikkan tubuh Winona, dan kembali menuntaskan yang sempat terjeda. Tak lama kemudian, Dwiki mencurahkan semuanya tepat di atas perhiasan indah yang baru saja dia nikmati, hingga dirinya terengah menanggung rasa lelah luar biasa. Dwiki lalu kembali mengecup bibir Winona, sebelum mengempaskan tubuh di samping sang wanita yang sama lelah dengan dirinya.
"Apa yang sudah kita lakukan barusan?" Winona menoleh tanpa mengubah posisi badan yang masih dalam keadaan telentang.
"Entahlah," sahut Dwiki membalas tatapan wanita yang baru saja membantunya melepaskan segala kepenatan. Pria itu tertawa renyah. Dia meraih tubuh polos Winona, hingga wanita muda tersebut berpindah ke atas badannya. "Kamu cantik sekali," sanjung Dwiki dengan tatapan penuh kekaguman.
"Apa kamu mengatakan hal yang sama pada semua wanita?" tanya Winona mulai menunjukkan kembali sisi manjanya.
"Tentu saja tidak. Tak ada wanita yang sama bagiku. Semua memiliki keunikan masing-masing. Namun, kamu adalah yang paling cantik dan istimewa," sanjung Dwiki lagi penuh rayuan.
"Ya dan kamu perayu ulung seperti bosmu," balas Winona.
"Pria yang pandai merayu akan jauh lebih menyenangkan. Percaya padaku. Kamu akan merasa bosan saat menghadapi pria serius yang terlalu pasif." Dwiki mengelus lembut pipi Winona. Setelah itu, tangannya kemudian beralih pada punggung mulus, dan berpindah ke pinggul. "Rasanya seperti mimpi bisa melihatmu dalam keadaan seperti ini, di atas tubuhku," ucap Dwiki tak percaya. Namun, ekspresi orang kepercayaan Arsenio tersebut tidak terlalu berlebihan.
"Apa yang membuatmu merasa istimewa?" tanya Winona.
"Apa ya?" Dwiki tampak berpikir. "Siapa yang mengira bahwa aku akan mencium mantan tunangan bosku. Tidak hanya mencium, bahkan hingga ...."
"Kapan pertama kali kamu melakukannya?" sela Winona.
"Haruskah kujawab?"
"Ya."
Dwiki mengempaskan napas pendek. Pria tampan tersebut tampak diam untuk sejenak. Sesaat kemudian, Dwiki lalu tersenyum kalem. "Saat itu aku masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Dia adalah siswi pindahan di sekolahku. Teman-teman yang lain dan mungkin semua siswa, berharap bisa menjadi pacarnya. Namun, ternyata dia menjatuhkan pilihan padaku. Ternyata, dia adalah gadis yang sudah berpengalaman. Sungguh luar biasa," tutur Dwiki diiringi tawa pelan.
__ADS_1
"Kamu sendiri bagaimana? Siapa pria beruntung itu?" Dwiki menanyakan hal yang sama kepada Winona.
Untuk sesaat, Winona terdiam. Dia lalu terenyum kelu. "Kamu pasti bisa menebaknya."