Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Kenyataan dan Harapan


__ADS_3

Dengan langkah gontai, Arsenio keluar dari ruangan Muchtar. Rasa kecewa dalam dirinya kian menjadi. Dia tak tahu harus bertanya kepada siapa lagi tentang kepergian Binar, karena kedua adiknya pun bahkan tak mengetahui hal tersebut. Wajah tampan Arsenio saat itu terlihat amat lusuh. Semangat besar yang dia bawa dari villa menuju ke tempat Binar, sirna seketika saat mendapati kenyataan yang tak sesuai dengan harapan.


Arsenio memilih untuk duduk sejenak di salah satu gazebo. Dengan posisi badan yang setengah membungkuk, pria bermata cokelat terang tersebut meraup wajah tampannya dengan kasar. Helaan napas berat penuh sesal pun mengiringi setiap kegundahan hatinya.


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Nak?" tanya Anggraini. Dia mengelus lembut rambut belakang putranya. Anggraini melihat dengan jelas ada sesuatu yang lain dari diri Arsenio. Sebuah perubahan. Namun, wanita paruh baya tersebut merasa tak yakin, apakah hal itu sepenuhnya atau hanya karena Arsenio kini sedang mengalami amnesia.


"Entahlah, Ma. Seperti yang Mama ketahui. Aku kehilangan jejak Binar. Apa-apaan ini?" Arsenio menegakkan tubuh seraya menyugar rambutnya.


"Ya, tapi kita juga harus segera kembali ke Jakarta. Kehidupanmu yang sebenarnya ada di sana. Bukan di sini," ucap Anggraini dengan lembut. Tak henti-henti dia membelai rambut putra sulungnya. "Ayo, Nak. Kita harus pulang," ajak wanita itu. Anggraini kemudian berdiri. Dia lalu merogoh ponselnya dan menghubungi sang sopir agar menjemput mereka ke depan toko.


Beberapa saat kemudian, mobil SUV hitam tampak memasuki halaman parkir toko tadi. Meskipun terlihat malas-malasan, tapi Arsenio memaksakan dirinya untuk berdiri kemudian masuk ke mobil. Untuk kedua kalinya dia meninggalkan jalanan yang biasa dilewati bersama Binar.


Entah takdir macam apa yang tengah Tuhan persiapkan untuk seorang Arsenio. Dalam keadaan ingatan yang belum sepenuhnya pulih, dia harus merasakan sebuah kegalauan besar seperti itu. Kota Gianyar pun Arsenio tinggalkan, begitu juga dengan kisahnya yang singkat tapi membekas bersama dengan Binar. Dia tak tahu apakah takdir akan mempertemukan dirinya lagi dengan gadis itu atau tidak. Satu hal yang pasti, Arsenio harus kembali pada kehidupan yang sesungguhnya. Dia harus kembali menjalani hari-hari seperti yang selalu dilaluinya jauh sebelum mengenal sosok Binar.


Selama kurang lebih satu jam menempuh perjapanan lewat jalur udara, akhirnya Arsenio kembali ke ibu kota dengan suasana dan aromanya yang sangat berbeda dengan dari kota Gianyar. Arsenio lagi-lagi merasa heran dengan suasana rumah megah yang didatanginya kali ini. Semuanya terasa begitu asing.


"Selamat datang kembali, Arsen." Winona memeluk Arsenio dari belakang, ketika mereka berada di dalam kamar pria itu.


Arsenio yang sedang merasa galau karena memikirkan Binar, bermaksud untuk melepaskan tangan Winona dari perutnya. Namun, wanita muda itu justru malah memeluk Arsenio dengan jauh lebih erat. Dia juga membenamkan wajahnya pada pundak bagian belakang pria tampan itu. "Aku kangen kamu," ucap Winona setengah berbisik.


"Aku sangat lelah. Bisakah kita lanjutkan perbincangan nanti saja?" tolak Arsenio dengan halus. Kali ini, dia benar-benar menyingkirkan tangan Winona yang melingkar di perutnya.

__ADS_1


"Kenapa, Arsen?" tanya Winona yang terlihat kecewa. "Kenapa kamu seperti menjaga jarak denganku?" protesnya.


"Kumohon, Winona. Aku sangat lelah dan ingin tidur," balas Arsenio menanggapi pelan sikap protes sang kekasih.


"Tidak, Arsen! Aku tahu sekarang kamu sedang hilang ingatan, tapi kamu tidak bisa bersikap seperti ini padaku. Apa kamu masih memikirkan gadis bernama Binar itu?" tukas Winona. Rasa kecewa bercampur dengan cemburu. Keduanya mulai memenuhi dada wanita cantik tadi.


"Tolonglah. Aku ingin tidur," tolak Arsenio dengan nada bicara dan mimik wajahnya yang terlihat sangat malas.


"Kamu ...." Belum sempat Winona melanjutkan kata-katanya, seseorang telah terlebih dulu membuka pintu.


Wajah Chand muncul dari baliknya. Pria berusia tiga puluh tahun tersebut tampak tersenyum simpul. "Apa aku mengganggu?" tanyanya merasa tak enak. Dia melihat kepada Winona dan Arsenio secara bergantian. Winona saat itu tampak merajuk, sedangkan Arsenio seperti malas menanggapinya. "Baiklah, aku bisa kembali nanti," ucap Chand lagi karena tak juga mendapat jawaban dari pasangan kekasih itu.


