
"Bos?" sapa Dwiki tak percaya. Sepasang mata pria dengan postur yang tak lebih tinggi dari Arsenio itu terbelalak sempurna, saat melihat kehadiran kekasih Winona di kediamannya. "Anda di sini?" tanyanya tak percaya. "Ya ampun, lama sekali kita tidak bertemu, Bos," ucap Dwiki lagi. Dia segera mempersilakan Arsenio untuk masuk. Namun, sesaat kemudian pria yang memiliki ketampanan khas pria Indonesia itu seketika tertegun. Dia memandang sang bos yang sudah duduk dengan gagahnya di atas sofa.
Dwiki memperhatikan bahasa tubuh Arsenio dengan detail. Tidak ada yang berubah dari sikap pria berdarah Belanda tersebut. Gaya duduk Arsenio bahkan masih sama seperti biasanya. Dwiki sangat mengenal pria berambut cokelat itu, bahkan untuk kebiasaan dari pria tersebut.
Sementara Arsenio terlihat biasa saja. Dia menggerak-gerakkan kakinya yang berada di atas paha sebelah kiri, dengan tangan kanan lurus berada di atas sandaran sofa. Sementara tangan kirinya mengetuk-ngetuk sepatu yang berada di paha. Pria bermata cokelat terang tadi tak banyak bicara. Tatapannya pun tidak terarah dengan jelas, seakan tak ada yang menjadi titik fokusnya saat itu.
Masih dengan membawa rasa penasaran, Dwiki memillih pergi ke dapur untuk mengambil dua kaleng soft drink dari dalam kulkas. Setelah kembali, diletakkannya minuman bersoda tadi di atas meja. "Silakan, Bos," ucapnya. Akan tetapi, Arsenio tak menanggapinya.
"Bos," panggil Dwiki. Namun, Arsenio masih tetap tak menyahut. Dia bahkan tak menoleh sama sekali. Pria berdarah Belanda itu sepertinya tengah asyik larut dalam pikirannya.
"Bos!" panggil Dwiki lagi dengan lebih nyaring. Untuk kali ini, barulah Arsenio menoleh. Dia menatap pria berambut cepak yang duduk di atas sofa tak jauh darinya. "Rokok, Bos," tawar Dwiki seraya menyodorkan sebungkus rokok beserta korek api otomatis, yang sejak tadi tersimpan di atas meja. Dia menggeser kedua benda itu ke hadapan Arsenio yang segera mengambilnya sebatang. Si tampan bertubuh tegap tersebut kemudian menyulut dan mengepulkan asap tipis ke udara. Namun, Arsenio masih belum banyak bicara.
"Bos," sebut Dwiki lagi. "Apa benar bahwa Anda mengalami amnesia?" tanya pria dengan kaos abu-abu polos tersebut. Dari bagian lengan yang cukup berotot itu, terlihat sebuah tato, meski sebagian besar gambarnya tertutupi bagian tangan kaos pendek yang dia kenakan.
"Memangnya kenapa?" Arsenio balik bertanya.
"Saya hanya merasa aneh," jawab Dwiki seraya mengambil sebatang rokok dari dalam bungkusnya.
"Apanya yang aneh?" tanya Arsenio sembari mengernyitkan kening. Dia kembali mengepulkan asap rokok yang tengah diisapnya.
"Menurut saya, Anda ... Anda ... tidak ada yang berbeda," pikir Dwiki. Dia menggaruk kepalanya. "Bahasa tubuh Anda masih sama, dan lagi ...."
"Aku kemari bukan untuk minta pendapatmu tentang ciri-ciri orang amnesia," potong Arsenio dengan segera.
"Saya tahu itu, Bos. Saya hanya basa-basi," celetuk Dwiki diiringi tawa. "Anda datang menemui saya pasti karena ada pekerjaan penting, kan?" terkanya. "Jadi, ada tugas apa?"
__ADS_1
Arsenio mengubah posisi duduknya. Dia menurunkan kaki ke lantai, kemudian setengah membungkukan badan. Pandangan pria rupawan berambut cokelat tersebut, lekat tertuju kepada Dwiki yang ternyata merupakan orang suruhan kepercayaannya. "Aku ingin menceritakan sesuatu padamu," ucap Arsenio sambil mengisap kembali sisa rokoknya.
"Tentang apa, Bos?" tanya Dwiki sudah tak sabar mendengarkan apa yang akan sang majikan ceritakan padanya.
Arsenio kembali menegakkan tubuh dan bersandar pada sandaran sofa. Kaki kiri yang semula berada di atas lantai, kini telah berpindah pada paha sebelah kanannya. "Ini tentang perjalanan terakhirku ke Bali," jawab Arsenio serius.
