Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Yang Teristimewa


__ADS_3

Arsenio menghentikan langkah, lalu menghadap ke arah wanita cantik berpakaian seksi di hadapannya itu. Gaya busana Ghea tak jauh-jauh dari menonjolkan dada indah, serta memamerkan paha dengan kaki jenjang yang mulus. “Mau bicara apa?” tanya pria itu dingin.


“Ayo kita ke atas,” ajak Ghea sambil meraih tangan Arsenio. Akan tetapi, pria tampan itu segera menepisnya sambil mundur beberapa langkah.


“Bicara di sini juga bisa. Kenapa harus ke atas segala?” Arsenio mengernyitkan dahi.


“Ini benar-benar kamu, ‘kan?” Ghea maju dan mendekati Arsenio tanpa ragu. Diamatinya sosok rupawan itu mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“Tentu saja. Memangnya kamu pikir aku ini penampakan?” Arsenio tertawa pelan dengan pandangan meremehkan.


“Karena terakhir kali kita bertemu, kamu tak sedingin ini. Kamu malah bersikap begitu hangat. Apa kamu lupa?” cecar Ghea penuh curiga.


“Manusia bisa cepat berubah sesuai keadaan, Ghea. Jangankan kemarin, dalam waktu beberapa detik saja orang bisa berubah,” dalih Arsenio. Dia berniat kembali ke apartemennya karena teringat jika Binar telah kelaparan.


“Mau ke mana kamu? Kita belum selesai bicara, Sen!” cegah Ghea. Nadanya mulai meninggi melihat sikap Arsenio kepadanya.


“Kalau begitu cepatlah bicara,” sahut Arsenio dengan santainya seraya berbalik lagi kepada Ghea.


Mantan istri Chand tersebut mendengus kesal. Tentu saja dia tak pernah mengharapkan sebuah tanggapan sinis seperti itu dari Arsenio. Ghea menginginkan perlakuan manis Arsenio seperti beberapa hari yang lalu di dalam mobilnya. Apalagi alasan yang membuat dirinya rela menduakan pria seperti Chand. Ghea adalah wanita mandiri yang tak butuh materi. Dia hanya ingin kehangatan.


“Sikapmu ini benar-benar membuatku yakin, kemarin kamu mendekatiku hanya karena sesuatu,” ujarnya kecewa.


“Nah, itu kamu tahu.” Arsenio tersenyum lebar. Dia berniat meninggalkan Ghea untuk yang kesekian kalinya.


“Jadi, benar? Kamu yang memasang penyadap di mobil dan ponselku?” tanya Ghea setengah berseru, ketika jarak Arsenio dengannya sudah sedikit jauh.


“Anggap saja begitu,” jawab Arsenio dengan posisi tubuh membelakangi Ghea. Pria itu bahkan tak menunggu kalimat Ghea berikutnya, sebab dia sudah terburu-buru masuk ke dalam lift pribadi.


“Pak, tolong. Beri saya akses supaya bisa masuk ke dalam apartemen pacar saya,” pinta Ghea beberapa saat kemudian kepada sekuriti penjaga gedung.

__ADS_1


“Ah, masa ibu ini pacar pak Arsenio?” sekuriti itu menautkan alisnya seolah tak percaya.


“Kok Bapak bilang seperti itu? Tentu saja saya pacarnya. Apa Bapak lupa kalau dulu saya sering kemari!” intonasi Ghea semakin meninggi.


“Saya kira Ibu sudah putus dengan pak Arsenio  Soalnya kemarin beliau membawa perempuan yang lain lagi,” ujar sekuriti itu.


“Siapa? Winona?” tanya Ghea penasaran sambil diam-diam membaca nama yang tertulis di seragam sekuriti tersebut.


“Bukan, Bu. Beda lagi. Yang ini kelihatan lebih muda dan cantik. Rambutnya panjang dan lurus. Orangnya juga kelihatan kalem, Bu. Pokoknya kelihatan serasi sekali dengan pak Arsenio. Mereka masuk ke sini kemarin siang, tapi sampai sekarang pacarnya belum kelihatan keluar,” papar sekuriti itu panjang lebar.


Ghea begitu tertegun mendengarnya. Berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan oleh sekuriti itu, dia begitu yakin bahwa gadis yang dimaksud adalah seseorang yang dikejar oleh Arsenio ketika di area parkir basement, saat tengah berduaan dengan dirinya di dalam mobil. “Ta-tapi, itu tidak mungkin,” gumam Ghea pada diri sendiri.


Dia lalu mengangkat wajah dan menatap tajam pada sekuriti di depannya tersebut. “Bapak mau ‘kan membantu saya untuk memberi akses ke apartemen Arsenio,” bujuk Ghea.


“Ma’af, saya tidak berani, Bu.” Pria itu mengangkat kedua tangan ke depan dada untuk menunjukkan sikap penolakan. Dia semakin pucat pasi tatkala Ghea merogoh sesuatu dari dalam tas tangannya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.


“Ma’af, saya tidak bisa, Bu. Saya tidak mau bermasalah dengan pak Arsenio.” Pria itu bersikukuh menolak. Dia malah meninggalkan Ghea begitu saja menuju ke dekat mejanya.