"Tidak. Tidak apa-apa," jawab Arsenio dengan segera. "Ada sesuatu yang penting?" tanyanya kemudian.


"Oh, iya kamu benar. Akan tetapi, kondisi Arsen sekarang ... dia ...." Winona menatap sang kekasih untuk beberapa saat. Dia berharap agar Arsenio menanggapi ucapannya. Namun, ternyata pria bermata cokelat terang itu hanya diam.


"Aku punya ide. Bagaimana jika kita sembunyikan kondisi Arsenio yang sebenarnya," cetus Chand meminta pendapat kepada Winona.


"Maksudmu?" tanya wanita cantik bertubuh sintal itu tak mengerti.


"Saat di hadapan media nanti, jangan katakan bahwa Arsenio telah mengalami amnesia. Kalian bisa bersikap seperti biasa, menunjukkan kemesraan yang selalu diperlihatkan di depan semua orang. Berlaku sewajarnya saja, seakan tidak terjadi apa-apa," saran Chand.

__ADS_1


Mendengar perkataan Chand, Winona segera menoleh kembali ke arah Arsenio dengan sorot penuh harap. "Kamu masih ingat 'kan, kalau kita terikat kontrak?" tanyanya lirih.


"Sudahlah. Aku pusing dan sangat lelah. Kita lanjutkan saja besok," tolak Arsenio melepas kemejanya begitu saja. Dia lalu merebahkan diri di atas ranjang dengan posisi telentang. Akan tetapi, Arsenio masih tampak terjaga. Mata coklat terangnya menerawang menatap langit-langit kamar.


"Papamu dan papaku bekerja sama di bidang penerbangan. Mereka mendirikan maskapai sembilan tahun yang lalu. Baru dua tahun ini, mereka berdua sepakat menunjuk diriku sebagai CEO-nya. Atas dukungan darimu, aku berhasil membungkam mulut mereka yang keberatan dengan keputusan orang tua kita. Banyak orang menganggap bahwa usiaku terlalu muda untuk menduduki posisi sebagai CEO," jelas Winona tanpa memedulikan penolakan Arsenio sebelumnya. Dia menghampiri Arsenio, kemudian berdiri di dekat tempat tidur pria itu. Winona memperhatikannya dengan lekat.


"Berkat arahan darimu pula, aku telah berhasil membuat banyak gebrakan dan terobosan baru. Semua itu karena sifat bisnismu yang dinamis, sehingga berhasil membantuku membuat perusahan semakin maju dan memberikan banyak keuntungan. Kita berhasil membawa maskapai ini ke level yang lebih tinggi, Arsen," lanjut Winona lagi.


"Satu gebrakan terbesar yang kamu buat sebelum menghilang dan amnesia, adalah dengan menobatkan diri kita sebagai brand ambassador perusahaan kita sendiri. Tak hanya untuk perusahaan maskapai yang kupimpin, tapi juga untuk perusahaan lain. Resort sekaligus bisnis kuliner yang kamu kelola pun semakin maju, setelah kita sering melakukan promosi bersama. Langkah itu ternyata berhasil menarik konsumen dari kalangan anak muda. Kita sering melakukan siaran live di akun sosial media sebagai ajang promosi. Saat itu kamu memutuskan untuk membuat perjanjian yang berisi bahwa hubungan kita harus dikomersilkan dan itu bersifat mengikat sampai kita menikah nanti," jelas Winona lagi dengan tegas dan lugas.


Arsenio yang awalnya tak menanggapi, langsung menoleh pada Winona. Dia juga kembali menegakkan badannya. Rasa kantuk yag mendera langsung hilang seketika. "Me-menikah?" desis Arsenio. "Benarkah itu?" tanyanya sembari mengalihkan pandangan kepada Chand.


"Begitulah, Sen. Sepertinya kalian memang harus tetap dan terus bersama, karena profil kalian sudah menjadi wajah maskapai ini," tutur Chand pelan. "Apapun yang terjadi, ikatan di antara kalian berdua harus tetap terjalin dan jangan sampai terpisah, karena pasti akan berdampak negatif bagi bisnis kita."


"Apa-apaan itu?" gumam Arsenio tak percaya, membuat Winona segera menggigit bibirnya demi menahan perasaan yang mulai berkecamuk.


Sesaat kemudian, Winona menoleh kepada Chand. "Aku ingin bicara sebentar dengan Arsen," ucapnya.


"Baiklah. Kita lanjutkan nanti untuk membahas masalah konferensi pers," sahut Chand menanggapi. Dia paham jika Winona mungkin ingin membahas sesuatu yang sangat pribadi bersama Arsenio. Pria berpostur tinggi besar itu pun berpamitan dan segera keluar dari kamar.


Sepeninggal Chand, Winona kemudian duduk di tepian tempat tidur. Posisinya dan Arsenio saat itu saling berhadapan, meskipun masih terdapat jarak di antara mereka berdua.

__ADS_1


"Sikapmu membuatku merasa sakit, Arsen. Entah aku harus merasa bersyukur atau sebaliknya, karena sekarang aku bisa melihat perasaanmu yang sebenarnya terhadapku. Aku yakin bahwa inilah sosok Arsenio yang asli, yang hidup tanpa sebuah skenario dan penuh kepura-puraan. Namun,


suka atau tidak itulah kenyataan yang harus kau dan aku jalani. Kita akan segera bertunangan," tegas Winona.


__ADS_2