"Apa boleh saya berpendapat, Bos?" tanya Dwiki lagi. Dia meletakkan rokoknya pada pinggiran asbak, kemudian meraih kaleng soft drink yang tadi dia hidangkan di atas meja. "Menurut penerawangan saya sejak mendengar berita kecelakaan yang menimpa Anda, rasanya ada sesuatu yang janggal dalam kejadian itu," ungkapnya sambil membuka penutup lalu meneguk minuman tadi.
"Begitukah menurutmu?" Arsenio menaikkan sebelah alisnya. Sedangkan Dwiki menanggapi dengan sebuah anggukan yang terlihat yakin. "Itu juga yang kupikirkan," ucap Arsenio kemudian. Dia ikut mengambil minuman kalengnya.
"Itu artinya ... pengamatan saya tidak keliru," ujar Dwiki bangga.
"Tentang apa?" tanya Arsenio.
"Tentang kejadian di Bali dan tentang kondisi Anda. Ceritanya tidak akan seru kalau Anda ternyata mengalami amnesia. Saya akan jadi kesulitan menemui Anda, Bos," ujar Dwiki lagi. Dwiki mengatakan hal itu bukan tanpa alasan. Selama ini, dia adalah ajudan rahasia Arsenio. Jadi, mereka hanya berjumpa jika Arsenio lah yang mengajak untuk bertemu terlebih dahulu.
"Wah, luar biasa. Anda memang sangat detail, Bos. Itulah kenapa Anda bisa meraih kesuksesan di usia muda," sanjung Dwiki menanggapi penuturan Arsenio.
"Jangan keluar dari topik," tegur Arsenio.
"Oh, iya. Baiklah." Dwiki tertawa renyah. "Lalu, bagaimana setelah itu, Bos?" tanyanya penasaran.
"Selama perjalanan menuju villa, aku tertidur dan terbangun saat mobil yang kutumpangi berhenti. Kukira kami sudah sampai di tujuan, tapi ternyata sopir itu menepikan kendaraannya," jawab Arsenio.
"Apalagi jalanan itu sangat sepi, seakan membelah hutan. Sementara di kiri kanan jalan raya itu hanya ada pepohonan lebat. Tak terlihat rumah penduduk sama sekali ..." Arsenio menghentikan kalimatnya sejenak. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Sopir itu, menyuntikkan sesuatu di pahaku, mungkin semacam obat penenang. Aku lalu berusaha keluar dan ... di luar mobil sudah ada beberapa orang yang menghadang. Mereka menyerangku dengan membabi buta. Aku belum siap sama sekali," tutur Arsenio lagi.
"Lalu, apa yang sopir Anda lakukan?" tanya Dwiki lagi.
"Entahlah. Aku rasa ... dia tidak melakukan apapun," jawab Arsenio ragu.
"Menurut berita yang beredar, kejadian itu merupakan peristiwa perampokan. Saya bahkan sempat mendengar bahwa sopir Anda juga terluka dan dibawa ke rumah sakit," terang Dwiki menegaskan keraguan Arsenio.
"Jadi, kamu mencari tahu?"
"Saya hanya penasaran atas apa yang terjadi terhadap Anda. Karena itulah, saya mencoba untuk mencari informasi. Namun, entahlah karena saya tetap merasa ada sesuatu yang janggal dalam kejadian tersebut," pikir Dwiki yang hidup sendiri di rumah itu.
Arsenio terdiam sejenak untuk mencerna. Raut wajah serta sorot matanya terlihat amat serius saat itu. Arsenio kemudian meneguk kembali sisa minuman kaleng dalam genggamannya. "Jika memang perkiraanmu seperti itu, maka aku akan memberikan tugas penting untuk kamu kerjakan," ucap pria bermata cokelat terang tersebut dengan serius.
"Tugas apapun pasti akan saya laksanakan, Bos," sahut Dwiki dengan antusias. "Jadi, apa yang harus saya lakukan?" tanyanya.
Arsenio kembali meneguk minuman soft drink dalam genggamannya hingga habis. Setelah itu, dia meletakkan kaleng kosong tadi di atas meja. Pria berparas rupawan tersebut kembali menyandarkan tubuh pada sandaran sofa. "Pada perusahaan resort milikku yang berada di Bali, seingatku ada sekitar lima orang sopir. Namun, aku tidak terlalu mengetahui profil mereka. Untuk langkah pertama, kuperintahkan agar kamu berangkat ke Bali dan menyelidiki mereka satu per satu. Aku akan memberikanmu akses masuk melaui orang dalam," titah Arsenio.
"Aku akan berkoordinasi dengan salah satu orang kepercayaanku di sana, jadi kamu tinggal berangkat dan melakukan tugasmu dengan maksimal. Aku harap, kamu kembali dengan membawa informasi yang kuinginkan," tegas Arsenio yang sejak tadi tampak begitu serius.
.
.
.
__ADS_1
Hai, kali ini otor akan menginformasikan karya yang cucok meong. Semoga kalian berkenan dan mampir, ya