“Dasar satpam sialan!” umpat Ghea kesal. Dia tak akan tenang sebelum mencari tahu siapakah wanita yang menemani Arsenio di apartemen hingga semalaman. Jalan satu-satunya adalah menghubungi Chand dan mengorek informasi yang banyak dari sang mantan suami. Buru-buru Ghea merogoh tas dan meraih ponsel mahalnya. Dia lalu mengambil tempat duduk pada sofa lobi yang terletak di sudut ruangan.


Berkali-kali Ghea berusaha menelepon Chand. Akan tetapi, mantan suaminya itu tak juga mengangkat panggilan tersebut. “Ayolah, Chand!” Ghea merasa begitu gemas. Tak ingin menyerah, dirinya mengirim pesan teks kepada pria itu.


‘Pacarmu ada di apartemen Arsenio. Dia tidak pulang semalaman. Apa kamu tahu itu?’


Ghea sabar menunggu sampai pesannya berubah warna menjadi dua centang biru. Namun, pesan itu hanya terbaca tanpa ada balasan. “Astaga!” wanita itu dibuat kesal. Dia kembali mengirimkan pesan.


‘Atau kulaporkan saja pada Wini! Biar dia yang datang dan memberi pelajaran pada gadismu itu.’


Pesan kedua terkirim dan terbaca. Kali ini, terlihat bahwa Chand tengah mengetikkan sesuatu.

__ADS_1


‘Jangan ikut campur urusan Nirmala dengan Arsenio! Tak perlu macam-macam atau kulaporkan kelakuanmu pada om Biantara serta om Lievin, bahwa kamu dan sahabatku pernah bermain gila sehingga menyebabkan kita bercerai.’ Balas Chand.


“Sialan!” umpat Ghea. Kali ini dia tak bisa menahan emosinya. Dengan amarah yang menggebu-gebu, Ghea berniat menunggu di sana sampai Arsenio dan ‘pacar baru’nya keluar dari apartemen.


Sementara itu di ruang makan, Arsenio tengah asyik sarapan bersama Binar. Tak puas-puas rasanya dia memandangi wajah cantik yang terlihat polos dan segar, meskipun gadis itu belum membersihkan diri. Masih ada aroma keringat Arsenio yang melekat di tubuh Binar. “Habis dari sini, kita akan ke rumah mama dan papa untuk mengambil berkas-berkas pekerjaanmu. Setelah itu, aku akan mengantarkanmu ke apartemen Prajna untuk mengerjakan tugas-tugasmu di sana,” ujar Arsenio demi mengalihkan pikiran nakal yang mulai merasuki otak dan menggoda untuk ‘mengerjai’ gadisnya lagi.


“Terus?” tanya Binar dengan mata membulat.


“Aku akan meninggalkanmu di apartemen Prajna. Sementara aku akan menemui om Biantara, ayah dari Winona,” jawab Arsenio santai.


Lain halnya dengan Binar yang mendadak tegang. “Kamu mau bertemu dengan papa kak Winona?” ulang Binar.


“Iya. Aku akan menjelaskan semuanya, sekaligus menegaskan hubungan kita berdua.” Arsenio meraih tangan Binar, lalu mengecupnya lembut.


“Rain." Suara Binar terdengar bergetar. “Apa kamu yakin? Kamu akan kehilangan semuanya jika terus memperjuangkanku. Sedangkan aku ... aku hanyalah gadis biasa. Rasanya tidak pantas ….”


“Apa kamu mulai menyesal telah memilihku, Binar?” potong Arsenio begitu saja. Raut wajahnya tampak begitu kecewa.


“Bu-bukan itu, sungguh! Aku takut jika nantinya kamu akan kecewa karena telah memilihku,” jawab Binar seraya menunduk dalam-dalam.


“Kenapa kamu selalu merasa rendah diri seperti ini? Aku tidak menyukainya, Sayang. Seharusnya kamu sadar dan bangga akan siapa dirimu. Kamu adalah orang yang sangat baik, tulus, dan berani mengambil resiko untuk berbuat yang menurutmu benar. Jarang ada seseorang yang memiliki karakter demikian,” tutur Arsenio panjang lebar.


“Sebenarnya, kamulah yang membantuku, Binar. Kamu menyelamatkan nyawaku, memberikan tempat tinggal, mengobati dan bahkan sampai harus rela kehilangan separuh gajimu untuk membawaku ke rumah sakit,” lanjut pria rupawan itu.


“Satu-satunya yang membuatku kecewa adalah kamu yang tidak dapat melihat betapa istimewanya dirimu.” Arsenio kembali mengecup punggung tangan Binar, lalu memamerkan senyum yang begitu menawan.


“Kamu harus terus mengingat janjimu untuk terus berjuang bersamaku, Sayang. Kamu sudah tidak bisa mundur lagi.” Arsenio menyeringai nakal, lalu berdiri dan menarik Binar agar ikut serta. “Sekarang temani aku mandi,” kerlingnya, membuat Binar segera mende•sah pelan.


“Astaga, Rain. Aku masih lelah,” keluhnya. Akan tetapi, Arsenio tak peduli. Dia malah semakin menarik Binar agar mendekat. Pria itu membopongnya menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2